BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
054. MEMBERI PERINGATAN


__ADS_3

Kedatangan Donzello dengan memergoki Savero yang memeluk Ruella membuat kedua orang itu menjadi sangat terkejut.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua berpelukan?" Tanya Donzello dengan menekuk wajahnya karena heran melihat putranya memeluk istrinya.


"Don..." Ruella langsung masuk ke dalam pelukan Donzello. "Sav hanya berterimakasih padaku karena memberitahunya mengenai siapa Matteo Florenzi yang sebenarnya."


"Jadi seperti itu." Ujar Donzello yang langsung mempercayai perkataan Ruella tanpa curiga sedikit pun. "Sav, yang terjadi bukan sesuatu yang baik. Tapi kau harus bisa menerimanya mengenai siapa sahabatmu yang sebenarnya. Terkadang semua orang menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya untuk sesuatu hal yang bisa saja membuat orang di dekatnya membencinya ketika mengetahui hal yang sebenarnya. Mungkin itu juga yang dirasakan Matteo. Dia takut kalau kau membencinya, tetapi ingatlah selama kalian bersahabat kalian begitu dekat, jadi jangan terlalu membencinya."


"Ya, aku mengerti." Jawab Savero setelah itu berjalan menuju kamar di mana Flavia berada.


Saat berjalan Savero memikirkan apa yang ia barusan lakukan. Entah kenapa dirinya bergerak dengan sendirinya lagi dengan memeluk Ruella. Ini kedua kalinya pria itu melakukan hal-hal dengan sendirinya.


"Aku benar-benar sudah gila." Gumam Savero saat berada di depan pintu kamar.


Seketika pintu kamar tersebut terbuka. Ia terkejut saat Flavia membuka pintu dengan tatapan aneh padanya.


"Ada apa? Kenapa kau berpikir kalau kau sudah gila?" Tanya Flavia.


"Tidak, aku hanya merasa lelah saat ini." Jawab Savero mencari jawaban aman. "Kau sudah lebih baik? Bukannya lebih baik jika kau berbaring saja dulu?"


"Aku ingin pulang. Aku baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang terjadi padaku." Ujar Flavia. "Sebaiknya kau istirahat, aku akan pulang sendiri."


"Tidak, aku akan mengantarmu—"


"Kau bilang kau lelah, kan?" Tatap Flavia. "Beristirahat lah Sav. Aku juga ingin beristirahat beberapa waktu ke depan. Mungkin aku tidak akan menghubungimu untuk sementara waktu, dan aku harap kau juga tidak menghubungiku hingga aku merasa cukup."


Setelah mengatakan hal tersebut, Flavia bergegas melewati Savero yang berada di depan pintu dan berjalan meninggalkan pria itu yang mematung dengan mendengar perkataannya.


Savero merasa seperti dirinya baru saja di hantam petir bertubi-tubi sehingga membuatnya menjadi bingung harus melakukan apa.


Setelah Ruella memintanya untuk tidak mendekatinya dan menyingkir dari hidupnya, sekarang wanita yang dicintainya ingin agar dirinya berhenti menghubunginya sementara waktu. Tidak ada yang bisa ia lakukan, dan sekarang rasa lelah benar-benar begitu sangat terasa di dirinya, bahkan rasa lelah juga menyerang hatinya.


...***...


"Rue, berjanjilah padaku kalau kau tidak akan melakukan hal-hal berbahaya." Ucap Donzello melihat pada Ruella yang baru saja keluar dari ruang pakaian dengan menggunakan lingerie. "Ingatlah, saat ini kau sedang mengandung. Jangan melakukan hal-hal yang bisa menyakiti dirimu dan anak di kandunganmu."


Pria itu duduk di tepi tempat tidur menunggu istrinya keluar dari ruang pakaian sejak beberapa menit yang lalu. Ruella langsung duduk di atas pangkuan Donzello dengan manjanya.


"Kau tidak perlu khawatir, Don." Ujar Ruella dengan melingkarkan kedua lengannya ke leher pria yang memangku dirinya. "Aku akan melakukan semuanya dengan aman. Aku akan menjaga anak kita ini."

__ADS_1


Donzello memulas senyum mendengar ucapan Ruella dan langsung mencium bibirnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu, Don." Ucap Ruella memeluk Donzello dengan mendekapnya sangat erat.


...***...


Beberapa hari setelahnya, ketika mulai menjelang siang. Ruella berjalan di koridor rumah sakit menuju suatu ruangan bersama dengan kedua penjaganya.


Wanita itu berjalan dengan mantap melewati beberapa penjaga yang terlihat berjaga di kelas VIP di salah satu ruangan. Para penjaga itu tidak berani untuk menghadang langkah wanita itu dan membiarkannya membuka ruangan di mana mereka jaga.


Selama beberapa hari Ruella sudah berencana untuk menemui pria yang membuat dirinya selalu merasakan ketakutan saat berhadapan dengannya. Namun kali ini, ia sudah mempersiapkan dirinya dengan matang agar ketika berada di ruangan yang sama dengan pria itu, tak ada lagi rasa gemetar yang dirinya rasakan.


Ruella menatap pada Hugo yang tersenyum melihat padanya. Bagaimana pria itu terlihat sangat senang dengan kehadiran wanita itu.


"Aku benar-benar sangat senang karena kau datang menjengukku." Ujar Hugo dengan wajah tersenyum senang. Kesenangannya terlihat dibuat-buat karena pada dasarnya ada rasa kebencian pada wanita yang sudah menjerumuskan dirinya ke penjara. "Apa kau ingin memelukku?"


"Diamlah! Jangan mengatakan hal-hal bodoh! Aku senang kau hanya bisa berada di atas ranjang seperti ini. Dan aku harap kau tidak akan pernah bisa pergi ke mana pun." Ruella menunjukkan sebuah senyum yang ia buat dengan sedemikian rupa untuk menunjukkan keberaniannya.


"Sialan! Berani sekali kau mengejekku! Aku pasti akan membalas semua perbuatanmu padaku!!" Geram Hugo dengan wajah sangat marah.


Ruella semakin berjalan mendekat pada Hugo untuk menunjukkan kalau sekarang dirinya tidak takut lagi pada pria yang sudah membuat dirinya merasa takut selama ini.


"Dengar Hugo, aku akan memberimu kesempatan dengan mengakui apa yang telah kau lakukan padaku lima tahun lalu. Aku adalah orang baik hati yang akan memberikan siapapun kesempatan kedua." Ujar Ruella dengan penuh keyakinan. "Tapi jika kau tidak mendengarkan perkataanku, aku akan memastikan kau tidak akan bisa hidup tenang."


Ruella tersenyum dengan penuh kepercayaan diri. Dengan baik hati dirinya masih ingin memberikan kesempatan pada pria itu, namun tidak akan memberikan kesempatan kedua kalinya lagi.


Dengan penuh keberanian, Ruella menarik kerah baju Hugo untuk mengatakan maksud tujuannya menemui pria itu.


"Aku akan memberikanmu kesempatan sampai hari akhir minggu ini. Jika kau tidak mengakui semua perbuatanku padamu ke Sacra Unita mana aku yang akan mengatakan semuanya. Kau tau? Aku memiliki sesuatu hal yang akan membuat Sacra Unita dan ayahku mempercayai rencana pembunuhmu tiga tahun lalu." Ucap Ruella dengan tatapan yang sangat tajam pada Hugo.


Hugo melihat bagaimana rasa percaya diri terpancar dari mata Ruella yang lekat menusuk matanya. Ia tahu kalau wanita itu tidak main-main dengan perkataannya. Ia pasti serius saat mengatakan semua hal tersebut padanya.


Namun ada suatu masalah yang ia pikirkan. Meskipun ia ingin mengikuti keinginan wanita itu namun tetap, dirinya pun juga tidak akan selamat dari kematian. Pimpinan Sacra Unita pasti tidak akan mengampuninya.


"Aku akan menunggumu dengan sabar sampai akhir minggu ini." Seru Ruella melepaskan Hugo dengan sangat kasar lalu bergegas berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Anda baik-baik saja, nyonya?" Tanya Fazio pada Ruella saat mereka keluar.


"Ya, aku baik-baik saja. Kalian berdua pergilah dan tunggu aku di mobil." Seru Ruella berusaha menunjukkan kalau dirinya masih baik-baik saja.

__ADS_1


Fazio dan Paul mengikuti perintah nyonya mereka dengan segera pergi dari sana.


Ruella yang baru saja keluar dari ruangan tersebut dan kembali berjalan meninggalkan tempat di mana pria yang sangat ia benci dirawat. Setelah Ia meminta kedua penjaganya untuk menunggunya di mobil, ia melanjutkan jalannya. Langkahnya perlahan berjalan menyusuri koridor setelah dirinya keluar dari sana. Tubuhnya kembali gemetar dan mengeluarkan rasa ketakutan yang tadi tertahan saat menemui Hugo.


Tepat di ujung koridor Savero yang sudah mulai bekerja di rumah sakit itu baru saja keluar dari salah satu ruangan dan melihat pada keberadaan Ruella di sana. Ia bisa melihat wajah wanita itu tampak pucat dengan tubuh yang gemetar.


"Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?" Tanya Savero pada Ruella dengan berjalan mendekatinya.


Dugaannya benar, ketika ia sampai, langkah Ruella goyah dan hampir saja jatuh. Dengan cepat Savero menggapai tubuh wanita itu sebelum tumbang.


"Rue, kau baik-baik saja?" Tanya Savero pada Ruella di pelukannya.


Segera Savero membawa Ruella masuk ke dalam satu ruangan dan membaringkannya ke ranjang ruangan itu, lalu memasang infusan pada wanita yang terlihat masih lemah tersebut.


Kesadaran Ruella sudah pulih dan ia melihat bagaimana Savero menemaninya di sana.


"Ada apa denganmu? Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau ada di sini?" Tanya Savero terlihat heran pada keberadaan Ruella di sana.


"Kau sudah memberitahu Don?" Tanya Ruella yang tidak menjawab pertanyaan Savero padanya. "Jangan beritahu dia, aku akan beristirahat sebentar di sini. Saat sudah lebih baik aku akan pulang. Kau bisa kembali bekerja."


Savero mendengus mendengar perkataan Ruella. Ia memang belum memberitahu ayahnya mengenai kondisi Ruella saat ini, namun ia menjadi heran karena wanita itu tidak memberi tahu mengenai tujuannya berada di rumah sakit saat ini.


"Katakanlah, apa kau menemui pria itu? Kau menemui Hugo De Sica seorang diri?" Tatap Savero yang berdiri di samping ranjang tempat Ruella berbaring dengan terkulai lemah.


...***...


Donzello baru saja masuk ke dalam ruangannya sehabis makan siang. Sofia yang masih diberikan ijin bekerja bersama dengan pria itu menyambutnya.


"Tuan, Gianluigi Dimarco sudah menunggu anda sejak setengah jam yang lalu." Seru Sofia.


Segera Donzello berjalan masuk ke dalam ruangannya dengan cepat. Pria itu sangat ingin segera menemui detektif tersebut.


Donzello menemui seorang tamu yang datang menemuinya di ruangan kantor. Tamu yang dimintanya untuk mencari tahu mengenai siapa pria yang menghamili Ruella. Ia merupakan seorang detektif swasta bernama Gianluigi Dimarco.


"Aku sudah menelusuri track record dengan siapa saja istri anda bertemu dengan seorang pria. Terutama dalam kurun waktu tiga bulan yang lalu." Ucap Dimarco memeberikan sebuah amplop ke meja di mana Donzello duduk di kursinya. "Ada satu orang yang terlihat sangat mencurigakan. Pria itu masuk ke dalam toilet wanita di sebuah klub malam hanya setelah beberapa saat istri anda masuk. Pria itu juga keluar setelah sekitar dua puluh menit berada di dalam bersama istri anda. Selain mereka tidak ada yang masuk ke toilet tersebut sebelum pria itu keluar."


Donzello segera membuka amplop yang diberikan oleh Gianluigi Dimarco dan mengambil beberapa tangkapan CCTV yang sudah tercetak. Di foto-foto tersebut terlihat seorang pria yang hendak masuk dan keluar dari toilet wanita. Gambar tersebut tidak terlalu jelas karena buram dan tidak fokus.


Akan tetapi melihatnya, jantung Donzello langsung tersentak kaget karena dirinya mengenali siapa pria tersebut.

__ADS_1


"Savero?" Ucap Donzello dengan tidak percaya.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2