
Reyhan tak henti-hentinya merapalkan doa untuk keselamatan istri dan juga anaknya. Operasi sudah berjalan 10 menit namun belum ada tanda-tanda bayi mereka sudah lahir.
"Dok, detak jantung pasien melemah." Ujar salah satu suster di ruangan itu.
Reyhan yang semula menunduk dengan menutup matanya seketika mendongak. Ia ingin berucap namun suster itu memberinya kode untuk tetap tenang. Ia menatap Siti yang masih terlelap.
"Kamu kuat sayang. Kamu kuat please jangan menyerah. Aku mohon jangan tinggalkan kita. Anak kita sebentar lagi lahir. Aku mohon jangan pergi kemana-mana." Ucap Reyhan dalam hati
Tak lama kemudian suara tangis bayi menggema memenuhi seluruh ruangan itu. Reyhan tak sanggup lagi menahan air matanya.
"Selamat ya pak, anak bapak laki-laki sehat dan sempurna. Biar di bersihkan dulu ya pak." Ucap dokter Sindi memberikan bayi gembul itu ke dalam dekapan salah satu susternya.
Tiba-tiba saja alat yang menunjukkan detak jantung berbunyi dengan tanpa henti serta menampilkan garis lurus.
"Dok jantung pasien berhenti." Ucap suster yang satunya lagi.
Dokter Sindi bergerak dengan cepat, ia berusaha mengembalikan detak jantung Siti sebisa mungkin. Selama masa kehamilan Siti tak ada masalah apapun, baru satu bulan terakhir Siti mengalami kenaikan tensi yang tak kunjung turun.
Reyhan diam mematung, ia tak mampu untuk bergerak, jangankan bergerak untuk mendoakan Siti dalam hati pun rasanya sudah tak mampu. Melihat dokter Sindi yang tengah berusaha mengembalikan detak jantung istrinya membuat Reyhan merasa detak jantungnya juga ikut tak berdetak.
Tak lama kemudian alat pendeteksi detak jantung kembali berbunyi normal. Menandakan detak jantung Siti kembali berdetak.
"Alhamdulillah. Pasien masih bisa bertahan." Ucap dokter Sindi bersyukur.
Reyhan kembali berdiri di samping ranjang Siti. Ia menangis tersedu-sedu di dekat kepala sang istri. Ia tak lagi memperdulikan ada dua suster dan satu dokter di ruangan itu.
__ADS_1
Reyhan memberikan kecupan di seluruh wajah Siti. Lalu ia berbisik, "jagoan kita sudah lahir sayang. Segera buka matamu, jangan pernah coba untuk tinggalkan kita." Ucapannya lalu mencium lama kening istrinya
Setelah beberapa saat bayinya bersama suster untuk dibersihkan kini bayi itu sudah di berikan pada sang ayah. Reyhan menatap bayi dalam gendongannya itu dengan tatapan haru. Ia tumbuh begitu sehat di rahim Siti hingga ia bisa sebesar ini, pikir pria yang baru saja menyandang status ayah itu. Ia membawa bayi itu ke dekat Siti
"Sayang, lihat ini anak kita udah lahir. Kamu cepat bangun." Ucap Reyhan yang merasa Siti tak kunjung bangun.
"Bapak sabar dulu ya. Pasien akan sadar dalam waktu 30 menit setelah proses operasi selesai. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan." Ucap dokter Sindi lalu pergi dari ruangan Siti setelah mendapat jawaban dari Reyhan.
Bu Lia masuk ruangan setelah kepergian dokter Sindi. Ia melihat anaknya yang tengah menggendong bayi tampan yang sedang terlelap.
"Siti belum bangun Rey." Tanya Bu Lia melihat Siti yang masih terlelap
"Kata dokter sih setengah jam lagi ma." Jawab Reyhan
"Namanya siapa?" Tanya Bu Lia dengan pandangan tak lepas dari bayi montok itu
"Sean Ayres Brata Wirya. Artinya hadiah dari Tuhan yang membawa keberuntungan. Itu nama yang Siti yang kasih ma." Ucap Reyhan memandang istrinya.
Reyhan masih terpikirkan dengan kejadian yang saat detak jantung Siti berhenti berdetak. Ia takut jika hal itu terjadi lagi. Ia memandangi Siti dengan tatapan kekhawatiran yang sangat kentara.
"Kamu kenapa sih? Kok kayaknya lagi ada yang di pikir gitu?" Tanya bu Lia
"Detak jantung Siti tadi sempat berhenti ma." Jawab Reyhan lemah
"Apa? Kamu serius, kok bisa?" Tanya Bu Lia terkejut
__ADS_1
"Nggak tahu. Nggak dijelasin tadi sama dokternya. Kejadian tadi buat aku takut ma. Aku tidak akan tenang sebelum Siti membuka matanya."
Bu Lia meletakkan Sean di box bayi. Tangannya terulur untuk menenangkan putranya itu.
"Tetap berdoa Rey. Kamu harus kuat. Tetap berpikir positif."
*
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Seharusnya Siti sudah bangun, namun hingga lebih dari 40 menit sejak operasi selesai ia tak menunjukkan tanda-tanda akan sadar.
Reyhan memutuskan untuk memanggil dokter Sindi. Kecemasannya mengenai Siti yang tak kunjung bangun membuat Reyhan merasa tak enak. Ia menunggu di luar ruangan dengan hati dan pikiran yang tak enak. Ia berjalan mondar-mandir seraya berkali kali menengok pintu yang sejak tadi tak kunjung dibuka.
"Ma kenapa dokter lams sekali ma." Ucap Reyhan tak sabar
Pintu terbuka setelah Reyhan mengatakan itu pada Bu Lia. Dua orang perawat nampak mendorong ranjang Siti untuk dibawa keluar. Reyhan dan Bu Lia membelalakkan matanya lebar-lebar
"Istri saya mau dibawa kemana dok?" Tanya Reyhan panik
"Kita akan pindahkan ke ICU pak. Istri bapak mengalami koma." Jawab dokter Sindi
Jeduarrrr
Reyhan tak mampu berucap. Ia merasa nyawanya telah diambil oleh Tuhan mendengar keadaan Siti.
Bersambung
__ADS_1