
Ruella sedang membersihkan dirinya di kamar mandi dan berencana untuk tidur. Bahkan wanita itu sudah memakai lingerie dengan warna hitam untuk menggoda suaminya.
Ia mendengar seseorang membuka pintu kamarnya dan menebak kalo pria itu adalah suaminya—Donzello. Segera dirinya keluar dari toilet setelah apa yang dikatakannya tidak mendapatkan tanggapan.
Perkataannya terhenti karena ternyata dugaannya salah, orang yang baru saja masuk bukanlah Donzello melainkan ayah dari anak yang di kandungnya—Savero.
Pria yang masuk ke dalam kamarnya itu melihatnya karena pertanyaan Ruella menyadarkan Savero sesuatu.
Dirinya benar-benar lupa mengetuk pintu dan langsung masuk begitu saja. Sebelumnya ia tidak pernah melakukannya karena kondisi Ruella yang berbaring di tempat tidur karena lemah. Tidak ia kira kalau wanita itu sudah terlihat jauh lebih baik saat ini.
"Maafkan aku, aku pikir kau masih berbaring di tempat tidur karena masih belum pulih total." Jawab Savero merasa sedikit malu.
Ruella berdecak kesal melihat pria itu. Sejujurnya dirinya sangat tidak ingin Savero terus menerus menemui dirinya, apa lagi sampai masuk ke dalam kamarnya.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu." Ujar Savero yang menyadari rasa kesal Ruella.
"Apa? Apa penting? Kalau tidak aku tidak akan menjawabnya." Seru Ruella dengan tatapan malas pada Savero.
"Besok aku dan Flavia berencana ke Puglia. Kami ingin mendatangi panti asuhan di mana Matteo berasal."
Ruella mendengus dengan senyum miring mendengar perkataan Savero. Ia tidak mengira kalau kedua orang itu pada akhirnya akan terpengaruh pada perkataannya kemarin. Meski sejujurnya dirinya tidak ingin mempermasalahkan hal itu lagi namun ada rasa senang yang ia rasakan.
"Lalu apa urusannya denganku? Aku tidak meminta siapapun untuk mempercayai apa yang aku katakan." Kata Ruella dengan melipat kedua lengannya di depan dada dan berdiri bertumpu pada kaki kiri seperti kebiasaannya.
"Beritahu aku, siapa wanita itu. Wanita yang kau bilang adalah kekasih Matteo dan juga partnernya saat ingin membunuhmu." Pinta Savero. "Kami ingin menemuinya dan mencari tahu tentang kebenarannya."
"Kau pikir itu akan mudah? Apa wanita itu akan mau menemui kalian?" Tawa Ruella mengejek. "Kalian juga tidak akan menemukannya berada di panti asuhan itu."
"Apa maksudnya? Apa dia tidak ada di sana?"
Ruella tertawa mendengar pertanyaan Savero. Sebuah pertanyaan yang dianggap dirinya adalah pertanyaan bodoh.
__ADS_1
"Ketika kau mencoba membunuh seorang anak pimpinan mafia tapi gagal, apakah kau akan tetap berada di rumahmu?" Ruella bertanya dengan tatapan skeptis.
Savero tidak menjawab karena yang di katakan Ruella memang benar. Siapapun akan langsung menghilang jika rencana yang ingin menghabisi anak dari pimpinan mafia itu gagal.
Ruella berbalik ke arah bupet kayu yang ada di belakangnya dan dibuka salah satu lacinya. Lalu diambilnya sebuah amplop besar dari dalam.
"Ini adalah wajah lama dari wanita itu. Namanya adalah Carla Retegui." Ruella menyodorkan amplop itu pada Savero.
Segera pria itu mengambil foto yang terdapat di dalamnya. Foto seorang wanita yang tidak ia kenal.
"Maksudmu, wanita ini mengganti identitasnya?" Tanya Savero kembali menatap Ruella yang berdiri di ajar aku tidak sampai dua meter darinya.
"Tidak hanya itu saja. Selain identitas, wanita itu juga merubah wajahnya." Jawab Ruella.
"Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau tahu di mana wanita ini berada sekarang?" Tanya Savero penasaran. "Beritahu aku di mana dia?!"
"Saat aku beritahu kau pun tidak akan mempercayainya." Jawab Ruella.
"Keluarlah, aku tidak berniat memberitahu siapa wanita itu padamu." Ujar Ruella dengan sebuah senyum seperti mengejek. "Ah, aku rasa kau juga tidak perlu pergi ke Puglia karena itu hanya akan membuat perjalananmu sia-sia."
Savero menjadi kesal karena perkataan Ruella. Dirinya jadi merasa dipermainkan oleh wanita itu. Segera ia mendekati wanita itu untuk mengatakan hal yang membuatnya kesal.
"Sebenarnya apa maumu? Setelah kau mengatakan banyak hal mengenai kematian Matteo sekarang kau malah terlihat tidak ingin kami mengetahui yang sebenarnya." Ujar Savero tangan kanannya menarik tengkuk Ruella agar mata mereka saling menatap.
Ruella menatap pria itu dengan tatapan meremehkan. Walau dari tatapan Savero saat ini terlihat rasa marah pria itu namun Ruella tidak merasa takut.
"Sejak awal sudah aku katakan, aku tidak meminta kalian untuk percaya pada perkataanku. Apa yang ingin aku katakan sudah aku katakan, mengenai hal lainnya aku tidak peduli." Jawab Ruella dengan senyuman skeptis. "Aku tidak mendapatkan apapun jika aku memberitahumu mengenai siapa wanita itu. Sekarang semua itu adalah urusan kalian berdua."
Savero memikirkan perkataan Ruella dan dirinya menjadi sadar kalau sejak awal wanita itu memang hanya ingin mempermainkannya.
Dengan kesal Savero melepaskan Ruella dan langsung berjalan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Melihat Savero yang menjadi sangat kesal pada dirinya, Ruella tertawa saat pria itu keluar dari kamarnya. Ia merasa sangat puas saat ini.
"Seharusnya kau tidak mengatakan hal-hal buruk mengenaiku. Dan seharusnya kau juga tidak masuk ke kamar ini tanpa mengetuk pintu." Gumam Ruella. "Seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku berusaha membuatmu diterima oleh wanita yang kau cintai."
Segera Ruella mengambil ponselnya untuk menghubungi Fazio, salah satu penjaganya. Sesuatu ingin dirinya tanyakan saat ini mengenai seseorang.
"Faz, apa wanita itu juga sudah kembali ke Milan?" Tanya Ruella pada Fazio di telepon.
"Ya, siang tadi dia juga sudah kembali. Ada apa nyonya? Apa ada hal yang harus kami lakukan?" Tanya Fazio.
"Tidak usah, aku akan membuatnya datang menemuiku dengan sendirinya." Jawab Ruella setelah itu menutup telepon.
Keesokan harinya, Ruella duduk di meja makan bersama dengan Donzello dan Savero. Mereka bertiga menikmati sarapan pagi yang terhidang.
"Jam berapa kau akan berangkat ke Puglia, Sav?" Tanya Donzello.
Savero mengangkat kepalanya melihat ayahnya dan setelah itu menoleh pada Ruella yang duduk di hadapannya. Setelah mendengar perkataan Ruella, pria itu membatalkan rencananya yang hendak pergi ke Puglia bersama dengan Flavia.
"Ternyata Flavia tidak bisa meninggalkan tokonya. Jadi kami membatalkannya." Jawab Savero.
"Itu sayang sekali. Lalu kapan kalian akan pergi? Kalian hanya perlu mencari waktu yang tepat." Donzello menberikan saran.
"Ya, kami akan mencari hari yang tepat selanjutnya." Ucap Savero.
"Sav, undanglah Flavia makan malam bersama kita malam ini." Seru Ruella. "Kalian juga bisa menghabiskan malam bersama setelahnya. Tidak perlu jauh-jauh berlibur ke Puglia. Bukan begitu, Don?"
"Ya, itu ide yang bagus. Nanti malam ajaklah Flavia makan malam bersama kita." Sahut Donzello.
"Oh iya Don, bagaimana kalau kau juga mengundang Sofia?" Tatap Ruella pada suaminya. "Aku selalu cemburu setiap kali dia menemanimu ke manapun saat kau bekerja. Karena itu aku ingin lebih mengenalnya agar aku tidak lagi mencurigainya. Bagaimana? Apa kau tidak masalah mengundangnya untuk makan malam bersama kita juga?"
...–NATZSIMO–...
__ADS_1