
Setelah keluar dari ruangan di mana Ruella dirawat, Savero memilih untuk duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruangan itu. Tak ada niatan untuknya pergi meninggalkan rumah sakit sebelum ayahnya datang.
Waktu terus berjalan, hingga Savero merasa mengantuk dan tertidur di kursi tunggu yang terbuat dari besi stainless. Meski merasa tidak nyaman namun rasa mengantuk sudah menyerangnya hingga ponselnya berdering.
Sebelum menjawab panggilan telepon dari Paula, ia melihat waktu menunjukkan pukul enam pagi. Dirinya sedikit bingung karena ayahnya belum juga datang saat ini. Segera ia menjawab panggilan telepon tersebut
"Ada apa, Paola?" Tanya Savero pada kepala pelayan di rumahnya dalam telepon.
"Tuan, bagaimana kabar nyonya? Dia baik-baik saja?" Tanya Paola di ujung telepon.
"Ya, dia baik-baik saja. Ada apa?" Savero sedikit merasa aneh karena Paola meneleponnya.
"Tuan, apa tuan Don sudah datang ke rumah sakit? "Tanya Paola lagi. "Sejak jam satu malam, tuan besar sampai di rumah. Ketika saya bertanya apakah dia sudah melihat kondisi nyonya, tuan Don tidak menjawab apapun. Dan sejak saat pulang dia berada di ruang kerjanya hingga saat ini."
Informasi yang diberikan Paola mengenai ayahnya, membuat Savero tampak bingung. Ia menjadi heran karena tidak mengerti kenapa ayahnya tidak langsung ke rumah sakit untuk menemui Ruella dan malah pulang ke rumah.
Secepatnya ia mencari nomer Donzello di daftar nama telepon di ponselnya. Ia berencana langsung menghubungi ayahnya itu untuk tahu alasannya tidak langsung menemui istrinya yang sedang dirawat di rumah sakit.
Berkali-kali Savero mencoba menghubungi ayahnya namun teleponnya tidak langsung dijawab. Namun dirinya terus mencoba hinga ke sekian kalinya, akhirnya Donzello menerima panggilan teleponnya.
"Papa, aku pikir kau akan langsung datang ke rumah sakit. Rue sudah menunggumu. Apa tiba-tiba ada pekerjaan penting yang mendesak?" Tanya Savero langsung mengatakan demikian saat teleponnya tersambung.
"Tidak, tidak ada pekerjaan apapun." Jawab Donzello.
Savero menjadi merasa aneh pada jawaban Donzello. Entah bagaimana dirinya menjadi merasa ada hal yang tidak beres pada ayahnya.
"Ada apa, Papa?" Tanya Savero heran. "Apa ada sesuatu terjadi? Kenapa sepertinya—"
"Katakan padaku, Sav. Apa kau juga tahu mengenai sesuatu?" Potong Donzello.
"Mengenai apa?"
"Kehamilan Rue yang sebenarnya." Jawab Donzello.
__ADS_1
Sontak jantung Savero seperti berhenti saat mendengar jawaban ayahnya menyinggung mengenai kebenaran dari kehamilan Ruella. Pria itu menjadi takut kalau rahasia yang disembunyikan dirinya dan Ruella diketahui oleh Donzello.
"Ada apa? Ya, sepertinya kau pun tahu hal itu."
Savero terus berpikir. Dari perkataan Donzello sepertinya kalau ayahnya sudah mengetahui tentang anak yang dikandung Ruella bukanlah anak darinya. Namun tampaknya ia belum mengetahui mengenai siapa ayah dari anak itu yang sebenarnya.
"Apa karena itu sekarang kau tidak datang menemuinya?" Tanya Savero.
Donzello tidak menjawabnya. Sejujurnya ja sangat mengkhawatirkan kondisi Ruella, namun ada perasaan kecewa yang sangat besar pada wanita itu. Kekecewaan yang bercampur dengan sebuah kemarahan karena sudah ditipu sedemikian rupa.
Karena tidak ada jawaban dari Donzello, Savero menutup teleponnya. Ia menjadi bingung harus melakukan apa sekarang namun ia berniat untuk pulang menemui ayahnya.
Namun ia teringat dengan Ruella. Wanita itu pasti masih terus menunggu Donzello. Segera Savero membuka pintu masuk ruangan di mana Ruella berada.
Ruella langsung menatap padanya ketika dirinya masuk ke dalam. Ia tidak memedulikan wanita itu yang mengusirnya dan tidak tertarik pada kehadirannya. Savero terus berpikir apa yang akan ia katakan pada Ruella mengenai Donzello yang belum juga hadir di sana.
"Di mana Don? Kenapa dia belum juga datang?"
Pertanyaan Ruella dan tatapan wanita itu seakan mendesak Savero untuk mengakhiri pikirannya untuk mencari jawaban. Sepertinya lebih baik dirinya mengatakan yang sebenarnya kalau Donzello sudah mengetahui kalau anak yang dikandung Ruella bukalah anak suami wanita itu.
"Sebenarnya—"
Ceklek!
Suara pintu yang terbuka menghentikan ucapan Savero. Kemunculan kedua orang tua wanita itu di sana membuat Savero menjadi menahan perkataannya pada Ruella.
"Rue, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja, sayang?" Tanya Renata langsung bergegas memeluk Ruella.
"Apa yang terjadi? Katakan pada papa, siapa yang membuatmu seperti ini? Apa si berengsek Hugo?" Kali ini ayahnya—Arthur bertanya dengan penuh kecemasan terpancar dari wajahnya.
"Aku sudah baik-baik saja." Jawab Ruella memberikan senyumannya.
"Mama sangat mengkhawatirkanmu, sayang. Sav, tidak ada hal buruk yang terjadi padanya, kan?" Tanya Renata menatap Savero.
__ADS_1
"Sejauh ini dia baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir." Jawab Savero.
"Di mana Donzello? Kenapa tidak ada di sini?" Seru Arthur mengernyitkan keningnya karena heran.
Ruella menoleh pada Savero untuk mencari tahu jawaban pria itu karena itu juga pertanyaan yang sebelumnya ia tanyakan.
"Terjadi sesuatu dengan pekerjaannya dan tidak ada yang bisa menanganinya selain dirinya. Dia bilang nanti siang akan datang." Jawab Savero seberusaha mungkin menampakan rait wajah yang meyakinkan dengan sebuah senyuman. "Baiklah, sepertinya aku harus pergi dulu sekarang."
Segera Savero berjalan keluar dari ruangan itu. Ia berencana untuk kembali ke rumahnya dan menemui Donzello.
Terus saja dirinya berpikir apa yang akan ia katakan pada ayahnya itu. Ia tidak tahu apakah akan mengatakan semuanya dengan sesungguhnya. Atau dirinya harus tetap merahasiakan kebenaran, kalau ayah yang dikandung Ruella adalah anaknya sendiri.
Saat sampai di rumahnya, ia segera bergegas menuju ruang kerja ayahnya. Meski begitu dirinya masihlah bimbang saat ini. Ada ketakutan semuanya semakin tambah buruk jika dirinya mengakui kalau dirinya adalah ayah dari anak yang dikandung Ruella.
"Anda sudah pulang, tuan?" Paola baru saja keluar dari ruang kerja Donzello setelah mengantarkan sarapan untuk pria itu. "Bagaimana keadaan nyonya saat ini? Kapan nyonya akan kembali?"
"Dia baik-baik saja, tapi aku tidak tahu kapan dia bisa kembali." Jawab Savero dengan nada suara datar.
"Semoga saja nyonya bisa pulang secepatnya." Ujar Paola. "Apa tuan juga ingin sarapan di dalam? Jika iya, aku akan mengantarkan sarapan untuk anda."
"Tidak usah. Aku akan makan di meja makan saja nanti." Jawab Savero.
"Baiklah tuan."
Savero memegang kenop pintu sesaat setelah Paola meninggalkan dirinya di depan pintu. Setelah itu membukanya.
Donzello yang berada di kursi meja kerjanya langsung terlihat oleh Savero. Meski di hadapan pria itu sudah tersedia menu sarapan yang diantarkan Paola barusan, ayahnya itu terlihat mematung, tampak tengah berpikir dengan tatapan satu arah karena melamun.
Savero melangkah masuk ke dalam mendekati arah Donzello yang masih berkutat pada pemikirannya. Ia berdiri di hadapan meja ayahnya, meski begitu Donzello tetap duduk menyamping ke arah kanannya tanpa menyadari kehadiran putranya.
"Papa, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu." Ucap Savero.
Donzello tersadar dari lamunannya dan menoleh pada Savero.
__ADS_1
"Itu adalah alasan kenapa aku menyembunyikan hal yang sebenarnya mengenai kehamilan Rue padamu." Lanjut Savero dengan saling menatap dengan Donzello.
...–NATZSIMO–...