
Emiliano datang menemui Ruella di kediamannya saat ini. Mereka berada di sebuah ruangan sambil mengobrol banyak hal, terutama mengenai kehamilan Ruella.
Emiliano adalah sahabat terbaik Ruella, sejak dulu mereka berdua selalu menceritakan banyak hal mengenai diri mereka. Bisa dibilang, tak ada rahasia yang tidak mereka ceritakan satu sama lain.
Begitupun mengenai rahasia terbesar Ruella saat ini. Tanpa memikirkan apapun Ruella menceritakan mengenai anak Savero yang ada di kandungannya. Wanita itu sangat mempercayai sahabat baiknya itu.
"Kau sedang tidak bercanda kan, Rue?" Tatapan Emiliano membola setelah Ruella mengatakan yang terjadi pada dirinya. "Jangan bercanda seperti itu. Itu sama sekali bukan hal yang lucu, Rue!!" Emiliano tampak kesal dengan mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak sedang bercanda, Em." Jawab Ruella dengan wajah yang terlihat serius. "Di perutku sekarang memang ada seorang anak. Beberapa hari lalu dokter sudah memeriksanya."
"Kau yakin itu anak Savero?" Tatapan Emiliano penuh dengan selidik. "Kau tidak bercinta dengan pria lainnya setelah dengan pria itu?"
"Kau pun tahu, Em. Aku pasti akan menceritakan segalanya padamu setelah aku bercinta dengan seorang pria." Seru Ruella yang duduk di satu sofa tiga seat dengan Emiliano saling berhadapan. "Setelah bercinta dengannya, aku tidak melakukannya dengan pria lain lagi."
"Rue, itu sangat gawat! Bagaimana bisa kau mengandung seorang bayi dari anak tirimu?" Wajah Emiliano menampakkan ekspresi heran bercampur bingung. "Lalu apa setelah ini? Kapan Donzello akan pulang? Kalian akan memberitahunya? Ya ampun, aku jadi merasa sangat bingung pada apa yang terjadi dengan hidupmu ini."
Melihat kebingungan Emiliano, Ruella malah tertawa. Untuk wanita itu sangatlah lucu melihat reaksi sahabatnya yang seperti itu.
"Rue!!" Seru Emiliano heran pada Ruella yang malah tertawa sedangkan menurutnya apa yang terjadi pada wanita itu bukanlah hal yang patut ditertawakan. "Ini masalah sangat serius. Kenapa kau tertawa seperti itu? Pernikahanmu dengan pria yang sangat kau cintai itu akan berakhir kalau dia tahu anak yang ada di kandunganmu adalah anak putranya."
Ruella menghentikan tawanya meski baginya kecemasan Emiliano barusan semakin membuatnya ingin tertawa. Ia menatap pada Emiliano.
"Kau tenang saja, aku sudah memikirkan jalan keluar untuk masalah itu. Aku tidak akan berpisah dengan Don. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Seru Ruella. "Ya, meski aku sadari semua berjalan tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan tapi aku yakin, akan selalu ada jalan keluar yang terbaik. Dan aku pastikan kalau jalan keluar itu akan seperti yang aku inginkan."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Emiliano
"Sepertinya aku tidak akan terlalu menderita. Aku akan bercinta dengan Don ketika dia pulang, dan setelahnya akan aku katakan kalau aku hamil. Ya, aku sudah memikirkan semuanya. Savero juga sudah setuju. Dia akan menganggap kalau anak ini adalah anak ayahnya. Kami berdua sudah memutuskan hal itu bersama. Itu jalan keluar yang terbaik." Ujar Ruella.
Apa yang dikatakan Ruella membuat Emiliano tercengang. Ia sangat tidak mempercayai semua rencana yang disebut Ruella adalah jalan keluar terbaik itu. Untuknya itu sesuatu yang sangat buruk karena menyembunyikan suatu kebenaran.
"Kau tahu Rue? Saat kau berbohong maka akan muncul kebohongan lainnya untuk mendukung kebohonganmu tersebut." Seru Emiliano dengan tatapan semakin tidak percaya. "Itu akan sangat buruk saat Don tahu kalau kalian berdua menipunya mengenai hal yang sangat penting itu."
"Karena itu, kami akan menyembunyikan kebenaran itu selamanya. Don tidak akan pernah tahu hal yang sebenarnya sampai kapanpun." Jawab Ruella.
"Apa kau yakin kalau semua akan berjalan seperti yang kau rencanakan ini? Bagaimana dengan Savero? Apa dia akan benar-benar merahasiakan hal tersebut? Bagaimanapun anak yang kau kandung adalah anaknya, dia pasti akan menginginkan pengakuan tersebut dari anak yang kau kandung sekarang suatu hari nanti."
"Apa itu akan terjadi?" Ruella malah balik bertanya. Wanita yang hanya selalu memikirkan apa yang ada di hadapannya dan tidak pernah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya itu terlihat menjadi bingung. "Dia sudah setuju, seharus dia tidak akan pernah membutuhkan pengakuan dari anak ini."
Ruella berdecak, ia percaya itu tidak akan mungkin terjadi. Tidak ada alasan untuk Savero menginginkan hal seperti itu.
"Aku yakin, dia tidak akan pernah menginginkan hal itu. Dia sangat menyayangi ayahnya, dia tidak akan melakukan hal yang membuat Donzello menderita." Ucap Ruella penuh dengan keyakinan.
...***...
Pada Akhirnya Savero yang mendapatkan penolakan dari Flavia memilih untuk menikmati beberapa potong roti yang ia pesan di toko roti tersebut, beserta secangkir cappucino panas.
Pria itu menikmati makanannya sambil memperhatikan wanita yang pada dasarnya adalah kekasih dari sahabatnya.
__ADS_1
Merasa terus di perhatikan oleh Savero, Flavia memutuskan untuk berbicara dengan pria itu sejenak. Dengan langkah berat, wanita cantik dengan bola mata berwarna cokelat itu duduk di kursi di hadapan Savero.
"Aku tidak memaksamu untuk menemaniku." Ucap Savero.
"Tapi kau terus memperhatikanku." Jawab Flavia. "Itu membuatku tidak nyaman."
"Maafkan aku, aku tidak berniat membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya terpesona dengan sesuatu yang terlihat sangat menarik di depan mataku, karena itu mata ini tidak mungkin menyia-nyiakannya." Ujar Savero sambil memakan potongan kecil cake yang ada di piringnya. "Melihat sesuatu yang cantik sambil memakan sesuatu yang manis membuat semua hal menjadi terasa menyenangkan. Bukan begitu?"
Mendengarnya, Flavia mendengus dengan tawa kecil. Perkataan Savero yang terdengar seperti menggodanya membuatnya merasa lucu.
"Kapan kau akan kembali ke Inggris? Aku dengar ayahmu baru saja menikah dengan wanita muda. Apa itu benar?" Tanya Flavia.
Savero mengangguk kecil menjawab pertanyaan Flavia sambil menikmati makanannya.
"Itu kabar yang bagus. Tuan Don pasti sangat bahagia sekarang."
"Fla, ikutlah ke Inggris bersamaku." Seru Savero setelah meletakkan sendok kecil yang digunakannya memakan potongan-potongan cake. "Kita bisa tinggal bersama di sana, atau kalau kau mau kita menikah dulu."
Flavia menghela napas dengan memperlihatkan wajah kesal. Kata-kata itu sudah sering Savero ungkapkan pada dirinya, dan sudah sering juga ia menjawabnya dengan penolakan.
"Sav, sudah berapa kali kau mengatakan semua hal itu padaku dan sudah berapa kali juga aku langsung menolaknya dengan tegas." Jawab Flavia dengan tatapan tajam.
"Karena itu, kali ini jangan langsung menolaknya. Pikirkan terlebih dahulu sebelum menjawabnya." Sahut Savero, tatapannya sangat lekat pada Flavia. Tersirat sebuah permohonan dari pancaran matanya. "Sudah hampir tiga tahun Matteo meninggal, biarkan aku yang menjagamu sekarang. Itu permintaannya yang terakhir kali padaku."
__ADS_1
...–NATZSIMO–...