
Sejak perkenalannya dan melakukan keributan di ranjang hubungan Mawar dan Arga semakin dekat. Semakin dekat hubungan mereka semakin sering juga mereka membuat keributan.
Siang ini Arga datang ke kontrakan Mawar. Ia baru saja dihubungi oleh wanita itu untuk menemuinya.
"Mas, aku hamil." Ucap Mawar memperlihatkan alat kehamilan yang bergaris dua.
Arga sedikit terkejut, "hamil?" Ucap Arga pelan nyaris tak terdengar. "Nggak Mawar, kamu nggak boleh hamil dulu. Ikut aku kita luruhkan janin itu sekarang juga." Ucap Arga menggeret tangan Mawar
Dengan cepat Mawar menepis tangan Arga lalu
Plak
Tamparan keras mampir di pipi Arga.
"Kamu dulu bilang akan tanggung jawab dengan perbuatan kamu. Tapi sekarang lihat, kamu jahat banget mas sama aku. Anak ini nggak salah dan kamu mau melenyapkan dia. Bajingan kamu mas." Teriak Mawar memukuli dada Arga
"Mawar denger aku dulu. Dengerin dulu sayang." Ucap Arga berusaha menenangkan Mawar
Mawar masih menangis meraung namun berhenti memukuli Arga.
"Mawar untuk kali ini aja dengerin aku, kamu nurut sama aku." Ucap Arga masih berusaha meyakinkan Mawar agar mau menggugurkan kandungannya
"Kamu pergi dari sini. Kalau kamu nggak mau tanggung jawab biar aku yang meminta pertanggungjawaban kedua orang tua kamu. Biar aku yang bilang kalau anaknya lari dari tanggung jawab. Pergi aku bilang." Teriak Mawar di akhir kalimat
Arga panik, ia tak mau di usir dari rumah karena menghamili anak orang dan tidak bertanggung jawab. Ia tak mau namanya yang sudah di kenal banyak orang mejadi tercemar karena ini.
"Jangan War. Jangan gitu lah. Sama aja kamu merendahkan diri sendiri di depan keluarga ku."
"Aku memang sudah rendah mas dan kamu yang buat aku begini. Aku bisa hamil bukan karena aku buat sendiri, tapi kamu juga ikut andil dalam hal ini mas."
__ADS_1
"Tapi aku belum siap."
"Belum siap apa? Belum siap punya anak. Kalau belum siap kenapa sering bercocok tanam. Kalau kamu udah sering begitu sudah seharusnya kamu siap dengan hasil panennya. Jangan banyak alasan kamu mas. Nggak apa-apa kalau kamu siap dengan di kenal orang sebagai pria bajingan, nggak usah tanggung jawab." Ucap Mawar mengancam Arga lalu mendorongnya keluar rumah dan menutup pintu dengan keras
"Mawar please jangan lakukan apapun sayang. Aku mohon, kita bicarakan lagi baik-baik." Ucap Arga menggedor gedor pintu.
Setelah beberapa lama menunggu dan tidak ada sahutan Arga melangkah dengan lemas. Ia menendang kerikil yang terdapat di halaman rumah Mawar.
Di tempat lain, Siti merasa perutnya lapar. Sejak pagi ia tak di beri makan oleh si penculik. Saat mulut Siti terbuka dan ingin berteriak meminta makan, dua orang pria berbadan besar membuka pintu dan melangkah masuk membawa sebungkus makanan yang ia letakkan di atas piring.
"Nih makan." Ucap seorang pria meletakkan piring di pangkuannya sedangkan pria lainnya melepas ikatan di tangan Siti.
Siti makan dengan di pantau oleh dua orang pria yang berdiri di depan dan belakangnya. Siti makan dengan santainya, tak ada mimik ketakutan di wajahnya. Beberapa saat kemudian Siti menyerahkan kembali piring yang sudah kosong itu kepada pria di depannya.
"Ngapain di ikat lagi sih? Nggak bisa kabur juga kok gue. Kalian kan lihat ini gue lagi bunting, kalaupun berhasil kabur nggak bakal lolos juga dari kejaran kalian." Ucap Siti saat pria satunya bersiap akan mengikat tangannya kembali
"Ya udah lepasin aja, kita jaga di dalam. Pintunya kunci dari dalam. Tuh pergelangan tangannya luka. Bos kan udah berpesan untuk tidak melukai dia." Ucap pria yang sejak tadi membawa piring
"Bos? Siapa bos kalian dan apa tujuannya culik gue?" Tanya Siti berani
"Ya mana gue tahu. Tanya aja ntar sendiri sama orangnya. Ntar juga kesini." Jawab pria pembawa piring
Siti diam, tiba-tiba ia memikirkan Reyhan dan kedua mertuanya, mereka pasti sedang khawatir, pikir Siti.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang mendekat. Pria pembawa piring itu berjalan menuju pintu lalu membukanya. Siti yang semula tak lagi memikirkan siapa dalang penculikannya itu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.
Siti membelalakkan matanya ketika melihat Arga yang menyembul di belakang pintu.
"Arga, kok kamu ada disini?" Tanya Siti heran
__ADS_1
Arga masih diam.
"Jangan bilang kamu dalang di balik semua ini." Ucap Siti curiga
Arga tersenyum. "Pintar. Memang aku yang menyuruh mereka untuk membawamu kesini. Nggak usah takut Siti, aku hanya ingin meminta bantuan mu."
Siti mengernyit, "bantuan apa?" Tanyanya bingung
Arga lagi-lagi tak menjawab, ia justru mengambil ponsel yang berada di saku jasnya. Tak lama kemudian ia membuat pergerakan seperti sedang menghubungi seseorang.
"Apa kau sedang mencari istrimu?" Tanya Arga setelah panggilannya terjawab.
Siti masih diam tak bersuara, ia tahu Arga sedang menelepon suaminya. Sekarang ia tahu apa yang membuat dirinya diculik, sudah pasti ada hubungannya dengan perusahaan milik keluarganya, pikir Siti.
"Hey, jangan marah. Istrimu baik-baik saja disini. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku merawatnya dengan baik."
"Aku tidak akan menyentuh istrimu selagi kau menuruti apa mauku. Bagaimana kalau kita barter, ku serahkan istrimu kau menyerahkan perusahaan itu padaku."
"Wow sepertinya aku harus banyak belajar banyak padamu Reyhan, kau begitu mencintai wanita mu ini. Jangan bawa polisi, pastikan kau datang sendiri atau kalau tidak aku tidak menjamin keselamatan istrimu ini." Ucap Arga memutuskan sambungan teleponnya dan mengirim lokasinya sekarang ke nomor Reyhan.
"Kamu jahat Arga, kamu sudah dibutakan oleh harta dan lupa saudara." Ucap Siti dengan tatapan tajamnya
"Aku tidak akan bertindak sejauh ini jika dia mendengar apa kataku. Apa karena kesalahan orangtuaku lalu mereka semua melimpahkannya padaku juga? Bukankah ini tidak adil. Itu perusahaan keluarga, harusnya yang mengelola semua keluarga. Apakah menurut mu itu adil? Hanya karena satu ke khilafan orangtuaku lalu aku kena imbasnya." Ucap Arga meminta keadilan
"Ar, lihat diri kamu. Kamu sudah punya segalanya. Kamu punya apa yang tidak orang lain punya. Banyak orang yang ingin seperti kamu Ar. Kamu dikenal orang dengan usaha kamu yang dimana-mana. Harusnya kamu fokus dengan itu, nggak semua apa yang kamu mau bisa kamu dapatkan. Nggak semua apa yang kamu inginkan jadi kenyataan. Kita nggak bisa memaksakan sesuatu yang memang nggak bisa jadi milik kita Ar. Jika kita tidak bisa mendapatkan sesuatu yang kita mau lebih baik kita lepas Ar, memang menyakitkan tapi jika kita memaksakan kehendak maka kita akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya dan itu berdampak pada kehidupan kita yang tidak tenang." Ucap Siti berusaha membuka pikiran Arga
Arga nampak diam, ia seperti mencerna apa yang di katakan Siti. Mungkin pria itu mulai terbuka pikirannya, namun setan yang sudah mendarah daging di dalam tubuhnya membuat pikiran itu kembali tertutup dengan kebencian.
Bersambung
__ADS_1