
Savero mengikuti langkah Donzello masuk ke dalam kamar dan langsung mendekati arah tempat tidur di mana Ruella berbaring dengan sebuah kotak dibawanya.
"Sav, tolong periksa Rue. Apa dia baik-baik saja?" Pinta Donzello pada Savero.
Ruella memperhatikan Savero yang membuka sebuah kotak di meja dekat tempat tidur. Di ambilnya sebuah stetoskop dan langsung berbalik melihat padanya.
"Kau seorang dokter?" Tanya Ruella sedikit tidak mengira mengenai pria itu.
"Ya, dia dokter yang bekerja di rumah sakit terbesar di Inggris." Jawab Donzello menjawab pertanyaan istrinya.
Savero mendekati Ruella dengan duduk di sisi tempat tidur dengan menatapnya.
"Apa yang kau rasakan? Apa kau merasa demam?" Tanya Savero.
"Tidak, tapi akhir-akhir ini aku merasa lebih tidak bersemangat dan sering merasa mual." Jawab Ruella dengan tatapan menatap Savero.
Segera Savero memasang stetoskop ke telinganya dan menurunkan selimut yang menutupi bagian dada Ruella. Pria itu menempelkan stetoskop ke bagian dada wanita yang menyembul keluar karena hanya mengenakan lingerie. Mendengarkan detak jantungnya lalu setelahnya memeriksa warna mata Ruella.
"Bagaimana, Sav? Apa dia sedang sakit?" Tanya Donzello yang hanya berdiri memperhatikan anak laki-lakinya memeriksa wanita yang adalah istrinya.
Savero tidak langsung menjawab, ia menatap pada Ruella dengan tatapan tampak berpikir. Ruella yang terus menatap padanya merasa ekspresi wajah pria itu tampak aneh.
"Ada apa? Dia hanya kelelahan kan?" Donzello kembali bertanya karena Savero tidak menjawab pertanyaannya di awal.
Segera Savero melepas stetoskop dari lehernya dan berbalik ke arah Donzello untuk menjawab ayahnya yang terlihat khawatir pada Ruella.
"Kau tenang saja, Papa. Dia baik-baik saja. Dia memang sedang kelelahan." Jawab Savero meyakinkan. "Biarkan dia istirahat malam ini dan tunda malam pertama kalian."
Donzello mendengus dengan perkataan Savero, rasa lega ia rasakan. Meski dirinya harus menunda malam pertama untuknya itu tidaklah masalah, asalkan wanita yang perlahan sudah memasuki hatinya itu baik-baik saja.
__ADS_1
"Ya, sebaiknya kami istirahat malam ini." Jawab Donzello. "Lagi pula besok aku akan pergi ke Venesia untuk beberapa hari karena ada urusan pekerjaan."
"Apa? Kita akan pergi bersama kan?" Tanya Ruella sedikit terkejut karena sebelumnya Donzello tidak mengatakan apapun mengenai hal tersebut.
"Ya, tentu saja. Aku berencana memberi kejutan padamu besok. Kita akan pergi ke sana sekalian untuk berbulan madu—"
"Tidak, Papa. Sebaiknya biarkan dia istirahat dulu. Keadaannya sedang tidak baik untuk pergi kemana-mana." Ujar Savero menyambar perkataan Donzello. "Saat dia sudah membaik maka kalian bisa berbulan madu kemanapun."
"Jadi begitu." Ucap Donzello tampak berpikir.
"Tidak masalah, kan? Aku bisa istirahat saja di sana—"
"Jangan Ruella, lebih baik kau istirahat di sini saja. Aku akan memajukan kepulanganku dan tidak akan lama berada di sana. Benar kata Savero, saat keadaanmu lebih baik, kita akan berbulan madu kemanapun yang kita inginkan." Ujar Donzello meyakinkan Ruella yang tampak ingin ikut bersamanya besok ke Venesia.
"Papa, aku akan berada di sini menemaninya dan akan kembali ke Inggris setelah kau pulang. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Seru Savero setelah itu berjalan menuju pintu keluar dengan kotak berisi perlengkapannya sebagi dokter.
Meskipun Ruella tampak tidak ingin ditinggal oleh Donzello namun bagaimana lagi. Tampaknya suaminya itu pun akan lebih mementingkan kesehatannya dan tidak mau mengambil resiko agar kondisi tubuhnya tidak makin parah.
Melihatnya membuat Ruella ikut tersenyum. Segera pria itu mencium bibirnya dengan lembut.
Di luar kamar tersebut masih berdiri seorang pria yang melihat bagaimana ayahnya mencium seorang wanita dengan perlakuan lembutnya. Dengan suatu pikiran yang saat ini ada dibenaknya, membuat Savero terlihat menatap kedua pasang di dalam dengan tatapan dingin.
Hari baru menjelang dengan penuh kehangatan. Cuaca kota Milan yang begitu cerah menyambut sepasang suami istri yang baru saja bersatu dalam sebuah ikatan yang kuat.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Donzello pada sang istri yang baru saja menghabiskan sarapannya di atas tempat tidur.
Seorang pelayan berusia cukup berumur bernama Paola baru saja keluar dari kamar itu untuk membawa perlengkapan makan Ruella.
"Aku rasa aku sudah lebih baik. Bagaimana kalau aku ikut saja denganmu? Aku akan kesepian saat berada di rumah ini sendirian." Jawab Ruella mencoba membuat suaminya berubah pikiran dan mau mengajak dirinya ikut serta ke Venesia.
__ADS_1
"Tidak, Rue. Istirahatlah untuk beberapa hari di rumah. Aku akan meminta Savero menemanimu selalu. Atau kau juga boleh meminta Emiliano datang menemanimu. Lakukan apa saja yang kau suka tapi jangan pergi kemanapun, apa kau mengerti?" Ujar Donzello yang langsung duduk di sisi tempat tidur menatap Ruella lekat.
Sikap perhatian dan lembut yang diberikan Donzello padanya, membuat Ruella benar-benar merasa sangat beruntung karena memiliki seorang suami sepertinya. Itu menambah berkali-kali lipat rasa cintanya pada pria tersebut.
"Pulanglah cepat. Kita baru menikah kemarin tapi kau sudah akan pergi meninggalkan aku sendirian." Keluh Ruella walaupun begitu, sebuah senyum merona diwajah cantiknya.
Donzello mencium bibir Ruella dan mengecup wanita yang adalah istri tercintanya. setelah itu bergegas keluar dari kamar untuk segera meninggalkan Milan menuju Venesia.
"Tolong periksa keadaannya setiap waktu, aku tidak ingin kedua orang tuanya khawatir padanya. Kami baru menikah kemarin, itu akan terdengar sangat buruk jika mereka tahu putri tersayangnya tidak baik-baik saja setelah menikah denganku." Seru Donzello pada Savero ketika ia berjalan ke arah pintu keluar.
"Kau tenang saja Papa. Dia akan baik-baik saja. Saat kau pulang dia akan kembali pulih." Jawab Savero mengiringi langkah ayahnya. "Aku tidak akan kemanapun untuk menjaganya."
"Pindahlah ke Italia. Aku akan meminta nyonya Renata memasukkanmu ke rumah sakit milik keluarganya di Milan. "Sebaiknya kau tinggal bersama kami. Aku tidak akan memaksamu berhenti menjadi dokter lagi."
"Baiklah, akan aku pikirkan terlebih dulu. Asal jangan pernah memintaku untuk menjalankan perusahaan, aku akan tinggal bersama denganmu."
...***...
Di dalam kamar, Ruella yang sejenak memejamkan mata, terkejut ketika pintu kamar terbuka. Dengan pandangan yang belum jelas, ia menoleh untuk melihat siapa yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Savero berjalan masuk tanpa diminta, dan bahkan ia menutup pintu kamar tersebut serta menguncinya. Tatapannya menajam pada Ruella.
"Ada apa? Aku ingin tidur sebentar untuk beristirahat." Ujar Ruella beranjak duduk tanpa berpikir hal yang aneh. "Aku sudah merasa lebih baik saat ini, meski tadi pagi-pagi sekali masih merasa mual hingga kembali muntah."
"Bangunlah, kita harus ke rumah sakit untuk lebih memastikan sesuatu." Seru Savero dengan tatapan serius.
"Ada apa? Bukannya aku hanya kelelahan? Kenapa harus ke rumah sakit? Apa yang harus dipastikan?" Ruella tampak kebingungan mendengar ucapan Savero padanya.
"Kau sedang hamil saat ini. Aku ingin memastikannya kalau itu benar atau tidak." Jawab Savero.
__ADS_1
Sontak Ruella merasa sangat terkejut hingga dirinya membeku dengan mata yang membulat.
...–NATZSIMO–...