BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
022. MEMBALAS DENDAM


__ADS_3

Kehadiran Flavia yang datang ke ruangan di mana Savero dirawat membuat pria itu menjadi bingung. Pasalnya jika Flavia melihat Ruella pasti ia akan tahu kalau wanita itu adalah orang yang menabrak Matteo.


"Fla, kenapa kau di sini?" Tanya Savero menjadi khawatir, meski sejujurnya pria itu merasa senang karena wanita yang dicintainya datang menjenguk dirinya.


"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Tuan Don meneleponku dan mengatakan kalau mau tertembak. Bagaimana bisa kau tertembak?" Tanya Flavia setelah berjalan mendekati Savero dan berdiri di seberang tempat Ruella.


"Aku sudah baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Ujar Savero.


"Ya, dia sudah baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Timpal Ruella.


Flavia menjadi melihat ke arah wanita yang berdiri dengan melipat tangannya ke depan dada, dan hanya bertumpu pada satu kaki kirinya. Ia menjadi terdiam karena melihat wajah Ruella. Seketika raut wajah Flavia langsung berubah. Segera ia menoleh pada Savero yang menatapnya seperti mencari jawabanan mengenai keberadaan Ruella di sana.


"Dia adalah istri dari papaku." Ujar Savero, takut kalau Flavia akan bereaksi berlebihan.


Saat yang bersamaan Donzello kembali dengan membawakan segelas orange juice untuk Savero.


"Kau sudah datang?" Seru Donzello melihat keberadaan Flavia di sana.


Flavia hanya menganggukkan sedikit kepalanya sambil menerima orange juice yang disodorkan Donzello untuk Savero.


"Rue, sebaiknya kita pulang sekarang." Seru Donzello dan langsung di rangkul oleh Ruella. "Apa bisa kau temani Sav?" Tatap Donzello pada Flavia.


"Baiklah, aku akan menemaninya." Jawab Flavia.


Ruella bersama dengan Donzello meninggalkan ruangan tersebut untuk segera pulang ke rumah mereka dan meninggalkan Savero yang masih dlam perawatan di rumah sakit. Flavia menemaninya.


Savero memperhatikan Flavia yang masih menatap lekat kepergian Ruella. Sangat tersirat dari pancaran mata wanita itu sebuah tatapan marah bercampur kesedihan.


"Fla—"


"Kau ingin minum ini, kan?" Flavia menoleh pada Savero dengan mengubah raut wajahnya menjadi seperti semula. "Bangunlah dulu. Apa kau bisa bangun?"


Entah kenapa Flavia seperti tidak ingin membahas mengenai Ruella saat ini, itu terlihat dari perubahan raut wajah pada ekspresi wanita itu yang dilihat Savero. Walau itu hal yang bagus namun itu membuat Savero ingin tahu apa yang ada di benak Flavia.

__ADS_1


"Tolong bantu aku duduk." Ucap Savero dengan senyum simpul pada Flavia.


Flavia meletakkan gelas berisi orange juice ke meja di samping ranjang dan langsung sedikit merangkul Savero untuk membantunya duduk.


"Aku sangat suka harummu." Ucap Savero saat Flavia membantunya duduk. "Harum vanilla, aku jadi ingin memakanmu."


Tatapan Flavia memicing pada Savero setelah membantu pria itu. Sebuah decakan terdengar dari bibirnya.


"Aku bukan roti atau cake kesukaanmu, kau tidak bisa memakanku." Jawab Flavia dengan sudut bibir tersungging sebuah senyuman sambil mengambil kembali orange juice dari meja. "Minumlah."


Segera Savero sedikit mencondongkan kepalanya untuk meminum orange juice dengan sedotan yang ada di dalamnya. Dengan sengaja ia melakukan agar Flavia membantunya minum dengan memegangi gelas beserta sedotannya.


Mau tidak mau Flavia melakukan keinginan Savero. Iangsung mengarahkan sedotan untuk membantu Savero meminum minuman favoritnya.


"Apa habis ini kau akan pulang?" Tanya Savero setelah meminum setengah gelas orange juice.


"Apa maksudmu? Aku akan menemanimu di sini. Tuan Don memintaku untuk menemanimu di sini tidak mungkin kan kalau aku pulang." Jawab Flavia sambil meletakan gelas ke meja.


...***...


Ruella yang berada di kamar bersama Donzello masih menggerutu dengan rasa kesal pada apa yang terjadi. Wanita itu masih saja membahas mengenai rasa kecewanya yang tidak jadi pergi berbulan madu.


"Hidupku benar-benar tidak beruntung. Hanya ingin pergi berbulan madu saja, semuanya gagal. Entah apa dosa yang sudah aku lakukan hingga nasibku seperti ini. Di saat para wanita menikmati bulan madu mereka setelah menikah, aku malah hanya berdiam diri di kamar." Oceh Ruella sambil duduk di tepi tempat tidur.


Donzello yang sedang membuka kemeja yang di kenakannya menatap pada wanita yang terlihat kesal padanya. Meski begitu tak ada rasa kemarahan darinya pada wanita muda yang sedang meratapi nasibnya itu, bahkan ia tertawa kecil mendengarnya.


"Jangan tertawa, Don!!" Seru Ruella dengan kesal menoleh pada Donzello.


"Apa bedanya kita tetap pergi ke Paris dengan kembali pulang ke rumah?!" Kesal Ruella semakin menjadi.


"Tidak ada bedanya." Jawab Donzello menahan tawanya sambil melangkah mendekat Ruella. "Karena itu kita tidak perlu ke Paris jika hanya untuk berbulan madu. Bukan begitu?"


Donzello langsung merengkuh tubuh Ruella hingga wanita itu beranjak berdiri dan mendekapnya sangat lekat.

__ADS_1


"Sama saja kan di mana pun kita berada, asalkan kita bersama?" Tatap Donzello.


Mendengar ucapan suami tercintanya, membuat kekesalan Ruella menghilang. Segera ia mencium bibir Donzello karena tidak ingin membuang-buang waktu lagi.


Belum sempat mereka melakukan hal lebih jauh, tiba-tiba ketukan pintu terdengar. Mereka berdua yang sedang asyik berciuman di atas tempat tidur merasa terganggu. Terutama dengan Ruella, yang langsung menggeram kesal.


"Tuan, tuan La Nostra dan istrinya datang." Seru Paola dari balik pintu.


"Papa?" Kejut Ruella yang masih berada di bawah kungkungan Donzello.


Donzello langsung segera beranjak turun karena harus secepatnya menemui kedua mertuanya yang sangat berpengaruh tersebut. Di pakai kemeja yang ia lepas dan merapikan dirinya.


"Mau apa papa dan mama ke sini? Ya, mereka pasti tahu apa yang terjadi pada kita." Ujar Ruella. "Ini sangat membuatku kesal!! Bahkan kita jadi tidak punya waktu bercinta sekarang!!"


Donzello bersama dengan Ruella menghampiri Arthur dan Renata yang sudah menunggu mereka di suatu ruangan. Mereka datang bersama dengan beberapa anak buah La Nostra dan terdapat dua orang yang sebelumnya memang ditugaskan Arthur untuk menjadi pengawal putrinya.


Renata langsung menghampiri putrinya ketika mereka muncul. Rasa khawatir terlihat dari raut wajahnya yang sangat mencemaskan Ruella.


"Kau baik-baik saja, Rue? Apa kau terluka?" Tanya Renata.


"Aku baik-baik, Ma. Jangan mengkhawatirkan aku. Don menjagaku dengan baik." Jawab Ruella.


"Tuan Art, aku minta maaf karena kejadian buruk ini harus terjadi pada Ruella." Ucap Donzello pada Arthur sang pimpinan mafia berpengaruh di Italia. "Aku berjanji ini tidak akan terjadi lagi."


"Benar, Papa. Aku juga baik-baik saja dan tidak ada luka sedikitpun." Ujar Ruella mendekati Arthur dan langsung merangkul ayahnya tersebut.


Arthur melihat pada Ruella, rasa sayangnya pada putrinya itu sangatlah besar. Ia tidak akan pernah membiarkan Ruella terluka sedikitpun. Apapun akan ia berikan dan lakukan untuk kebahagiaan putrinya.


"Baiklah, aku harap tidak akan ada kejadian buruk lainnya pada putriku." Seru Arthur pada Donzello. "Paul dan Fazio akan kembali mengawal Rue kemanapun dia berada. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada putriku."


Ruella tersenyum mendengar ucapan papanya. Ia begitu senang dengan keinginan Arthur tersebut. Ada hal yang sangat ingin ia lakukan yaitu membalas dendam pada pria yang sudah menggagalkan rencana bulan madunya.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2