
Siti deg deg an begitu sampai di rumah megah berlantai dua milik Reyhan. Ia berulang kali mengatur nafasnya untuk merilekskan kegugupannya.
"Ayo masuk." Ajak Reyhan menggandeng tangan Siti
"Aku gugup banget. Aku takut." Ucap Siti jujur
"Nggak usah takut, mereka baik semua kok." Ucap Reyhan menenangkan Siti
Reyhan langsung menggeret Siti ke ruang tengah yang nampak semua orang sedang berkumpul di sana. Orang tua Reyhan, kakak perempuan yang pernah ia dengar dari mulut Reyhan serta satu anak laki-laki dan balita perempuan.
"Eh Rey udah sampai. Udah kita tunggu dari tadi. Jadi ini yang namanya Siti?" Tanya ibu Reyhan
Siti mengangguk lalu menyodorkan tangan untuk bersalaman. Ia menyalami satu persatu orang yang ada di sana. Semua nampak ramah dengan senyuman yang mengembang.
"Kamu bisa panggil saya tante Lia, dan ini suami Tante namanya om Dani, ini kakaknya rey namanya Rena dan dua anak ini anaknya kak Rena, kalau yang laki-laki ini suaminya kak Rena, namanya Edo." Ucap Bu Lia memperkenalkan semua keluarganya.
Siti senang, ia disambut dengan baik di keluarga Reyhan.
"Saya Siti Bu." Ucap Siti menganggukkan kepala hormat.
"Rey sering cerita tentang kamu udah lama banget. Tapi baru diajak ke sini. Pantesan Rey jatuh cinta sama kamu, cantik banget." Puji Bu Lia
"Makasih Tante." Ucap Siti tersipu
"Kita duduk sini aja nggak apa-apa kan. Biar lebih akrab." Ucap Bu Lia mengajak duduk Siti di ruang keluarga bersama yang lain
Siti mengangguk, dimana saja ia duduk ada Reyhan tak jadi masalah. Mereka ngobrol banyak hal. Menanyakan banyak hal pada Siti. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak. Sungguh keluarga yang sangat kompak dan harmonis, pikir Siti dalam hati.
Siti merasa beruntung bisa ada ditengah tengah keluarga Reyhan. Ternyata keluarga Reyhan sangat ramah dan baik. Meskipun baru pertama kali bertemu dengan Siti mereka sudah bisa membuat Siti nyaman dan jadi diri sendiri.
Tak terasa jam sudah menunjukkan makan siang. Mereka memutuskan makan siang bersama. Satu meja penuh dengan berbagai macam makanan dan hidangan penutup.
"Astaga, mama udah kayak ada acara nikahan." Ucap Reyhan melihat meja yang penuh dengan makanan.
"Kayak nggak tahu mama aja. Mama itu selalu over kalau ada menantu yang datang. Mama nggak mau kalau menantunya berpikir jelek. Mama mau jadi mertua idaman untuk menantunya. Jangan kaget ya Ti, kalau mama nanti over sama kamu." Ucap Rena selaku kakak kandung Reyhan.
__ADS_1
Siti sungkan untuk menjawab ia hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Bu Lia memang sosok yang perhatian pada semua keluarga.
Setelah acara makan siang, Siti pamit untuk kembali pulang.
"Gimana? Keluarga aku baik kan? Kamu seneng?" Tanya Reyhan saat berada dalam mobil
"Iya mas. Aku seneng. Mereka mau nerima aku dengan tangan terbuka."
"Kapan kamu mau pulang kampung? Aku kan juga mau dikenalin sama orang tua kamu."
"Nggak tahu, masih belum kepikiran. Nanti aja aku kabari ya."
"Jangan lama-lama. Ciuman kamu bikin aku candu." Ucap Reyhan menggoda Siti.
"Terus hubungannya apa?"
"Ya kan semakin lama kamu nggak pulang kan semakin lama juga aku kenal orang tua kamu. Itu artinya semakin lama juga kita nikahnya. Aku udah kecanduan sama peraduan bibir tadi. Gimana dong?" Ucap Reyhan memelas.
"Ya harus sabar lagi." Ucap Siti tertawa
"Saya Dahlia, jadi kamu pengganti Siti?" Tanya Dahlia di suatu sore
"Iya Bu, saya Widya. saya dulunya bantu ibu saya ngurus panti. Kebetulan pak Reyhan, calon suami Mbak Siti ini jadi donatur tetap di panti kami. Dan pak Reyhan lah yang meminta saya untuk menggantikan mbak Siti." Ucap wanita berhijab itu.
"Calon suami Siti? Oh udah ada calon suami rupanya." Goda Bu Dahlia
Siti hanya menundukkan wajahnya yang memerah.
"Bagus kalau gitu, kamu udah punya pengalaman jaga anak-anak. Jadi saya nggak khawatir kalau anak di tinggal kerja."
"Besok saya bisa pergi Bu?" Tanya Siti
"Boleh. Udah ada Widya."
Siti mengangguk lalu tersenyum.
__ADS_1
*
Waktu terus berjalan begitu cepat. Hari ini Siti akan berpamitan pada semua orang. Perpisahan adalah hal yang dibenci oleh banyak orang, tak terkecuali Siti.
"Budhe, aku pamit ya. Akan aku usahakan sering kesini jenguk budhe. Makasih buat semuanya, berkat budhe aku jadi seperti ini sekarang." Ucap Siti menangis
"Iya nak. Sama-sama. Kamu hati-hati ya, kan kamu udah nggak sama budhe lagi. Ingat selalu pesan orang tua kamu. Jaga ibadah, jaga kesehatan dan jaga diri." Ucap budhe Janah dengan senyumnya
"Iya budhe. Aku pamit." Ucap Siti keluar dari dapur dan menuju Bu Dahlia dan Bima yang sedang di ruang keluarga.
"Bu, saya pamit ya. Saya minta maaf kalau banyak salah, banyak kekurangan selama kerja disini. Saya juga mengucapkan terimakasih banyak karena sudah mengijinkan saya kerja disini dan bantu banyak dengan perubahan diri saya.
"Iya Ti, sama-sama. Mudah-mudahan kamu sukses diluar sana. Jangan lupa sering main kesini ya." Ucap Dahlia berkaca kaca
"Iya Bu pasti."
Siti beralih ke Bima.
"Pak saya pamit, terimakasih sudah memberi saya kesempatan untuk kerja disini. Saya minta maaf kalau saya banyak salah dan kekurangan."
"Iya Ti. Terimakasih juga ya selama ini kamu jaga anak saya dengan sangat baik." Ucap Bima yang jarang berinteraksi dengan Siti.
Siti mengangguk dan bersalaman dengan semua orang lalu pergi dari rumah besar itu dengan menyeret kopernya.
Reyhan seperti biasa, ia sudah menunggu di depan kompleks. Pria itu akan membawa kekasihnya ke kontrakan yang ia pilih untuk wanita itu tinggali.
"Udah siap? Kita mulai perjalanan baru." Tanya Reyhan masuk mobil setelah memasukkan koper kekasihnya ke bagasi
"Siap. Aku udah nggak sabar mau kerja di salon. Kalau aku udah punya uang banyak aku mau buka butik." Ucap Siti sumringah
"Kok jauh banget sih. Kan kamu kerjanya di salon, pengalaman kamu harusnya soal kecantikan dong."
"Tapi aku pengennya butik. Aku jago gambar tahu. Mas belum tahu kan?"
"Oh ya? Apapun yang kamu inginkan akan aku dukung sayang. Kita berangkat sekarang ya." Ucap Reyhan melajukan mobilnya
__ADS_1
Bersambung