Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
52. Cari istri lagi


__ADS_3

"Hai Ar masuk." Ucap Reyhan melihat Arga yang membuka pintu


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Arga duduk di kursinya dekat ranjang sedangkan Mawar mendudukkan dirinya di tepi ranjang, dekat kaki Siti


"Aku baik. Aku senang mendengar kabar kau bebas meski jadi tahanan kota. Setidaknya kau bisa menghirup udara kebebasan." Ucap Reyhan terkekeh


"Aku juga nggak nyangka sebenarnya. Siti belum ada perkembangan?" Tanya Arga


Reyhan menunduk menyembunyikan kesedihannya. "Belum ada yang signifikan, hanya saja dia sudah merespon ketika aku ajak bicara, pas aku bawa Sean kesini juga ada respon. Sejauh ini dia hanya bisa kasih respon menangis sih." Jelas Reyhan


"Yang sabar ya, apapun yang terjadi akan ada hikmahnya. Siti wanita kuat Rey, dia pasti bisa melewati masa ini. Jadi kau juga harus bisa." Ucap Arga memberi semangat


Setelah berbincang-bincang cukup lama, arga dan Mawar pamit untuk pulang.


**


"Sayang, kamu tidurnya kok masih nyenyak banget sih. Kasihanilah aku, kalau kamu tidur terus aku nggak ada yang urus. Mau sampai kapan aku harus menyiapkan baju kantor sendiri, masang dasi sendiri, nggak ada yang antar aku ke teras pas berangkat kerja." Ucap Reyhan membuka lemari mencari baju kerja


Begitulah cara Reyhan untuk berinteraksi dengan Siti, ia akan mengeluh setiap hari agar istrinya segara bangun dari tidurnya.


Reyhan masih mengomel dengan berbagai keluhan-keluhan lainnya. Tanpa ia sadari Siti berusaha untuk menggerakkan jari-jari tangannya. Tak lama kemudian perlahan-lahan Siti membuka mata dan beberapa detik kemudian mata Siti sudah terbuka sempurna. Siti masih menetralkan penglihatannya saat Reyhan masih saja mengeluhkan hal-hal sepele.


"Kalau kamu nggak bangun-bangun juga aku cari istri lagi nih. Kamu mau aku cari istri lagi? Kalau nggak mau buruan bangun yang, nggak apa-apa lah aku denger kamu ngomel dari pada kamu diemin gini." Ucap Reyhan memasang dasinya sendiri di depan cermin panjang yang berada di lemari


"Mas." Ucap Siti lirih namun berhasil mengehentikan aktivitas Reyhan. Seketika ia menoleh ke arah Siti dan berlari menuju ranjang.


Mata Reyhan berbinar melihat Siti membuka mata.


"Ya Allah, Alhamdulillah. Kamu bangun." Ucap Reyhan mengecup wajah Siti dengan mata berkaca-kaca


"Anak kita mas." Ucap Siti lirih


"Kamu mau ketemu anak kita? Aku akan panggil mama, Sean sama mama. Kamu tunggu sebentar ya." Ucap Reyhan antusias

__ADS_1


Ia berlari tunggang langgang menuju lantai bawah seraya berteriak


"Mama, Siti ma. Mama." Teriak Reyhan yang membuat Bu Lia panik. Ia berlari dari teras menuju ke dalam rumah dengan Sean ditangannya.


"Siti kenapa Rey?" Tanya Bu Lia panik.


"Siti ma. Siti bangun, dia nyari Sean." Ucap Reyhan kegirangan seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan


"Siti sudah bangun? Ya udah ini bawa Sean ke kamar. Mama telepon dokter kita buat meriksa dia." Ucap Bu Lia yang tak kalah girang seraya menyerahkan Sean pada Reyhan


Reyhan membawa Sean ke kamarnya.


"Bunda udah bangun sayang. Bunda pasti senang bisa lihat kamu." Ucap Reyhan menciumi pipi gembul Sean


"Bunda." Ucap Reyhan membuka pintu kamarnya


Siti berusaha untuk duduk dengan sudah payah.


"Jangan duduk dulu." Ucap Reyhan mencegah Siti untuk duduk


"Tiduran, biar aku letakkan Sean di ranjang ya. Please nurut." Pinta Reyhan


Reyhan meletakkan Sean di tengah ranjang, bayi tiga bulan itu sangat aktif, ia langsung tengkurap begitu di letakkan di ranjang. Siti yang belum bisa bergerak bebas itupun hanya menatap sean dengan haru. Air matanya luruh seketika ketika Sean menatap Siti dengan menunjukkan senyumnya.


"Maafin bunda ya nak. Bunda belum bisa urus kamu." Ucap Siti menangis. "Mas bantu aku duduk mas." Pintanya kemudian


"Jangan dipaksa kalau nggak bisa ya." Ucap Reyhan mengulurkan tangannya membantu Siti duduk bersandar di kepala ranjang


"Gimana, ada yang sakit?" Tanya Reyhan


"Nggak mas. Nggak apa-apa. Hidung aku sakit mas pakai ini, aku lepas ya." Ucap Siti bersiap akan melepas alat bantu pernapasan


"Jangan, kita tunggu dokter dulu. Masih dihubungi sama mama. Sabar ya." Ucap Reyhan

__ADS_1


Siti mengangguk, "aku mau pangku Sean mas." Ucap Siti


"Jangan dulu sayang, kamu masih lemas." Ucap Reyhan mendekatkan Sean pada ibunya.


Bayi tiga bulan itu menendang-nendang kaki Siti seraya tertawa. Nampaknya Sean juga merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh sang ayah.


"Kamu seneng ya lihat bunda bangun iya? Uhhh anak ayah seneng banget kayaknya." Ucap Reyhan menimang nimang Sean.


"Aku nggak sadar berapa bulan mas, kok Sean udah tengkurap aja." Tanya Siti dengan mata tak lepas dari anaknya. Ingin sekali rasanya hati menggendong Sean yang lama ia tinggalkan namun karena masih belum ada tenaga membuat Siti tak bisa melakukan itu semua.


"Tiga bulan sayang. Udah, nggak usah disesali, nggak ada yang mau juga kamu begini kan. Yang penting sekarang kita udah bisa rawat Sean sama-sama." Ucap Reyhan menggenggam tangan Siti erat.


"Aku kangen sama kamu." Ucap Siti mengelap air matanya.


"Aku juga. Aku seneng lihat kamu bangun." Ucap Reyhan berkaca kaca


"Aku tadi dengar katanya kamu mau cari istri lagu kalau aku nggak bangun-bangun." Ucap Siti


Reyhan yang mendengar itu hanya nyengir, "selama kamu koma baru tadi kok aku bilang begitu, kalau aku tahu kamu bakal bangun dengan ucapan aku yang tadi, dari hari pertama kamu koma aku bilang gitu aja." Ucapnya


"Kamu beruntung aku masih lemas, jadi nggak bisa balas kamu pakai pukulan. Aku juga masih males kalau di suruh ngomel." Ucap Siti pelan.


"Bercanda doang. Mana bisa aku berpaling dari bidadari surgaku ini." Ucap Reyhan merayu istrinya


Siti hanya membalasnya dengan senyuman. Tak lama kemudian pintu terbuka, bersamaan dengan itu bu Lia dan seorang dokter pria berkacamata nampak menyembul dari belakang pintu.


"Siti ini dokter Fan, dokter Fan adalah dokter langganan keluarga kita. Rebahan dulu sayang biar di periksa ya." Ucap bu Lia membantu Siti kembali berbaring


Dokter Fan memberikan beberapa pertanyaan pada Siti mengenai kondisinya dan juga apa yang ia rasakan setelah tiga bulan koma. Adakah keluhannya yang ia rasakan di sekujur tubuh baik luar atau dalam. Setelah itu dokternya Fan memeriksakan detak jantung Siti dan juga tekanan darah.


"Semua sudah normal, mulai dari detak jantung dan juga tensi darahnya. Namun karena baru saja sadar dari alam bawah sadar dan juga tenaga yang masih belum pulih membuat ibu sedikitnya pusing dan juga lemas. Tapi tidak apa-apa, tenaga ibu akan kembali seiring berjalannya waktu. Jadi lebih baik untuk sekarang ini, banyak-banyak istirahat dulu ya Bu. Kalau bisa jangan menyusui juga. Ibu harus mengembalikan tenaga ibu dulu, baru setelah itu ibu bisa beraktifitas sepeda biasa. Tapi ingat jangan yang berat-berat." Ucap dokter Fan panjang lebar.


"Baik dok, terimakasih." Ucap Siti

__ADS_1


"Ini saya kasih resep vitamin untuk menunjang kesempatan ibu ya." Ucap dokter Fan menulis resep di selembar kertas lalu menyerahkannya pada bu Lia. "Kalau begitu saya permisi." Ucap dokter Fan pamit yang diantar oleh Bu Lia.


Bersambung


__ADS_2