BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
028. RASA KEBAHAGIAAN


__ADS_3

Savero mengerjapkan matanya beberapa kali seraya berpikir saat Donzello menatapnya. Perkataan Flavia membuatnya tersadar sehingga harus segera menjawab.


"Aku hanya terkejut karena akan memiliki adik di usiaku yang sekarang." Jawab Savero masih memperlihatkan ekspresinya yang sama. "Itu sangat lucu sekali. Tapi aku ikut bahagia untukmu, Papa."


Donzello menjadi tertawa pada jawaban Savero. Ia merasa memang siapapun akan sangat terkejut saat dirinya mendapatkan kabar berita seperti itu. Tidak akan ada yang tidak terkejut saat tahu dirinya akan menjadi seorang kakak di usia setua itu seperti Savero saat ini.


"Selamat." Ucap Savero memperlihatkan senyumnya.


Sesudah mengantar Darla pergi, Donzello kembali ke kamarnya, Savero dan Flavia mengikutinya untuk mengucapkan ucapan selamat mereka pada Ruella.


"Ternyata kau datang, Flavia. Aku pikir kau tidak akan datang lagi. Kemarin kau terlihat tidak suka dengan apa yang aku katakan." Ujar Ruella yang ?masih duduk di atas tempat tidur.


"Tidak, bukannya aku tidak menyukai apa yang kau katakan. Aku hanya merasa kalau tidak ada yang ingin aku katakan padamu, makanya aku hanya diam setelahnya." Jawab Flavia menunjukkan senyumnya. "Selamat ya, kau akan menjadi seorang ibu. Aku senang mendengarnya dan turut bahagia untukmu juga."


Mendengar perkataan kedua wanita itu membuat Savero sedikit penasaran apa yang dikatakan Ruella kemarin saat wanita itu mengantar Flavia pulang. Sesuatu hal yang sampai membuat Flavia tidak ingin mengatakan apapun pada Ruella. Apakah hal itu menyangkut dirinya atau sesuatu yang lain?


"Sav, kenapa melamun?" Flavia menoleh pada Savero yang berdiri di samping kanannnya dengan diam saja.


"Aku senang kau hamil. Itu kabar yang sangat mengejutkan. Tapi selamat atas kehamilanmu. Kau harus menjaganya. Jangan terlalu lelah dan makanlah makanan yang sehat." Ujar Savero.


Donzello tertawa kecil melihat Savero yang dimatanya sangat lucu dengan ekspresi pria itu.


"Sav, saat anak itu lahir, aku akan memintanya untuk memanggilmu papa juga. Diusiamu sekarang seharusnya kau memiliki seorang anak dan bukan seorang adik. Kau lahir di saat usiaku belum genap 20 tahun, Tapi bahkan kau belum menikah di usiamu sekarang" Seru Donzello yang berdiri di sebelah tempat tidur yang dekat Ruella duduk.


Flavia tertawa bersama dengan Donzello karena candaan pria itu. Dengan sengaja Savero ikut tertawa untuk menanggapinya, meski di dalam hatinya merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman karena kenyataan yang ada.

__ADS_1


"Baiklah, sepertinya lukaku mulai terasa nyeri lagi. Aku akan istirahat sekarang." Lanjut Savero sambil meletakkan tangan kirinya di bagian perut di mana luka tembaknya berada.


Ruella hanya diam saja tak menjawab apapun. Ia memilih untuk diam saja karena memang rahasia yang membuatnya sebaiknya tidak mengatakan apapun.


Flavia menemani Savero berjalan menuju pintu untuk bersama dengan pria itu ke kamarnya.


"Sav, tunggu sebentar." Seru Donzello membuat langkah putranya bersama Flavia terhenti, tepat sebelum mereka membuka pintu.


Tiba-tiba Donzello memeluk Savero, hal itu membuat siapapun yang berada di sana merasa aneh, terlebih pada Savero.


"Sav, terimakasih karena kau menyelamatkan Rue dari tembakan itu hingga kau yang tertembak. Kalau kau tidak melakukannya dan mereka menembak Rue, aku akan kehilangan bayi yang sedang ia kandung. Aku sangat berterimakasih padamu, Sav." Tatap Donzello setelah memeluk Savero.


Tak ada yang diucapkan Savero untuk menjawab Donzello karena yang sebenarnya terjadi memang itu alasannya. Savero melakukannya dengan menghalangi Ruella dari tembakan itu karena tidak ingin Ruella sampai kehilangan bayi yang di kandungnya.


Hanya sebuah anggukan kecil yang diperlihatkan Savero sebagai tanggapannya dari perasaan berterimakasih Donzello. Setelahnya ia bergegas keluar dari ruang kamar itu bersama dengan Flavia.


Ruella hanya diam saja melihat dan mendengar apa yang dilakukan serta diucapkan Donzello pada ayah dari anak yang dirinya kandung. Itu membuat perasaan wanita itu semakin menjadi tidak enak. Bisa ia rasakan bagaimana Savero pun juga terlihat seperti yang juga ia rasakan. Meski begitu, untuk Ruella itu bukan sesuatu yang penting. Ia merasa lega karena semua berjalan dengan lancar dan seperti yang dirinya harapkan.


Donzello berjalan mendekati Ruella, senyum kebahagiaan masih terpancar di wajah pria itu. Segera ia memeluk Ruella ketika dirinya sampai dan duduk di tepi tempat tidur.


"Aku sangat bahagia, sayang. Ini adalah tahun terbaik di dalam hidupku. Aku menikah dan akan memiliki seorang anak. Terimakasih, Rue." Ucap Donzello merengkuh Ruella dengan sangat erat.


Donzello melepas pelukannya dan menatap Ruella kembali.


"Kita harus memberitahu kabar membahagiakan ini pada papa dan mamamu. Mereka pasti akan sangat senang mendengarnya." Ujar Donzello menatap Ruella. "Mereka pasti tidak akan mengira kalau mereka akan menjadi kakek dan nenek. Kau sudah memberikan kebahagiaan untuk semua orang, Rue." Donzello memegang perut Ruella dan setelahnya mengecup bibir istrinya itu.

__ADS_1


"Kau terlihat sangat bahagia, Don." Tanpa sadar Riella mengatakan hal tersebut dengan menatap lekat Donzello.


"Tentu saja, kau memberikan hadiah terbaik di tahun ini." Jawab Donzello setelahnya kembali memeluk Ruella lagi dengan sangat hangat.


...***...


Savero yang merasakan rasa nyeri dari luka operasi pengangkatan peluru di perutnya, di bantu oleh Flavia naik ke tempat tidur. Entah kenapa rasa sakit di perutnya mulai terasa kembali.


"Apa efek obatnya habis, Sav?" Tanya Flavia setelah membantu Savero duduk. "Lebih baik kau tetap beristirahat di tempat tidur untuk sementara waktu. Tunggu lukanya benar-benar pulih baru kau boleh turun dari tempat tidur. Kau bilang saat meminum obat penghilang nyeri itu kepalamu terasa sakit, kan? Karena itu lakukan seperti yang aku bilang dan kau tidak perlu meminum obat itu lagi."


"Baik, dokter. Aku akan mengikuti semua perkataanmu agar aku bisa segera sembuh." Gurau Savero memulas sebuah senyuman pada Flavia yang masih berdiri di dekatnya.


Flavia menjadi tertawa kecil, namun tidak berlangsung lama karena dirinya mengingat ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Savero.


"Terimakasih kau sudah datang menjengukku hari ini. Tapi kau tenang saja, aku akan segera pulih dengan cepat. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, Fla."


Tiba-tiba Flavia duduk di tepi tempat tidur menghadap pada Savero dengan tatapan yang terlihat serius.


Melihatnya membuat Savero terlihat bingung. Ia tahu ada sesuatu yang serius yang hendak diucapkan Flavia padanya saat ini.


"Sav, setelah aku pikir-pikir... Sepertinya kau benar. Maksudnya, aku akan mencoba mengikhlaskan kepergian Matteo." Ucap Flavia. "Dan juga aku akan memikirkan sekali lagi mengenai dirimu. Kita bisa memulai semuanya dari sekarang."


Ucapan Flavia membuat jantung Savero serasa detakkannya terhenti. Itu membuatnya sangat terkejut karena akhirnya Flavia mau membuka hatinya untuk dirinya yang sangat mencintai Flavia.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2