
Setelah 15 menit menempuh perjalanan, mereka sampai di rumah kontrakan sederhana Siti. Rumah kontrakan itu hanya satu lantai dan mempunyai halaman yang tak terlalu luas.
"Kamu yakin Ti mau tinggal di kontrakan yang aku carikan ini? Aku bisa cari yang lebih bagus dari ini. Aku yang tanggung." Ucap Reyhan tak yakin dengan pilihannya sendiri
"Yakin mas. Ini aja udah cukup, yang penting nggak kepanasan nggak kehujanan. Aku nggak mau ngerepotin kamu."
"Nggak repot sayang."
"Iya kamu nggak repot, tapi aku belum jadi tanggung jawab kamu mas. Jadi aku nggak berhak menerima apapun dari kamu. Apalagi materi."
Reyhan tersenyum, "Mangkanya ajak aku ke rumah kamu, biar kamu bisa cepet jadi tanggung jawab aku."
"Iya mas. Aku pengen pulang juga sih. Udah kangen banget keluarga di sana. Nanti deh aku atur waktunya ya. Ke salon yuk. Mau tanya Mbak Yurike alamat sama kapan aku mulai kerja."
"Nanti aja lah. Kita jalan-jalan dulu."
"Kemana?"
"Sini." Ucap Reyhan meletakkan jari telunjuknya ke bibir Siti.
"Kebiasaan kan. Dikasih sekali minta terus." Protes Siti
"Bentar doang. Abis itu kemanapun kamu mau aku turuti." Bujuk Reyhan
Siti belum bergeming ia masih menatap tembok di depannya. Reyhan yang gemas dengan tingkah Siti mengarahkan tangan untuk melingkari perut Siti. Wanita itu masih tak bereaksi, ia hanya mengatupkan mulutnya, entah karena alasan apa.
Kepala Reyhan mulai ia dekatkan ke leher Siti. Ia memberi kecupan kecupan kecil di sana. Tak lama kemudian Reyhan merasa nafas Siti sudah naik turun. Ia semakin terpancing untuk mendengar lengkungan suara Siti. Reyhan mulai membabi buta. Dengan gerakan tergesa-gesa ia menangkap bibir Siti dengan bibirnya.
Rupanya Siti pun sudah tak bisa menahan rasa itu lebih lama. Ia melahap habis bibir Reyhan dengan sesuatu yang memburu. Tangan Reyhan yang mulai menjalar ke atas hampir saja meraih benda kembarnya, ia hampir saja meremas benda itu namun
Tok tok tok
Sontak mereka menyudahi pergulatan tersebut. Reyhan dengan kesal menendang meja di depannya.
"Siapa sih? Ganggu aja." Teriak Reyhan kesal
"Hus." Ucap Siti berjalan menuju pintu utama.
Begitu pintu terbuka ia melihat seorang pria berkumis dan berkacamata yang nampak tersenyum dengannya.
"Ada apa ya pak?" Tanya Siti
"Mbak penghuni kontrakan ini kan? Saya mau minta fotokopi identitas mbak." Ucap pak RT yang terkenal hidung belang yang suka menggoda para wanita muda.
"Oh gitu, iya pak sebentar saya ambilkan." Ucap Siti berjalan masuk dan mengambil satu lembar fotokopi KTP lalu menyerahkannya pada pak RT
"Saya pak Tris ketua RT disini. Kalau ada apa-apa bisa lapor ke saya. Saya siap siaga 24 jam untuk warga saya yang butuh bantuan, apalagi yang butuh bantuan seperti Siti." Ucap pak Tris setelah membaca nama di KTP yang baru saja ia terima. "Eh tunggu kok foto di KTP sama asli beda. Bukan KTP kamu?" Tanya pak Tris yang melihat foto di KTP Siti terllihat jelek dan gendut.
"Bukan, itu asli KTP saya pak. Foto lama." Jawab Siti
"Wah sekarang udah berubah jadi cantik. Udah kayak di sulap." Ucap pak RT takjub
"Kalau udah selesai pak RT bisa pergi pak. Kebetulan saya dan calon istri saya hendak pergi." Ucap Reyhan yang sudah gerah sejak tadi melihat tingkah pak RT.
__ADS_1
"Oh sudah calon suami rupanya. Ya sudah saya permisi dulu." Ucapnya pamit lalu berbalik dan melangkahkan kaki seraya bergumam, "Penampilan kayak orang kaya, punya mobil. Tapi rumah ngontrak, biasa aja lagi nggak ada mewah-mewahnya."
"Pak saya masih dengar." Teriak Reyhan yang kesal mendengar gumaman pak RT.
Siti hanya tertawa melihat tingkah Reyhan.
"Cie cemburu calon istrinya digoda pak RT." Goda Siti.
"Kesel aku sama dia. Ganggu aja. Mana lagi enak-enaknya."
"Udah ah. Ayo jalan ke salon." Ajaknya
"Yang tadi nggak di lanjutin?"
"Kapan-kapan, masak adegan begituan bersambung, kan nggak enak."
"Jadi tadi enak."
"Mau sampai kapan begini." Ucap Siti menggeret tangan Reyhan keluar rumah.
**
"Jadi kapan aku mulai kerja mbak?" Tanya Siti pada Yurike
"Dua Minggu lagi aja ya Ti. Di salon aku yang ke tiga."
"Ya ampun mbak. Baru juga dua bulan yang lalu opening udah buka lagi aja." Ucap Siti Terkejut
Yurike tersenyum, lalu "Mumpung semangat lagi di ubun-ubun. Deket sama kontrakan kamu kok. Kalau yang kedua ini agak jauh dari rumahmu malah."
"Reyhan nggak cerita? Dia kan sebelum nyari kontrakan tanya dulu ke aku, kamu mau ditempatkan dimana. Aku pilih yang masih di renovasi aja."
"Oh gitu. Nggak ada cerita ke aku kamu mas." Ucap Siti pada Reyhan
"Surprise."
"Apaan surprise begini. Kalau gitu aku pulang kampung dulu aja kali ya." Ucap Siti yang seperti meminta pendapat pada pendengarnya
"Nah itu dia yang aku maksud. Ayo aku antar kalau mau pulang." Ucap Reyhan semangat.
"Jangan-jangan kamu sendiri lagi mas yang minta aku di tempatkan di salon mbak Yurike yang ketiga ini." Ucap Siti curiga
Reyhan hanya menjawab dengan suara cengengesan.
"Dasar, curang banget nih orang. Nyebelin." Ucap Siti cemberut.
"Ayo aku antar pulang mumpung masih ada waktu istirahat."
"Jauh kampung ku mas. Kalau berangkat sekarang sampai sana malem."
"Ya aku cari penginapan aja ntar di sana. Besok paginya aku bertamu. Gitu aja kok di bikin pusing sih."
Sejenak Siti berpikir. "Ya udah deh, kita rumah dulu ambil baju." Ucap Siti akhirnya menyetujui untuk pulang kampung diantar Reyhan.
__ADS_1
"Eh tapi kan besok kamu harus kerja."
"Perusahaan punya aku, santai aja lah. Mbak kita pamit ya. Bye." Ucap Reyhan pada Yurike
"Ok hati-hati." Jawabnya
**
Setelah menempuh perjalanan yang lama akhirnya mereka sampai di rumah Siti. Mereka sampai pukul delapan malam. Siti sedikit tertegun dengan rumahnya yang tak ia kunjungi selama dua tahun lebih. Rumah minimalis dua lantai itu nampak mewah jika berdiri di sebuah kampung.
"Ini bener rumah kamu bukan sih sayang?" Tanya Reyhan heran melihat ekspresi Siti dan dirinya tak kunjung turun dari mobil
"I..iya ini rumah aku." Jawab Siti
"Ya terus kenapa ekspresi kamu kayak heran gitu."
"Dulu nggak gini mas, mangkanya aku sedikit terkejut. Masih jam delapan mas, mungkin orang tua aku juga belum tidur." Tawar Siti
"Nggak ah. Besok aja, kalau sekarang aku ntar buru-buru, nggak bisa lama."
"Ya udah deh. Kamu hati-hati ya cari penginapannya." Ucap Siti mencium pipi Reyhan sekilas.
"Makasih sayang." Ucapnya.
"Aku turun ya."
Siti mengetuk pintu rumah setelah mobil Reyhan menghilang dari pekarangan rumahnya. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang berjalan mendekat. Nampak Bu Lastri yang membuka pintu dan menatap Siti dengan seksama
"Ibu." Ucap Siti memeluk sang ibu
Bu Lastri yang masih tertegun terkejut dengan pelukan Siti yang tiba-tiba, nampaknya Bu Lastri masih belum menyadari bahwa wanita di depannya itu adalah sang anak.
"Aku kangen sama ibu." Ucapnya melepas pelukan
Setelah melihat dari jarak dekat dan seksama Bu Lastri baru sadar bahwa itu anaknya
"Ya Allah nak, ini kamu Siti? Siti anak ibu. Ya Allah kamu sekarang cantik sekali nak. Ibu sampai nggak kenal sama kamu. Pak, Siti pulang pak." Teriak Bu Lastri menggeret anaknya masuk rumah.
Semua orang yang tengah berkumpul di depan tv mengalihkan perhatiannya ke arah Bu Lastri.
"Pak lihat ini anakmu, anakmu yang dulu di hina sama banyak orang. Lihat dia sekarang pak." Ucap Bu Lastri heboh dengan perubahan Siti.
Siti hanya tersenyum menatap keluarga yang lama ia tinggalkan.
"Ya Allah, anak bapak." Ucap pak Rusdi bangkit dari duduknya dan memeluk sang anak dengan tangis haru.
Tini dan Haris hanya diam memandangi mereka. Tini nampak sangat terpengarah melihat sang kakak yang terlihat sempurna. Ia tak menyangka dalam waktu dua tahun kakaknya bisa berubah secantik itu.
"Kamu kenapa nggak bilang kalau mau pulang, ibu kan bisa masak banyak nak."
"Aku tadi pulangnya juga mendadak Bu. Mumpung aku masih libur. Aku udah makan kok Bu." Ucap Siti duduk di sebelah tini. "Ini pasti keponakannya budhe nih. Namanya siapa?" Tanya Siti menggendong keponakannya
"Namanya Gendis mbak." Jawab Haris.
__ADS_1
"Hay Gendis. Si gembul nan cantik."
Bersambung