BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
061. SEBUAH TEMBAKAN


__ADS_3

"Rue, kau denger aku? Rue?? Halo..." Seru Savero berbicara di telepon.


Saat ini Savero masih terus mencoba menelepon Ruella. Sudah puluhan kali dirinya mencobanya dan pada akhirnya, telepon itu dijawab.


Meski begitu, tak ada jawaban dari Ruella. Yang ada hanya suara-suara tidak jelas yang terdengar di seberang telepon.


"Halo, Rue... Apa kau mendengarku? Jawablah—"


Tiba-tiba teleponnya terputus. Savero melihat mencoba meneleponnya sekali lagi.


"Teleponnya terputus." Ujar Savero hendak menekan nomer Ruella kembali untuk mencoba lagi menelepon wanita itu.


"Tuan, lokasinya sudah terlacak." Seru si polisi yang melacak keberadaan Ruella.


"Benarkah?" Tanya Savero terkejut sekaligus merasa senang.


"Ya, ini titik koordinat keberadaan nyonya d'Este." Seru si polisi sambil sibuk mencatat sesuatu ke sebuah buku dan merobeknya. "Aku akan menelepon kepolisian terdekat untuk menuju lokasi, tuan."


"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang." Jawab Savero setelahnya berjalan mendekati sebuah helikopter yang sudah sejak lama berada di sana.


Savero mengambil ponselnya untuk menelepon Donzello yang sudah pergi lebih dulu mencari Ruella.


"Papa, lokasi Rue sudah terlacak. Aku akan mengirimkannya padamu segera. Aku juga akan ke sana sekarang." Ujar Savero sambil masuk ke dalam helikopter. "Ternyata benar, mereka membawanya ke selatan Milan."


"Benarkah? Cepat kirimkan sekarang juga. Apa Rue mengatakan sesuatu saat di telepon?" Tanya Donzello berharap mengetahui keadaan Ruella saat ini.


"Tidak ada. Yang terdengar suara-suara keributan yang tidak jelas." Ucap Savero. "Sebaiknya cepat ke lokasi karena tampaknya mereka tahu kalau kita melacaknya. Bisa jadi mereka sekarang sudah bersiap-siap pergi atau lebih buruknya, mereka sudah pergi."


"Sialan!!" Geram Donzello.


Savero memasukkan ponselnya selesai memberikan lokasi keberadaan Ruella pada Donzello. Lalu Dipakainya headphone dan siap untuk menjalankan helikopter sebagai kendaraannya menuju lokasi di mana Ruella terlacak. Tiga orang polisi ikut bersamanya.


...***...


Ruella berjalan dengan ditarik Hugo menuju pekarangan mansion di mana dirinya di bawa. Sebuah helikopter berada di pekarangan yang luasnya sangat besar tersebut. Hugo hendak membawanya naik ke dalam helikopter untuk menuju ke tempat di mana pria itu memarkirkan pesawat pribadinya.


Waktu berjalan terasa begitu cepat. Ruella merasa harus mengulur waktu agar Donzello datang menolongnya sebelum Hugo membawanya naik helikopter.


Hugo menyeret lengannya dengan berjalan di hadapan Ruella, sedangkan beberapa anak buah pria itu berjalan di sekelilingnya.


Dilihatnya sebuah pistol yang ada di saku celana seorang anak buah Hugo dan posisinya Ruella yakin bisa terjangkau olehnya.


Dengan sangat cepat, Ruella mengambil pistol tersebut dan menodongkannya pada Hugo. Sontak para anak buah pria itu melangkah sedikit mundur.


"Lepaskan aku!!" Seru Ruella menodongkan pistol ke tengkuk Hugo.


Hugo berhenti berjalan dan melepaskan lengan Ruella yang digenggamnya dan mengangkat kedua tangannya.


Segera Ruella menendang tongkat yang menjadi tumpuan salah satu kaki Hugo hingga membuat pria itu tersungkur.

__ADS_1


"Lihatlah, kau tampak memalukan sekali Hugo." Ujar Ruella dengan senyum mengejeknya saat melihat Hugo berbalik melihat padanya dengan posisi masih berada di bawah. "Aku akan membunuhmu sekarang."


Ruella siap menarik pelatuk pistolnya dan membuat Hugo berteriak, begitu juga dengan para anak buahnya yang terlihat ketakutan kalau wanita itu benar-benar akan menembak bos mereka.


"Tenang dulu... Tenang dulu, Ruella." Seru Hugo dengan tangan memberikan gestur agar Ruella tidak menembaknya.


Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari pintu gerbang. Hal itu langsung mengalihkan fokus Ruella. Wanita itu yakin kalau Donzello sudah datang untuk menyelamatkannya.


Namun Ruella yang teralihkan langsung disambar oleh salah satu anak buah Hugo, hingga membuat pistolnya terjatuh.


"Lepaskan aku!!" Seru Ruella mencoba menarik lengannya namun tidak bisa.


Salah seorang anak buah Hugo, membantunya bangun dan langsung membawa Hugo berjalan mengarah ke helikopter.


"Cepat bawa dia masuk ke helikopter dan pergi dari sini!!" Teriak Hugo pada anak buahnya.


Akan tetapi langkah mereka terhenti saat Donzello bersama beberapa orang dari La Nostra berhasil masuk ke dalam dan menembakkan beberapa peluru yang menumbangkan beberapa anak buah Hugo


"Lepaskan istriku, Hugo!!" Geram Donzello mencoba menembak Hugo namun dengan bantuan anak buah pria itu, Hugo dibawa langsung bersembunyi di sebuah tiang.


Ruella yang menarik lengannya langsung berlari mengarah ke Donzello saat beberapa orang dari kubu La Nostra menghampirinya.


Dengan perasaan yang senang, Ruella sedikit berlari ke arah Donzello yang berjalan padanya. Suaminya langsung membawanya ke pinggiran untuk bersembunyi.


Segera dipeluknya pria yang sudah sangat dirinya nanti-nantikan kehadirannya itu. Perasaan Ruella begitu lega dan merasa senang saat berada di dalam dekapan Donzello.


"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Donzello menatap pada Ruella. "Apa yang dilakukannya padamu?" Dilihatnya darah yang ada di sudut bibir Ruella karena tamparan berkali-kali yang diterima wanita itu.


Dengan perasaan yang sedikit lega juga, Donzello melepas jas yang masih dipakainya dan memakaikannya pada Ruella karena pakaian wanita itu terdapat beberapa bagian yang sudah koyak.


"Aku akan membunuh bajingan itu!!" Geram Donzello kembali mengambil pistolnya. "Tunggulah di sini. Aku akan membuat perhitungan padanya."


Donzello langsung melangkah ke arah di mana kubu La Nostra sedang baku tembak dengan kubu Hugo yang bersembunyi di dalam rumah.


Dilepaskannya beberapa tembakan dan membuat kubu Hugo menjadi lebih mundur dengan masuk ke dalam bangunan. Hal itu membuat Donzello bersama beberapa orang masuk ke dalam rumah untuk menangkap mereka. Namun tembakan demi tembakan masih saling beradu.


Sebuah helikopter mendarat di pekarangan yang sangat luas itu. Kendaraan yang dibawa oleh Savero berhenti dan pria itu segera keluar dari sana.


"Sav..." Panggil Ruella sambil keluar dari persembunyiannya menghampiri Savero.


"Di mana papa?" Tanya Savero heran karena Ruella hanya seorang diri di sana.


"Don ingin menangkap Hugo." Jawab Ruella.


Savero terlihat kesal karena tidak habis pikir, seharusnya ayahnya tidak perlu ikut menangkap pria itu dan lebih baik membawa Ruella pergi dari sana karena itu bisa membahayakan nyawanya.


"Bawalah Rue dengan helikopter pergi dari tempat ini." Seru Savero pada salah seorang polisi yang ikut bersama dengannya. "Rue, aku akan memanggil papa dan memintanya pergi dari sini juga. Sebaiknya kau pergi lebih dulu. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada kandunganmu."


Ruella mengangguk dan langsung berjalan bersama dengan seorang polisi menuju helikopter

__ADS_1


Savero mengeluarkan pistol, lalu bergegas ke arah rumah di mana baku tembak sedang terjadi.


"Papa!!" Seru Savero saat memasuki pintu rumah.


Tiba-tiba hujan tembakan mengarah padanya. Beruntung Savero bisa menghindar dengan berlindung di balik sebuah sofa.


"Sav!!" Panggil Donzello dari arah sebuah ruangan.


"Aku baik-baik saja, papa." Jawab Savero. "Kau di mana? Sebaiknya kita pergi dari sini."


"Keluarlah dulu Sav, bawalah Rue pergi... Aku akan menyusulmu." Seru Donzello dengan suara yang keras.


Tembakan kembali terdengar ke arah Donzello yang berada di suatu ruangan. Hugo bersama para anak buahnya yang tersisa berada tidak jauh dari tempat di mana Donzello berada.


Kedua kubu kembali tembak menembak, dan Savero yang masih berada di balik sofa hanya bisa menunggu sampai keadaan cukup terkendali. Beberapa tembakan juga mengarah padanya.


"Sav, kau masih di sana?" Tanya Donzello menjadi khawatir pada kondisi Savero.


"Aku di sini." Jawab Savero.


Donzello memberi aba-aba pada orang-orang yang bersama dengannya agar menyerang segera mengarah pada tempat di mana Hugo bersembunyi.


Savero melihat Donzello keluar dari persembunyiannya dengan menyerang ke arah Hugo, beberapa orang dari kedua kubu tertembak.


Hugo yang melihat orang-orangnya tumbang dan sisanya semakin sedikit, bersama seorang anak buahnya dan dengan bantuan tongkat berlari mundur ke belakang pondasi besar. Donzello melihatnya dan mencoba untuk menghentikannya dengan menghujani tembakan pada pria itu. Tembakannya hanya mengenai anak buahnya.


Savero merasa keadaan sudah cukup terkendali, dirinya keluar dari sofa dan hendak berlari keluar namun langkahnya terhenti saat si rambut merah masuk dengan meluncurkan sebuah tembakan padanya.


"Sav!!" Seru Donzello langsung menembak beberapa kali pada si rambut merah dan langsung membuatnya mati.


Beruntung tembakan yang mengarah pada Savero hanya menyerempet bahu pria itu.


"Aku baik-baik saja, Papa." Ucap Savero bangkit berdiri.


Donzello yang berjalan ke arah Savero melihat Hugo yang berada di balik pondasi mengarahkan tembakannya pada Savero, Donzello langsung mencoba untuk menembak pria itu, akan tetapi pistolnya kehabisan peluru.


"Savero!!" Teriak Donzello berlari ke arah Savero yang memunggungi arah Hugo.


Sebuah tembakan meluncur pada Savero, dengan tubuhnya Donzello menghalangi peluru yang mengarah pada putranya, hingga sebuah timah panas menembus dadanya.


Savero membalikkan tubuhnya dan langsung menembak Hugo berkali-kali hingga pria itu tewas.


Melihat Donzello yang tertembak langsung membuat Savero menghampiri tubuh ayahnya.


Saat yang bersamaan Ruella bersama dengan polisi dan Arthur serta beberapa orang La Nostra yang jumlahnya banyak masuk ke dalam rumah megah itu.


Ruella langsung melihat pada Donzello yang sudah terbaring di pangkuan Savero. Pria itu pun melihat pada kehadirannya dengan sebuah senyuman.


"Don..." Ucap Ruella dengan sebuah ketakutan dan rasa sedih menyerangnya.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2