
Flavia terdiam mendengar perkataan Savero. Ia kembali mengingat mengenai kekasihnya—Matteo yang meninggal karena mengalami tabrak lari hampir tiga tahun yang lalu. Itu kembali membuat dirinya yang masih mencintai pria itu menjadi bersedih.
Matteo meninggal setelah koma selama satu bulan setelah sebuah mobil menabrak lari pria itu. Sebelum menutup mata untuk selamanya, Matteo mengatakan agar Savero mau menjaga Flavia. Untuk Savero yang pada dasarnya memang menyimpan rasa pada wanita itu tentu saja menyetujuinya.
Namun Flavia tidak menginginkannya. Wanita itu hanya menganggap Savero tidak benar-benar mencintainya dan hanya terbebani dengan permintaan terakhir sahabatnya tersebut.
"Aku juga sudah sering mengatakan kalau aku benar-benar mencintaimu. Sejak lama aku mencintaimu, bahkan sebelum kau dan Matteo menjalin hubungan." Aku Savero terlihat tulus mengatakannya.
Savero dan Matteo adalah sahabat. Meski jika dibandingkan dengan latar belakang ekonomi Matteo sangatlah jauh dari Savero, pria itu mendapatkan beasiswa kedokteran di mana tempat Savero menempuh pendidikannya juga. Di sanalah mereka berdua menjadi dekat dan pada akhirnya bersahabat.
Setiap pagi Savero yang menyukai makanan manis selalu mampir ke toko roti milik ayah Flavia, dan di saat itu dirinya mulai memperhatikan Flavia yang membantu usaha keluarganya. Namun sayangnya, wanita itu lebih tertarik pada Matteo yang hanya datang beberapa kali menemani Savero.
Meski begitu, Savero tidak mempermasalahkannya. Ia ikut senang ketika sahabatnya menjalin hubungan dengan wanita yang ia sukai. Hingga pada saat Matteo meminta dirinya untuk menjaga Flavia, di saat itulah ia sadar kalau sahabatnya itu pun tahu kalau selama ini dirinya mencintai Flavia.
"Matteo tahu itu, karena itu dia memintaku untuk menjagamu." Ucap Savero.
"Tidak Savero! Aku tahu kalau kau hanya terpaksa dan merasa kasihan padaku. Kau tidak perlu mengikuti permintaan Matteo. Aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku juga sudah bisa menerima mengenai pelaku tabrak lari yang membunuh Matteo bebas tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ujar Flavia dengan mata yang memerah karena menahan kesedihannya mengenai orang yang dicintainya harus menerima ketidakadilan di dalam hidupnya. "Aku sudah melanjutkan hidupku dan sebaiknya kau pun juga melanjutkan hidupmu tanpa harus merasa terbebani dengan permintaan terakhir Matteo."
Savero berdecak. Dirinya sudah merasa lelah mendengar perkataan Flavia yang tidak mempercayai perasaan tulusnya yang mencintai wanita itu. Ia sama sekali tidak merasa keberatan mengenai permintaan Matteo itu.
"Fla, kenapa kau tidak pernah mempercayaiku? Aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin kita menikah dan hidup bersama." Seru Savero terlihat sedikit kesal.
Flavia menatap lekat pada Savero. Perasaan yang ada pada diri wanita itu terhadap Savero tidak lebih besar dari rasa cintanya pada Matteo yang sudah pergi untuk selamanya.
"Kalau kau seperti yang barusan saja kau katakan itu, maksudku kau bilang sudah melanjutkan hidupmu. Lalu seharusnya tidak masalah kalau kita bersama." Ujar Savero mencoba meyakinkan Flavia.
__ADS_1
Flavia menarik tatapannya dari Savero karena ada hal yang sebenarnya sembunyikan. Sebuah janji yang ia buat jika dirinya akan memulai membuka hatinya pada pria lain.
"Ada apa, Fla?" Tanya Savero ingin tahu. "Kenapa kau tidak ingin aku bersama denganmu? Apa sudah ada pria lainnya? Apa karena itu kau tidak ingin bersama denganku?"
"Tidak Sav! Aku masih mencintai Matteo walau aku tahu aku tidak mungkin bisa bersama dengannya lagi. Tapi jika aku bersama dengan pria lain sedangkan keadilan padanya tidak ia dapatkan. Itu akan membuatnya sedih." Jawab Flavia mulai menitihkan rintik air mata membasahi wajahnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Savero sekali lagi.
"Aku tidak ingin bersama pria lain jika wanita yang menabrak Matteo tidak mendapatkan ganjaran atas perbuatannya!!" Seru Flavia dengan penuh penekanan.
Savero hanya terdiam mendengar jawaban dari Flavia. Dirinya menjadi memikirkan suatu hal. Sesuatu yang ia sembunyikan pada wanita yang dicintainya.
...***...
"Baiklah Rue, ini sudah hampir gelap. Sebaiknya aku pergi sekarang. Lalu apa kau jadi membuka sebuah butik setelah ini? Aku tidak keberatan menjadi salah satu modelmu." Ujar Emiliano sambil bangkit berdiri.
"Ya, kau harus menanyakannya padanya. Dia adalah suamimu sekarang." Ujar Emiliano yang berjalan beriringan dengan Ruella menuju pintu keluar.
"Kehamilanku akan menghambat banyak hal di dalam hidupku sekarang. Ini sangat buruk." Keluh Ruella dengan wajah yang menekuk.
"Kau ini bicara apa? Jangan mengatakan hal buruk seperti itu." Sahut Emiliano.
Tepat ketika mereka berdua berdiri di depan pintu, tiba-tiba pintu tersebut terbuka. Muncul Savero yang membuka pintu. Tatapannya terlihat dingin pada Ruella.
Melihat kehadiran Savero dengan sebuah tas tangan yang di bawanya, Ruella tampak tersenyum. Tas tangan tersebut terdapat logo toko roti di mana makanan itu dibeli. Yaitu di toko roti milik Flavia, Pasticceria Martesana. Melihatnya, Ruella langsung merasa senang karena Savero datang dengan makanan manis yang ia inginkan.
__ADS_1
"Kau membawa apa yang aku inginkan?" Ujar Ruella menyambar tas tangan yang dibawa Savero dan melihat isinya ke dalam dengan antusias.
Emiliano terus memperhatikan tatapan Savero yang terlihat sangat dingin pada sahabatnya.
"Sebaiknya kau tidak menatap seperti itu pada istri dari ayahmu." Seru Emiliano membuat Savero menoleh padanya. "Bagaimanapun saat ini dia juga sedang mengandung anakmu."
Tatapan Savero membola, ia terkejut karena orang lain mengetahui mengenai rahasia yang seharusnya hanya dirinya dan Ruella yang mengetahuinya. Pria itu langsung menatap tajam pada Ruella.
"Kenapa kau menceritakan hal itu padanya? Sudah aku bilang kalau sebaiknya jangan menceritakan apapun pada orang lain!! Kau akan membuat semuanya kacau!!" Seru Savero tidak habis pikir pada tindakan Ruella yang untuknya sangat membahayakan jika orang lain tahu mengenai rahasia kehamilan Ruella.
"Memangnya kenapa? Tidak masalah. Emiliano adalah sahabatku, dia akan menjaga rahasia itu dari siapapun." Jawab Ruella dengan wajah biasa saja karena dirinya sangat yakin pada sahabatnya.
Savero mengusap wajahnya dengan sangat kesal. Untuknya, ia tidak mempercayai perkataan Ruella. Pria itu menjadi takut jika Emiliano akan membocorkan rahasia tersebut suatu hari nanti.
"Ya, kau tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga rahasia kalian berdua. Karena itu sebaiknya kau tidak bersikap buruk padanya." Tambah Emiliano.
Dengan wajah yang masih tampak kesal, Savero tidak memedulikan perkataan kedua orang yang menatapnya. Dirinya langsung berjalan menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya.
Berada di dalam kamar, Savero menggeram untuk menumpahkan kemarahannya. Ia marah dengan banyak hal yang menurutnya dirinya sendiri yang membuat semuanya menjadi kacau.
"Sialan! Seharusnya waktu itu aku tidak bercinta dengannya!!" Kesal Savero dengan di iringi sebuah geraman. "Flavia tidak ingin bersama denganku sebelum pelaku asli yang menabrak Matteo mendapatkan ganjarannya."
Savero duduk di sisi tempat tidur dengan mengusap wajah dan kepalanya dengan pikiran yang bingung.
"Apa yang harus aku lakukan di saat wanita yang menabrak Matteo adalah wanita yang dicintai Papa? Terlebih saat ini dia sedang mengandung anakku." Gumam Savero dengan tatapan pada satu arah karena sambil berpikir.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...