
Sebuah mobil putih berada di jarak yang lumayan jauh dari Ristorante Glauco. Seorang pria yang berada di dalam mobil tersebut mencoba melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Orang itu adalah Savero. Ia membuntuti Ruella kedua kalinya karena mengkhawatirkan wanita itu setelah mencuri dengar kemarin mengenai apa yang dikatakan Ruella pada seseorang di telepon.
Sejak awal, ia terus melihat ke arah depan untuk melihat apa yang terjadi. Hingga terdengar suara tembakan dari restoran dan Ruella yang keluar dari mobilnya.
"Mau apa dia? Kenapa dia malah keluar dari mobil dan bukannya pergi?" Kesal Savero yang tidak tahu kalau mobil yang hendak dibawa Ruella tidak mau menyala.
Ruella yang menjadi bingung karena melihat anak buah Hugo keluar restoran dan menembaki mobil yang hendak ia tuju menjadi mundur beberapa langkah.
Ditambah mau tidak mau Paul melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu karena anak buah Hugo hampir menangkap mereka.
Jantung Ruella serasa terhenti ketika salah satu anak buah Hugo menoleh padanya, akan tetapi beruntung sebuah mobil melintas dan berhenti di hadapan Ruella sehingga dirinya terhalang.
"Cepat masuklah!!" Seru Savero yang berada di dalam mobil. Pria itu langsung menjalankan mobilnya saat anak buah Hugo keluar dan menembaki mobil lainnya. "Cepat naik!!"
Segera Ruella masuk ke dalam mobil di kursi depan. Dan Savero langsung menjalankan mobilnya sebelum anak buah Hugo menyadari tentang mereka.
"Kenapa kau ada di sini? Apa yang kau lakukan?" Tanya Ruella heran dengan keberadaan Savero.
"Seharusnya kau berterimakasih padaku dan bukannya bertanya seperti itu. Kalau aku tidak di sana mereka pasti menyadari tentang dirimu yang ada di sana." Ujar Savero yang tatapannya terbagi antara jalanan kota yang padat dan Ruella yang duduk di sampingnya.
"Aku tidak meminta bantuanmu, kenapa aku harus berterimakasih padamu?!" Seru Ruella tersulut emosi.
Karena menjadi kesal dengan jawaban Ruella, Savero membanting setir dan memilih untuk menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia tidak habis pikir pada Ruella karena di situasi seperti tadi masih saja Ruella bersikap seperti itu padanya, bahkan setelah apa yang dirinya lakukan.
"Apa yang kau lakukan? Kau sedang hamil, dan bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu? Kau bisa kehilangan bayi yang kau kandung, bodoh!!" Geram Savero dengan penuh emosi.
"Itu tidak akan terjadi! Kau tidak usah terlalu memikirkannya, lihat! Aku baik-baik saja, kan?" Ruella tampak tidak mau kalah untuk berdebat dengan Savero.
"Apa? Kalau aku tidak datang, mereka semua pasti sudah menembakmu atau menangkapmu!! Dan kau masih tidak mau berterimakasih padaku. Ck!" Kesal Savero pada akhirnya menahan emosinya karena merasa percuma berbicara keras pada wanita seperti Ruella. "Jangan berbuat hal-hal seperti itu lagi! Itu akan buruk kalau kau kehilangan bayimu."
"Setelah aku pikir bukannya itu lebih baik." Ucap Ruella.
__ADS_1
Seketika Savero yang sedang mengusap wajahnya untuk menahan amarahnya, melihat pada Ruella yang duduk di sebelahnya di dalam mobil. Perkataan Wanita itu membuat jantung Savero tersentak.
"Kenapa kau mengatakan hal itu?" Tanya Savero.
"Anak yang aku kandung adalah anakmu, aku tidak menginginkannya lagi. Karena Don sudah tahu aku hamil, bukankah lebih baik kalau kandungan—"
"Diam!" Sela Savero agar Ruella tidak melanjutkan perkataannya.
Savero bisa mengira apa yang ingin Ruella katakan. Ruella ingin kehilangan kandungannya karena anak itu bukanlah anak dari Donzello—suaminya. Dan karena Donzello sudah tahu mengenai kehamilannya, sehingga tidak masalah jika dirinya mengalami keguguran. Hal itu membuat Savero tidak ingin mendengar perkataan selanjutnya Ruella.
"Kenapa? Apa kau tidak ingin aku—"
"Aku bilang diam!!" Seru Savero dengan penuh emosi. "Aku tidak akan membiarkanmu dengan sengaja mengalami keguguran!! Jangan berpikir atau pun berkata ingin melakukannya!!"
Ruella melihat bagaimana Savero mengatakan hal tersebut dengan penuh emosi yang tertahan. Bagaimana ia rasakan kalau pria itu tampak tidak ingin dirinya dengan sengaja melakukannya.
"Jangan bilang kalau kau tidak ingin aku kehilangan bayi yang ku kandung karena ini adalah anakmu?!" Ujar Ruella, matanya bertatapan dengan lekat pada Savero. "Apa karena itu kau terlihat sangat over protektif padaku?"
Savero menarik tatapannya dari Ruella, bisa dibilang apa yang diduga Ruella adalah benar. Entah kenapa setelah kehamilan wanita itu diungkap, ada keinginan Savero untuk melihat bayi itu lahir secepatnya.
"Ya, karena itu jangan berniat untuk menghilangkannya. Papa pasti akan bersedih saat tahu nanti." Jawab Savero tanpa menatap Ruella. "
"Ya, akan aku usahakan." Jawab Ruella dengan entengnya.
"Sekarang katakan padaku, apa yang kau lakukan tadi? Siapa orang-orang yang bersenjata tadi? Kenapa penjagamu malah pergi meninggalkanmu? Apa yang terjadi?" Tanya Savero ingin tahu.
Saat yang bersamaan ponsel Ruella berbunyi. Segera ia mengambilnya dari tas kecil yang selalu di sandingkannya ke lengan kiri sejak tadi.
"Nyonya, apa nyonya baik-baik saja? Di mana nyonya sekarang?" Tanya Fazio dari seberang telepon.
"Ya, aku baik-baik saja. Di mana kalian? Apa semua berjalan dengan lancar?" Tanya Ruella.
"Kami berada di gudang kemarin. Anda di mana nyonya? Biar kami menjemput anda." Ujar Fazio.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku akan ke sana." Jawab Ruella setelahnya mengakhiri teleponnya
Savero terus menatap pada Ruella menunggu wanita itu mengatakan sesuatu untuk menjawab pertanyaannya tadi atau pun hal-hal lainnya yang bisa membuat rasa penasarannya berakhir.
"Apa? Kenapa kau tidak menjawabnya?" Tanya Savero mendesak Ruella agar cepat menjawab.
"Antarkan aku ke suatu tempat. Aku akan memberitahu semuanya padamu." Jawab Ruella setelahnya menghela napas.
Tidak berapa lama Savero dan Ruella sampai di sebuah tempat. Gudang yang mereka tuju itu merupakan tempat yang tempo hari juga di datangi Ruella ketika Savero membuntutinya.
Segera Ruella keluar dari mobil namun Savero secepatnya mengejar wanita itu dan memegang lengannya untuk menghentikan langkahnya.
"Sekarang katakan! Apa yang kau lakukan? Tempo hari aku juga mengikutimu ke tempat ini. Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Savero semakin penasaran.
"Kau akan tahu saat di dalam, sekarang lepaskan tanganku!" Seru Ruella.
Savero melepaskan tangan Ruella dan langsung mengikuti langkah wanita itu yang bergegas masuk ke dalam bangunan yang tampak seperti gudang tidak terpakai.
"Nyonya, bagaimana keadaanmu?" Tanya Fazio yang langsung menghampiri kehadiran Ruella.
Savero hanya terdiam memperhatikan orang-orang yang berada di dalam tempat itu. Kedua penjaga Ruella, dan seorang pria bersama wanita yang tampak asing di matanya.
Tetapi dirinya sontak kaget saat lebih memperhatikan pria itu. Savero mengenali pria yang melihat padanya juga. Ia adalah si pelayan klub malam yang juga menghadang mobil ketika hendak pergi ke Paris tempo hari.
Ya, Savero sadar kalau pria yang berada di sana juga Ciro Tonali beserta wanita yang dibayar untuk melakukan rencana pembunuhan Hugo De Sica.
Saat di dalam mobil, Savero melihat Fazio membawa kedua orang itu masuk ke dalam mobil di mana Paul sudah berada di kursi setir. Namun ia tidak mengerti apa yang terjadi.
Plak!!
Savero terkejut ketika Ruella menampar wajah Fazio dengan sangat keras.
"Kenapa kalian meninggalkan aku?!" Geram Ruella tampak sangat marah.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...