
Tiga bulan kemudian badan Siti sudah terlihat sempurna, berat badan Siti sudah sesuai dengan targetnya, yakni 50kg. Siti memandang cermin di kamarnya dan berputar-putar, ia tak menyangka ia bisa memiliki bentuk tubuh yang ideal. Ia tak mengira ia bisa merubah dirinya. Jerawat di wajahnya pun sudah tak mau mampir lagi. Wajah Siti sudah benar-benar bersih dari jerawat, meskipun warnanya belum berubah drastis, masih banyak hal yang dapat ia syukuri.
Pakaian Siti yang dulunya sangat besar kini berganti dengan ukuran normal, dengan percaya diri yang tinggi Siti keluar dari rumah majikannya seorang diri untuk pertama kali. Kini ia tak perlu lagi merepotkan budhe Janah dengan titipan barang pribadinya.
Kini Siti sedang dalam pusat perbelanjaan, beruntung di malam hari ia sudah tak repot dengan anak asuhnya. Ia tengah memilih pakaian yang sesuai dengan bentuk tubuhnya. Pilihan baju yang banyak membuat Siti bingung harus pilih yang mana. Setelah lama menimbang-nimbang ia mengambil beberapa baju dan langsung menuju kasir.
Karena sudah malam ia berjalan dengan cepat dan saling buru-burunya ia hampir jatuh terjengkang ke belakang, beruntung ada seorang pria yang menahan punggung Siti agar tak terjerembab ke lantai yang sudah dipastikan akan menanggung malu seumur hidup.
Mata Siti dan pria itu saling tatap, beradu dalam diam dan jarak yang sangat dekat hingga keduanya merasakan hembusan nafas masing-masing. Siti menelan ludahnya kasar, baru kali ini ia bertatapan dengan pria yang setampan ini, dengan jarak yang dekat pula.
"Pelan-pelan." Ucap pria itu membantu Siti berdiri dengan kakinya sendiri
"Makasih mas udah bantu saya." Ucap Siti mencoba menatapnya dengan gugup
"Iya sama-sama. Lain kali hati-hati, jangan buru-buru." Ucap pria itu lalu pergi meninggalkan Siti
Siti masih menatap punggung pria yang berjalan semakin jauh.
"Untung aja badan aku udah kurus, coba kalau masih gendut kayak dulu, pasti nggak ada yang nangkap aku karena saking beratnya." Gumam Siti berjalan menuju kasir.
**
"Pak, ibu kangen sama Siti. Udah enam bulan dia kerja di kota dan nggak pulang sama sekali. Coba bapak telepon dia, bilang kalau ibu kangen. Lagipula sebentar lagi Tini menikah, masak nggak mau hadir di pernikahan adiknya." Rengek bu Lastri
"Ya kalau bisa pulang Siti pasti pulang bu." Jawab pak Rusdi mencoba menghubungi Siti
Tak lama kemudian terdengar suara Siti, bu Lastri langsung saja merebut ponsel pak Rusdi dari tangannya
"Ti, gimana kabar kamu?" Tanya Bu Lastri basa-basi
"Alhamdulillah sehat Bu. Bapak ibu sama Tini gimana?"
"Alhamdulillah sehat juga nak. Kamu nggak pulang, nggak kangen sama ibu?" Tanya Bu Lastri memelas
__ADS_1
Siti sebenarnya ingin pulang, namun tekatnya yang bulat mampu membuatnya tetap pada pendiriannya yang tak akan pulang sebelum banyak uang dan cantik. Tubuh Siti memang sudah sempurna, namun warna kulit yang masih sedikit gelap membuat Siti harus berusaha ekstra lagi.
"Kangen Bu, kangen banget malah. Tapi sabar ya Bu. Aku belum bisa pulang. Aku janji kalau udah bisa pulang aku akan lama di rumah. Keperluan apa yang belum di beli untuk nikahnya Tini bu? Biar aku kirim uang."
"Nggak nak. Nggak usah kirim uang dulu, uang yang kamu kirim masih ada. Masih cukup kalau buat keperluan nikahnya Tini."
Bu Lastri merasa Siti menghindar dari semua acara Tini, entah sakit hati karena ucapannya atau ia tak mau dihina lagi oleh adiknya.
"Ya udah kalau ada yang kurang ibu bilang ya." Pinta Siti
"Ti, kamu nggak lagi dendam sama Tini kan? Kamu nggak bisa pulang karena memang benar-benar sibuk kan? Bukan kamu menghindar atau benci sama adik mu kan?"
"Nggak Bu. Ibu kok mikirnya begitu, aku sama sekali nggak dendam Bu. Memang aku belum dapat libur aja. Ibu mikirnya nggak usah aneh-aneh." Pinta Siti
Tak lama kemudian sambungan telepon berakhir lantaran hari sudah malam dan waktunya untuk istirahat
*
"Bu, kira-kira salon yang nggak terlalu mahal dekat sini ada nggak ya Bu? Yang bisa benerin rambut saya yang keriting ini dan juga treatment yang bisa buat kulit saya yang gelap ini sedikit kinclong gitu. Biar nggak dekil." Tanya Siti
Dahlia tertawa dengan ucapan Siti, "Kamu tu nggak dekil Ti, kulit kamu udah mendingan tahu dari pertama kali kamu datang ke sini. Bawa ke salon langganan saya aja. Di sana pelayanannya bagus dan dijamin kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau dalam waktu singkat. Kulit kamu ini udah bagus, memang warnanya masih sedikit gelap, di treatment empat sampai lima kali udah putih nih kulit kamu." Jawab Dahlia dengan beberapa kalimat pujian
"Aduh Bu, kalau langganan ibu pasti mahal. Saya cari yang harganya sesuai sama kantong saya."
"Nggak, saya yakin kamu bisa bayar kok. Kumpulin aja dulu uangnya. Nanti kalau udah cukup baru bawa ke salon, atau kalau nggak rambutnya aja benerin dulu, kulitnya belakangan. Sementara pakai cream yang pernah saya kasih lihat ke kamu beberapa minggu lalu. Itu kan terjangkau juga harganya." Saran Dahlia
Siti mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
Disaat hari minggu tiba, Tini berangkat ke salon langganan majikannya. Berbekal dengan alamat yang diberi oleh Dahlia ia pergi menggunakan ojek online.
Setelah sepuluh menit perjalanan Siti sampai di salon yang besar dan terkesan mahal. Dengan langkah percaya diri ia masuk ke dalam.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" Tanya seorang perempuan muda yang bekerja di sana
__ADS_1
"Saya mau lurusin rambut mbak, sama sekalian di rapihin." Ucapnya
"Mari ikut saya." Ucap perempuan itu
Siti membuntuti langkah karyawati itu dan duduk di sebuah kursi yang di depannya terpajang cermin berukuran besar.
"Selama aku di kota aku nggak pernah mendapat hinaan dari orang lain. Waktu aku ikut gym Bu Dahlia pun nggak ada yang menghinaku, hanya tatapan tak suka saja dari beberapa orang di sana. Dan ketika aku disini pun dengan kulit dan rambut begini juga nggak ada yang jijik sama aku. Seandainya saja semua tetangga ku nggak julid aku nggak akan pernah di titik ini." Batin Siti memandang cermin di depannya.
Setalah satu jam duduk akhirnya Siti selesai dengan rambutnya. Ia nampak senang dan sumringah melihat rambut panjangnya kini sudah lurus dan rapi.
Ia keluar dari salon dan duduk di teras menunggu ojek online ya datang. Disaat menunggu matanya tak sengaja melihat sosok pria yang kemarin menolongnya di mall. Ia nampak berjalan ke arahnya. Tiba-tiba saja Siti merasa gugup.
"Eh kamu lagi." Ucap pria itu duduk di samping Siti
"Iya mas, baru benerin rambut." Jawab Siti setenang mungkin
"Sendiri aja?"
"Iya mas. Lagi nunggu ojek."
"Rumah kamu mana? Kok kayaknya dari kemarin ketemu terus kita." Ucap pria itu terkekeh
"Aku anak rantau mas, aku kerja di sini sebagai baby sitter."
Pria itu hanya manggut-manggut sebagai jawaban
"Dari kemarin ketemu nggak kenalan. Reyhan." Ucap pria itu menyodorkan tangannya untuk berkenalan
"Siti." Ucap Siti membalas uluran tangan Reyhan
Saat hendak kembali berucap ojek online Siti sudah sampai dan pertemuan mereka berakhir gara-gara tukang ojek yang datang tak tau situasi dan kondisi.
Bersambung
__ADS_1