BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
042. PERASAAN MENYESAL


__ADS_3

Ruella mematung seketika ketika melihat sosok yang membuatnya menjadi takut. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya saat Hugo berjalan mendekatinya.


Fazio dan Paul langsung bergegas menghadang Hugo yang hendak menghampiri Ruella. Seketika anak buah pria itu langsung mengeluarkan senjata mereka dan mengarahkannya kepada rombongan Ruella.


Sontak Emiliano bangkit berdiri dengan rasa takut dan berada di samping Ruella yang hanya duduk membeku. Pengunjung restoran menjadi ramai dengan berhamburan keluar dari tempat tersebut.


"Ruellaku tersayang." Ujar Hugo dengan senyum miring yang terpancar dari wajahnya. "Aku tahu kalau kaulah yang berulah kemarin."


Ruella tidak bergeming, tubuhnya bahkan menjadi gemetar saat ini. Wanita itu takut kalau Hugo akan memiliki bukti apa yang dilakukannya kemarin. Itu akan buruk, karena dirinya akan ketahuan melanggar perjanjian yang dibuat antara La Nostra dan Sacra Unitra. Meski begitu, tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Ruella hanya membatu di balik punggung kedua penjaganya dengan berharap Hugo akan pergi tanpa melakukan apapun terhadapnya.


"Sayangnya aku tidak memiliki bukti apapun." Hugo mendengus dengan tawa kecil. "Tapi ingatlah, aku tidak akan diam saja... Aku pasti akan membalaskan perbuatanmu yang sudah membuat aku mendekam di penjara selama itu."


"Tuan, sebaiknya anda pergi dari sini. Ini akan menjadi buruk jika situasi menjadi tidak terkendali." Ujar Fazio memperingati dengan nada bicara yang biasa.


Hugo mengalihkan tatapannya ke arah Fazio yang menghalangi langkahnya mendekat pada Ruella. Sesaat pria itu menatap penjaga Ruella itu dengan tatapan berubah menjadi tajam.


"Ya, kau benar. Tidak ada yang bisa aku lakukan jika semua orang melihat dan mengetahui siapa aku dan siapa nyonyamu." Seru Hugo setelahnya memicingkan matanya dan kembali menatap pada Ruella. "Sejujurnya aku sangat ingin menyentuhmu lagi, sayang akan tetapi itu akan sangat sulit saat ini. Ya, apalagi kau sudah memiliki seorang suami. Ah, aku dengar kau pun sedang hamil. Apa itu benar?"


"Tuan, tolong pergilah." Mohon Fazio sekali lagi karena peringatannya yang pertama tidak digubris oleh pria yang tinggi tubuhnya hanyalah sebahu dirinya.


Hugo menjadi tertawa mendengar seruan Fazio. Tanpa di duga pria itu mengambil sebuah pistol yang dipegang salah satu anak buahnya dengan tangan kiri dan langsung mengarahkannya tepat ke kening Fazio. Saat yang bersamaan terdengar suara teriakan dari beberapa pengunjung yang masih bertahan di sana.


Fazio tidak bergeming meski mulut sebuah senjata api menempel di keningnya.


"Tuan, ini tidak akan baik untuk siapapun kalau kau melakukannya di depan banyak orang." Kali ini Paul mengingatkan Hugo agar tidak bertindak gegabah dengan menembak temannya.


"Ya, kau benar. Sebaiknya aku tidak melakukannyandi depan banyak orang." Dengan mendengus Hugo menarik senjatanya dan memberikannya lagi ke anak buahnya. "Baiklah, aku akan pergi. Tapi ingatlah Rue, pastinya aku tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan sesuatu karena kau sudah mencoba membunuhku. Kau mengerti?" Hugo menatap Ruella dengan penuh amarah.


Tetap saja Ruella terus diam, dengan mata yang terlihat sangat memerah karena menahan air mata yang di sebabkan oleh rasa takutnya pada sosok pria yang selalu mengintimidasi dirinya dengan keberadaannya.


Akhirnya Hugo memutuskan untuk pergi dari sana. Ia berbalik dengan sebuah kemarahan dan rasa kesal yang tertahan, karena tidak bisa melakukan apapun pada Ruella.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja, Rue?" Emiliano mencondongkan tubuhnya untuk melihat pada Ruella yang duduk di sampingnya. "Sebaiknya kita pergi juga. Ayo kita pulang."


Emiliano merangkul sahabatnya yang bangkit berdiri untuk memapahnya berjalan namun Ruella menepis tangannya. Wanita itu memilih untuk berjalan sendiri menuju pintu keluar.


Kedua penjaganya berjalan di depan wanita itu untuk tetap menjaga nyonya mereka.


Namun tubuh Ruella masih saja gemetar, rasa takutnya akan Hugo belum juga menghilang hingga membuat pandangannya menjadi kabur dan membuat dirinya hilang kesadaran. Tanpa siapapun duga, wanita itu tumbang dan jatuh ke bawah.


"Rue, kau baik-baik saja?" Emiliano langsung bergegas mengambil tubuh Ruella yang tidak sadarkan diri dengan penuh kecemasan.


...***...


Savero masuk ke dalam rumah dengan menenteng sebuah bungkusan dari Pasticceria Martesana. Ia sengaja membawa pulang roti-roti yang tadi dipesan Ruella namun belum sempat wanita itu memakannya.


"Paola, apa Rue sudah di kamarnya?" Tanya Savero pada Paola yang menyambut kepulangannya.


"Nyonya belum pulang, tuan. Ini juga sudah malam, sebaiknya anda mencarinya." Jawab Paola.


"Belum pulang?" Savero terkejut karena awalnya dirinya sangat yakin kalau Ruella akan langsung kembali ke rumah.


"Halo, di mana kau? Kenapa kau belum pulang? Ini sudah malam." Seru Savero langsung berkata demikian karena rasa kesalnya pada Ruella yang seperti tidak memikirkan tentang kehamilannya.


"Sav, ini aku Emiliano. Saat ini Rue berasa di rumah sakit setelah dirinya jatuh pingsan." Ucap Emiliano di ujung telepon.


"Apa?" Sontak Savero terkejut mendengar perkataan Emiliano.


Rasa penasaran dengan kekhawatiran juga dirasakan Paola yang melihat reaksi Savero saat menerima telepon.


Dengan rasa panik yang besar Savero melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit bersama dengan Paola. Tanpa memikirkan apapun, ia membuka pintu ruangan di mana Ruella dirawat.


Emiliano berada di sana melihat kehadiran kedua orang tersebut.

__ADS_1


Segera Savero mendekati ranjang di mana Ruella terlihat memejamkan matanya.


"Dokter memberinya obat penenang karena tubuhnya terus gemetar." Ujar Emiliano yang langsung beranjak berdiri dari duduk di kursi dekat ranjang. "Keadaannya baik-baik saja, tapi tadi dia sempat mengalami pendarahan ringan."


"Nyonya, seharusnya kau tidak pergi kemanapun." Ujar Paola meski Ruella tidak mendengarnya.


"Ada apa? Kenapa dia bisa begini? Kenapa tubuhnya gemetar tadi?" Tanya Savero menatap pada Emiliano ingin tahu.


"Saat kami sedang makan malam, Hugo De Sica datang. Melihatnya Rue langsung gemetar dan pingsan setelah orang itu pergi." Jawab Emiliano.


Wajah Savero langsung terlihat tidak senang. Pancaran rasa marahnya dapat dirasakan oleh Emiliano saat ini.


"Kau tidak perlu khawatir, dia sudah baik-baik saja. Aku juga sudah menghubungi suaminya." Ujar Emiliano. "Baiklah, sebaiknya aku pergi dan tolong kabari aku mengenai perkembangan kondisinya."


Setelah itu Emiliano langsung bergegas keluar dari ruangan itu.


Savero langsung berjalan mendekati arah sisi ranjang di mana Emiliano berada tadi. Ia menatap wajah Ruella yang masih terlihat pucat saat ini.


"Tuan, apa kandungannya baik-baik saja? Apa tidak terjadi sesuatu yang buruk?" Tanya Paola.


"Sepertinya dia sudah baik-baik saja. Paola, sebaiknya kau pulang saja." Seru Savero.


Savero duduk di kursi dekat ranjang di mana Ruella berbaring setelah Paola pergi dari sana. Pria itu memilih untuk menjaga Ruella yang masih tidak sadarkan diri karena obat penenang.


Melihat bagaimana Ruella sekarang setelah mendengarkan perkataan Emiliano yang mengatakan bagaimana Ruella ketakutan hingga tubuhnya gemetar, mengingatkan Savero pada perkataan buruk yang diucapkannya tadi pagi pada wanita itu.


Perasaan menyesal muncul dari dalam lubuk hati pria itu karena perkataannya pada Ruella. Perkataan yang mengatakan apa yang dilakukan Hugo pada Ruella adalah keinginan wanita itu. Savero menjadi sangat menyesalinya karena dirinya pun tahu kalau itu tidaklah benar. Saat mengatakannya tadi pagi itu semua hanya karena rasa marahnya pada Ruella.


Savero beranjak berdiri dan mendekati Ruella dengan tatapan penuh rasa bersalah dirinya pada wanita yang berbaring lemah saat ini.


"Maafkan aku, karena mengatakan hal-hal buruk padamu tadi." Ucap Savero.

__ADS_1


Setelah mengatakan kalimat tersebut, ia terkejut karena Ruella membuka mata dan langsung melihat pada dirinya.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2