BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
012. TIDAK SABAR BERCINTA


__ADS_3

Sejak bangun tidur Ruella terus saja merasa mual. Wanita itu memuntahkan semua sisa isi perutnya di hari sepagi ini.


"Nyonya baik-baik saja? Apa nyonya masih sakit?" Tanya Paola ketika Ruella keluar dari toilet di dalam kamarnya.


Ruella melihat kehadiran pelayannya tersebut dengan wajah yang masih sedikit menahan rasa mual yang disebabkan anak di dalam kandungannya.


"Aku baik-baik saja. Aku sudah merasa sehat sekarang." Jawab Ruella yang masih berdiri di pintu toilet.


"Kalau begitu, nyonya ingin sarapan di kamar atau ke meja makan?" Tanya Paola.


"Meja makan saja." Ucap Ruella.


"Sebaiknya nyonya segera ke meja makan. Tuan Savero baru saja memulai sarapannya." Ujar Paola. "Saya akan menyiapkan sarapan anda ke meja makan."


Segera Ruella berganti pakaian yang semula hanya menggunakan lingerie dan memakai pakaian dengan gayanya sekarang. Lalu berjalan ke meja makan.


Savero yang sedang menikmati makanannya menoleh pada kehadiran wanita itu. Ia hanya diam saja dan mencoba fokus menghabiskan spaghetti di piringnya.


"Sav, hari ini belikan aku roti yang kemarin kau belikan padaku. Aku sangat menyukainya." Ujar Ruella duduk di kursi yang ada di hadapan Savero.


Meja makan di rumah itu memiliki ukuran yang besar dengan terdapat dua belas kursi yang saling berhadapan. Mejanya pun memiliki panjang dan lebar yang sangat luas.


"Atau aku akan ikut bersamamu ke sana untuk membelinya." Lanjut Ruella sambil menggulung spaghetti yang baru saja disendokkan Paola ke piringnya.


"Aku tidak ingin kemanapun hari ini." Jawab Savero dingin.


"Kalau begitu beritahu aku di mana alamatnya, aku akan ke sana untuk membelinya sendiri. Aku juga merasa bosan karena beberapa hari ini berada di rumah terus." Seru Ruella dengan mengeluh. "Apa nama toko roti itu? Pasticceria Martesana? Itu ada di mana?"


"Alamatnya di—" Perkataan Savero terhenti.


Ia teringat kalau sebaiknya Ruella tidak datang ke sana karena Flavia akan bertemu dengan wanita itu, wanita yang menabrak Matteo namun bebas karena ayahnya membayar orang untuk menggantikannya masuk ke penjara.


"Aku akan menyuruh pelayan membelinya. Kau tidak perlu ke mana pun." Lanjut Savero meralat apa yang ingin ia katakan. "Apa Papa sudah memberitahu kapan akan pulang? Lebih baik dia pulang cepat, itu akan lebih aman." Perkataan Savero terdengar dengan nada suara yang sedikit memelan karena pria itu tidak ingin siapapun mendengar percakapan mereka. Bahkan ia memastikannya terlebih dahulu jika Paola tidak ada di sana. "Kalian harus segera bercinta agar kau bisa mengatakan kalau anak yang kau kandung adalah anaknya."


"Ya, tanpa kau minta pun aku memang sudah tidak sabar bercinta dengannya. Tapi terakhir kali saat dia menelepon tadi malam, dia masih belum tahu kapan akan pulang." Jawab Ruella sedikit mengatupkan bibir seksinya karena merasa sedikit kesal. "Apa sebaiknya aku menyusulnya?"

__ADS_1


Savero menatap Ruella sambil berpikir mengenai ide yang di ucapkan Wanita itu. Sepertinya hal itu tidak ada buruknya. Ia bisa mengantar Ruella dan mengatakan pada Donzello kalau keadaan istrinya sudah baik-baik saja.


"Akan aku bilang padanya. Kau akan menyusulnya dan aku akan menemanimu ke sana." Ucap Savero.


Ia tidak bisa membiarkan Ruella pergi sendiri karena yang ayahnya tahu kalau wanita itu sedang tidak sehat, karena itu Ia harus mengantarnya ke Venesia.


"Kenapa kau harus menemaniku?" Tanya Ruella merasa aneh. "Kau mengkhawatirkan aku? Apa kau takut sesuatu akan terjadi padaku? Ah tidak, apa kau khawatir pada anakmu?" Tatap Ruella dengan tatapan penuh selidik.


Savero tidak mengatakan apapun, ia hanya mendengus kesal mendengar ucapan Ruella. Semua itu salah, sama sekali dirinya tidak mengkhawatirkan wanita itu. Sedikit pun tidak.


"Ingat ya, ini bukan anakmu. Ini anak ayahmu. Anak Donzello—suamiku!!" Tegas Ruella agar Savero tidak sekali pun berpikiran kalau anak yang ia kandung adalah anaknya. "Jangan berpikiran sekali pun mengenai hal yang sebenarnya."


"Kau tenang saja. Aku tidak akan pernah mengakuinya kalau itu anakku." Nada suara Savero penuh dengan penekanan.


Percakapan mereka terhenti karena Paola datang dengan membawakan buah-buahan yang sudah pelayan itu persiapkan untuk nyonya dan tuannya. Savero dan mau pun Ruella hanya melanjutkan sesi sarapan mereka tanpa berkata apapun lagi.


"Silakan nyonya, buah-buahan ini mungkin saja akan membuat kondisi anda lebih baik. Nyonya masih saja merasa mual dan terus muntah." Kata Paola mengambilkan beberapa potong buah-buahan ke sebuah piring kristal berbentuk datar dan meletakkannya ke hadapan Ruella. "Nyonya, apa nyonya tidak sedang hamil?"


Pertanyaan Paola membuat Ruella dan Savero saling bertatapan. Mereka berdua sama-sama terkejut dengan pertanyaan Paola yang sangat tepat itu.


"Padahal kalau nyonya hamil, itu sangat bagus. Rumah ini akan ramai karena suara tangis dan tawa seorang anak." Senyum Paola.


"Ya, aku akan segera hamil. Kau tenang saja, Paola." Ruella berbicara dengan sebuah senyum pada Paola.


Savero melihat pada Ruella dengan tatapan tajam. Pria itu merasa sangat tidak suka dengan sifat Ruella yang mampu terlihat biasa saja mengatakan perkataannya itu dengan tersenyum.


Tiba-tiba Ruella merasa mual kembali. Meski wanita itu mencoba untuk menahan rasa mualnya namun keinginannya untuk memuntahkan apa saja yang barusan ia makan membuatnya langsung terasa tidak enak. Meski begitu, Ruella tetap menahannya.


"Nyonya baik-baik saja?" Tatap Paola yang menyadari perubahan di ekspresi Ruella.


"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Ruella yang berhasil menahan keinginannya untuk muntah. "Aku rasa, aku sudah kenyang. Aku akan beristirahat di kamar lagi." Ruella bangkit berdiri untuk mengakhiri sarapannya meski buah-buahan yang di sediakan Paola baru ia santap beberapa potong.


Baru dua langkah Ruella berjalan, wanita itu terlihat goyah dan hampir saja terjatuh. Beruntung Paola yang berdiri di dekatnya secara reflek memeganginya dengan penuh kekhawatiran.


"Hati-hati nyonya. Nyonya baik-baik saja?" Tanya Paola yang menahan tubuh Ruella yang menjadi lemas.

__ADS_1


Melihat Ruella yang akan jatuh, Savero langsung beranjak dari tempat duduk dan berjalan mendekati wanita itu. Ia pun menjadi khawatir sekarang. Segera pria itu mengangkat tubuh Ruella dan menaiki tangga untuk membawanya masuk ke dalam kamar.


"Sudah aku katakan jangan mengkhawatirkan aku." Ucap Ruella ketika Savero menggendongnya masuk ke dalam kamar.


"Diamlah! Aku hanya bertindak sebagai dokter dengan rasa kemanusiaan." Jawab Savero menahan amarahnya.


Savero langsung menurunkan Ruella ke atas tempat tidur. Paola juga berada di sana dengan tatapan penuh kekhawatiran pada nyonya barunya.


"Paola, ambilkan dia air putih." Seru Savero setelah membaringkan Ruella.


Dengan segera Paola bergegas keluar kamar untuk mengambilkan minuman seperti yang diperintahkan Savero.


"Kau tidak lupa meminum vitaminnya kan?" Tanya Savero pada Ruella.


Ruella tidak menjawab, wajahnya menunjukkan kalau dirinya memang tidak meminum vitamin yang diberikan untuk kandungannya. Melihat ekspresi wanita itu, Savero menjadi kesal.


"Seharusnya kau meminum vitamin itu agar kondisi tubuhmu lebih baik!!" Seru Savero kesal.


Bukannya merespon, Ruella malah turun dari tempat tidur dan langsung berjalan masuk ke dalam toilet. Rasa mualnya muncul kembali dan ia tidak bisa menahannya.


Savero mengikuti Ruella dan melihat wanita itu muntah di dalam toilet.


"Minumlah vitaminnya." Ucap Savero yang berdiri di ambang pintu toilet.


Ruella masih sibuk membersihkan mulutnya di wastafel sehingga tidak menanggapi perkataan Savero.


Ketika wanita itu selesai membersihkan mulutnya, ia berjalan keluar toilet dan melewati Savero yang masih menatapnya seakan menunggu jawaban Ruella. Akan tetapi tak ada niatan untuk Ruella menjawab karena tubuhnya terasa sangat lemas.


Karena terlalu tidak memiliki tenaga dan pandangannya menjadi tampak kabur, lagi-lagi Ruella kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh.


Untungnya Savero lebih dulu menyambar tubuh wanita itu dengan merengkuhnya dari belakang. Saat yang bersamaan pintu kamar terbuka dan muncul sosok yang membuat Savero dan Ruella sontak terkejut.


"Ada apa ini?" Tanya Donzello dengan wajah yang tampak heran.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2