BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
018. MENGAKU DOSA


__ADS_3

Donzello masuk ke dalam kamarnya sehabis menerima telepon mengenai pekerjaan, namun ia tidak melihat Ruella berada di sana. Hanya ponselnya yang diletakkan di atas meja samping tempat tidur.


"Kemana, Rue?" Pikir Donzello mencari keberadaan istrinya di dalam toilet dan di dalam ruang pakaian namun tetap tidak ada.


Segera Donzello kembali keluar kamar untuk menemukan keberadaan istrinya. Tidak biasanya wanita itu keluar kamar tanpa membawa ponselnya.


Ketika melewati depan pintu kamar Savero, tiba-tiba Donzello mendengar Savero berbicara dengan seseorang. Suara yang adalah seorang wanita membuat Donzello berpikir kalau saat ini Ruella berada di dalam kamar putranya tersebut.


"Sav, kau di dalam?" Donzello mengetuk pintu untuk mengetahui hal tersebut.


Tidak berapa lama Savero membuka pintu kamarnya. Donzello melirik ke dalam kamar Savero namun tidak menemukan sosok Ruella seperti yang di kiranya. Saat ini hanya televisi yang sedang menyala di dalam kamar putranya.


"Ada apa, Papa?" Tanya Savero saat Donzello akhirnya berjalan agak masuk ke dalam kamarnya. "Kau mencari sesuatu?"


Tatapan Donzello yang semula berputar mengitari penjuru ruangan menatap pada Savero yang berdiri tidak lebih dari dua meter darinya.


"Aku mendengar kau berbicara dengan seseorang. Aku kira Rue ada di sini karena suara yang aku dengar seperti suara wanita." Jawab Donzello.


Savero menunjuk ke televisi yang ada di atas bupet. Televisi tersebut sedang memutar sebuah film di mana tokoh-tokohnya sedang saling berdialog.


"Mungkin yang kau dengar suara televisi. Barusan juga aku berbicara di telepon dengan temanku." Ujar Savero mengangkat ponsel yang dibawanya. "Lagi pula untuk apa Rue ke kamarku? Memang dia tidak ada di kamar kalian?"


"Mungkin saja dia sedang berjalan-jalan di taman untuk mencari angin." Ucap Donzello mengusap keningnya untuk menghilangkan pikiran yang tidak tidak.


Savero berusaha menyembunyikan dengan sikapnya yang terlihat santai. Pada kenyataannya saat ini Ruella berada di dalam ruang pakaian menunggu Donzello keluar dari sana.


Donzello menghela napasnya dan melihat pada Savero kembali.


"Sav, kau baik-baik saja? Entah kenapa saat pulang tadi sikapmu berubah. Apa yang terjadi?" Tanya Donzello yang merasa Savero menjadi terlihat berbeda ketika kembali ke rumah. "Apa ada masalah dengan Flavia? Bagaimana, apa wanita itu sudah setuju menikah denganmu?"


Savero tidak langsung menjawab. Ia enggan membicarakan hal tersebut apalagi ia tahu kalau Ruella saat ini pasti sedang menguping pembicaraan tersebut.


"Apa aku harus membantumu? Katakan saja kalau kau membutuhkan bantuanku untuk meyakinkannya." Lanjut Donzello. "Aku akan memberitahunya kalau kau sangat mencintainya dan menginginkannya menikah denganmu. Aku juga akan berbicara pada ayahnya. Mungkin saja dia bisa membujuk putrinya agar menerimamu."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku sendiri yang akan meyakinkannya, Papa." Jawab Savero. "Sebaiknya kita berbicara di ruang kerja. Temani aku minum malam ini."


"Ya baiklah. Sudah lama kita tidak minum bersama." Jawab Donzello langsung mendekati putranya dan merangkulnya untuk berjalan keluar dari kamar itu.


Setelah merasa aman, Ruella keluar dari tempat persembunyiannya yaitu ruang pakaian. Untung saja Donzello tidak benar-benar mencari dirinya hingga memeriksa ke penjuru kamar itu.


"Untung saja." Ruella bernapas lega dengan helaan panjang. "Bagaimana jadinya kalau Don tahu aku ada di sini? Ah, sebaiknya aku segera kembali ke kamar."


Setelah berkata demikian Ruella membuka pintu dan memastikannya terlebih dahulu jika tidak ada seorangpun di luar sebelum ia melangkah keluar menuju kamar tidurnya.


Kedua pria yang merupakan ayah dan anak laki-laki, duduk bersama di ruang kerja sambil menikmati red wine.


Sudah sangat lama Donzello dan Savero tidak duduk bersama dengan mengobrol dan menikmati waktu kebersamaan mereka.


"Aku rasa kau harus mengambil penawaran itu, Sav. Pindahlah ke Milan. Kau tidak perlu lagi ke London. Tinggalah bersamaku di rumah ini." Ujar Donzello setelahnya meneguk minumannya.


Savero yang duduk sejajar di sofa yang sama dengan ayahnya hanya menyunggingkan bibirnya menanggapi perkataan Donzello.


"Saat kau menikah dengan wanita itu, kalian juga harus tinggal di sini. Itu akan menyenangkan untukku dan Rue. Flavia dan Rue bisa berteman." Tambah Donzello.


Untuknya itu adalah hal yang mustahil. Flavia dan Ruella pasti tidak akan bisa berteman, mengingat kalau Ruella lah yang menabrak Matteo pasti Flavia akan langsung tahu saat melihatnya.


Hal itu menjadi membuat Savero bingung sekarang ini. Jika dirinya pada akhirnya akan bersama Flavia, itu berarti ia tidak bisa menyembunyikan kebenaran mengenai siapa istri baru ayahnya pada Flavia. Dan itu pasti akan menjadi sebuah masalah baru nantinya.


"Ada apa? Kenapa kau diam saja?" Tegur Donzello karena Savero menunjukkan raut wajah yang tampak memikirkan sesuatu. "Apa yang kau pikirkan, Sav?"


"Ah, tidak." Jawab Savero dengan tersenyum untuk menyembunyikan yang sesungguhnya. "Oh iya, setelah dari Paris besok, aku akan langsung kembali ke London."


"Tidak perlu. Telepon mereka kalau kau akan pindah ke rumah sakit milik Cannosa." Seru Donzello meyakinkan.


"Aku masih harus memikirkan ulang semuanya, Papa." Sahut Savero dengan serius setelahnya meneguk minumannya hingga habis.


"Dengarkan kata-kataku. Ah bukan, kau harus memenuhi permintaan dari papamu ini." Donzello berkata sambil menuangkan red wine ke dalam gelas kristal di tangan Savero. "Aku tidak akan memintamu lagi berhenti menjadi dokter dan menyuruhmu untuk meneruskan perusahaan. Aku dan Rue akan membuat seorang anak segera agar anak itu yang akan meneruskan perusahaan."

__ADS_1


Lagi-lagi sesuatu hal menambah pikiran Savero. Perkataan Donzello membuat pria itu semakin merasa tidak enak dan bahkan tidak nyaman dengan sesuatu yang dirinya sembunyikan dari sang ayah.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Muncul Ruella dari luar. Wanita itu berdecak dengan wajah kesalnya melihat kedua pria yang sedang minum bersama tersebut.


Sudah hampir satu jam berlalu dirinya yang kembali ke kamar menunggu Donzello datang namun suaminya tidak juga kembali ke kamar mereka. Itu membuat Ruella langsung bergegas masuk ke ruang kerja suaminya untuk mengeluhkan hal tersebut.


"Dari tadi aku menunggumu di kamar, Don." Seru Ruella yang bahkan sudah mengganti pakaiannya mengenakan lingerie berwarna lilac yang dilapisi penutupnya.


"Rue, kau sudah kembali ke kamar?" Donzello menoleh pada Ruella yang sudah berjalan mendekati sofa.


"Sudah hampir satu jam aku kembali, Sayang." Jawab Ruella memegang kedua pundak suaminya.


Donzello meraih lengan kanan Ruella dan mengecup telapak tangannya.


"Ikutlah minum bersama kami di sini." Ujar Donzello menengadah melihat pada Ruella yang masih di posisi berdiri.


Savero meletakkan gelasnya yang masih terisi setengah wine dan bangkit berdiri. Ia tidak ingin Ruella ikut minum bersama dengan mereka berdua karena kondisi di mana wanita itu sedang hamil. Karena itu ia tidak boleh minum minuman beralkohol saat ini.


"Aku akan beristirahat sekarang karena merasa lelah. Sebaiknya kalian berdua juga istirahat karena besok kalian akan berbulan madu dan berangkat pagi. Pastikan kalian berdua sehat." Seru Savero sambil berjalan ke arah pintu untuk keluar.


"Ya, baiklah." Jawab Donzello melihat putranya yang keluar dari ruangan tersebut.


"Itu benar, Don. Sebaiknya kita istirahat sekarang agar besok kita tidak kesiangan." Ujar Ruella.


Segera Donzello menarik Ruella duduk ke atas pangkuannya. Dan langsung menatap wajah istrinya dengan lekat.


"Jadi malam ini kita tidak bercinta?" Ucap Donzello dengan sebuah senyum.


"Setelah aku pikirkan tidak ada salahnya untuk melakukannya sekarang." Jawab Ruella dan langsung mencium Donzello.


Di luar ruangan Savero menghela napas dengan dalam. Ia merasa hidupnya semakin berat karena segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dirinya inginkan.


"Sepertinya aku harus mengaku dosa." Gumam Savero sambil berjalan.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2