Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
19. Siti berhasil mengubah takdirnya


__ADS_3

Seharian ini Reyhan berencana akan menghabiskan waktu dengan Siti dan keluarganya, karena esok ia harus kembali ke Jakarta untuk kembali bekerja. Ia bercengkrama dengan calon keponakan, Reyhan yang menyukai anak kecil membuat ia dengan mudah mengambil hati bayi sepuluh bulan yang sedang merangkak itu.


Pak Rusdi dan Bu Lastri sejak tadi tak menghilangkan senyum di bibirnya. Mereka sudah seperti merasakan keluarga yang lengkap.


"Mas kita ke supermarket yuk, ada yang mau beli. Aku mau bagi-bagi sama tetangga." Ucap Siti yang sudah menyampirkan tas di pundaknya.


"Dermawan sekali calon istri ku ini. Aku juga mau lah kayak gitu." Ucap Reyhan menyerahkan kembali Gendis pada ibunya


"Alhamdulillah, anak ibu sudah bisa berbagi rezeki dengan orang lain." Ucap Bu Lastri


"Iya Bu, mumpung masih bisa. Ini kan juga keinginan aku dari dulu. Kita keluar sebentar ya Bu." Pamit Siti pada kedua orang tuanya.


Saat berada di teras nampak beberapa tetangga Siti yang seperti biasa, mereka akan memulai hari degan ghibah, membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain. Sudah merasa paling sempurna sendiri, pikir Siti.


"Eh lihat, itu siapa? Tamunya pak Rusdi kah? Masak iya dia punya keluarga yang kayak raya? Mereka kelihatan masih muda, cantik dan ganteng. Apa teman Tini ya?" Ucap salah seorang wanita.


Siti mendengar bisikan itu, ia hanya tersenyum kecil. Nyatanya mereka tak bisa mengenali dirinya, mereka tak tahu bahwa wanita yang sekarang mereka puji adalah wanita yang mereka hina dulu. Ia tak menggubris, ia lebih memilih diam dan keluar dari pekarangan rumahnya.


"Sayang, aku besok pagi balik Jakarta ya. Nanti kamu ke Jakartanya nunggu aku jemput aja. Kamu puas-puasin di sini dulu." Ucap Reyhan sesekali menengok ke arah Siti lalu kembali fokus pada jalanan.


"Iya. Nggak kamu jemput juga nggak apa-apa. Kamu nanti capek kalau harus bolak-balik."


"Nggak capek kok. Buat calon istri tersayang apa sih yang nggak." Ucap Reyhan mengacak rambut Siti.


Tiba-tiba Siti merebahkan kepalanya di pundak Reyhan setelah insiden pengacakan rambut yang singkat itu. Reyhan hanya tersenyum lalu meletakkan tangan kirinya di kepala Siti dan mengelus elus rambutnya pelan.

__ADS_1


"Tumben." Ucap Reyhan yang memang selama mengenal Siti, ia tak pernah menunjukkan manjanya.


"Besok dan beberapa hari ke depan kita nggak ketemu. Biarin begini sebentar." Ucap Siti memejamkan mata.


"Setelah ini aku akan secepatnya lamar kamu ya. Akan aku atur waktunya. Aku nggak sabar pengen minum susu setiap malam."


Plak


Siti mengubah posisinya menjadi duduk dengan sempurna.


"Susu terus yang diomongin." Ucap Siti sedikit kesal.


"Ih kok marah, bercanda doang yang. Iya iya maaf. Nggak lagi bercanda kayak begitu."


Tak lama kemudian mereka sampai di supermarket. Meraka memilih sembako berupa minyak, beras, telur, gula, snack dan beraneka ragam merk susu untuk dibagikan pada para tetangga dan anak-anaknya.


Mata mereka kini fokus pada Siti dan Reyhan yang nampak menurunkan kantong kresek yang penuh dengan sembako yang tadi mereka beli.


"Mas, kita langsung kasih ke mereka ya. Itu di sana." Ucap Siti menunjukkan para tetangga dengan dagunya.


Mereka berjalan dengan kantong kresek di tangan kiri dan kanan. Nampak semua tetangga yang berkumpul masih melihat langkah mereka.


"Eh kayaknya mau kesini." Ucap salah seorang wanita


"Permisi Bu ibu. Nih ada sedikit sembako dari saya dan juga calon suami saya." Ucap Siti menyodorkan satu kantong kresek pada masing-masing orang.

__ADS_1


Mereka tampak masih belum mengenali siapa wanita cantik di depannya ini. Mereka menerima sembako itu dengan wajah bingung seraya mengucapkan terimakasih.


"Maaf mbak ini saudaranya pak Rusdi apa Bu Lastri, kok kita nggak pernah tahu?" Tanya salah seorang wanita


Siti tersenyum kecil lalu berucap, "Masak lupa sama saya Bu. Saya anak ya Bu Lastri dan pak Rusdi yang sering kalian caci maki dan kalian hina. Bahkan saya masih ingat julukan kalian saat manggil saya." Ucap Siti dengan wajah dinginnya


Semua wanita di depannya kini saling pandang dan menampakkan wajah tak percaya.


"Coba di lihat baik-baik Bu. Dilihat dengan seksama, nggak mungkin kalian nggak kenal sama Siti si buruk rupa dan terlahir sebagai kutukan. Sekarang Siti yang terlahir sebagi kutukan bisa membantu perekonomian keluarganya, sudah bisa merubah nasibnya, sudah bisa merubah takdirnya sendiri. Dan saya juga bisa membantu kalian dengan ini. Kalau begitu saya dan calon suami saya permisi dulu. Seorang yang terlahir sebagi kutukan tidak seharusnya berlama-lama berkumpul dengan orang-orang yang tak punya hati nurani seperti kalian." Ucap Siti dengan ekspresi yang sama lalu berjalan menggandeng Reyhan.


Para tetangga Siti masih terbengong-bengong. Meraka tak mampu mengucapkan apapun, mereka hanya melihat punggung Siti dan Reyhan yang sudah menjauh.


"Itu si Siti? Ya Gusti kok beda banget. Saya sampai nggak mengenali." Ucap salah seorang wanita dengan terheran-heran.


"Segitunya mereka hina kamu?" Tanya Reyhan begitu sampai teras.


"Iya mas. Semua orang di sini memang ngatain aku begitu. Bahkan adikku sendiri juga bilang aku ini pembawa sial dan sebuah kutukan. Hanya bapak sama ibu yang selalu dukung aku di setiap langkah." Ucap siri menerawang jauh. "Kamu nggak mau berubah pikiran? Kamu mau nikahin aku yang pembawa sial dan kutukan ini?" Tanya Siti melihat Reyhan dengan lekat.


"Ngomong apa sih. Aku cinta kamu yang dulu dan sekarang. Setiap orang punya masa lalunya sendiri-sendiri. Biarkan mereka dengan pikirannya sendiri, aku nggak peduli. Aku cinta sama kamu dari hati, aku mencintai Siti sejak pertama kali kita bertemu. Kamu ingat kan, pertama kali kita ketemu kamu belum secantik ini. Dan aku sudah jatuh cinta denganmu." Ucap Reyhan menangkup wajah Siti dengan kedua tangannya


Siti berkaca kaca. Ia sangat bersyukur punya Reyhan dalam hidupnya. Satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya, entah apa yang membuatnya menangis. Apakah ia terharu dengan ucapan Reyhan atau ia mengingat kenangan buruk masa lalunya. Yang jelas ia merasa keduanya dalam waktu bersamaan


"Jangan nangis. Jangan biarkan air mata ini jatuh untuk hal yang tidak penting. Air mata ini sangat berharga buat aku. Keluarkan jika kamu bahagia saja. Dan mulai detik ini hingga nanti, aku akan berusaha membuat harimu bahagia. Tak akan ada air mata yang sempat jatuh untuk kesedihan." Ucap Reyhan menghapus air mata Siti.


Ingin sekali Reyhan membawa Siti dalam dekapannya. Namun ia sungkan jika orang tua Siti tiba-tiba keluar rumah dan mendapati mereka tengah pelukan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2