BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
036. RENCANA PEMBALASAN


__ADS_3

"Kau harus pulang lusa, aku tidak mau tahu, Don." Seru Ruella sambil berjalan beriringan bersama dengan Donzello menuju pintu keluar.


Seorang pelayan pria mengikuti mereka dengan membawakan sebuah koper milik Donzello.


"Ya, kau tenang saja. Akan aku usahakan besok lusa akan pulang." Jawab Donzello saat berada di teras rumah di mana sebuah mobil menunggunya.


Donzello berdiri berhadapan dengan Ruella, tangannya melingkar ke pinggang wanita itu dan tatapannya menatap lekat, serta sebuah senyuman terlukis dengan indah di wajah pria itu.


"Aku akan selalu menghubungimu." Ucap Donzello memegang wajah Ruella dengan tangan kanannya. "Aku juga pasti akan merindukan anak kita, sayang." Kali ini Donzello mengusap perut Ruella.


Ruella hanya tersenyum pada perlakuan Donzello dan langsung mencium bibir pria itu.


"Hati-hatilah, aku pasti akan merindukanmu dengan sangat cepat." Ujar Ruella sedikit menekuk wajahnya yang cantik.


"Aku pergi dulu ya. Jika kau membutuhkan sesuatu, bilang saja pada Savero. Dia pasti akan menolongmu." Seru Donzello.


"Ya baiklah." Jawab Ruella setelah itu memeluk suaminya dengan perasaan penuh cinta.


Donzello langsung bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera pergi. Lambaian tangan Ruella mengiringi mobil yang melaju keluar dari rumah yang ukurannya sangat besar tersebut.


Ruella berbalik hendak masuk kembali ke dalam rumah, namun dirinya tersentak dengan Savero yang berdiri di di belakangnya lebih dekat dengan arah pintu bagian dalam


"Kau mengejutkan aku saja." Seru Ruella sedikit kesal karena rasa keterkejutannya pada keberadaan Savero yang diam-diam di sana. "Apa yang kamu lakukan di situ? Kenapa kau tidak ikut mengantar papamu pergi?"


Savero tidak menjawab, pria itu tetap diam karena sesuatu sedang dirinya pertimbangkan saat ini. ia menjadi sedikit khawatir pada perkataan Ruella yang ingin ke Ristorante Glauco malam ini. Namun ia tidak mungkin menanyakannya secara langsung karena yakin Ruella tidak mungkin memberitahunya.


Karena merasa tidak digubris oleh Savero, Ruella segera berjalan masuk ke dalam pintu dan melewati Savero yang terlihat memandangnya dengan wajah yang tampak berpikir.


"Malam ini ikutlah bersamaku ke Pasticceria Martesana." Ujar Savero memancing Ruella agar mengatakan padanya apa yang hendak ia lakukan malam ini.


Ruella yang sudah berjalan melewati Savero berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Kau mengajakku ke Pasticceria Martesana?" Tanya Ruella. "Tapi nanti malam aku sudah janji dengan Emiliano. Kami akan makan malam bersama."


"Di rumah?" Tanya Savero.

__ADS_1


"Tidak. Kami akan makan di restoran." Jawab Ruella.


"Restoran mana?"


Ruella tampak heran pada sikap Savero. Entah kenapa mendengar pertanyaan pria itu membuatnya menjadi merasakan perbedaan sikap dari pria itu. Semakin hari, sikap Savero berubah padanya.


"Sayangnya Emiliano tidak mengatakan nama restorannya karena ingin memberikan kejutan padaku. Setelah makan di sana aku akan memberitahu padamu. Mungkin saja kau berencana mengajak Flavia makan di restoran itu." Ujar Ruella setelahnya langsung berjalan meninggalkan Savero menaiki tangga.


Savero hanya menatap punggung Ruella yang pergi menjauh. Perasaannya menjadi tidak enak karena entah kenapa apa yang ingin dilakukan Ruella adalah hal yang berbahaya. Apalagi wanita itu sedang mengandung saat ini, tentunya pasti akan sangat berbahaya jika ia melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya.


Ketika matahari tenggelam, dengan memakai pakaian serba hitam Ruella bersama dengan kedua penjaganya keluar dari rumah, dan melaju dengan cepat memakai mobil yang dikendarai oleh Paul.


"Nyonya, ingatlah, jangan melakukan hal yang berbahaya. Tetaplah berada di dalam mobil, mau apapun yang terjadi." Ujar Fazio yang duduk di depan, menoleh pada Ruella yang duduk sendirian di kursi belakang.


"Tapi kalian pastikan kalau Ciro bisa membunuh pria itu tanpa ketahuan siapa yang menyuruhnya." Seru Ruella. "Aku juga tidak ingin dia mati. Apapun yang terjadi selamatkan dia."


"Nyonya tenang saja, kami akan menyelamatkan Ciro dan wanita yang disewanya setelah ia berhasil membunuhnya." Sahut Paul melihat Ruella melalui kaca spion. "Saat mendengar tembakan satu kali, sebaiknya nyonya segera pergi. Apa bisa anda menyetir sendiri?"


"Tidak masalah, aku bisa melakukannya. Aku hanya menyetir saja. Itu sangat mudah." Jawab Ruella terlihat sangat yakin.


Ruella bersama kedua penjaganya sejenak memantau dari luar restoran itu. Mereka menunggu kehadiran orang yang hendak ia bunuh.


Tidak berapa lama, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan restoran. Keluar pria yang langsung membuat Ruella merasa takut, yaitu Hugo De Sica. Ia adalah target yang hendak dibunuh oleh Ruella dengan meminta Ciro yang melakukannya.


Di antara La Nostra dan Sacra Unita—mafia yang membawahi Foggianna, sudah membuat perjanjian untuk tidak saling membunuh satu sama lain. Sehingga Ruella tidak bisa meminta ayahnya yang merupakan pimpinan La Nostra untuk membunuh Hugo yang merupakan anak dari pimpinan Foggianna.


Akan terjadi perang antar mafia jika salah satu pengikutnya ketahuan membunuh yang lainnya. Itulah perjanjian yang ditulis oleh La Nostra bersama dengan Sacra Unita puluhan tahun lalu.


Ruella yang sangat ingin Hugo mati memikirkan cara tersebut dengan menggunakan orang luar untuk membunuh Hugo. Hal itu juga terpikirkan olehnya setelah tiga tahun lalu Hugo membayar dua orang pembunuh bayaran untuk membunuh Ruella.


Hugo yang marah karena dimasukan ke dalam penjara, dua tahun kemudian membayar dua orang yang merupakan sepasang kekasih untuk membunuh Ruella. Beruntung wanita itu luput dari kejaran kedua orang yang mengejarnya dan berhasil membunuh salah satunya.


Saat itu pria yang hendak membunuhnya ditabrak oleh Ruella setelah kekasih pria itu mengejar Ruella dengan mobil.


"Nyonya, Ciro dan wanita bayaran itu sudah datang." Ujar Fazio.

__ADS_1


Ruella kembali memperhatikan arah restoran dan melihat seorang wanita muda dan Ciro keluar dari mobil yang berhenti di depan restoran. Wanita itu berjalan masuk bersama dengan Ciro yang terlihat seperti seorang penjaga dengan setelah jas hitam.


"Kami akan siaga untuk menyelamatkan Ciro dan wanita itu." Ujar Fazio sambil mengecek pistol yang dibawanya.


"Nyonya, berpindahlah ke kursi setir, sebaiknya anda langsung pergi dari sini agar tidak ada hal buruk terjadi pada anda." Seru Paul.


"Tidak, aku akan memastikan dulu kalau pria itu benar-benar mati." Jawab Ruella.


"Oke nyonya, tapi berjanjilah... Agar anda langsung pergi setelah mendengar satu kali suara tembakan." Ujar Fazio mengingatkan.


"Oke." Jawab Ruella.


Segera Paul dan Fazio keluar dari mobil dan menyeberang jalan. Paul langsung masuk ke dalam mobil yang digunakan Ciro saat menuju ke restoran itu, sedangkan Fazio yang sudah memakai pakaian penyamaran menjadi seorang juru masak, bergegas masuk ke dalam restoran.


Ruella langsung berpindah tempat ke kursi depan dan duduk menantikan apa yang akan terjadi.


Hampir dua puluh menit berlalu namun tidak terjadi apapun dan tak ada suara tembakan yang terdengar. Itu membuat Ruella menjadi merasa tidak nyaman. Ia ingin segera berakhir dan dirinya kembali ke rumah tanpa ada masalah apapun lagi.


Tiba-tiba suara tembakan terdengar, seperti yang diminta oleh para penjaganya, Ruella hendak pergi dari sana. Ia mencoba menghidupkan mesin mobilnya, namun tidak bisa, entah bagaimana mobilnya tidak mau menyala.


"Sialan! Kenapa tidak ingin hidup?!" Geram Ruella tampak kesal.


Kepanikannya semakin menjadi saat mendengar beberapa kali suara tembakan. Paul yang berada di dalam mobil yang ada di seberang membunyikan klakson agar Ruella segera pergi.


Akan tetapi tetap saja mobilnya tidak menyala meski Ruella mencoba menghidupkannya.


"Nyonya, kemarilah!!" Teriak Paul yang sudah menghidupkan mesin mobilnya hendak pergi dari sana.


Keadaan semakin menjadi saat Fazio keluar dari restoran bersama wanita bayaran dan Ciro. Ruella langsung membuka pintu mobil saat yang lainnya sudah masuk ke dalam mobil di mana Paul menyetir.


Langkahnya terhenti ketika melihat beberapa anak buah Hugo keluar dari restoran. Hal itu membuat Ruella tampak bingung karena mereka langsung menembaki mobil di mana kedua penjaganya berada.


Bahkan dirinya sempat mematung sambil berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2