
Savero sampai di sebuah jalan yang kanan dan kirinya adalah hutan sepanjang tiga kilometer. Jalanan yang sangat jarang dilalui mobil karena merupakan jalan alternatif. Tempat itu merupakan lokasi di mana terjadinya penghadangan mobil Ruella yang dilakukan oleh orang-orang suruhan Hugo.
Segera pria itu keluar dari mobil dan menghampiri ketiga tubuh yang sudah terkapar. Hanya ada Fazio, Paul dan Sofia.
"Sofia, apa yang terjadi?" Tanya Savero saat melihat Sofia menggerakan tubuhnya.
Segera Savero melepas kemeja yang dipakainya dan menyisakan kaos putih. Dengan kemejanya, Savero menutup luka tembak wanita itu agar darahnya tidak terus menerus keluar.
Hanya Sofia yang masih hidup. Satu tembakan yang ia terima di dadanya, tidak membuatnya langsung mati.
Savero mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi rumah sakit dan meminta dikirimkan ambulan.
"Tuan, mereka membawa nyonya Rue." Dengan tergagap-gagap karena susah bicara, Sofia mengatakan hal itu pada Savero yang baru menutup telepon. "Sebaiknya cepat cari mereka, aku mendengar kalau mereka akan meninggalkan Italia."
"Meninggalkan Italia?" Ujar Savero heran. "Kenapa pria itu membawa Rue jika ingin meninggalkan Italia?"
Jawaban dari pertanyaan tersebut membuat Savero mengambil kesimpulan kalau pria bernama Hugo itu pasti ingin melakukan pembalasan pada Ruella. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu pada Ruella, membuat Savero terus berpikir untuk mencari tahu di mana keberadaan mereka membawa Ruella saat ini.
Donzello datang bersamaan dengan ambulan. Kedua jenazah penjaga Ruella di masukkan ke dalam mobil itu, begitupun dengan Sofa.
"Papa, Sofia bilang mereka akan meninggalkan Italia dengan membawa Rue." Seru Savero ketika menghampiri ayahnya.
"Sialan!" Kesal Donzello.
Pria itu segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Ruella. Telepon tersebut tersambung namun tidak dijawab. Segera Donzello melihat ke dalam mobil yang tadi Ruella gunakan, untuk mencari ponsel istrinya.
__ADS_1
Savero hanya mengikuti ayahnya dan menunggu apa yang hendak dilakukan Donzello.
"Ponsel Rue tidak ada, tapi tersambung." Ujar Donzello setelah mematikan sambungan teleponnya. "Aku akan meminta orang untuk melacak keberadaannya dengan menggunakan nomernya."
...***...
Di tempat lain, Ruella yang sedang menghadapi ketakutannya, merasakan ponselnya bergetar. Namun wanita itu tidak berniat menjawab telepon yang ia yakinin adalah suaminya. Posisinya saat ini sedang tidak bagus karena Hugo berasa di hadapannya.
Saat mengambil ponselnya, Ruella mengubah settingan ponselnya jadi mode getar. Ia tahu kalau dirinya pasti akan dibawa ke tempat Hugo. Dengan begitu, ia berharap agar Donzello dapat menemukan lokasinya berada dengan melacak nomer ponselnya.
Hugo berjalan mendekati Ruella dengan bantuan tongkatnya. Pria itu memperlihatkan sebuah senyuman yang terlihat sangat menakutkan di mata Ruella.
"Kau seharusnya tahu Rue, tidak ada yang bisa dilakukan seorang wanita padaku. Semua akan terjadi sesuai dengan yang aku rencanakan seperti lima tahun lalu." Ujar Hugo berdiri di hadapan Ruella.
Meski rasa takutnya ia rasakan ketika pria bereng*sek itu menyinggung mengenai yang terjadi lima tahun lalu, namun Ruella mencoba untuk meredamnya. Tidak ingin ia perlihatkan ketakutannya itu agar Hugo tidak lagi melakukan apapun yang diinginkannya.
"Aku tahu kau yang menyuruh orang untuk membunuhku saat ada di sebuah restoran kemarin." Ujar Hugo. "Tapi dengarlah Ruellaku sayang... Hari ini juga aku akan membawamu ke Meksiko. Ya, aku rasa hanya negara itu yang bisa menyembunyikan keberadaanku. Di sana keluarga ibuku sangat berkuasa dan semua dalam genggamannya. Mau ayahmu atau pun Sacra Unita tidak akan bisa berbuat apapun padaku ketika berada di sana."
Apa yang dikatakan Hugo memang benar. Ibu dari pria itu merupakan adik dari gembong mafia yang menguasai Meksiko bahkan kepolisian korup ada dibawah kendali pamannya pria tersebut. Sebesar apapun La Nostra dan bahkan Camorra yang sudah bekerja sama dengan ayahnya sekalipun, karena pamannya—Vernon adalah anak angkat dari jaringan mafia tersebut, tetap tidak bisa memasuki Meksiko.
Tetapi Ruella berpikir kalau bibinya—Vivian yang menguasai perdagangan bawah tanah dan merupakan pimpinan Dranheta mungkin saja bisa menyelamatkannya nanti. Meski kebenaran kalau bibinya itu pimpinan tertinggi dari Dranheta dirahasiakan oleh siapapun, ia yakin tidak akan ada yang tinggal diam saat Ruella dalam bahaya.
Akan tetapi ia lebih berharap kalau dirinya diselamatkan sebelum Hugo membawanya ke Meksiko.
"Apa sekarang kau mengerti posisimu, Rue?" Tanya Hugo semakin mencengkram wajah Ruella dengan genggamannya. "Dengarkan rencanaku, aku akan menjadikanmu pekerja *3** komersial dengan membuatmu kecanduan pada narkoba. Tentu saja itu terjadi ketika kau sudah melahirkan."
__ADS_1
Hugo memegang perut Ruella seakan-akan memperlihatkan keseriusannya akan ucapannya.
Ruella tidak bereaksi apapun, ia hanya menatap tajam pada Hugo. Wanita itu ingin memperlihatkan kalau tak ada sedikit ketakutan lagi dirinya pada pria itu.
"Kita akan lihat apakah anakmu perempuan atau laki-laki. Aku berharap dia seorang perempuan agar aku bisa melakukan semua hal yang aku inginkan seperti aku melakukannya padamu dulu saat kau beranjak dewasa." Ujar Hugo, wajahnya menyunggingkan sebuah seringai. "Pastinya dia akan cantik sepertimu. Ya, itu jauh lebih baik dari pada anak ini adalah anak laki-laki. Karena aku akan langsung membunuhnya saat tahu dia laki-laki."
Mendengar ancaman dari Hugo, Ruella menjadi marah. Wanita itu langsung menendang tongkat yang menjadi tumpuan dari Hugo berdiri.
Seketika Hugo yang kehilangan keseimbangan langsung terjatuh ke bawah. Wajahnya langsung berubah menjadi kemarahan saat anak buahnya si pria berambut merah membantunya bangkit berdiri.
"Sialan kau!!" Geram Hugo langsung menampar wajah Ruella. "Berani sekali kau melakukannya?!" Hugo menarik lengan Ruella ke atas dengan kasar.
"Kau tahu Hugo, aku bukan lagi gadis remaja yang kau lecehkan seenaknya dulu. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau sekarang. Ya, aku sama sekali tidak takut padamu. Aku juga tidak peduli kalau kau membawaku ke ujung dunia sekalipun. Kaulah yang akan menerima semua akibatnya nanti."
Mendengar perkataan Ruella yang dikatakan dengan tatapan tajam pada Hugo, membuat kemarahan pria di hadapannya membuncah. Sebuah pukulan keras menghantam wajah cantik Ruella hingga wanita itu terjatuh.
"Aku tidak peduli meski kau hamil sekalipun. Aku akan membuatmu merasakan yang kau alami dulu karena lagi-lagi kau merendahkan siapa aku!!" Seru Hugo dengan wajah sangat marah.
Ruella yang masih terjatuh di lantai merasakan rasa sakit di perutnya. Wanita itu juga merasa terkejut ketika Hugo hendak membuka kaitan celana yang dipakainya.
"Cepat kalian pegangi dia!! Akan aku perlihatkan kalau wanita ini tetap tidak bisa melakukan apapun padaku!!" Seru Hugo lagi memerintahkan para anak buahnya untuk memegangi Ruella.
Dua orang anak buah Hugo memegangi lengan Ruella dengan menariknya bangun. Meski Wanita itu mencoba menarik kedua tangannya untuk melawan namun sia-sia. Rasa takut mulai wanita itu rasakan karena apa yang dulu ia alami akan terjadi lagi padanya.
"Lucuti semua pakaiannya!!" Perintah Hugo.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...