BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
053. SEBUAH PELUKAN


__ADS_3

Savero langsung membawa Flavia ke kamar tamu di lantai satu secepatnya setelah wanita itu syok dan kehilangan kesadaran.


Semua orang yang berada di meja makan masih terlihat tegang, terutama wanita bernama Sofia Gollini alias Carla Retegui. Wanita itu sudah terlihat begitu pasrah dengan keadaannya.


"Nyonya, aku mohon ampuni semua kesalahanku. Tuan, aku sudah ingin hidup normal dengan bekerja padamu selama ini. Karena itu maafkan aku. Biarkan aku hidup normal." Seru Sofia dengan wajah yang sudah di penuhi dengan air mata karena rasa takutnya.


"Dengarlah Carla, sudah aku katakan aku akan mengampunimu jika kau mengakui semua hal itu. Tapi aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Ujar Ruella.


"Apapun akan aku lakukan untukmu nyonya asalkan aku bisa terbebas dari Hugo De Sica." Seru Sofia dengan penuh memohon. "Dia pasti akan langsung membunuhku karena takut aku membuka mulut kalau dia membayarku untuk membunuh nyonya dulu."


"Ya, kau benar. Hugo pasti akan langsung membunuhmu karena dia takut Sacra Unita akan menghabisi Foggianna karena melanggar perjanjian dengan La Nostra." Seru Ruella dengan sebuah senyuman. "Karena itu aku membutuhkanmu untuk mengakui semuanya pada Sacra Unita dan di depan hadapan papaku."


Donzello menatap pada istrinya karena tidak mengira kalau wanita yang menikah dengannya ingin membuat Foggianna musnah karena rasa dendamnya pada anak pimpinan jaringan mafia tersebut. Pria yang sudah melakukan hal buruk padanya.


"Aku akan memberikan kebebasan padamu saat Foggianna hancur dan manusia yang bernama Hugo De Sica mati." Lanjut Ruella dengan tatapan penuh kebencian.


...***...


Savero menemani Flavia yang tidak sadarkan diri di kamar. Pria itu masih memikirkan semua hal yang sebenarnya terjadi. Ternyata semua yang dikatakan Ruella adalah sebuah kebenaran. Itu membuat dirinya menjadi merasa bersalah karena sudah berpikiran hal yang buruk pada Ruella.


Sejak tahu kalau orang yang menabrak Matteo adalah Ruella, kebenciannya muncul hingga dirinya selalu mencari tahu mengenai wanita itu. Ia ingin memberikan pembalasan padanya suatu hari nanti. Ia merasa apa yang terjadi pada sahabatnya tidak adil hanya karena wanita yang menabraknya adalah anak dari pimpinan mafia yang sangat ditakuti di Italia.


Itu juga yang membuat Savero melakukan hal buruk pada Ruella dengan bercinta dengan wanita itu ketika wanita itu tengah mabuk. Ia sengaja melakukannya agar saat wanita itu hamil, ia akan menjadi merasa menderita. Namun yang terjadi, semuanya seperti berbalik padanya.


Ruella yang menikah dan tengah hamil anaknya dan kebenaran mengenai siapa Matteo yang sebenarnya, membuat Savero menjadi merasa kalau seharusnya ia tidak melakukan hal buruk pada wanita itu karena pada dasarnya Ruella tidak bersalah sepenuhnya.


"Sav..." Ucap Flavia yang membuka matanya.

__ADS_1


"Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Apa baik-baik saja?" Tanya Savero dengan tatapan datar karena perasaan tidak nyaman mengenai rasa bersalahnya pada Ruella menghinggapinya.


"Kau percaya padanya? Apa Matteo sejak awal tidak menyukaiku? Apa dia hanya mempermainkan aku?" Tanya Flavia dengan air mata yang mengalir. "Aku tidak ingin mempercayainya meski hal itu benar. Aku lebih suka kalau dia terus membohongiku."


"Tidak! Dia tidak pantas mendapatkan cinta dari wanita sepertimu." Jawab Savero dengan wajah terlihat kesal. "Kenapa kau mengatakan hal tersebut? Jika itu sebuah kebenaran maka seharusnya pria sepertinya pantas mendapatkan sebuah kematian yang mengenaskan seperti yang dia alami."


Mendengar perkataan Savero menbuat Flavia semakin menangis. Rasa cinta pada Matteo begitu sangat besar meski pria itu sudah tidak tahun lamanya meninggal. Perasaan tulus Flavia membuatnya menjadi begitu sangat menyakitkan ketika tahu kalau pria yang selalu dicintainya itu hanya mempermainkannya dan tidak benar-benar tulus dengan perasaannya.


Ruella masuk ke dalam kamar di mana Savero dan Flavia berada. Wanita itu berjalan mendekati tempat tidur dan menatap pada Flavia yang hanya terdiam dengan kedatangannya.


"Sejak awal aku tidak memintamu untuk mempercayai apa yang aku katakan. Aku mencari wanita itu bukan untuk membuktikan kalau aku tidak sepenuhnya bersalah karena menabrak kekasihmu. Tujuanku sejak awal hanya ingin menghancurkan musuhku. Tapi melihat kalian dua orang bodoh membuatku menjadi merasa kasihan." Seru Ruella dengan menyunggingkan bibirnya dengan gestur tubuh ciri khasnya. "Aku juga tidak peduli bagaimana anggapan kalian padaku setelah ini. Tapi saranku, lebih baik kalian segera menikah."


Setelah mengatakan hal tersebut Ruella berjalan keluar meninggalkan dia orang yang tidak mengatakan apapun padanya


"Fla, beristirahatlah sebentar." Ujar Savero setelah itu beranjak dari kursi dan bergegas keluar dari kamar itu.


Ruella berbalik dan melihat pada Savero yang memegang pundaknya. Wajahnya langsung terlihat kesal karena pria itu menghampirinya namun sebelum dirinya mengatakan sesuatu, Savero menyambar lengannya dan menariknya ke sudut ruangan.


"Apa yang kau lakukan?" Seru Ruella menarik lengannya dari genggaman Savero karena mereka sudah berhenti di sudut tempat namun pria itu masih memegangi lengannya.


Ruella semakin kesal dengan Savero karena menarik dirinya untuk mengikutinya. Entah apa yang ingin dikatakan pria itu padanya namun untuk Ruella, itu pasti sesuatu hal yang tidak penting seperti biasanya.


"Ada apa? Cepat katakan apa yang ingin kau katakan, aku tidak punya waktu untuk meladenimu. Dan aku pikir seharusnya kau tetap menjaga wanita yang kau cintaiku."


"Aku minta maaf..." Ucap Savero dengan tatapan tulus oada Ruella.


"Maaf? Untuk apa?" Tanya Ruella mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Untuk semua hal buruk yang aku lakukan dan yang aku katakan padamu." Jawab Savero dengan merasa tidak enak hati.


"Yang mana?" Tatap Ruella. "Dan untuk apa kau meminta maaf padaku? Apa akan ada hal yang berbeda setelah kau meminta maaf padaku atau setelah aku memberikan maaf padamu?"


Savero menjadi terdiam mendengar perkataan Ruella yang selalu sama, menunjukkan bagaiaman arogansi wanita itu. Dan karena sikapnya itu pula membuat siapapun menganggap kalau Ruella adalah wanita yang selalu bersikap sesukanya.


Ruella menghela napas dengan wajah kecut diperlihatkan pada Savero. Wanita itu ingin secepatnya pergi dari sana.


"Baiklah, tidak ada yang kau katakan lagi, aku akan pergi. Dan ingatlah Sav, kau tidak perlu menemuiku lagi atau pun merasa bersalah pada apapun. Aku hanya ingin agar kau tidak menganggap kalau dirimu adalah ayah dari anak yang aku kandung. Jalani saja hidupmu dan aku juga akan menjalani hidupku bersama dengan papamu." Terang Ruella. "Aku rasa setelah ini Flavia akan mau menikah dengamu. Kalian bisa menikah dan sebaiknya setelah menikah kalian pindah ke luar negeri atau kau bisa kembali ke London. Yang terpenting aku tidak ingin tinggal bersama denganmu juga. Apa kau mengerti?"


Ruella menatap Savero, menunggu jawaban pria itu. Ia sudah mengatakan apa yang diinginkannya agar Savero mengikuti semua itu. Wanita itu hanya ingin hidup damai bersama dengan Donzello setelah ini. Tentunya setelah memusnahkan Hugo De Sica.


"Kau mengerti kan?"


Tanpa dirinya duga tiba-tiba Savero menarik lengannya dan langsung memeluk Ruella. Sontak Ruella sangat terkejut pada apa yang dilakukan pria itu padanya. Meski dirinya berusaha untuk lepas dari pelukan pria itu, namun Savero menahannya hingga dorongan yang dilakukan Ruella sia-sia.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!!" Seru Ruella dengan kesal.


Namun Tetap Savero tidak mendengar perkataannya dan masih terus memeluknya.


"Ada apa ini?"


Kedua orang yang sedang berpelukan itu terkejut ketika terdengar suara seseorang yang sangat mereka kenal. Segera mereka menoleh ke arah suara dan melihat Donzello berjalan mengarah pada mereka dengan wajah tampak heran karena apa yang dilihatnya.


Savero langsung melepaskan tubuh Ruella dari dekapannya dengan perasaan yang sama terkejutnya dengan Ruella.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2