BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
058. KETAKUTAN YANG SAMA


__ADS_3

Sehabis berbicara di telepon dengan ayahnya, Savero hendak masuk ke dalam rumah. Langkahnya yang hendak berbalik terhenti ketika melihat sebuah mobil yang ia kenal masuk ke dalam pekarangan rumahnya.


Savero tetap menunggu ketika Flavia keluar dari mobil yang berhenti tepat di hadapannya. Melihat kehadiran wanita yang sudah beberapa hari tidak dirinya temui itu membuat Savero sedikit bingung. Ia tidak tahu apa saat ini hatinya senang atau malah sebaliknya.


"Sepertinya kau tidak senang dengan kehadiranku, Sav." Seru Flavia berjalan ke arah Savero dan langsung memberikan pelukan hangat para pria itu. "Sepertinya kau memang tidak senang." Tatap Flavia.


Sebuah senyum simpul terumbar di bibir Savero. Pria itu ingin bersikap seperti biasanya pada Flavia.


"Aku senang melihatmu lagi, Fla." Jawab Savero.


"Ya, ada yang ingin aku katakan padamu, Sav. Sesuatu yang sangat penting." Ucap Flavia dengan tatapan serius dan senyum tipis.


Savero menjadi tidak sabar ingin mendengar apa yang dikatakan wanita di hadapannya saat ini. Dirinya berharap, hal yang hendak dikatakannya itu merupakan sesuatu yang membuat dirinya bahagia.


Tiba-tiba ponsel Savero kembali berbunyi. Fokus mereka berdua langsung teralihkan membuat Flavia menahan ucapannya pada Savero.


Donzello yang menghubunginya. Dengan aneh dan perasaan yang tidak enak, Pria itu menjawab telepon dari ayahnya tersebut.


"Ada apa, Papa? Apa kau sudah menghubungi Rue?" Tanya Savero saat menjawab panggilan telepon Donzello.


"Sav, kau di mana sekarang?" Tanya Donzello dengan nada penuh rasa khawatir.


"Aku ada di rumah. Ada apa? Kenapa nada bicaramu—"


"Saat aku menelepon Rue, terdengar suara hantaman dan tidak lama dari itu teleponnya terputus. Kemungkinan dia masih tidak terlalu jauh dari rumah, yang pasti jarakmu lebih dekat dari pada aku. Bisakah kau mencari tahu keberadaannya? Aku juga sudah dalam perjalana. Aku pun juga sudah memberitahu tuan La Nostr, mereka pasti—"


Sebelum ayahnya menyelesaikan perkataannya, Savero langsung mematikan teleponnya. Rasa khawatir langsung menyelimuti dirinya hingga membuat pria itu bergegas menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh.


Melihat sikap Savero yang langsung bergegas pergi dengan wajah penuh kekhawatiran, membuat Flavia merasa bingung. Wanita itu langsung mengikuti Savero dari belakang untuk menanyakan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Sav, ada apa? Kenapa kau langsung bergegas pergi?" Tanya Flavia berjalan di belakang Savero yang hampir sampai ke mobilnya.


"Ada sesuatu yang buruk terjadi pada Rue, aku harus segera menemukan keberadaannya. Kau tetaplah di sini karena ini sangat berbahaya." Seru Savero sebelum membuka pintu mobil dan menoleh untuk berbicara dengan Flavia.


"Sav—"


"Aku akan segera kembali." Potong Savero setelahnya masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan tersebut dengan sangat cepat.


...***...


Sebuah mobil menabrak mobil yang ditumpangi oleh Ruella dan rombongannya. Mobil tersebut menabrak dari belakang. Ruella yang tadi sedang menelepon dengan suaminya sontak sangat terkejut.


Beruntung semua penumpang di dalam mobil itu mengenakan sabuk pengaman. Meski begitu ponsel yang dipakai untuk menjawab telepon suaminya, langsung terjatuh dan membuat sambungan teleponnya tertutup.


"Anda baik-baik saja, nyonya?" Paul melihat pada Ruella melalu kaca spion.


Seketika terdengar suara tembakan dari luar. Mereka yang ada di dalam mobil menundukkan kepala saat hujan peluru terjadi. Untungnya, mobil yang biasa ditumpangi oleh Ruella sudah dilindungi kaca anti peluru sehingga tidak mudah untuk menembusnya.


Paul mencoba menjalankan kembali mobilnya namun sebuah mobil langsung melaju menghadang mereka. Meski begitu Paul tetap melajukan mobilnya sehingga terjadi tabrakan dan mobil tersebut terseret oleh mobil mereka.


"Nyonya, bagaimana sekarang?" Tanya Sofia yang tampak ketakutan.


Ruella pun bingung harus berbuat apa karena mereka sudah terkepung saat ini. Ia sangat yakin kalau orang-orang yang menghentikan perjalanan mereka ada orang-orang suruhan Hugo.


Kondisi mobil yang terkena ratusan peluru sudah mengalami rusak parah. Bahkan jendela yang dilapisi kaca anti peluru sudah mengalami keretakan meski belum pecah.


Mengetahui kalau dirinya sudah tidak bisa kemanapun, membuat Ruella mencoba mengambil ponselnya yang terjatuh untuk menghubungi ayahnya.


Hujanan peluru terhenti ketika seseorang bersenjata laras panjang berjalan mendekati mobil mereka. Ruella melihat pada pria berambut merah yang pastinya berniat untuk membuka pintu mobil. Itu membuat keinginan dirinya untuk menghubungi ayahnya tertahan. Selain itu, ia juga yakin kalau Donzello juga pasti sudah melakukan sesuatu dan salah satunya menghubungi ayahnya.

__ADS_1


"Nyonya, kami akan mencoba untuk—"


"Tidak usah. Kalian tidak perlu melakukan apapun." Seru Ruella memotong perkataan Fazio. "Sebaiknya kita tidak melawan, kalau itu terjadi maka mereka pasti langsung membunuh kita."


Pria berambut merah yang membawa senjata laras panjang membuka pintu di arah Ruella duduk. Wanita itu tidak melawan ketika dirinya ditarik turun oleh pria itu.


"Apa Hugo yang membayar kalian?" Tanya Ruella tanpa menunjukkan ketakutannya saat ini.


Tak ada jawaban dari pria itu. Orang-orangnya juga menyuruh kedua penjaga Ruella dan Sofia turun ketika Ruella di masukkan ke dalam mobil milik mereka.


Namun yang terjadi sangat di luar dugaan Ruella, ketika dirinya yang sudah berada di dalam mobil, melalui kaca mobil ia melihat bagaimana orang-orang tersebut menembaki kedua penjaga dan Sofia hingga mereka bertiga terkapar di tanah.


Ruella sangat terkejut. Karena terkejutnya, bahkan dirinya tidak mampu berteriak saat melihat ketiga orang itu harus mendapatkan perlakukan yang mengenaskan tersebut. Hanya matanya yang memerah dan dirinya menjadi menegang pada apa yang terjadi.


Sebuah rasa bersalah membuatnya menjadi syok karena menganggap apa yang terjadi pada ketiga orang tersebut adalah salahnya.


Ruella dibawa oleh gerombolan suruhan Hugo meninggalkan tempat tersebut dan menuju suatu tempat.


Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, pria berambut merah mengeluarkan Ruella dari mobil dengan sedikit kasar ketika mereka sampai di sebuah rumah besar yang mewah. Rumah tersebut berada di kawasan pinggiran kota Milan.


Dengan menahan rasa tidak nyaman di dirinya karena kandungannya, Ruella mengikuti langkah pria berambut merah yang menyuruhnya berjalan dengan memegangi lengan kanannya. Ia tahu kalau saat ini pasti dirinya akan di hadapkan oleh pria yang seharusnya dirinya bunuh ketika mendapatkan kesempatan kemarin.


Sebuah tawa yang keras langsung menggelegar dan menggema seisi rumah tersebut. Seorang pria yang berdiri menyambut kehadiran Ruella, menghentikan tawanya setelah beberapa saat. Tatapannya menajam dengan sebuah seringai.


Hugo memperlihatkan raut wajah kemenangan dari tempatnya berada. Meski kakinya masih tidak bisa berjalan tanpa bantuan tongkat, pria itu bangkit berdiri dan berjalan mendekati Ruella.


Ruella menahan rasa takutnya saat ini. Seketika dirinya kembali mengingat kejadian lima tahun lalu saat wanita itu juga berada di dalam markas pria di hadapannya, dengan kondisi setengah sadar karena pengaruh obat perangsang yang diberikan Hugo padanya.


Pada saat itu Ruella tidak memakai apapun karena Hugo melucuti pakaiannya di depan para anak buahnya.

__ADS_1


Dan sekarang ketakutan itu mulai dirinya rasakan kembali.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2