BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
041. KEBENARAN YANG DISANGKAL


__ADS_3

Sehabis menerima sebuah panggilan telepon, Savero yang baru saja pulang dari rumah sakit karena mengurus kepindahannya untuk bekerja, keluar dari kamarnya.


Saat yang bersamaan dirinya melihat Ruella yang baru saja menuruni tangga dengan pakaian rapi dan membawa sebuah tas. Pria itu hanya memperhatikannya dan tidak berniat untuk memanggilnya.


Meskipun begitu ada terselip perasaan khawatir pada wanita itu karena takut Ruella akan melakukan hal-hal berbaya lagi seperti kemarin.


"Paola." Panggil Savero saat Paola keluar dari kamar Ruella dan ayahnya.


"Ada apa, tuan?" Tanya Paola setelah berjalan mendekati Savero.


"Kemana dia pergi? Maksudku Rue. Mau ke mana dia?" Ujar Savero penasaran.


"Nyonya tidak mengatakan akan ke mana dan hanya mengatakan ingin menikmati hari ini." Jawab Paola.


Savero berpikir sesaat dan perkataan Ruella pada Paola semakin membuat dirinya mengkhawatirkan wanita itu.


Segera dirinya melangkahkan kakinya dan bergegas menuruni tangga untuk keluar dari rumah itu. Ia berencana untuk mengikuti Ruella juga hari ini.


Perasaannya sedikit lega ketika Ruella keluar dari mobilnya saat berhenti di depan Pasticceria Martesana. Sesaat dirinya hanya memperhatikan wanita itu yang masuk ke dalam toko roti di mana Flavia berada di dalamnya.


"Mau apa dia? Apa dia hanya ingin makan roti?" Tanya Savero berpikir tujuan Ruella ke toko roti itu.


Saat Flavia berjalan menuju meja di mana Ruella berada untuk mengantarkan pesanan-pesanannya, Savero memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam toko roti. Namun dirinya hanya diam berdiri di depan pintu tanpa di lihat kedua wanita yang sedang mengobrol tersebut.


Niatnya untuk mendekati mereka terhenti ketika Ruella mengeluarkan sebuah foto dari amplop yang ada di atas meja. Savero terus menyimak semua perkataan yang dikatakan Ruella.


Dirinya pun sangat terkejut saat wanita itu menceritakan mengenai kejadian di mana Matteo—sahabatnya ditabrak oleh Ruella.


Tentu saja seperti halnya Flavia, Savero tidak mempercayai perkataan Ruella. Bagaimana bisa orang seperti Matteo menjadi pembunuh bayaran. Itu sesuatu hal yang tidak mungkin, dan siapapun yang mengenal Matteo tidak akan mempercayai apa yang diungkapkan Ruella saat ini.


Savero terus menyangkal semua cerita Ruella. Namun sama seperti Flavia, ia pun tidak mengerti tujuan Ruella menceritakan hal tersebut saat ini. Itu semua tidak akan ada bedanya, toh Ruella juga terbebas dari hukuman atas perbuatannya yang membunuh Matteo.

__ADS_1


Savero tidak bergeming meski Ruella beranjak berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu. Ia tetap berada di sana hingga Ruella melihat keberadaannya.


"Kau di sini?" Ujar Ruella saat melihat Savero di dekat pintu keluar. "Sekarang aku akan pulang."


Savero tidak menanggapi perkataan Ruella hingga wanita itu bergegas keluar. Tatapannya mengarah pada Flavia yang menoleh padanya dari tempatnya duduk.


Flavia beranjak mendekati Savero. Ia tahu kalau pria itu pun mendengar semua yang dikatakan Ruella tadi.


"Apa kau percaya perkataannya? Apa itu mungkin kalau Matteo selama ini menipu kita? Itu mustahil kan. Wanita itu jelas-jelas berbohong. Ini sangat keterlaluan, bahkan dia mengatakan hal buruk mengenai orang yang sudah ia bunuh." Ujar Flavia dengan wajah yang sangat terlihat kesal. "Dia benar-benar wanita yang mengerikan."


Tak ada yang dikatakan Savero untuk menanggapi perkataan Flavia. Perasaan bingung entah bagaimana dirinya rasakan. Meski ia tidak mempercayai semua yang dikatakan Ruella tadi namun tidak tahu mengapa seperti ada dorongan yang kuat untuk tidak langsung menyangkal segalanya.


Ruella yang masuk ke dalam mobil menghela napas dengan dalam. Sejujurnya dirinya tahu kalau sejak awal Savero mendengarkan semua yang ia katakan, bahkan ia juga tahu kalau pria itu mengikutinya tadi.


"Sekarang kita mau ke mana, nyonya?" Tanya Fazio menoleh pada Ruella.


"Galleria Vittorio Emanuele II. Antarkan aku ke sana." Jawab Ruella.


Ruella bertemu dengan sahabatnya di tempat itu. Emiliano langsung memeluk sahabatnya itu dengan sebuah senyum hangat.


"Hari ini kau tidak sibuk?" Tanya Ruella.


"Ya, aku baru saja menjalani pemotretan yang sangat melelahkan." Jawab Emiliano dengan merangkul Ruella. "Bagaimana kabarmu? Kau semakin cantik, Rue."


"Tidak, hidupku penuh dengan penderitaan. Suamiku sibuk bekerja dan aku hamil dari anak suamiku." Jawab Ruella menekuk wajahnya. "Hanya kau yang bisa menghiburku sejak dulu, Em. Sekarang bagaimana kalau kita makan malam? Aku sangat lapar sekarang. Habis itu kita akan berbelanja."


"Ya tentu, apapun akan aku lakukan untuk tuan putri tersayangku." Jawab Emiliano merangkul Ruella.


Mereka berdua makan malam di sebuah restoran yang ada di sana. Restoran yang dipenuhi dengan para pengunjung karena bertepatan dengan jam makan malam.


"Jadi bagaimana, Rue? Apa kau sudah mengatakan pada Savero mengenai sahabatnya itu?" Tanya Emiliano yang mengetahui segalanya.

__ADS_1


Emiliano merupakan orang yang selalu mendengarkan keluh kesah Ruella selama ini. Semua hal wanita itu ceritakan padanya sehingga tak ada rahasia di antara mereka.


Begitu juga mengenai apa yang terjadi tiga tahun lalu, bisa dibilang kalau hanya Emiliano sajalah yang mempercayai perkataan Ruella mengenai hal yang sebenarnya terjadi.


Ia tahu kalau Ruella tidak berbohong karena memang pada saat itu wanita itu tidak meminum minuman beralkohol hingga mabuk. Mereka berdua baru saja masuk ke dalam klub malam pada saat itu, namun tiba-tiba Ruella menghilang hingga akhirnya seseorang berteriak karena melihat mayat di tempat parkiran.


"Ya, dan seperti dugaanku, dia tidak akan mempercayainya." Jawab Ruella. "Tapi itu tidak penting. Aku hanya ingin membuat wanita itu ragu pada kekasihnya itu. Dia harus tahu kalau selama ini kekasihnya menipu dirinya. Mungkin saja dengan begitu dia akan menerima Savero dan mereka menikah."


"Ck! Kau ini kenapa ikut campur masalah mereka?" Tanya Emiliano tidak percaya dengan tujuan Ruella itu.


"Aku muak dengan pria itu. Entah kenapa dia terlihat jadi seperti mengaturku hanya karena aku mengandung anaknya. Padahal sudah sering aku tegaskan kalau anak yang aku kandung ini adalah anak Don bukan anaknya." Seru Ruella dengan wajah terlihat kesal. "Bahkan dia sampai mengikutiku kemanapun aku pergi karena mengkhawatirkan aku. Itu sesuatu yang buruk. Bukan begitu, Em?"


"Sudah aku katakan, dia pasti akan merasa ingin mendapatkan pengakuan karena bagaimanapun kau mengandung anaknya. Itu akan gawat, Rue. Tapi apa kau yakin kalau dia tidak menyukaimu?"


"Ya, dia menyukai Flavia. Itu bagus. Dia juga membenciku, sampai-sampai dia mengatakan hal yang begitu menyakitkan padaku." Jawab Ruella setelahnya meminum minumannya berupa orange juice.


"Sejak kapan kau menyukai orange juice?" Tanya Emiliano.


"Entahlah, sejak hamil aku menjadi ingin selalu meminum minuman ini." Jawab Ruella menaikan sedikit pundaknya.


"Lalu apa yang dikatakan Sav padamu hingga kau merasa sakit hati pada perkataannya itu?" Tatap Emiliano.


Sebelum menjawab, pintu restoran tersebut terbuka dan muncul seseorang yang langsung membuat jantung Ruella sontak kaget. Pria itu datang bersama sekitar lima orang anak buahnya.


Kedua penjaga Ruella yang sedang menyantap makan malam di meja yang berbeda dengan Ruella langsung beranjak berdiri melihat Pria yang pundak kanannya berbalut perban yang menggantung ke lehernya.


"Ada apa, Rue?" Tanya Emiliano dan setelahnya mengikuti arah mata Ruella menatap.


Seorang pria terlihat memancarkan tatapan pada Ruella dengan sebuah seringai menghiasi wajahnya. Orang itu adalah Hugo De Sica.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2