
Reyhan dan Siti duduk menunggu giliran pemeriksaan kandungan dengan menautkan tangan. Setelah beberapa orang bergantian masuk kini giliran Siti yang di panggil.
Seperti biasa dokter akan melakukan persiapan untuk USG. Dokter mengatakan bahwa kandungan Siti sudah memasuki usia empat Minggu. Siti diberi vitamin untuk menunjang kesehatan ibu dan janin yang ada di rahim Siti, tak lupa dokter juga memberitahukan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak. Setelah di rasa selesai mereka memutuskan pulang.
Selama di perjalanan Siti kembali lemas. Ia terlihat pucat, nampaknya kehamilan Siti yang pertama ini benar-benar membuatnya tak berdaya.
"Habis ini makan lagi ya, terus minum vitaminnya." Ucap Reyhan merangkul pundak Siti.
Begitu sampai rumah Reyhan melihat bu Lia yang sudah rapi. Nampaknya ia benar-benar serius akan rencananya yang menemani mencari kontrakan untuk Mawar.
Reyhan kembali menengok Siti yang terlihat lemas. Tak lama kemudian Siti berjalan cepat untuk ke kamar mandi.
"Ma, cari kontrakan sama supir aja ya, Siti nggak bisa ditinggal kayaknya. Lunglai banget badannya." Ucap Reyhan lalu pergi menyusul Siti yang sudah terduduk lemas di kamar mandi.
"Masih mau muntah?" Tanya Reyhan
"Nggak-nggak. Udah keluar semua." Ucap Siti lemas.
Reyhan membantu Siti berdiri, ia sangat lemas. Reyhan akhirnya mengangkat tubuh Siti dan membawanya ke kamar. Tak lama kemudian Bu Lia datang dengan sup hangat dan segelas teh hangat.
"Kayaknya kehamilan Siti ini bikin teler ya. Banyak-banyak minum atau makanan berkuah yang hangat, sedikit-sedikit aja nggak apa-apa. Tapi sering ya, biar nggak kosong juga perutnya. Udah tiduran aja, jangan ngapa-ngapain kalau masih lemas. Nanti mama beliin susu ibu hamil." Ucap bu Lia. "Rey, mama berangkat cari kontrakan dulu buat perempuan itu, lebih cepat dia itu pergi lebih baik." Imbuhnya
__ADS_1
Reyhan diam, ia tak menanggapi ucapan bu Lia yang sepertinya tak menyukai Mawar. Ia tak mau ambil pusing.
Di kamar, Mawar tengah mempercantik diri untuk mencuri perhatian Reyhan. Ia berdiri di depan cermin seraya menyisir rambut panjangnya. Merasa dirinya sudah terlihat cantik ia memutuskan keluar kamar.
Betapa terkejutnya Mawar ketika ia membuka pintu mendapati Bu Lia yang sudah berada di depan kamarnya dengan tangan yang ia lipat di depan dada.
"Tante. Kelamaan nunggu saya ya?" Tanya Mawar gugup
"Nggak, berangkat sekarang." Ucap Bu Lia lalu berjalan mendahului Mawar.
Mawar merasa gugup, ia akan kembali semobil dengan Reyhan. Ia berjalan seraya kembali membenarkan letak rambutnya.
Begitu duduk di dalam mobil, Mawar sedikit terperanjat karena yang duduk di kursi kemudi bukalah Reyhan tapi seorang pria paruh baya yang ia tebak adalah supir keluarga Reyhan.
"Ayo jalan pak. Cari kontrakan yang dekat dengan perusahaan Rey." Titah bu Lia pada si supir.
Bu Lia yang duduk di sebelah Mawar hanya menyungging senyum kecutnya. Ia tahu Mawar kesal karena yang mengantar mereka bukan Reyhan.
Bu Lia sangat peka dengan keadaan sekitar, ia tahu dari pandangan Mawar pada Reyhan, ia seperti mengagumi sang anak yang sudah memiliki istri. Ia sudah hafal dengan gelagat perempuan yang mempunyai bibit pelakor. Karena masa pengantin baru dahulu Bu Lia juga banyak menghadapi pelakor yang datang silih berganti.
Selama di perjalanan Mawar hanya menatap jalanan yang berada di samping kirinya.
__ADS_1
"Anak saya ganteng ya." Ucap bu Lia tiba-tiba
Mawar menoleh ke arah Bu Lia lalu kembali menatap jalanan
"Em kenapa tiba-tiba tanya gitu Tan?" Tanya Mawar heran
"Karena kamu beberapa kali saya pergoki menatap anak saya dengan tatapan mengagumi. Jadi saya tekankan disini, anak saya hanya ingin bantu kamu melalui pekerjaan dan tempat tinggal. Dia melakukan ini karena dia sadar dia melakukan kesalahan. Dia menyadari harus tanggung jawab dangan apa yang sudah ia lakukan. Jadi tolong, tahu diri, tahu batasan dan jaga sikap. Bekerja yang benar, hidup yang benar dan tidak perlu cari perhatian." Ucap bu Lia tegas
"Saya nggak ada pikiran kayak begitu Tante. Mungkin Tante yang salah menilai tentang saya." Sangkal Mawar
"Oh saya salah menilai tentang kamu ya. Kalau menurutmu begitu ya jangan terima tawaran Reyhan untuk bekerja di perusahaannya, bagaimana? Bisa?" Tantang Bu Lia
"Kenapa saya harus menolak? Ini sudah wajar kalau saya menerima pekerjaan dari pak Reyhan, dai bertanggung jawab atas diri saya. Dia yang buat ayah saya tiada." Ucap Mawar tak mau kalah
"Kalau begitu biar saya yang tanggung hidup kamu, nggak perlu kamu kerja di perusahaan Reyhan. Sama saja kan?"
"Tante takut anak Tante jatuh hati sama saya?" Tanya Mawar percaya diri
Bu Lia tersenyum kecut, "Buat apa saya takut, saya percaya anak saya bisa jaga hati dan dirinya dari kuman seperti kamu. Saya hanya khawatir kalau benalu seperti mu berlama-lama di satu tempat bersama anak saya. Karena wanita yang tidak punya harga diri seperti kamu ini akan melakukan apapun untuk mendapatkan sesuatu."
"Sayangnya saya nggak begitu, kita buktikan saja. Siapa yang tidak punya harga diri, saya atau anak Tante nantinya." Tantang Mawar
__ADS_1
Tak lama kemudian perdebatan itu usai karena mereka sudah sampai di sebuah kontrakan. Tanpa berucap apapun bu Lia kembali pulang. Perdebatan singkat yang baru saja terjadi membuat Bu Lia tahu bahwa Mawar hanyalah terlihat baik di wajah saja. Ia harus memperingatkan Reyhan untuk hati-hati, pikir wanita itu.
Bersambung