BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
055. KEBINGUNGAN


__ADS_3

"Itu bukan urusanmu!" Seru Ruella mencoba untuk bersikap dingin pada Savero. "Kau tidak perlu ikut campur masalahku. Pergilah, kau tidak perlu menemaniku di sini. Tapi sekarang lepaskan infusannya. Aku akan pulang sekarang."


Sejenak Savero memperhatikan Ruella yang bangun dari tidurnya dan duduk. Segera pria itu langsung mengikuti keinginan wanita itu dengan melepaskan infusan dari lengannya.


"Setelah ini kau bisa pergi, aku akan meminta Fazio menjemput—"


Perkataannya terhenti ketika Savero malah mengangkat tubuh Ruella. Membawa wanita itu keluar dari ruangan itu.


"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!!" Seru Ruella dengan kesal menatap pada Savero yang mengangkat tubuhnya.


"Diamlah, aku akan membawamu pulang." Ujar Savero tidak mengindahkan permintaan Ruella.


Savero masuk ke dalam elevator dengan menatap Ruella dengan tatapan dingin. Ada sesuatu yang ingin pria itu katakan pada wanita itu.


"Dengarlah, anak yang kau kandung adalah anakku, apa yang kau lakukan kau harus memberitahuku. Jika kau tidak ingin aku memberitahu suamimu maka kau harus menuruti semua perkataanku!!" Ancam Savero dengan nada suara dingin.


"Diamlah! Aku tidak akan membiarkanmu mengatakan apapun pada, Don!!" Ujar Ruella. "Jika kau melakukannya, aku akan membuatmu menyesalinya."

__ADS_1


"Apa yang bisa kau lakukan?"


Tanpa Savero duga Ruella menarik tengkuknya dan langsung mencium bibir wanita itu. Hal itu membuat Savero sangat terkejut karena tidak mengira kalau Ruella akan melakukan hal tersebut padanya.


"Dengarlah Sav, kau tidak bisa melakukan apapun padaku. Aku tidak akan membiarkanmu membuat aku dan Donzello berpisah." Ucap Ruella dengan tatapan meremehkan seperti biasanya. "Sekarang lepaskan aku!"


Saat yang bersamaan, pintu elevator terbuka. Mereka berdua terkejut karena seseorang berdiri melihat pada mereka di luar elevator. Mereka tidak mengira kalau orang yang baru saja mereka bicarakan berdiri menatap pada mereka berdua.


"Papa..." Ucap Savero.


Ternyata sebelumnya Savero lebih dulu menghubungi ayahnya untuk memberitahu mengenai kondisi Ruella yang pingsan.


Donzello yang berdiri menatap pada putranya yang menggendong tubuh istrinya langsung melangkah untuk mengambilnya. Tak ada yang dikatakan Donzello pada mereka. Pria itu hanya mengambil alih tubuh Ruella dengan kedua tangannya dan segera berjalan keluar dari rumah sakit.


"Apa Sav, meneleponmu? Aku baik-baik saja, Don. Seharusnya dia tidak meneleponmu." Ujar Ruella ketika Donzello menurunkan tubuhnya ke kursi belakang mobil di mana kedua penjaganya sudah berada di kursi depan.


Donzello tidak mengatakan apapun. Ia terus diam karena suatu hal menggangu pikirannya saat ini. Sesuatu yang membuat dirinya tidak bisa mempercayainya. Bahkan baru saja dirinya melihat istrinya digendong oleh pria yang ia duga adalah ayah dari anak yang dikandung istrinya. Pria yang merupakan anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Don, ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu? Aku merasa ada yang aneh. Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Ruella yang duduk di samping kiri Donzello.


"Tidak ada. Aku hanya merasa lelah." Jawab Donzello dengan sangat dingin.


Ruella langsung memeluk Donzello. Walau sebenarnya ia tahu ada sesuatu yang aneh pada suaminya yang tidak terlihat seperti biasanya itu.


"Don, aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah ingin berpisah darimu." Ujar Ruella mendekap pada Donzello seperti tidak ingin kehilangan pria itu. "Maafkan aku kalau aku menyakitimu. Kau harus tahu aku selalu berusaha agar bisa bersama denganmu sejak dulu."


Donzello tetap bungkam, meski begitu, pria itu mendekap tubuh Ruella yang bersandar dalam dekapannya. Ia pun juga tidak ingin kehilangan wanita itu karena sedikit demi sedikit Ruella sudah memasuki hatinya dan memberikan cinta yang besar padanya.


"Apa yang terjadi jangan tinggalkan aku, Don." Ucap Ruella dengan perasaan yang menjadi sedih karena pria yang dipelukannya tidak mengatakan apapun padanya.


Tanpa sadar air mata mengalir keluar dari matanya. Entah kenapa dirinya merasa kalau Donzello sedang memikirkan sesuatu hal yang membuat dirinya menjadi merasakan kesedihan. Ia tidak tahu apa itu, tetapi wanita itu merasakan hal yang membuatnya menjadi ingin menangis.


Donzello tetap diam. Pikirannya memang masih dipenuhi dengan kebingungan harus melakukan apa. Ia tidak mengira kalau pria yang dirinya cari dan bahkan berniat untuk ia habisi adalah putranya sendiri. Itu hal yang lebih menbuat pria itu menjadi merasa sangat bersedih saat ini juga.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2