
"Dok, bagaimana ini bisa terjadi. Bagaimana bisa menantu saya bisa koma?" Tanya Bu Lia
"Ini kasus yang langka Bu. Dugaan saya pasien mengalami komplikasi pada saat operasi tadi, tadi pasien juga sempat henti detak jantung beberapa menit bisa jadi itu disebabkan karena kurangnya oksigen di otak. Kita akan lakukan yang terbaik untuk pasien pak Bu. Saya permisi." Ucap dokter Sindi pamit.
Reyhan terduduk lemas di depan ICU. Kakinya sudah tak mampu menahan beban tubuhnya.
"Rey, kamu harus kuat untuk Siti dan juga Sean. Kasian Sean kalau kamu begini. Mama tahu kamu sedih dengan keadaan Siti, kalau kamu begini siapa yang akan menguatkan Siti. Kalian suami-istri, ikatan cinta kalian itu kuat. Kalian harus saling menguatkan. Kamu bisa Reyhan." Ucap Bu Lia memberi semangat kepada Reyhan
"Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku tanpa Siti ma." Ucap Reyhan terisak
"Siti masih ada kesempatan untuk sembuh Rey, Siti nggak meninggalkan kita. Siti masih ada sama kita, hanya saja dia sedang istirahat dari dunia fana ini. Itu saja, sekarang kamu temani Siti. Mama mau ambil Sean dulu. Kasian dia sendirian." Ucap Bu Lia pergi ruangan bayi.
Reyhan bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke ruangan ICU setelah menghapus air matanya. Ia melihat Siti yang terbaring dengan beberapa alat medis bertempel di tubuhnya. Ia tak sanggup berucap, hanya air mata yang mewakili kesedihannya.
Memorinya kembali berputar pada satu tahun lalu. Reyhan masih ingat betul, bagaimana ia dan Siti bertengkar di hari ulang tahun pernikahannya yang pertama hanya karena seorang keturunan. Ia membuat Siti tertekan dengan keadaan sampai-sampai ia harus mengonsumsi obat kesuburan.
Setelah itu ingatan Reyhan semasa Siti yang masih hamil dengan minyak gosok di genggaman tangannya juga kembali muncul. Ia ingat betul bahwa waktu Siti tengah hamil besar ia sedang sibuk-sibuknya di kantor dan itu membuat ia pulang larut malam. Saat masuk kamar ia sudah mendapati Siti tertidur dengan minyak gosok ditangannya. Ia melihat kaki Siti yang mengkilat karena minyak. Perhatian Reyhan teralihkan hingga apa yang dirasakan istrinya saja ia tak paham.
Reyhan tak tahu apa yang membuat memori itu kembali memenuhi isi kepalanya. Ia merasa menjadi suami yang buruk bagi Siti. Ia merasa menjadi suami yang tak berguna. Di tambah lagi sekarang ia tengah terbaring antara hidup dan mati karena melahirkan keturunannya.
Waktu terus berjalan, hari terus berganti, tak terasa sudah tiga bulan Siti koma dan tak ada tanda-tanda untuk menunjukkan perubahan yang signifikan. Ia masih belum merespon ketika seseorang berbicara dengannya.
Reyhan dan keluarganya memutuskan untuk membawa Siti pulang dengan ijin dokter tentunya. Mereka sampai membeli alat medis untuk menunjang kehidupan Siti dan juga menyewa satu perawat untuk merawat Siti di rumah. Sementara Sean dirawat oleh Bu Lia.
Reyhan sudah mulai terbiasa dengan keadaan Siti. Ia berusaha bangkit dan tak mau terpuruk dalam kesedihan, ia sadar masih ada Sean yang harus ia perhatikan. Reyhan sering mengajak ngobrol Siti seperti orang sadar pada umumnya. Ia berharap dengan cara itu Siti segera bangun dari tidur panjangnya.
Hari ini Reyhan memutuskan untuk kembali aktif bekerja, ia tak mungkin membiarkan usaha yang di bangun susah payah oleh keluarganya terbengkalai begitu saja. Meskipun ia aktif di perusahaan ia tak pernah absen untuk menanyakan keadaan Siti dan juga Sean.
*
__ADS_1
Kabar Siti yang koma kini sudah sampai di telinga Mawar dan juga Arga. Mereka berniat akan menjenguk Siti sore ini. Arga baru saja di beri kompensasi menjadi tahanan kota karena selama di tahanan ia berperilaku baik dan juga menggagalkan aksi salah satu napi yang akan melarikan diri dari tahanan.
Kandungan Mawar kini sudah memasuki usia enam bulan. Apa yang menimpa Siti setelah melahirkan membuat Mawar takut.
"Apa yang menimpa Siti itu kejadian langka sayang. Kalau kamu mikir itu terus nanti yang ada kamu juga bisa mengalami hal serupa dengannya." Ucap Arga bersiap akan ke rumah Reyhan untuk pertama kalinya setelah jadi tahanan kota
Plak
"Jahat banget sih kamu ngomongnya." Protes Mawar memukul lengan Arga
"Sakit, kamu tuh ya. Aku di sel kamu merengek terus katanya kesepian lah, nggak bisa tidur karena nggak ada aku lah, sekarang aku udah ada sama kamu, kamunya main tangan. Kamu tahu nggak kamu tambah gendut, sakit tangannya kalau buat mukul." Ucap Arga yang mendapat pelototan dari Mawar
"Ya udah nggak jadi ke rumah Mbak Siti, kamu aja sana berangkat sendiri." Ucap Mawar cemberut.
"Bercanda doang sayang. Aku nggak serius ngomong gitu. Ya meskipun kenyataannya begitu, tapi kamu tetap cantik di mata aku, kamu tetap seksi, kamu tetap menggairahkan buat aku." Ucap Arga dengan bisikan di kalimat terakhir.
Mawar mengatupkan mulutnya menahan senyum.
Beberapa bulan terpisah membuat Mawar dan Arga kembali adaptasi dengan hubungan mereka. Mawar masih terlihat malu-malu saat Arga menggodanya.
Ting tong
Pintu terbuka setelah beberapa kali Arga menekan bel. Nampak asisten rumah tangga menyembul di belakang pintu dengan senyum yang mengembang.
"Eh mas Arga. Mari masuk mas." Ucap asisten rumah tangga itu
Arga dan Mawar berjalan masuk, tak lama kemudian Bu Lia muncul dengan Sean dalam gendongannya. Bayi tiga bulan itu nampak terlihat sangat gemuk dan sehat.
"Eh Arga kamu kok." Ucap Bu Lia menggantung kalimatnya
__ADS_1
"Iya Tante, saya dapat kompensasi jadi tahanan kota karena menggagalkan aksi tahanan yang kabur." Ucap Arga menjelaskan seakan mengerti kebingungan bu Lia.
"Oh gitu. Selamat ya. Ya udah ayo duduk." Ajak Bu Lia.
"Ini anaknya mas Reyhan Tan?" Tanya Mawar
"Iya, mau gendong? Tapi perut kamu udah gede."
"Nggak apa-apa Tante, saya bisa." Ucap Mawar mengulurkan tangannya untuk meminta Sean.
"Mirip Reyhan banget, Siti nggak kebagian." Ucap Arga yang ikut menoel-noel pipi Sean.
"Reyhan belum pulang Tan?" Tanya Arga
"Udah, lagi di kamar. Biasa, ngajak ngobrol Siti biar cepat bangun." Ucap Bu Lia berubah sendu
"Boleh kita kesana Tan?" Tanya Mawar
"Boleh-boleh ayo Tante antar." Ucap Bu Lia seraya meminta kembali Sean ke dalam gendongannya.
Tok tok tok
"Rey ada Mawar sama Arga mau jenguk Siti." Teriak Bu Lia dari depan kamar anaknya.
"Masuk aja ma." Jawab Reyhan
"Kalian masuk aja, Tante mau bikin susu buat Sean. Dia ngantuk kayaknya." Ucap Bu Lia kembali turun ke lantai dasar.
Arga meraih gagang pintu dan menekannya agar pintu terbuka. Ia melihat Reyhan yang tengah menyisir rambut panjang Siti.
__ADS_1
Bersambung