Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
28. resign


__ADS_3

"Kamu nggak perlu konsumsi ini lagi. Maafkan aku sudah mengekang kamu. Maaf." Ucap Reyhan merasa bersalah


Siti masih terisak. "Nggak mas. Biarkan aku minum ini sampai aku hamil. Aku juga mau cepat dapat anak. Kamu dukung aku aja, dukungan kamu penting buat aku." Ucap Siti menghapus air matanya.


"Maaf, sayang maafkan aku." Ucap Reyhan yang entah sudah ke berapa kali.


"Udah, nggak usah minta maaf terus. Nggak akan ada gunanya kalau suatu hari nanti hal itu akan terulang lagi, kita bertengkar untuk masalah yang sama lagi. Lebih baik kita membenahi diri sendiri, kita fokus sama tujuan kita, keinginan kita. Kita berdoa supaya Tuhan segera menitipkan janin di rahim aku." Ucap Siti masih sedih, ia kecewa dengan Reyhan yang tak bisa memahami dirinya. "Kita pulang aja, udah malam juga." Ucap Siti


Reyhan merasakan perubahan Siti, ia pasti sangat kecewa, pikir pria itu.


Sampai di rumah pun Siti masih diam. Terlintas di pikiran Siti untuk menghubungi adiknya, barang kali ia bisa membantu hal apa saja yang bisa menunjang kesuburan, namun sedetik kemudian ia urungkan. Ia tak mau kembali di hujat oleh adiknya karena tak kunjung mendapat keturunan.


Mendengar langkah kaki yang mendekat ke kamar Siti memutuskan untuk pura-pura tidur. Tak la kemudian pintu kamar terdengar di buka oleh seseorang yang ia tebak Reyhan lah yang membukanya. Pria itu duduk di tepi ranjang, namun sedetik kemudian ia ikut berbaring di belakang Siti dengan tangan yang ia lingkarkan di perut sang istri. Ia mengelus pelan perut sang istri seraya berdoa dalam hati,


"Cepatlah hadir di rahim ibumu nak, supaya kebahagiaan kita lengkap, biar ibumu juga nggak tertekan lagi dengan keadaan. Ayah sangat menginginkan kamu hadir disini, cepat datang nak." Batin Reyhan yang menitikkan air matanya


Siti yang sejak tadi diam pun tak sanggup membendung air matanya kembali, ia berusaha menutup mulutnya dengan rapat agar tangisnya tak terdengar.


*


"Selamat pagi istriku." Sapa Reyhan saat siri baru membuka mata.


"Selamat pagi mas. Udah bangun dari tadi? Kenapa nggak bangunin aku?"


Reyhan tak menjawab. Ia memperhatikan mata Siti yang bengkak. "Mata kamu bengkak banget, kamu nangis lagi semalam." Tanyanya

__ADS_1


"Nggak kok. Udah nggak usah dibahas. Nanti kita sedih lagi." Ucap Siti berusaha menghindari topik yang membuatnya sedih. "Hari ini sebelum kamu ke kantor, antar aku ke salon mbak Yurike ya. Aku mau bilang kalau aku mau resign, sekalian aku ikut kamu ke kantor boleh nggak sih. Setahun nikah aku nggak tahu gimana bentuk kantor kamu." Ucapnya lagi.


"Makasih ya udah turuti aku buat nggak kerja. Ya, hari ini kamu aku ajak ke kantor. Biar kamu tahu kerjaan aku gimana. Kau temani aku sampai aku pulang ya." Ucap Reyhan yang membernarkan letak rambu Siti yang menutupi wajahnya


Siti mengangguk cepat. "Ya udah siap-siap gih." Pinta Siti bangkit dari ranjangnya.


Sementara itu di kamar lain. Bu Lia dan juga suaminya tengah membicarakan Siti yang tak kunjung hamil. Jika dilihat dari luar memang Bu Lia tidak mempermasalahkan Siti yang tak hamil-hamil, namun ia selalu berkeluh kesah mengenai menantunya itu pada sang suami.


"Pa, mama kasian sama Reyhan. Semalem kayaknya mereka habis berantem. Mama nggak Sengaja lihat mata Reyhan agak merah kayak abis nangis. Pasti gara-gara Siti nggak mau berhenti kerja." Ucap Bu Lia seraya memoles wajahnya dengan bedak.


"Mama selalu lihat dari sisi Reyhan, kita nggak tahu apa yang dirasakan Siti ma. Mama kan perempuan, mama ngerasain banyak enaknya atau banyak nggak enaknya kalau seatap sama mertua? Pasti yang ke dua kan? Kita selama ini lihat Siti baik-baik aja, kayak nggak mikir apa-apa. Tapi tetap yang tahu dan ngerti perasaannya ya dia sendiri. Dia pasti juga beban ma mendapati dirinya yang tak kunjung hamil." Ucap pak Dani berusaha memberi pencerahan sang istri


"Ya kalau dia sadar dengan hal itu kenapa dia nggak nurut sama Reyhan?"


"Jangan menyimpulkan begitu ma. Kita nggak tau apa alasan Siti kan? Kamu dulu nggak gini lho ma." Protes pak Dani


"Nah itu kamu tahu. Urusan anak rezeki dari yang di atas ma. Kamu lupa dulu kamu gimana, untuk mendapatkan anak sulung kita? Butuh usaha juga kan? Nggak langsung dapat kan?"


Bu Lia mengingat masa lalunya, dulu pun untuk mendapatkan Rena Bu Lia dan pak Dani harus menunggu selama dua tahun.


"Iya pa, tapi mama kan waktu itu nggak kerja." Ucap Bu Lia tetap tak mau kalah


"Terserah mama aja." Ucap pak Dani keluar dari kamarnya.


*

__ADS_1


Siti dan Reyhan sudah rapi, mereka siap keluar kamar untuk sarapan lalu melanjutkan aktivitas. Ini adalah pertama kalinya Siti ikut Reyhan ke kantor.


"Loh Ti, kok tumben kamu udah rapi aja. Kan biasanya kamu berangkat agak siang." Tanya Bu Lia yang melihat Siti sudah terlihat cantik dengan dress sebatas betis.


"Aku memutuskan untuk resign ma. Ini aku mau bareng sama mas Rey ke salon. Mau bilang kalua aku mau berhenti. Habis itu aku ikut mas Rey ke kantor." Jelas Siti


"Oh gitu. Bagus kalau kamu mau berhenti kerja, biar ada banyak waktu buat Rey juga." Ucap Bu Lia senang.


"Iya ma."


Setelah selesai sarapan mereka memutuskan untuk langsung berangkat, Siti sudah menentukan waktu untuk bertemu dengan Yurike. Setelah sampai di sana ternyata Yurike sudah sampai terlebih dahulu.


Cukup lama Siti dan Yurike berbicara dari hati ke hati, sebenarnya Yurike berat untuk melepas Siti. Wanita itu adalah salah satu karyawan yang membuatnya banyak pelanggan karena hasil kerjanya yang selalu memuaskan. Namu akhirnya Yurike menerima keputusan Siti. Biar bagaimanapun Siti sidah bersuami, ia harus lebih mementingkan keluarga dibandingkan dengan pekerjaan, begitu pikir Yurike. Setelah dirasa selesai, Siti pamit kembali pulang. Ia benar-benar meninggalkan salon setelah berpelukan untuk terakhir kalinya dengan Yurike sebagai karyawan.


"Aku janji aku akan sering kesini meskipun cuma main." Ucap Siti


"Datanglah sesuka hatimu. Pintu ini akan selalu terbuka buat kamu. Mudah-mudahan apa yang kamu inginkan segera terwujud ya." Harap Yurike


Siti berjalan dengan enteng. Entah mengapa ia merasa bebannya terasa sedikit terangkat. Ia sudah tak bekerja, sudah mengabulkan keinginan sang suami. Ia berharap tidak ada lagi pertengkaran setelah ini.


"Udah?" Tanya Reyhan begitu Siti sampai di dalam mobil


"Udah, ayo ke kantor." Ajak Siti


Reyhan tersenyum lalu melajukan mobilnya pergi dari pekarangan salon Yurike.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2