BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
051. ACARA MAKAN MALAM


__ADS_3

"Kenapa diam saja, Sav? Apa hal yang kalian berdua sembunyikan?" Tanya Flavia dengan penuh kecurigaan karena Savero menjadi terlihat seperti berpikir.


Savero langsung mengalihkan tatapannya dari Flavia. Tidak mungkin dirinya mengatakan hal yang sebenarnya pada wanita yang dicintainya itu.


"Kau bicara apa? Tidak ada yang aku sembunyikan dengan Ruella." Jawab Savero.


"Aku harap memang begitu. Jangan menyembunyikan apapun dariku jika kau memang serius dengan perasaanmu padaku." Ujar Flavia. "Aku tidak akan memaafkanmu jika ternyata kau menyembunyikan sesuatu dariku, apalagi jika kau mempunyai rahasia bersama dengan wanita itu."


Savero hanya bisa terdiam. Semua karena tidak ada yang bisa ia katakan karena hal yang sebenarnya adalah dirinya menyembunyikan hal yang sangat besar, rahasia berdua bersama dengan wanita yang sangat dibenci wanita yang dicintainya itu.


"Sudahlah, kita selesaikan ini secepatnya, habis itu aku akan bersiap-siap untuk ke rumahmu. Aku tidak masalah mau siapapun yang mengundang makan malam. Bagaimanapun juga wanita itu sekarang adalah istri dari papamu." Ujar Flavia.


"Ya, itu lebih baik. Sebaiknya nanti, tidak perlu membahas apapun mengenai kematian Matteo. Papaku tidak mengetahui hal yang sebenarnya mengenai siapa pelaku penabrak lari tersebut. Yang ia tahu orang itu sudah masuk penjara." Seru Savero.


"Ya, baiklah." Jawab Flavia.


...***...


Ruella memakai gaun merah dengan seutas tali dengan model yang sangat pas ditubuhnya yang indah. Ia memperhatikan tubuhnya di depan cermin, terutama dibagikan perutnya. Usia kandungannya sudah lebih dari dua bulan meski begitu perutnya masih terlihat rata, tidak seperti wanita yang sedang hamil.


"Bagaimana penampilanku, Don?" Ruella bertanya dengan menatap Donzello melalui pantulan cermin.


"Seperti biasanya, kau selalu tampak sangat mengagumkan. Aku selalu terkesima melihat penampilanmu yang sangat sempurna." Jawab Donzello yang berdiri memperhatikan istrinya di belakang.


"Apa aku sudah terlihat seperti wanita hamil?" Ruella menoleh pada Donzello. "Apa nanti saat perutku membesar aku akan terlihat tidak lagi mengagumkan?"


Donzello berjalan mendekati Ruella dan menariknya masuk ke dalam pelukannya.


"Jangan berkata seperti itu. Kau akan selalu tampak mengagumkan." Bisik Donzello.


Ruella tersenyum senang pada jawaban Donzello. Segera wanita itu menatapnya dan langsung memberikan ciuman pada pria yang selalu menjadi pujaan hatinya tersebut.


Tok tok tokk!!


"Tuan, tuan Savero dan nona Flavia sudah sampai." Seru Paola yang mengetuk pintu dan menghentikan kemesraan sepasang suami istri itu.


"Kenapa semua orang terlalu sering mengganggu kita, Don?" Keluh Ruella.


Donzello hanya tertawa mendengar keluhan dari Ruella tersebut.

__ADS_1


Tidak berapa lama kedua orang itu meninggalkan kamar mereka dan menuju ruang makan. Hanya ada Flavia yang sudah duduk di salah satu kursi.


"Selamat datang, Flavia. Di mana Sav?" Tanya Donzello yang tidak melihat keberadaan putranya di sana. "Bukankah kalian datang bersama?"


"Ya, tapi saat ini Sav sedang berganti pakaian di kamarnya." Jawab Flavia yang bangkit berdiri saat melihat Donzello dan Ruella datang.


"Duduklah, Fla... Kita tunggu Sav bersama. Kita juga masih menunggu tamu lainnya." Ujar Ruella menggerakkan tangannya memberikan gestur agar Flavia kembali duduk. "Sebentar lagi mereka pasti akan datang." Tambah Ruella sambil duduk di kursi biasanya.


"Tamu lainnya?" Tanya Flavia kembali duduk, raut wajahnya merasa heran karena Savero tidak mengatakan apapun mengenai tamu undangan makan malam yang lainnya.


"Hanya sekertarisku dan pasangannya." Jawab Donzello.


"Sepertinya aku lupa, aku juga mengundang sahabatku, Don. Aku mengundang Emiliano untuk makan malam juga bersama kita." Sahut Ruella memegang lengan kanan Donzello yang berada di atas meja. "Tidak masalah, kan?"


"Ya, tidak masalah sama sekali. Kau bebas mengundang siapa saja, sanyang." Jawab Donzer dengan memulas sebuah senyuman pada Ruella.


Tidak berapa lama Emiliano hadir seorang diri. Paola mengantarnya masuk ke ruang makan. Pria itu langsung menghampiri semua orang dan memberikan salam, terutama pada sahabat tersayangnya.


"Seperti biasa kau terlihat sangat memesona, Ruellaku sayang." Ucap Emiliano setelah memeluk sahabatnya itu.


"Ya, kau benar. Aku juga mengatakan hal yang sama pada sahabatmu itu, Em." Ujar Donzello menyetujui perkataan Emiliano. "Tapi dia sangat mengkhawatirkan tubuhnya berubah karena kehamilannya."


Saat yang bersamaan Savero muncul. Pria itu menjadi sedikit terkejut karena melihat keberadaan Emiliano di sana. Ia tidak tahu kalau Ruella juga mengundangnya.


"Aku tidak tahu kalau kau mengundangnya juga." Seru Savero pada Ruella sambil duduk di kursi di hadapan Ruella dan di samping Flavia.


"Ya, aku juga baru mengatakannya pada Don." Jawab Ruella dengan sebuah senyuman.


Savero hanya merasa sedikit heran. Ia jadi memikirkan apa yang hendak Ruella lakukan dengan mengumpulkan mereka apalagi wanita itu juga mengundang orang luar seperti Sofia Gollini.


Selang beberapa menit, Paola datang bersama dengan tamu terakhir, yaitu Sofia Gollini dan seorang pria yang merupakan pasangan wanita tersebut.


Melihatnya Ruella langsung beranjak dan menghampiri wanita itu untuk menyambut kehadirannya dengan senyum hangat.


"Silahkan duduk, kami sudah menunggumu. Makan malam tidak akan di mulai kalau kau tidak datang." Ucap Ruella dengan keramahan.


"Nyonya, dia adalah kekasihku, Jorginho Bonucci." Ujar Sofia mengenalkan seorang pria yang datang bersama dengannya.


"Senang kau ikut hadir ke sini tuan Bonucci." Seru Ruella berkata pada pria yang datang bersama dengan Sofia. "Silakan duduk, kita akan mulai makan malamnya."

__ADS_1


Ruella kembali ke kursinya sedangkan Sofia bersama dengan pasangannya duduk di deretan kursi yang diduduki Savero dan Flavia.


"Sebelumnya aku berterimakasih pada semuanya yang sudah hadir memenuhi undangan untuk makan malam bersama. Tujuanku mengundang kalian hanya karena ingin lebih akrab saja." Seru Ruella dengan senyum terlihat bahagia di wajahnya. "Kita akan mulai makan malamnya."


Paola bersama para pelayan lainnya menghidangkan berbagai macam makanan di meja makan. Banyak sekali makanan yang tersedia hingga meja makan yang ukurannya lumayan besar itu dipenuhi dengan berbagai jenis masakan. Bukan hanya makanan Italia saja, bahkan juga makanan dari negara lainnya.


Acara makan berlangsung dengan damai. Hanya percakapan ringan yang terjadi. Mengenai pembahasan yang tidak terlalu penting seperti nama dan rasa makanan yang mereka sedang nikmati bersama.


Lebih banyak Ruella yang berbicara dengan Donzello, yang lainnya hanya menimpali atau pun menjawab perkataan wanita itu.


Setelah hampir setengah jam mereka menikmati hidangan utama. Paola mengeluarkan hidangan penutup dan salah satunya adalah cake buatan Flavia yang dibuat khusus untuk acara makan malam tersebut.


"Nyonya, cake ini nona Flavia yang membawanya." Ujar Paola memberitahu saat meletakan makanan tersebut di hadapannya.


"Benarkah?" Tatap Ruella pada Flavia. "Kau tidak perlu repot membawa sesuatu Fla. Saat kau menikah dengan Sav, kita semua akan menjadi keluarga. Bersikaplah seperti keluarga dan tidak perlu kaku dengan membawakan kami makanan seperti ini."


"Tidak masalah, aku memang suka membuatnya." Jawab Flavia mencoba tersenyum dengan wajah yang kaku.


"Terimakasih, ini pasti sangat lezat. Aku sangat menyukai semua makanan manis di toko rotimu. Aku rasa toko roti milik keluargamu adalah yang terbaik di Italia, ah maksudku di dunia." Ucap Ruella dengan sebuah senyum yang terlihat dibuat-buat di mata Flavia.


"Ya, kau benar sayang, kita akan lebih sering memakannya saat mereka berdua menikah nanti." Tambah Donzello


"Paola, potonglah cake ini dan bagikan pada semuanya." Seru Ruella pada kepala pelayan di rumah itu.


Paola mengikuti intruksi nyonya besarnya dengan membagikan cake buatan Flavia. Mereka semua menikmati makanan tersebut dengan sebuah red wine, kecuali Ruella yang sedang mengandung.


"Ini benar-benar sangat lezat." Ucap Ruella saat memakan cake-nya.


"Nyonya benar, ini sangat enak sekali." Ujar Sofia ikut mengomentari cake yang juga ia makan. "Sejak lama aku pun menyukai roti-roti di Pasticceria Martesana. Toko rotimu memang yang terbaik di dunia." Sofia menoleh pada Flavia yang duduk di samping kanannya.


"Terimakasih." Ucap Flavia tersenyum karena mendapatkan pujian dari orang yang tidak dikenalnya.


"Sofia, dari mana kau tahu kalau toko roti milik Flavia adalah Pasticceria Martesana?" Tanya Ruella.


Sofia tampak terkejut ketika mendengar pertanyaan Ruella. Yang lainnya langsung menatap padannya untuk menunggu jawabannya.


"Aku atau siapapun tidak ada yang mengatakan nama toko roti itu. Dari mana kau tahu, Sofia? Ah, maksudku... Carla Retegui."


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2