
Kehadiran Reyhan di hidup Siti membuat hari-harinya bak taman bunga, selalu mekar dan membuat bahagia yang melihat. Siti benar-benar di mabuk asmara. Dua tahun mengenal satu sama lain nyatanya membuat Siti tak ingin jauh dari Reyhan, begitupun sebaliknya.
Malam ini Reyhan berencana akan memberikan surprise untuk Siti. Ia sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.
Pukul 7 malam Reyhan sudah dalam perjalanan menuju cafe yang ia sewa untuk memberi kejutan Siti. Wanita itu sangat gugup, pasalnya Reyhan tidak memberi tahu mereka akan kemana, mata Siti pun di tutup kain sepanjang perjalanan.
Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Siti di tuntun oleh Reyhan untuk duduk di tempat yang ia sediakan.
"Mas kamu mau ngapain sih, buka ya. Deg deg an nih aku." Ucap Siti jujur
"Iya, aku buka sekarang ya." Reyhan membuka simpulan kain yang menutupi mata Siti dan, "Taraaaaa kejutan." Ucap Reyhan
Siti menutup mulutnya yang terbuka lebar. Matanya pun tak kalah terbuka lebar. Ia melihat sekeliling yang di hiasi bunga mawar merah dan putih, terdapat banyak lilin di setiap pinggir jalan setapak yang tadi mereka lewati.
"Suka nggak?" Tanya Reyhan
"Banget. Aku suka banget, ini indah mas." Ucap Siti berusaha menahan tangisnya lantaran terharu.
"Ti." Panggi Reyhan seraya menggenggam tangan Siti yang masih terpukau dengan keindahan dekorasi cafe itu. "Sejak pertemuanku dengan mu dihari itu, aku merasa aku tak ingin jauh darimu, aku merasa ingin dekat denganmu sepanjang waktu. Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu. Will you marry me?" Ucap Reyhan berlutut dihadapan Siti dan membuka sebuah kotak perhiasan berisi sebuah cincin berlian.
Siti tak langsung menjawab, ia menangis terharu. Ia tak mampir menjawab dengan kata-kata, ia hanya sanggup menganggukkan kepalanya. Reyhan seketika berdiri dan memeluk Siti. Meskipun dua tahun mengenal satu sama lain dan sering kencan, mereka tak pernah kontak fisik secara langsung seperti sekarang ini. Bahkan berpegang tangan saat berjalan pun tidak Reyhan lakukan.
Tak lama kemudian terdengar alunan musik biola terdengar sebuah lagu dinyanyikan oleh seorang pria.
Dengarkanlah di sepanjang malam aku berdoa
Bersujud dan lalu aku meminta semoga kita bersama
__ADS_1
Dengarkanlah di sepanjang malam aku berdoa
Cintaku untukmu selalu terjaga dan aku pasti setia
(Cinta sampai mati_kangen band)
Siti benar-benar merasa di atas awan dan ia tak tahu cara turunnya bagaimana. Reyhan sudah membawanya terbang dan melambung tinggi di awan. Disaat lagu masih berputar Reyhan meraih jemari Siti dan memasangkan cincin yang ia beli di jari manisnya. Kini mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Mereka kembali berpelukan dengan ditemani lantunan lagu romantis.
*
Reyhan sampai di rumah dengan senyum yang masih menyembul keluar, ia sangat bahagia. Sudah lima tahun ia tenggelam dalam patah hati yang menyakitkan dan hadirnya Siti menyembuhkan luka hatinya. Ya, lima tahun lalu Reyhan mempunyai kekasih yang tinggal menghitung hari akan segala melangsungkan pernikahan, namun naasnya di hari yang semakin dekat dengan hari bahagianya justru sang calon istri pergi meninggalkannya dan menikah dengan sahabatnya sendiri. Hati Reyhan hancur seketika, berubah menjadi kepingan yang jatuh berserakan dan rupanya Siti lah yang memungut kepingan hati itu dan menjadikannya kembali sempurna.
Di tempat lain Siti pun tak kalah bahagia, ia menjatuhkan dirinya di ranjang dengan posisi tengkurap dan menutupi kepalanya dengan bantal. Wajahnya kini pasti sudah sangat memerah lantaran ia benar-benar tak bisa melupakan malam ini, momen saat Reyhan mengatakan cinta dan pelukan tadi, ah ingin sekali rasanya Siti mengulanginya lagi.
Keesokan harinya Siti mengunjungi salon langganannya sekaligus langganan sang majikan, selama kurang lebih satu tahun sering berkunjung ke salon membuat Siti mengenal sang pemilik salon sekaligus teman sang majikan yang bernama Yurike. Ia sama seperti majikannya, sangat ramah pada setiap orang. Entah karena memang usahanya yang mengharuskan ia ramah atau memang Yurike adalah tipikal orang ramah. Hanya ia yang tahu.
"Alhamdulillah, berkat kalian semua orang-orang baik di sekelilingku, aku jadi seperti ini." Ucap Siti duduk. Seperti seolah tahu apa yang biasa Siti lakukan saat bertandang ke salon, dengan gerakan cepat pekerja di sana membenahi apa yang harus dibenahi dalam tubuh Siti.
"Eh bukan kita aja kali yang buat kamu kayak gini, tapi tetangga kamu yang di kampung sana. Kalau mereka nggak hujat kamu, aku yakin kamu nggak akan berubah. Tetap jadi Siti yang dulu, iya kan?" Ucap Yurike yang tahu asal usul Siti dari temannya, Dahlia.
"Iya, mbak benar. Kayaknya kalau aku pulang kampung mereka ntar pada mati mendadak mbak lihat aku yang begini." Ucap Siti tertawa yang diikuti oleh Yurike
"Eh Ti, nggak bosen sama warna rambut yang item mulu?" Tanya Yurike
"Aku nggak mau warnai macem-macem lah mbak. Kerjaan baby sitter aja belagu, nanti banyak yang nyinyir lagi."
"Apa hubungannya kerjaan sama warna rambut, isi kepala kamu yang kolot tinggalin lah. Udah dua tahun di kota juga. Lagian kamu dengerin banget sih apa kata orang, biarin aja sih mereka komentar kayak apa juga, nggak merugikan mereka juga." Saran Yurike
__ADS_1
"Emang iya sih mbak. Nanti dulu deh diwarnai, aku ijin sama mas Rey dulu." Ucapnya
"Rey siapa? Yang biasa anter mamanya kesini itu kan? Dan akhir-akhir ini kamu juga sering diantar sama dia. Jangan bilang kalau...." Yurike menggantung ucapannya
"Iya udah, baru beberapa hari yang lalu dia menyatakan perasaannya ke aku. Romantis banget lagi. Aku baru merasakan yang namanya jatuh cinta dan dicintai di usiaku yang sudah 29 tahun. Gila, telat banget." Ucap Siti tertawa
"Masak kamu dulu sama sekali nggak pernah jatuh cinta? Ya minimal cinta bertepuk sebelah tangan." Ucap Yurike tertawa
Refleks Siti memukul pelan lengan Yurike. "Nggak, fokus aku dulu tuh cuman cari uang udah itu aja. Buat bahagiain orang tua. Nggak ada aku lirik-lirik laki-laki di luar sana. Bukan nggak sempat, tapi memang insecure duluan sama fisik aku." Ucap Siti tertawa lagi. Dan kini mereka tertawa bersama
"Ti, kamu nggak pengen cari kerjaan lain?" Tanya Yurike tiba-tiba
"Pengen sih mbak, tapi aku nggak enak sama Bu Dahlia. Aku pengen punya usaha sendiri disini."
"Mau kerja ikut aku nggak? Tapi nggak di salon ini, salon ku yang lain. Gimana? Aku mau buka salon lagi dan butuh tenaga kerja."
Siti nampak berpikir, "Udah buka salonnya?" Tanyanya kemudian
"Belum, masih proses perbaikan. Mungkin satu bulan lagi udah opening."
"Aku pikir dulu ya mbak, nggak enak sebenarnya sama Bu Dahlia. Tapi aku mau maju juga, gimana dong. Pusing lah aku jadinya kan." Keluh Siti
"Aku kenal Dahlia lama, kamu bicara baik-baik. Pasti dia juga akan merespon dengan baik. Asal kamu jujur, udah itu aja."
"Aku jujur apa dulu nih?" Tanya Siti bingung
"Ya jujur kalau kamu juga pengen maju, pengen punya usaha sendiri dan satu yang paling penting kamu pengen kaya." Ucap Yurike yang dijawab tawa oleh Siti
__ADS_1
Bersambung