
Siti dan Reyhan berbaring telentang setelah melakukan peperangan yang panas. Peluh mereka sama sama membasahi seluruh tubuh.
"Udah nggak marah sama aku kan? Biarpun di luar sana banyak wanita yang menggoda ku, aku cintanya sama kamu aja. Nggak ada yang lain." Ucap Reyhan memeluk Siti
"Blok nomernya. Aku nggak mau kamu berkirim pesan sama wanita lain tanpa sepengetahuan aku." Pinta Siti
"Jadi kalau dengan sepengetahuan kamu boleh ya." Goda Reyhan
Plak
Siti memukul dada Reyhan. ", Please ya mas, nggak usah bikin aku kesel." Ucap Siti kesal
"Iya iya maaf. Nih, kamu sendiri yang blok nomernya." Ucap Reyhan menyerahkan ponselnya pada Siti.
"Udah nih. Kamu kerja gih." Titah Siti
"Iya, kamu di sini aja. Istirahat."
Siti mengangguk. Ia memang malas untuk melakukan aktivitas hari ini, entah apa yang membuatnya malas. Ia hanya ingin rebahan di kasur seraya menunggu suaminya pulang kerja.
Siti tertidur setelah kepergian Reyhan dari ruangan itu. Ia tertidur begitu pulas, tak terasa jam sudah menunjukkan jam 12. Reyhan membangun Siti untuk makan siang. Namun ia merasa sakit di kepala setelah bangun tidur.
"Kenapa kepalanya? Sakit?" Tanya Reyhan melihat Siti yang memijat pelipisnya
"Iya, kebanyakan tidur kali ya. Jadi agak pusing." Keluh Siti
"Ya udah nih makan dulu, setelah itu kita pulang."
"Nggak usah mas, kamu kerja ada dulu. Nggak apa-apa aku istirahat di sini. Kayaknya masuk angin aku." Keluh Siti
Hueeeek
"Mas kamar mandi mana?" Tanya Situ menutup mulutnya
"Udah-udah nggak apa-apa muntahin disini." Ucap Reyhan memijat tengkuk Siti dengan lembut
Karen belum sempat makan barang sesuap pun, Siti hanya memuntahkan air. Ia merasa perutnya sangat mual.
"Aku mau tidur mas, badan aku nggak enak." Keluh Siti
__ADS_1
"Periksa aja ya."
"Nggak-nggak cuma butuh istirahat."
"Ya udah aku selesaikan kerjaan bentar ya, habis itu pulang." Ucap Reyhan membenarkan selimut Siti lalu pergi.
Reyhan kembali fokus dengan berkas dan juga laptopnya. Ia berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar Siti bisa istirahat di rumah. Pukul tiga sore akhirnya Reyhan bisa pulang. Siti masih lemas karena sejak tadi tak makan apapun. Ia akan kembali muntah jika perutnya di isi oleh sesuatu.
Siti merebahkan kepalanya di kursi, pusing yang masih mendera membuatnya memilih untuk memejamkan mata.
Fokus Reyhan jadi teralihkan antara Siti dan jalanan. Ia melihat Siti yang lemas dan sangat pucat. Reyhan yang sesekali menengok ke arah Siti tak menyadari lampu lalu lintas bewarna merah telah menyala, ia terus melajukan mobilnya.
Bruak
Reyhan tak sempat menghindar atau menginjak rem. Ia menabrak pejalan kaki yang tengah menyebarang, Siti yang tak tahu apa-apa terperanjat kaget.
"Kenapa mas? Kamu nabrak orang." Tanya Siti melihat seorang pria dan wanita yang tergeletak di depan mobil suaminya.
"Aku turun. Kamu sini aja." Ucap Reyhan lalu turun dari mobil.
Siti yang juga ingin tahu apa yang terjadi dengan mereka ikut turun. Ia melihat pria yang tergeletak berlumuran darah segar. Sedangkan seorang wanita muda yang tengah menangisi pria paruh baya itu juga mengalami luka di bagian kakinya.
"Ha? Iya iya. Pak tolong bawa ke mobil saya." Ucap Reyhan yang baru tersadar
Siti yang melihat wanita itu merasa iba lantaran ia terus meraung-raung menangisi pria yang di panggilnya ayah itu.
"Mbak, kami minta maaf ya. Kami nggak sengaja. Mudah-mudahan ayah mbak baik-baik saja." Ucap Siti berharap agar wanita itu tenang.
"Ayah satu-satunya keluarga saya mbak. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan ayah. Saya nggak punya siapa-siapa lagi." Jawab wanita itu tersedu-sedu
"Pasti ayah mbak akan baik-baik saja. Kita berdoa sama-sama." Ucap Siti yang hanya dijawab anggukan oleh wanita itu.
Siri beralih menatap Reyhan yang nampak takut akan terjadi apa-apa dengan pria itu. Tangan Siti tergerak untuk menyentuh pundak suaminya.
"Semua akan baik-baik saja tenanglah." Ucap Siti menenangkan
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Pria itu langsung di bawa ke UGD oleh perawat. Mereka semua menunggu dengan gusar. Wanita itu mondar-mandir masih dengan pipi yang basah karena air mata.
Siti menggenggam tangan Reyhan dengan erat. Ia tahu suaminya pasti khawatir dengan keadaan pria itu.
__ADS_1
"Keluarga pak Amin." Ucap dokter itu setelah membuka pintu UGD
"Saya, saya anaknya dok. Bagaimana keadaan ayah saya?" Tanya wanita itu.
"Maaf sekali mbak. Kita tidak bisa menyelamatkan pasien, karena pasien mengalami pendarahan di otak dan pecah pembuluh darah. Jadi maaf sekali kami tak bisa berbuat apa-apa." Ucap dokter tersebut
Jeduaar
Jantung wanita itu serasa melompat dari tempatnya. Ia tak lagi meraung-raung, ia terduduk lesu dengan tatapan mata kosong.
Reyhan tak kalah syok. Ia telah membunuh seseorang, ia sudah menjadi pembunuh, batin pria itu.
Siti bingung, ia harus menenangkan siapa. Mereka berdua sama-sama syok nya.
"Mbak, mbak tenang dulu. Kita duduk dulu mbak." Ucap Siti berusaha membantu wanita itu berdiri
Saat pandangan matanya bertemu dengan Reyhan wanita itu merubah mimik wajahnya.
"Kamu harus tanggung jawab. Kamu harus mendekam di penjara, kamu pembunuh. Kamu sudah bunuh ayah saya. Kamu membuat saya jadi sebatang kara. Kamu harus ke kantor polisi." Ucap wanita itu menggeret Reyhan, pria itu tak menolak, ia mengikuti langkah si wanita yang terus menggeretnya. Dalam hati ia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah ceroboh dalam berkendara
"Mbak, tenang mbak. Mbak lagi emosi. Saya mohon mbak tenang. Ini rumah sakit, kita bisa di usir dari sini mbak." Ucap Siti mencegah sang suami dibawa ke kantor polisi.
"Kamu bilang tenang? Bagaimana bisa saya kehilangan ayah saya dan saya tenang-tenang saja. Katakan bagaimana caranya." Teriak wanita itu.
Siti diam. Wanita itu melanjutkan langkahnya untuk menggeret Reyhan. Tak ada pilihan lain, Siti tak mau suaminya dibawa ke kantor polisi. Membayangkan Reyhan di penjara saja ia tak sanggup, apalagi itu benar-benar terjadi, pikir Siti.
"Sus, tolong saya sus. Wanita itu histeris kehilangan ayahnya. Saya mohon beri obat penenang dok. Lihat, suami saya akan dibawa oleh wanita itu. Saya mohon sus." Ucap Siti memohon
Merasa iba dengan Siti, akhirnya suster itu mengabulkan permintaan Siti. Selain itu wanita itu memang terlihat sangat kacau dan jika di biarkan maka akan mengganggu kenyamanan pasien.
Dengan susah payah suster itu berhasil memberikan suntikan penenang dan saat ini ia dibawa ke ruang rawat.
"Mas nggak apa-apa?" Tanya Siti
"Nggak apa-apa. Aku memang salah. Aku nggak apa-apa kalau harus di penjara." Ucap Reyhan pasrah
"Nggak. Aku nggak mau kamu di penjara, aku nggak rela. Ya aku tahu kamu salah, tapi kamu sudah bertanggung jawab. Kamu nggak lari, lagipula ini faktor ketidaksengajaan. Bukan rencana pembunuhan. Aku yang nggak rela kalau kamu harus di penjara mas. Please, jangan pasrah. Pikirkan bagaimana jalan keluarnya yang terbaik untuk kita semua. Jangan pasrah sayang, demi aku." Ucap siti menangkup pipi Reyhan dengan kedua tangannya.
Bersambung
__ADS_1