
Pertanyaan Savero membuat Ruella terdiam. Sesuatu ada di benaknya saat ini. Ia jadi teringat mengenai kejadian tiga tahun lalu. Sejujurnya dirinya pun tidak bisa melupakan kejadian itu, namun tidak ada yang bisa ia lakukan mengenai sebuah kenyataan. Kenyataan mengenai hal yang tak satupun orang akan mempercayai dirinya.
"Kenapa diam saja?" Tanya Savero mengernyitkan dahinya menatap pada Ruella. "Jadi benar kau menyembunyikannya. Sepertinya kau sudah tahu kalau orang yang kau tabrak itu adalah orang yang sama dengan sahabatku—Matteo. Benar begitu?"
Ruella langsung bergerak bangun dari posisi tidurnya dan duduk di atas tempat tidur. Dirinya tidak ingin mengatakan apapun karena sepertinya perkataannya tidak akan dipercaya oleh Savero, karena itu ia hanya akan mengatakan sesuatu yang menunjukkan siapa dirinya seperti biasanya.
"Apa aku harus mengingatnya? Apa itu penting untukku? Aku rasa tidak. Semua hal yang sudah berlalu biarkan saja berlalu, untuk apa kau membahasnya lagi? Mau siapapun yang aku tabrak, baik itu sahabatmu atau orang lain. Itu tidak penting lagi, bukan? Sekarang keluarlah, dan biarkan aku melanjutkan tidurku." Ucap Ruella dengan tatapan tajam dan nada suara tegas yang penuh penekanan.
Tentu saja Savero tersulut emosi ketika mendengar perkataan Ruella yang seolah-olah tidak memedulikan dosa apa yang sudah ia perbuat dengan membunuh Matteo dulu. Bahkan dari tatapannya sama sekali tidak terlihat sebuah rasa penyesalan dirinya.
"Sekarang aku mengerti. Ternyata kau memang wanita sombong yang kejam. Tampaknya selama ini kau pun menikmati semua yang kau lakukan di dalam hidupmu." Ujar Savero dengan nada bicara yang biasa. "Ah, sepertinya yang terjadi padamu dulu dengan pria bernama Hugo itu pun, sebenarnya kau juga yang menginginkannya."
Ruella hanya diam menatap Savero yang mengatakan kalimat yang membuatnya menjadi sedih. Meski begitu, wanita itu terus menahan dirinya agar tidak menangis. Ia terus menatap tajam pada Savero yang masih terdiam memandang dirinya dari tempatnya berdiri.
"Aku tidak mengerti wanita seperti apa kau ini. Sekarang aku menjadi menyesal akan memiliki anak dari wanita sepertimu." Tambah Savero setelah itu berjalan keluar dari kamar itu.
Air mata Ruella yang tertahan akhirnya keluar karena dirinya tidak bisa menahan rasa sakit dari semua perkataan Savero tadi. Entah kenapa perkataan kasar yang dilontarkan Savero saat ini sangat menusuk hatinya. Padahal sebelumnya dirinya tidak pernah mempermasalahkan apapun semua yang dikatakan Savero padanya.
Semua itu karena efek dari kehamilan Ruella yang membuatnya menjadi terasa sakit hati saat mendengar perkataan buruk ayah dari anak yang di kandungnya.
Seharian Ruella hanya berdiam diri di dalam kamar. Ia hanya meminta kedua penjaganya memberikan kabar mengenai Hugo. Sayangnya, Hugo hanya mengalami luka tembak di bahunya dan semuanya baik-baik saja. Hal tersebut membuat Ruella semakin kesal karena rencananya gagal untuk membunuh pria tersebut.
Rasa bosan menghinggapi Ruella sehingga berniat untuk menelepon suaminya lagi, meskipun baru satu jam lalu dirinya menelepon tadi.
"Iya sayang, aku akan pulang besok." Donzello mengatakan hal tersebut langsung saat menjawab telepon. "Aku tidak akan mengundurnya. Kau tidak perlu khawatir."
"Cepatlah pulang, kalau bisa hari ini jika tidak ada pekerjaan apapun lagi, langsung pulang saja." Seru Ruella dengan sangat tidak semangat berbicara di telepon.
"Maafkan aku, Rue. Aku sudah terlanjur berjanji untuk makan malam bersama dengan paman dan bibimu." Jawab Donzello.
__ADS_1
"Paman Vern dan bibi Viv?" Tanya Ruella. "Ya, baiklah. Besok pulanglah cepat, aku sangat merindukanmu."
Setelah menutup teleponnya, Ruella menghela napas panjang karena rasa bosannya saat ini terasa begitu menyiksa dirinya. Ia memegang perutnya untuk merasakan janin yang ada di dalamnya.
Dirinya kembali teringat perkataan Savero yang sangat menyakitkan tadi dan sekarang membuat Ruella menjadi kembali bersedih.
Siapapun tidak akan ada yang percaya perkataannya, karena itu dirinya tidak ingin mengatakan apapun mengenai yang sebenarnya terjadi tiga tahun lalu pada siapapun. Semua itu karena ia tidak memiliki bukti apapun untuk hal yang sebenarnya terjadi itu.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul Paola membawakan buah-buahan untuk Ruella.
"Makanlah buah-buahan ini, nyonya, agar kau kembali sehat lagi." Seru Paola meletakkan sepiring buah-buahan yang sudah di potong ke atas meja di samping tempat tidur.
"Sudah aku bilang, aku sudah baik-baik saja, Paola." Jawab Ruella menyunggingkan bibirnya.
"Ya sepertinya begitu, tapi wajah nyonya terlihat tidak seperti biasanya. Apa ada sesuatu yang nyonya pikirkan?" Tanya Paola yang berdiri memperhatikan Ruella.
"Tuan Sav? Sejak jam tiga sore tadi dia berada di kamarnya setelah pulang dari rumah sakit." Jawab Paola sambil melirik ke jam dinding di kamar itu. "Sekarang jam empat sore, itu berarti sudah satu jam dia di dalam kamar. Memang ada apa nyonya? Apa ada yang terasa sakit? Apa nyonya mau aku memanggilnya agar memeriksamu?"
"Tidak usah. Sepertinya aku ingin pergi sekarang." Ujar Ruella bangkit berdiri dengan turun dari tempat tidur.
"Nyonya mau ke mana? Sebaiknya nyonya istirahat di kamar. Jangan kemana-mana nyonya!!" Pinta Paola dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Aku hanya akan ke suatu tempat untuk menikmati hariku. Jangan beritahu Savero. Kalau dia bertanya, jawab saja aku berada di dalam kamar. Kau mengerti?" Tatapan Ruella terlihat sangat tajam pada Paola saat ini.
...***...
Donzello yang saat ini berada di Genoa, bertamu ke rumah paman dan bibi Ruella yang tinggal di sana. Ia adalah Vernon Arkyn Sanzio dan Vivian Zeta La Nostra. Di mana Vivian adalah seorang pimpinan mafia di Venesia melanjutkan nenek dari ibunya yang merupakan pimpinan dari jaringan mafia bernama Dranheta.
Dranheta adalah kelompok mafia yang menguasai perekonomian di Venesia dan bergerak secara diam-diam ataupun bawah tanah. Vivian—adik dari ayah Ruella itu memiliki kekuatan yang sangat kuat melanjutkan neneknya Melissa Bellucci.
__ADS_1
"Silakan, Don... Nikmati semuanya." Seru Vivian yang saat ini sedang berada di Genoa. "Bagaimana keadaan Rue sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
"Ya, semua baik-baik saja." Jawab Donzello sambil menikmati makan malamnya.
"Bagaimana rasanya akan memiliki seorang anak di usiamu yang sekarang ini?" Tanya Vernon yang duduk di kursi tunggal di antara Vivian dan Donzello.
"Lebih menegangkan dan terasa seperti baru akan memiliki seorang anak." Jawab Donzello dengan diiringi tawa bersama.
"Kami tidak mengira kalau kalian berdua ternyata sudah menjalin hubungan tanpa sepengetahuan kami semua. Baguslah kalian menikah, pernikahan terjadi di waktu yang tepat karena kehamilan Rue masih sangat muda waktu itu." Ujar Vivian.
Donzello sedikit tidak mengerti apa yang dikatakan Vivian padanya.
"Maaf nyonya, apa maksudnya perkataanmu?" Tanya Donzello bingung.
"Kemarin Renata sudah bercerita padaku mengenai yang terjadi. Kami terkejut tapi itu tidak masalah, bahkan kami senang karena Rue menikah denganmu sebelum ketahuan kalau dirinya sedang hamil anakmu, Don." Jawab Vivian dengan sebuah senyuman. "Atau karena itu kalian memutuskan untuk menikah?"
Seperti tersambar petir Donzello mendengar semua perkataan Vivian padanya. Seketika rasanya dirinya seperti sedang dipermainkan saat mendengar kebenaran mengenai kehamilan Ruella. Ia tidak menyangka dengan semua itu, tentang istrinya yang sedang mengandung bahkan sebelum mereka berdua menikah.
Donzello merasa kalau selama ini dirinya sudah ditipu oleh Ruella.
"Ada apa? Kenapa wajahmu menjadi seperti itu?" Tanya Vernon yang melihat perubahan di wajah Donzello.
Donzello segera menyembunyikan perasaannya saat ini dan tersenyum.
"Ya, semua berjalan seperti yang seharusnya." Ucap Donzello dengan memulas senyum.
...–NATZSIMO–...
Kisah mengenai paman dan bibi Ruella, Vernon dan Vivian ada di novel berjudul Penebus Dosa Sang Mafia ya.
__ADS_1