BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
038. MASA LALU


__ADS_3

Ruella terlihat sangat marah pada kedua penjaganya sampai-sampai ia melepaskan sebuah tamparan ke wajah Fazio.


"Maafkan kami nyonya." Ucap Fazio yang memaklumi perbuatan nyonyanya. "Tapi anda baik-baik saja kan?"


"Bagaimana kalau mereka melihatku? Bagaimana kalau mereka juga langsung menembakku?" Tanya Ruella dengan marah.


Kemarahannya membuat dirinya merasakan sakit di kepala hingga wanita itu memegangi kepalanya. Segera ia menghilangkan amarahnya itu agar kepalanya tidak terasa sakit lagi. Lalu berjalan mendekati Ciro untuk mengetahui apa yang ingin dirinya ketahui mengenai Hugo.


"Apa kau berhasil melakukannya?" Tanya Ruella dengan tatapan tajam pada Ciro.


"Ya, aku berhasil menembaknya tetapi ketika aku berniat menembaknya lagi, anak buah Hugo sudah lebih dulu datang." Jawab Ciro.


"Apa maksudnya?" Ruella terlihat kesal mendengar jawaban Ciro. "Kenapa kau harus menembaknya dua kali?"


"Tembakan pertamaku meleset ke bahunya, karena itu dia tidak langsung mati." Ujar Ciro.


"Apa kau bilang?!" Ruella berteriak hingga kepalanya terasa berdenyut karena rasa sakit.


"Maafkan aku nyonya. Aku gagal melakukannya." Ucap Ciro terlihat takut karena kemarahan Ruella.


Ruella menahan napasnya untuk mengatasi rasa kesalnya yang langsung membuat kepalanya terasa semakin sakit. Lalu dikeluarkannya dua amplop berisi uang dan diberikannya pada Ciro beserta wanita yang ada di sana.


"Kalian berdua pergilah dari Italia. Jangan sampai mereka menangkap kalian. Wajah kalian sudah diketahui mereka, jika mereka sampai menemukan kalian berdua... Sebelum kalian berbicara akan aku pastikan aku sendiri yang akan membunuh kalian." Seru Ruella.


Savero mendengus mendengar perkataan Ruella yang mengancam kedua orang tersebut. Ia sangat tidak habis pikir, dengan mudahnya wanita itu mengatakan mengenai pembunuhan dengan lantangnya. Tapi itu tidak heran, bagaimanapun latar belakang Ruella yang merupakan putri seorang pimpinan mafia pasti sudah terbiasa dengan itu. Bahkan wanita itu juga sudah membunuh sahabatnya—Matteo.


"Kalian berdua mengerti, kan?" Tatapan Ruella sangat tajam karena berusaha mengancam.


Kedua orang yang menerima uang yang diberikan Ruella menganggukkan kepalanya dengan dengan cepat.


"Baiklah, aku tidak ingin melihat kalian berdua lagi di negara ini." Ujar Ruella.

__ADS_1


Setelah itu Ruella berbalik melihat pada Savero yang hanya diam memperhatikannya. Ia melangkah untuk meninggalkan tempat itu. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi karena memikirkan rencananya yang gagal membunuh Hugo—pria yang dulu sudah menodai dirinya dulu.


Ketika ia melangkah melewati Savero, pandangannya berubah menjadi gelap dan sekelilingnya seperti berputar-putar sehingga membuat dirinya goyah. Tanpa bisa Ruella tahan, wanita itu kehilangan kesadaran.


Beruntung Savero yang sejak Ruella berbalik menatapnya memperhatikan perubahan wajah wanita itu yang terlihat pucat, ia langsung meraih tubuh Ruella yang tumbang sebelum wanita itu terjatuh.


"Rue, kau baik-baik saja?" Tanya Savero berusaha mengguncangkan tubuh Ruella yang berada di dalam pelukannya. "Kau dengar aku?"


Ruella berusaha membuka matanya dan melihat pada Savero meski kepalanya masih terasa berputar saat ini.


"Sav..." Jawab Ruella


"Tenanglah, aku akan membawamu ke rumah sakit." Ujar Savero.


"Ja—jangan... Bawa aku pulang saja dan jangan beritahu Don." Seru Ruella dengan mata yang tertutup.


Savero membawa Ruella kembali ke rumah dan menidurkannya di kamar wanita itu. Paola yang melihat kehadiran mereka berdua tampak khawatir.


"Nyonya, bagaimana keadaan nyonya?" Tanya Paola tampak khawatir melihat pada Ruella yang sangat terlihat lemah dari caranya memandang. "Tuan, kenapa kita tidak membawanya ke rumah sakit? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kehamilannya?"


Savero tidak menjawab ucapan Paola yang dipenuhi dengan kepanikan. Ia sudah memeriksa Ruella dan tidak ada hal serius yang ditakutkan Paola tersebut.


"Tuan besar... Apa tuan sudah memberitahunya? Tuan besar harus segera pulang untuk melihat keadaan nyonya sekarang." Ujar Paola.


"Tidak usah. Dia hanya kelelahan. Tidak ada sesuatu hal yang serius terjadi." Akhirnya Savero menjawab perkataan kepala pelayan di rumahnya itu. "Malam ini temani dia di sini, Paola. Jangan tinggalkan Rue sendirian."


"Baik tuan." Jawab Paola.


"Istirahatlah, jangan pergi kemanapun lagi. Kandunganmu memang kuat tapi kondisi tubuhmu tidak." Ujar Savero berbicara pada Ruella.


Setelah mengatakan hal tersebut, pria itu berjalan ke luar dari sana.

__ADS_1


Ketika pagi belum menjelang, Savero yang tidak bisa tertidur bangun dari posisi tidurnya. Ia melihat ponselnya untuk melihat waktu. Saat ini baru pukul empat pagi.


Sejak semalam dirinya tidak bisa memejamkan mata. Banyak hal memenuhi benaknya saat ini, semua itu mengenai diri Ruella. Setelah mengetahui masa lalu wanita itu yang menjadi korban pemerko*saan, membuat Savero benar-benar merubah pandangannya pada Ruella.


Ia mengerti kenapa Ruella sangat ingin membunuh pria yang sudah memperkosanya dulu. Dan melihat kondisinya saat ini membuat Savero menjadi mengkhawatirkannya. Keadaannya yang tengah hamil pasti membuatnya lebih tersiksa.


Segera Savero beranjak turun dari tempat tidur dan memakai kaosnya, lalu berjalan keluar kamar. Ia berniat untuk melihat kondisi Ruella saat ini.


Saat membuka pintu kamar Ruella, kamar tersebut dalam keadaan terang namun ia tidak melihat Paola berada di sana. Segera dirinya melangkah masuk ke dalam kamar.


"Mau apa kau ke sini?"


Suara Ruella membuat Savero terkejut. Wanita itu menatap Savero yang semakin berjalan mendekatinya dan berdiri memandangnya.


Savero tidak mengira kalau wanita itu tidak tertidur saat ini. Sejenak dirinya memperhatikan wajah Ruella yang tampak sembab karena habis menangis. Ia mengerti, seperti apapun kuatnya seorang wanita jika di hadapankan dengan masa lalu yang pahit akan membuatnya tetap menangis. Savero memakluminya.


"Di mana Paola? Kenapa dia tidak ada?" Tanya Savero dengan tatapan biasa pada Ruella, ia tidak ingin memperlihatkan kalau dirinya tahu mengenai wanita itu yang baru saja menangis.


"Aku menyuruhnya kembali ke kamarnya." Jawab Ruella menunjukkan sikap seperti biasanya pada Savero. "Aku sudah baik-baik saja karena itu kau pun tidak perlu datang ke sini."


Savero tidak langsung merespon perkataan Ruella. Sekarang ada sesuatu yang ingin dirinya tanyakan pada wanita itu. Sesuatu yang pada awalnya membuat dirinya membenci pada Ruella.


"Ada apa? Keluarlah sekarang. Aku ingin kembali tidur—"


"Matteo, apa kau tahu siapa dia?" Tanya Savero memotong perkataan Ruella.


Ruella tampak berpikir dan menggigit bibir bawahnya. Tatapannya melihat pada Savero tanpa berkedip.


"Bukankah dia sahabatmu? Kekasih Flavia?" Ruella menjawab. "Ada apa? Kenapa kau menanyakannya padaku?"


"Apa tidak terasa aneh kalau kau tidak mengingat siapa yang sudah kau tabrak tiga tahun lalu? Atau sejak awal kau hanya berpura-pura tidak tahu?" Tanya Savero dengan tatapan penuh selidik.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2