
Donzello berada di kantornya sedang bekerja. Sofia masuk ke dalam ruangan itu dengan sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Permisi, tuan." Ucap Sofia ketika masuk.
"Ada apa?" Tanya Donzello menatap kehadiran sekertarisnya dari tempatnya duduk.
"Ada pria bernama Gianluigi Dimarco datang. Dia bilang kalau anda memanggilnya ke sini." Ujar Sofia. "Apa anda membuat janji dengannya tuan?"
"Ya, suruh dia masuk ke sini." Seru Donzello. "Sofia..."
Langkah Sofia terhenti saat akan berbalik untuk keluar dari ruangan itu.
"Ada apa, tuan?" Tanya Sofia.
"Istriku mengundangmu untuk makan malam, malam nanti. Apa kau bisa?" Tatap Donzello menyampaikan keinginan Ruella tadi pagi ketika sarapan.
Sofia tampak berpikir sejenak. Terlihat ada sesuatu yang wanita itu pikirkan hingga wajahnya menunjukkan sebuah kebingungan.
"Ada apa? Istriku hanya ingin mengenalmu. Datanglah bersama dengan kekasihmu." Ujar Donzello.
"Baiklah, tuan." Jawab Sofia setelah itu bergegas keluar dari sana untuk menemui tamu yang datang untuk Donzello.
Seorang tamu yang merupakan detektif swasta baru saja masuk ke dalam ruangan di mana Donzello berada.
"Aku sudah mendengar siapa yang ingin anda cari tuan d'Este." Ujar seorang pria bertubuh jangkung dan kurus.
Pria itu adalah Gianluigi Dimarco, seorang detektif swasta berusia 36 tahun.
Setelah memutuskan untuk mencari siapa ayah anak dari anak yang dikandung Ruella, membuat Donzello berpikir untuk meminta bantuan seorang detektif swasta. Karena itu ia menyewa jasa pria yang berada di hadapannya saat ini untuk mencari orang yang menghamili Ruella.
"Aku juga tidak ingin kalau siapapun tahu akan hal yang sedang aku cari tahu ini. Bekerjalah secara diam-diam." Ujar Donzello.
"Oke, anda tenang saja. Secepatnya aku akan mencari siapa pria itu." Jawab Gianluigi dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
...***...
Ruella menerima sebuah telepon dari sahabatnya—Emiliano ketika dirinya baru saja menikmati makan siangnya seorang diri di meja makan.
"Kau yakin semua baik-baik saja? Tidak ada perubahan dari suamimu?" Pertanyaan Emiliano di dalam telepon membuat Ruella mengernyitkan dahinya.
Ini sudah beberapa kali Emiliano mengulang pertanyaan yang sama padanya. Pertanyaan mengenai sikap Donzello apakah mengalami suatu perubahan.
"Tidak ada, Em. Semua sama seperti biasanya. Ada apa? Kenapa kau beberapa kali menanyakan hal itu? Kenapa kau tidak menjawab setiap kali aku bertanya?" Ruella terlihat sangat penasaran karena Emiliano sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. "Apa kau mengira kalau dia tahu mengenai sesuatu rahasia? Kau mengira dia tahu tentang kehamilanku yang sebenarnya ya?" Ruella berbisik saat mengatakannya karena takut seseorang mendengarkan perkataannya.
"Ya, baguslah kalau tidak ada yang berbeda darinya. Sepertinya hanya aku yang terlalu berpikir berlebihan." Jawab Emiliano di ujung telepon. "Kau sudah mendengar mengenai Hugo? Aku dengar kemarin dia kecelakaan, seseorang mengincarnya dan menabraknya hingga salah satu kakinya patah."
"Benarkah?" Tanya Ruella terkejut.
"Ya, itu kabar yang hanya sedikit orang ketahui. Tapi pria itu dirawat di rumah sakit ibumu." Ujar Emiliano. "Kalau punya kesempatan aku pasti akan membunuhnya untukmu, Rue."
Ruella merasa ingin melakukannya juga, namun membunuh pria itu di tempat seperti rumah sakit adalah hal yang buruk, apalagi jika ia melakukannya sendiri. Pasti dirinya akan diketahui begitu saja. Anak buah Hugo pun tidak akan tinggal diam dengan membiarkan seseorang masuk dan membunuh pimpinan mereka.
"Sudahlah Rue, sebaiknya kau tidak perlu melakukan apapun padanya. Dia sudah masuk penjara karena ulahnya. Sebaiknya kau menjauh saja darinya agar pria itu tidak membalaskan perbuatanmu yang memasukkannya ke penjara." Ucap Emiliano.
Karena terlalu kesal, Ruella langsung mematikan panggilan teleponnya dan segera beranjak dari kursi meja makan. Saat ia berbalik, langkahnya terhenti karena Savero berdiri di arah belakangnya. Pria itu menatap Ruella sehingga ia tahu kalau Savero mendengar semua perkataannya pada Emiliano tadi.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Ruella dengan ketus pada Savero.
"Jangan mengatakan hal-hal buruk di saat kau sedang hamil." Seru Savero berdiri saling berhadapan dengan Ruella di jarak tiga meter. "Itu sangat buruk dan tidak bagus untuk perkembangan otaknya."
"Memangnya kenapa? Apa pedulimu? Jangan mengaturku apapun lagi sekarang, bahkan papamu tidak pernah mengaturku." Seru Ruella dengan sangat kesal pada Savero sehingga dirinya secara jelas mengatakan hal tersebut pada Savero.
Setelah mengatakan hal demikian Ruella bergegas keluar dari ruangan makan tersebut dengan wajah yang tertekuk.
Sedangkan Savero melihat pada Ruella yang berjalan pergi dari sana dengan heran. Ia tidak mengerti kenapa wanita itu sangat marah ketika dirinya memberitahu hal yang baik untuknya.
"Tuan, anda mau makan siang?" Tanya Paola memecahkan lamunan Savero yang melihat pada Ruella yang pergi.
__ADS_1
Savero melihat jam tangannya dan melihat kalau waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Hari ini ia berencana ke rumah sakit untuk melihat ruang prakteknya dan mengurus sisa-sisa kepindahannya bekerja.
"Tidak usah, aku jadi tidak lapar." Ujar Savero menjawab Paola. Pandangannya tertuju pada beberapa bungkus obat serta vitamin yang berada di atas meja. Itu semua adalah milik Ruella. "Paola, apa Rue sudah meminum obat dan vitaminnya?"
"Sepertinya belum tuan. Saat hampir selesai makan tadi, nyonya menerima telepon." Jawab Paola.
Savero berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Ia sedikit kesal karena Ruella melupakan hal terpenting agar kondisinya baik-baik saja.
Di sambarnya bungkusan obat-obatan beserta vitamin itu dan langsung bergegas menuju kamar Ruella untuk memberikan semua itu pada wanita tersebut.
Baru saja Ruella masuk ke dalam kamarnya, dan hampir menutup pintu namun Savero yang bergegas langsung menahan pintu tersebut dan menerobos masuk ke dalam.
Ruella menjadi terkejut pada apa yang terjadi. Dirinya menjadi mundur beberapa langkah karena Savero langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa persetujuan dirinya.
"Ada apa? Kenapa kau ke sini?" Kesal Ruella melihat Savero yang masuk ke dalam kamarnya.
Savero menyodorkan apa yang dibawanya pada Ruella tanpa kata, akan tetapi karena rasa kesal wanita itu pada kehadiran dirinya, Ruella menepis tangannya hingga bungkusan obat dan vitamin itu terjatuh ke lantai.
"Ada apa denganmu? Dengan baik hati aku memberikannya padamu kenapa kau malah seperti ini?" Savero terpancing emosi karena dirinya tidak mengerti pada sikap Ruella yang seperti kekanak-kanakan tersebut.
Mendengar perkataan Savero membuat Ruella semakin kesal. Dirinya tidak ingin pria itu mengaturnya apalagi bersikap peduli pada dirinya. Ruella tidak ingin Savero menjadi dekat dengannya dan merasa kalau dirinya melakukan semua itu karena anak yang dikandung Ruella adalah anaknya.
"Sudah aku bilang jangan mengaturku! Jangan melakukan apapun untukku! Aku tidak membutuhkan semua perhatianmu! Dan yang paling penting dari semua itu, jangan merasa kau melakukan semua itu karena anak yang aku kandung adalah anakmu!!" Seru Ruella dengan sangat kesalnya hingga suaranya terdengar sedikit keras.
Savero menjadi terdiam mendengar semua seruan Ruella. Dirinya jadi berpikir alasan kenapa ia melakukan hal-hal yang selama ini dirinya lakukan untuk wanita itu. Sejujurnya dirinya pun tidak mengerti kenapa melakukannya.
"Jangan katakan kalau kau melakukannya karena kau seorang dokter! Aku tidak meminta saran darimu yang seorang dokter!" Ujar Ruella tatapannya semakin terlihat kesal. "Sejak awal aku katakan padamu kalau kau tidak boleh menganggap anak ini adalah anakmu! Tapi semakin hari, aku merasa kau semakin terlihat menganggapnya seperti itu!"
Kebingungan terlihat dari siratan mata Savero yang membeku. Terus saja dirinya menelisik untuk mencari tahu mengenai alasan kenapa dirinya memang melalukan semua itu pada Ruella.
Meski dirinya yang terkadang membenci wanita itu, namun tetap saja ia tidak bisa untuk tidak peduli padanya. Ia juga sadar kalau dirinya menjadi sering mengkhawatirkan Ruella hingga sampai-sampai mengikuti wanita itu beberapa kali untuk memastikan kalau ia aman.
"Jawablah, apa kau merasa kalau apa yang kau lakukan karena merasa itu kewajibanmu?" Tanya Ruella dengan tatapan kemarahan.
__ADS_1
"Ya, aku rasa tidak ada salahnya kalau aku memastikan anakku baik-baik saja." Jawab Savero.
...–NATZSIMO–...