BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
023. KEADILAN HARUS TERJADI


__ADS_3

Setelah selama tiga hari dua malam Savero dirawat di rumah sakit, akhirnya pria itu pulang ke rumah. Flavia menemaninya dan bahkan wanita itu tidak meninggalkan Savero sendirian saat di rumah sakit.


Ruella masuk ke dalam kamar Savero ketika pria itu bersama dengan Flavia baru saja sampai.


"Bagaimana keadaanmu, Sav? Kau sudah lebih baik?" Tanya Ruella berjalan mendekati tempat tidur di mana Savero sudah berada di atasnya dan Flavia yang duduk di sisi tempat tidur menoleh melihat pada kedatangan Ruella. "Atau makin bertambah buruk?"


Savero melihat pada Ruella dengan tatapan malas. Pria itu sama sekali tidak ingin bertemu dengan wanita itu, dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya.


"Keadaannya sudah lebih baik." Jawab Flavia sambil bangkit berdiri.


"Ya, sepertinya seperti itu. Baguslah kalau begitu." Ujar Ruella dengan melipat kedua tangan di depann dada dan berdiri dengan menopang salah satu kaki seperti kebiasaannya.


"Di mana papa?" Tanya Savero pada Ruella meski sebenarnya ia enggan berbicara dengan wanita itu.


"Pergi bekerja." Ruella menjawab setelah menghela napasnya karena sedikit kesal jika mengingat Donzello yang sudah harus pergi bekerja setelah menikah.


"Baiklah, Sav... Aku akan pulang sekarang." Ucap Flavia mengambil tas miliknya di meja samping tempat tidur.


"Aku pikir kau akan tetap di sini bersama denganku hingga aku benar-benar sembuh." Seru Savero yang terlihat tidak ingin Flavia pergi darinya.


"Itu tidak mungkin, Sav. Aku punya tanggungjawabku dan tidak mungkin bisa terus menerus menjagamu." Sahut Flavia. "Aku akan datang berkunjung nanti, tapi cepatlah sembuh."


"Ya, cepatlah sembuh. Kau juga punya tanggungjawab, kan? Cepatlah sembuh dan kembali ke Inggris untuk bekerja." Timpal Ruella dengan sedikit tawa seperti menyindir.


Savero hanya bisa menahan rasa kesalnya pada Ruella. Sikap dan kalimat yang dikeluarkan olehnya benar-benar terdengar sangat tidak nyaman olehnya.


"Aku pergi dulu, Sav. Kabari aku tentang kondisimu ya." Pamit Flavia.

__ADS_1


"Ikutlah bersama denganku, aku juga akan pergi keluar. Aku bisa mengantarmu dulu." Ujar Ruella pada Flavia. "Setidaknya aku harus mengantarmu sebagai ucapan terimakasih karena sudah menemaninya saat di rumah sakit."


"Baiklah." Jawab Flavia setelah sesaat berpikir.


Dalam perjalanan Ruella bersama dengan Flavia berada di dalam mobil. Mereka berdua duduk bersama di kursi belakang di dalam mobil yang melaju yang Dikendarai oleh Paul si penjaga yang ditugaskan oleh Arthur untuk selalu menjaga Ruella. Penjaga lainnya yang bernama Fazio duduk di kursi di samping Paul.


"Tempo hari Sav memberikan aku roti dari toko roti Pasticceria Martesana. Aku dengar kalau toko roti itu milik ayahmu?" Tanya Ruella yang duduk di sebelah kanan Flavia di dalam mobil.


"Ya, benar. Ayahku yang memiliki toko roti tersebut. Jadi waktu itu Sav membeli beberapa roti untuk nyonya." Jawab Flavia.


"Jangan panggil aku nyonya. Kau bisa memanggil aku dengan namaku—Ruella." Ujar Ruella mengembangkan senyumnya menoleh pada Flavia. "Usiaku bahkan masih di bawahmu."


"Kau adalah istri dari tuan Don, tidak mungkin aku memanggilmu hanya dengan namamu."


"Tidak masalah. Kau bisa memanggilku seperti itu. Kita bisa berteman." Ucap Ruella. "Aku sangat menyukai roti Pasticceria Martesana. Hanya sekali mencobanya aku langsung ketagihan."


"Terimakasih, aku akan senang hati menerimanya." Senyum Ruella. "Fla, bagaimana hubunganmu dengan Sav? Apa kalian memang hanya berteman? Aku pikir kalian sebaiknya menikah. Aku dengar kalau Sav sangat mencintaimu."


Flavia sedikit terkejut dengan perkataan Ruella. Ia sangat tidak mengira kalau Ruella akan membahas masalah itu dengan mudahnya pada dirinya. Pembahasan yang seharusnya wanita itu tidak ikut campur karena tidak tahu apa pun mengenai apa yang dikatakannya.


"Saat kau menikah dengan Sav, tinggallah bersama kami, itu pasti akan menyenangkan karena kita bisa berteman." Tambah Ruella dengan wajah yang menunjukkan kesenangan.


Karena Flavia tidak langsung menjawab, Ruella merubah ekspresi dengan menatap wanita yang hanya diam memperhatikan dirinya.


"Apa aku salah bicara?" Tatap Ruella. "Ah, maafkan aku jika aku terlalu ikut campur. Aku hanya ingin membantu Savero. Dan aku rasa kalian sangat serasi. Kalau boleh tahu, apakah kau menyukainya?"


"Maaf nyonya, ma—maksudku, Rue. Untukku menikah adalah sesuatu yang sangat serius. Aku akan memikirkannya dengan matang. Meski aku tahu Sav mencintaiku dan dia juga sudah sangat sering mengatakannya untuk menikah denganku, tapi aku belum siap menerimanya." Jawab Flavia dengan menundukkan kepala, tidak menatap Ruella yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Apa karena kau masih mencintai sahabatnya Sav?"


Pertanyaan Ruella sontak membuat Flavia terkejut hingga menatap pada wanita itu. Dirinya menjadi bingung karena Ruella tahu mengenai pria yang masih mengisi hatinya. Pria yang ditabrak oleh Ruella hingga kehilangan nyawanya.


"Ternyata benar ya? Astaga, kasihan sekali Sav. Padahal yang aku dengar kalau dia lebih dulu menyukaimu dari pada sahabatnya itu." Oceh Ruella sambil menyandarkan tubuhnya kursi mobil. "Sebaiknya kau melupakan pria itu dan menerima Sav. Tidak akan mungkin kau bisa bersama dengan seseorang yang sudah meninggal. Tidak ada hal yang lebih baik selain melanjutkan hidup setelah hal buruk terjadi pada hidup kita."


Mendengarnya, Flavia menahan dirinya untuk tidak mengatakan apa pun lagi pada Ruella. Perasaan bersedih menyelimutinya. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan merem*as genggaman kedua tangannya sangat kuat. Ia sangat marah karena Ruella mengatakan semua hal itu begitu sangat mudahnya.


Sesampainya di toko roti Pasticceria Martesana, Flavia mengambil beberapa roti dari tempat yang merupakan milik ayahnya tersebut dan diberikannya pada Ruella sebagai ucapan terimakasih karena sudah mengantarnya.


"Aku berterimakasih karena kau sampai memberikan roti-roti ini padaku." Ujar Ruella setelah menerima bungkusan kertas berisi beberapa buah roti yang diberikan Flavia.


Flavia yang hanya memberikan roti-roti tersebut melalui kaca jendela mobil mencoba menunjukkan senyumnya pada Ruella.


"Aku yang berterimakasih karena sudah mengantarku." Sahut Flavia yang sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat Ruella yang duduk di dalam mobil.


"Sering-seringlah datang menemui, Sav. Aku rasa sekarang kita sudah berteman." Ujar Ruella membalas senyum Flavia.


"Baiklah, aku akan menjenguknya segera."


"Kalau begitu aku pergi dulu. Sekali lagi terimakasih untuk roti-roti ini."


Setelah berkata seperti itu, Ruella meminta Paul untuk menjalankan mobilnya, meninggalkan tempat tersebut untuk menuju suatu tempat.


Flavia yang berdiri melihat kepergian Ruella dengan mobilnya, menatap dengan sangat tajam. Terlihat wajahnya berubah menjadi sebuah kemarahan yang tertahan karena guratan wajahnya menunjukkan rasa benci dirinya pada wanita yang sudah membunuh pria yang dicintainya.


"Beberapa orang tersenyum dan yang lainnya menangis. Tapi keadilan harus terjadi pada semua orang. Begitupun padamu, Matteo." Ucap Flavia masih memandang mobil yang ditumpangi Ruella.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2