
Jawaban yang dilontarkan Savero membuat rasa marah Ruella semakin besar. Jawaban itu adalah jawaban yang paling tidak diinginkan dirinya. Itulah ketakutannya, jika Savero benar-benar menganggap anak yang dikandungnya adalah anaknya.
Segera Ruella maju mendekati Savero dan dengan penuh kemarahan wanita itu melayangkan tinjunya ke wajah Savero dengan keras.
"Sejak awal aku memperingatimu kalau ini bukanlah anakmu! Kenapa sekarang kau mengatakan hal seperti?" Ruella menarik kerah baju Savero dengan sangat marahnya. "Anak ini adalah anak ayahmu dan bukan anakmu, kau harus tahu itu. Jangan pernah menganggap kalau kau punya hak padanya. Kau tidak perlu melakukan apapun lagi—"
Tanpa Ruella duga, Savero menghentikan apa yang hendak ia katakan dengan bibirnya. Seketika perkataannya terpotong saat pria itu mencium Ruella. Kemarahan Ruella semakin menjadi. Dengan sekuat tenaga dirinya mendorong Savero yang me*lu*mat bibirnya agar pria itu menghentikan apa yang dilakukannya.
"Apa yang kau lakukan, bodoh!!" Seru Ruella semakin berteriak dengan penuh rasa kekesalan pada apa yang dilakukan Savero padanya. "Berani sekali kau memciumku!!"
Ruella hendak memukul Savero lagi namun kali ini pria itu menahan lengannya dengan memeganginya. Mata mereka saling menatap.
Savero terdiam karena dirinya pun bingung dengan apa yang dilakukannya. Ia juga tidak mengerti kenapa dirinya bergerak mencium Ruella.
"Lepaskan tanganku!!" Seru Ruella mencoba menarik lengannya dari genggaman Savero namun pria itu menggenggamnya sangat kuat.
"Dengarlah, Rue... Aku merasa tidak ada salahnya juga kalau aku melakukan semuanya. Bagaimanapun anak yang kau kandung adalah anakku. Meski aku sudah berusaha untuk tidak memedulikannya namun sepertinya itu sesuatu yang sulit. Semua yang aku lakukan padamu selama ini, aku melakukannya tanpa memikirkan alasannya. Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan padamu, meski pada awalnya pun aku tidak ingin mengakui kalau kau mengandung anakku. Tapi sepertinya ada hal-hal yang tidak bisa aku hindari ataupun menyangkalnya." Ujar Savero dengan tatapan keseriusan menatap Ruella yang pandangannya sangat dekat dari matanya. "Mungkin itu yang disebut naluri seorang ayah."
Setelah berkata demikian Savero melepaskan lengan Ruella dan berbalik. Dirinya langsung bergegas keluar dari kamar itu. Ketika dirinya melangkah keluar dari pintu yang tidak tertutup rapat sepenuhnya, ia melihat Donzello baru saja menaiki tangga dan menatap pada dirinya yang keluar dari kamar.
Savero terkejut dengan kehadiran Donzello—ayahnya itu. Namun dirinya merasa bersyukur karena untung saja ia tidak terlambat untuk segera keluar dari kamar itu dan menghentikan percakapannya dengan Ruella tadi.
Donzello yang baru saja melangkah naik, melihat putranya berada di depan kamarnya dan Ruella. Awalnya ia merasa aneh, karena keberadaan Savero di sana, namun perasaannya berubah dan menjadi muncul kecemasan pada Ruella. Dirinya yang melihat Savero keluar dari kamar di mana istrinya berada menganggap kalau sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi lagi pada Ruella.
"Sav, ada apa dengan Rue? Dia baik-baik saja? Apa ada hal buruk terjadi lagi padanya?" Tanya Donzello melangkah mendekati Savero di depan pintu dengan wajah penuh dengan keseriuaan.
"Tidak, kau tenang saja papa. Semua baik-baik saja." Jawab Savero sedikit merasa lega. "Aku datang memberikan obat dan vitamin Rue yang tertinggal di meja makan tadi."
__ADS_1
Apa yang dikatakan Savero memang suatu kebenaran namun yang terjadi lebih dari itu.
"Syukurlah. Aku menjadi khawatir saat melihatmu keluar dari kamar ini. Aku jadi berpikir kalau sesuatu yang buruk terjadi lagi pada Ruella dan kandungannya." Ujar Donzello langsung memancarkan rasa lega dari wajahnya.
"Kau terlalu berlebihan, papa." Senyum Savero. "Baiklah, aku harus segera pergi ke rumah sakit. Kemungkinan dalam minggu ini aku akan memulainya."
"Itu bagus." Senyum Donzello merespon perkataan Savero.
Donzello segera masuk ke dalam kamarnya saat Savero melangkah pergi. Dibukanya pintu kamar dan langsung melihat Ruella yang baru saja meminum obat dan vitaminnya di sisi tempat tidur.
"Sebaiknya kau tidak meninggalkan obat dan vitaminmu lagi Rue. Dan yang paling penting itu jangan lupa untuk meminum semua itu." Ucap Donzello sambil berjalan mendekati Ruella.
"Don, kau sudah pulang? Ini sangat cepat. Apa ada sesuatu kenapa kau pulang secepat ini?" Ruella menoleh pada Donzello dan langsung bangkit berdiri.
"Aku merindukanmu dan anak kita." Jawab Donzello langsung merengkuh tubuh Ruella kepelukannya dan menciumnya.
"Kau lelah? Apa sudah makan siang?" Tanya Ruella setelah mereka berciuman. Tangannya melingkar ke leher suaminya dan wajahnya terlihat sangat senang. "Atau mau melakukan hal yang lainnya?"
...***...
Savero duduk di belakang meja di mana dirinya akan bekerja di ruangan itu, di rumah sakit. Pandangannya terlihat menerawang karena memikirkan sesuatu.
Saat ini apa yang terjadi tadi, dan perbincangannya bersama dengan Ruella memenuhi pikirannya. Dirinya mencoba untuk memikirkan lagi alasannya selama ini memedulikan wanita itu. Ia juga tidak yakin dengan semua yang dilakukannya tanpa adanya alasan yang jelas. Semua yang dirinya lakukan sudah tentu karena memang pria itu mengkhawatirkan Ruella karena sedang mengandung anaknya.
Namun ia juga tidak mengerti kenapa tadi tanpa ia pikirkan, dirinya mencium wanita itu. Satu hal yang tidak ia dapatkan jawabannya itu. Jika dulu dirinya yang dengan sengaja bercinta dengan Ruella karena rasa kesalnya pada wanita itu, sekarang yang ia rasakan saat menciumnya tadi tidak sama dengan alasan waktu itu.
"Ada apa denganku?" Gumam Savero mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa bingungnya atas tindakan yang menurutnya sangat sembrono itu. "Bagaimana jadinya kalau papa melihat apa yang aku lakukan pada istrinya tadi?"
__ADS_1
Ponsel yang ia letakkan di atas meja di hadapannya berdering. Muncul nama Flavia yang meneleponnya. Dengan senyuman Savero menjawab panggilan telepon tersebut.
"Ada apa? Apa kau tidak sabar bertemu denganku?" Tanya Savero menjawab telepon Flavia.
"Kapan kau ke sini? Bantulah aku membuat cake yang akan aku bawa ke acara makan malam nanti." Ujar Flavia sebelumnya tertawa mendengar perkataan Savero.
"Membantumu? Apa aku tidak salah dengar? Aku pasti akan mengacaukannya nanti."
"Jadi kau menolakku? Baiklah, aku akan membuatnya sendiri. Kebetulan Pasticceria Martesana hari ini tidak buka karena papa pergi ke acara reuni dengan teman-temannya." Ujar Flavia.
"Baiklah, aku akan segera ke sana sekarang." Jawab Savero dengan sebuah senyuman.
Setelah perbincangan singkat dirinya dan Flavia di telepon. Savero bergegas keluar dari ruangan itu dan berjalan di koridor rumah sakit.
Tiba-tiba dirinya teringat mengenai apa yang didengarnya saat Ruella menelepon dengan Emiliano.
Hugo De Sica sedang dirawat di rumah sakit setelah ditabrak seseorang hingga salah satu kakinya mengalami patah tulang.
Segera ia mencari tahu di mana ruangan pria itu di rawat dan bergegas ke sana untuk menemuinya. Ia nanya ingin melihat keadaannya dan kalau bisa mencari tahu hal yang ingin dirinya ketahui.
Langkahnya sempat terhenti saat melihat beberapa orang yang berdiri di depan ruang perawatan di mana Hugo berada. Mereka semua adalah para pengikut pria itu.
Tanpa memikirkan apapun lagi dan dengan memakai jubah putih dokter dan masker yang sebelumnya ia kenalan, Savero masuk ke dalam ruangan itu tanpa dicurigai orang-orang itu.
"Siapa kau?"
Ketika Savero masuk ke dalam ruangan itu, Hugo langsung melayangkan pertanyaan yang membuat Savero sedikit terkejut.
__ADS_1
"Aku belum pernah melihatmu." Lanjut Hugo dengan wajah heran.
...–NATZSIMO–...