BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
062. KEPERGIANNYA


__ADS_3

Ruella membuka mata dan melihat suami tercintanya masih terlelap dengan memeluk dirinya. Ia menatap Donzello dengan sebuah senyuman di pagi hari. Terlihat seberapa besar rasa cintanya pada pria itu, terlukis di wajahnya yang tampak bahagia.


Di kecupnya bibir Donzello dengan sebuah senyuman. Pria itu masih saja terlelap. Melihatnya, Ruella kembali memberikan kecupan sebanyak beberapa kali untuk membangunkan pria yang selalu menjadi pujaan hatinya itu.


Merasa terganggu dengan perlakuan istrinya, Donzello membuka mata dengan menyunggingkan sebuah senyum.


"Selamat pagi, sepertinya tidurmu nyenyak." Ujar Ruella terus menatap lekat Donzello. "Apa di dalam mimpimu kau jauh lebih bahagia hingga aku harus menciummu beberapa kali agar kau bangun?"


"Aku bermimpi bersama denganmu dan anak kita. Aku memang sangat bahagia di dalam mimpiku karena ada kau dan anak kita." Jawab Donzello.


Ruella tersenyum mendengarnya dan kembali memberikan kecupannya ke bibir Donzello.


"Kau tenang saja, itu akan terjadi." Senyum Ruella.


Donzello semakin mendekap Ruella ke dalam pelukannya. Pria itu memeluk istrinya seakan-akan itu adalah pelukan yang terakhir untuk mereka.


"Don, apa kau sudah mencari nama untuk anak kita?" Tanya Ruella yang berada di dalam pelukan suaminya. "Kita belum tahu apa jenis kelaminnya, jadi sebaiknya kita mencari satu nama anak laki-laki dan satu nama anak perempuan."


"Ya, itu lebih baik." Jawab Donzello dengan sebuah senyum simpul tanpa diketahui Ruella.


"Bagaimana jika kau yang memilih nama anak perempuan dan aku memilih nama anak laki-laki?" Tatap Ruella.


"Ide bagus. Lalu apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak laki-laki?" Tanya Donzello saling bertatapan dengan Ruella.


"Diangello sepertinya cocok untuk nama anak kita. Donzello dan Ruella menjadi Diangello. Bagaimana?" Tanya Ruella.


Donzello kembali memulas sebuah senyuman. Meski dirinya tahu mengenai kebenaran jika anak itu bukan anaknya, ia tetap merasa senang.


"Itu sangat bagus." Jawab Donzello.


"Lalu, apa kau sudah mendapatkan nama anak perempuan yang bagus?" Tanya Ruella lagi.


Donzello kembali memeluk Ruella dengan mendekapnya, jauh lebih erat.


"Aku akan memikirkannya. Aku akan mencari nama yang cantik untuk anak kita." Ucap Donzello dengan wajah murung. "Aku mencintaimu, Rue."


"Tidak, aku yang mencintaimu. Kau hanya baik padaku." Seru Ruella.


Donzello tidak berkata apapun lagi. Pria itu hanya mendekap tubuh Ruella dengan sangat erat.

__ADS_1


Kejadian tadi pagi itu, terlintas dalam benak Ruella saat ini. Pelukan Donzello yang mendekapnya dengan penuh kehangatan rasanya masih dapat wanita itu rasakan.


Air matanya menggenang di pelupuk mata dan berakhir terjatuh membasahi wajahnya. Dirinya yang terkejut dengan kondisi suaminya saat ini, sesaat membuat Ruella menjadi terdiam membatu.


"Rue..." Panggil Donzello di balik tubuh Savero yang sedang berusaha menghentikan darah yang keluar dari dada pria itu.


Dengan rasa sedih dan ketakutan pada apa yang akan terjadi, Ruella melangkah mendekat ke arah Donzello dengan menahan isakan tangisnya. Entah mengapa pikirannya menjadi buruk saat ini.


"Don, kau tidak apa-apa, kau pasti akan selamat." Seru Ruella yang langsung memegang tangan kanan Donzello dengan menggenggamnya. "Sav, papamu baik-baik saja kan?"


"Rue dengar aku..." Ujar Donzello dengan susah payah saat berbicara.


"Tidak Don! Kau diam dulu! Katakan apapun saat kau sembuh nanti!!" Ruella tampak tidak ingin membiarkan Donzello berbicara.


"Dengarlah..."


"Tidak!!"


"Dengarlah Rue, aku sudah menemukan nama anak kita." Seru Donzello dengan terbata-bata.


Ruella menjadi terisak mendengar perkataan Donzello. Ia tahu kalau Donzello tidak akan bisa bertahan lebih lama hingga ambulan datang.


Savero langsung mengalihkan tatapannya. Yang semula pria itu fokus sedang menekan luka tembak ayahnya agar darahnya tidak mengalir terus-menerus, menjadi melihat pada Donzello.


"Sav, jagalah Rue untukku. Kau harus bersama dengannya dan menjaga anak itu." Ucap Donzello.


"Don, kau tidak perlu mengatakan itu. Kau akan sembuh. Kita akan bersama." Ruella sangat terisak karena tidak ingin membayangkan hidup tanpa Donzello.


"Sav..." Panggil Donzello dengan tatapan lekat pada putranya yang terdiam menatapnya.


Entah kenapa Savero seperti mampu membaca apa yang tersirat dari tatapan Donzello. Pria itu menyadari kalau ayahnya itu sudah mengetahui mengenai kebenaran dari anak yang di kandung Ruella.


Perasaan bersalah yang sangat besar Savero rasakan hingga pria itu tidak mampu membendung air matanya. Ia menjadi sangat menyesal karena tidak mengatakan semuanya sejak awal dan malah menipu ayahnya.


"Maafkan aku, Papa." Ucap Savero dengan sangat menyesal.


"Berjanjilah padaku, jagalah anak itu dan Rue. Kau harus melakukannya." Pinta Donzello.


Savero tidak mengatakan apapun lagi dan hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan keinginan ayahnya.

__ADS_1


Itu adalah kalimat terakhir yang dikatakan Donzello dan juga sebuah permintaan terakhir pada putranya. Donzello menghembuskan napasnya yang terakhir karena luka tembaknya mengenai organ vital dan tidak mampu bertahan lebih lama lagi.


Suara tangis Ruella semakin pecah melihat pria yang sangat ia cintai pergi untuk selamanya. Ia tidak mengira kalau pelukan tadi adalah pelukan terakhirnya dengan Donzello.


Satu bulan kemudian...


Savero berada di Pasticceria Martesana berbicara dengan Flavia. Ada yang ingin wanita itu katakan pada Savero mengenai Donzello.


Savero bersama dengan Flavia duduk saling berhadapan di sebuah meja. Kesedihan Pria itu masihlah sangat besar setelah kehilangan ayahnya.


"Beberapa hari yang lalu sebelum papamu meninggal, dia menemuiku untuk meminta sesuatu dariku." Ucap Flavia. "Kau tau Sav, saat itu aku mendengarmu dengan Ruella berbicara mengenai rahasia yang kalian berdua sembunyikan karena itu aku memutuskan untuk pergi dari sana dan memintamu untuk tidak menghubungiku."


Savero mengingatnya karena saat itu ia pun merasa aneh karena Flavia tiba-tiba memutuskan untuk pergi dan memintanya untuk tidak menghubungi dirinya. Jadi semua itu karena wanita tersebut sudah mengetahui kebenaran mengenai dirinya yang adalah ayah dari anak yang dikandung Ruella.


"Tuan Donzello menemuiku karena dia pun juga sudah mengetahuinya." Lanjut Flavia.


Savero sangat terkejut mendengarnya, jadi karena itu sesaat sebelum meninggal, entah kenapa rasanya pria itu merasa kalau Donzello tahu mengenai hal tersebut.


"Dia memintaku untuk menikah denganmu dan merahasiakan kalau kami berdua sudah mengetahui rahasia itu." Ujar Flavia. "Aku menolaknya karena aku tidak ingin melakukannya. Aku tidak ingin menjadi bagian dari suatu kebohongan yang wanita itu buat."


Savero tidak berkata apapun, ia hanya mengusap wajahnya karena rasa bersalah terus menerus ia rasakan.


"Tapi apa kau tahu? Ayahmu merasa lega saat aku menolaknya. Meski aku melihat bagaimana kebingungan terlihat dari matanya karena semua kerumitan ini, tapi aku bisa merasakan kalau dia sangat menyayangimu. Dia hanya ingin mengikuti apa yang akan kau lakukan. Entah itu kau mengakui tentang hal itu atau tidak. Papamu tidak akan melakukan apapun. Selain itu, dia juga tidak ingin menyakiti Ruella jika dia meninggalkannya. Dia sangat tahu seberapa besar cinta wanita itu padanya."


Saat mengatakan hal itu Flavia mengusap butir air mata yang keluar di sudut matanya.


"Ayahmu berada di posisi yang serba salah. Dan sekarang semuanya menjadi lebih mudah, sebaiknya kau melakukan permintaan terakhir ayahmu, Sav."


Dalam perjalanan kembali ke rumah, Savero semakin bingung harus melakukan apa. Bisa ia lihat kalau Ruella masih saja bersedih atas meninggalnya suami tercintanya. Itu membuatnya tidak ingin mengatakan apapun pada wanita itu untuk saat ini.


Savero membuka pintu rumahnya dan melihat Paola berlari padanya.


"Tuan..." Seru Paola menghampiri Savero dengan kepanikan. "Tuan dari mana saja? Aku menghubungi tuan tetapi tidak menyambung."


"Ponselku mati karena kehabisan baterai, aku tidak mengisi dayanya." Jawab Savero. "Ada apa? Apa ada hal buruk pada Rue?"


"Nyonya setengah jam yang lalu pergi membawa koper besar. Saat aku tanya, dia tidak menjawab apapun. Aku sudah mencegahnya tetapi dia tidak mendengarkan perkataanku." Ujar Paola dengan kepanikan.


Sontak Savero terkejut mendengar Ruella pergi meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2