
"Kalian sudah tahu di mana tempat tinggalnya? Apa orang itu benar-benar tidak ada di rumahnya?" Tanya Ruella pada kedua penjaganya.
"Benar nyonya, orang itu pergi entah kemana. Istri dan kedua anaknya ditinggalkan begitu saja di rumahnya." Jawab Fazio.
"Kami juga sudah mencari tahu pada teman-teman mereka tetapi tidak ada yang tahu keberadaannya." Tambah Paul yang menyetir.
Paul Gnonto adalah pria kulit hitam dengan rambut yang diikat karena panjang. Memiliki tubuh yang mencapai dua meter, sedangkan Fazio Belotti memiliki rambut hitam dengan kulit putih seperti orang Italia pada umumnya. Tinggi tubuhnya hanya terpaut sepuluh sentimeter. Mereka berdua berusia kisaran 35 tahun.
"Antarkan saja aku ke rumahnya. Biarkan aku tanyakan langsung pada istrinya." Seru Ruella sambil mencari nama Donzello di daftar panggilannya.
Ruella menekan tombol telepon untuk menelepon suami tercintanya yang saat ini sedang bekerja.
"Ada apa, sayang?" Tanya Donzello menjawab teleponnya.
"Kapan kau akan pulang? Ini sudah jam lima sore. Aku akan ke kantormu dan kita akan makan malam di luar." Ujar Ruella.
"Ya, datanglah ke sini. Aku akan pulang saat kau datang ke sini." Jawab Donzello. "Kau ingin menu makan malam apa?"
"Karena kita tidak jadi ke Paris, aku sedang ingin makan masakan Perancis." Ucap Ruella.
"Baiklah, akan aku pesankan tempat untuk kita makan malam. Aku harus menjawab telepon dulu. Hati-hati di jalan, Rue. Aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu juga." Setelah itu Ruella mengakhiri teleponnya.
Tidak berapa lama mereka sampai di bangunan tua yang merupakan sebuah apartemen di dalam kawasan kumuh yang sangat padat penduduk. Bersama dengan kedua anak buahnya, Ruella berjalan masuk ke dalam gedung tersebut.
"Nyonya, tempat tinggal mereka berada di lantai empat, dan di sini tidak ada lift." Ujar Fazio.
Ruella menengadah melihat pada susunan lantai yang ada di atasnya, dan setelahnya menoleh ke arah tangga. Sesaat dirinya berpikir kalau akan sangat buruk untuknya menaiki tangga-tangga tersebut dalam kondisi sedang hamil seperti sekarang ini. Namun tidak ada pilihan lain karena dirinya ingin mencari tahu keberadaan pria yang sudah menggagalkan bulan madunya tempo hari.
Segera Ruella menaiki tangga tersebut dengan langkah yang mantap. Bahkan sepatu berhak tinggi yang tipis masih dikenakannya hingga terdengar hentakan yang beradu antara sepatu tersebut dan lantai tangga yang tidak tertutup karpet.
__ADS_1
Meski rasa lelah sudah terasa, namun Ruella terus berjalan hingga menaiki lantai yang di tuju. Lantai yang terasa sangat lembab dengan pencahayaan yang kurang karena minimnya ventilasi dan jendela membuat debu menumpuk dan membuat Ruella batuk-batuk.
"Anda baik-baik saja, nyonya?" Tanya Paul dengan suaranya yang berat. "Di sini sangat kotor, seharusnya nyonya tidak perlu datang ke sini. Istrinya pun pasti tidak akan mengatakan apapun mengenai keberadaan orang itu."
"Tidak masalah, aku selalu tahu apa kebutuhan para orang miskin agar mereka membuka mulut mereka." Jawab Ruella kembali berjalan dan memasuki koridor yang semakin gelap.
Fazio mengetuk pintu sebuah kamar apartemen dan seorang wanita yang sedang menggendong seorang bayi di pelukannya membuka pintu tersebut.
Wanita yang terlihat sangat lusuh itu melihat kehadiran Ruella bersama dengan kedua penjaganya dengan tatapan yang langsung berubah menjadi sebuah ketakutan.
"A—ada apa kalian ke sini?" Tanya Wanita tersebut.
"Apa kau istri dari Ciro Tonali?" Tatapan Ruella sangat tajam menatap wanita bertubuh kurus dengan mata cekung dan terdapat lingkaran hitam di sepasang matanya. "Apa aku boleh masuk?"
Sebelum sempat wanita menjawab, Paul lebih dulu mendorong pintu hingga terbuka lebar. Mau tidak mau wanita yang tampak ketakutan itu mundur ke belakang.
Ruella melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan apartemen yang ukurannya bahkan tidak jauh lebih besar dari kamarnya. Ruangan itu sangat berantakan dengan barang-barang yang tidak pada tempatnya.
Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun langsung berlari dan memeluk ibunya dari belakang dengan wajah yang ketakutan saat melihat kehadiran mereka.
"Katakan di mana suamimu?" Tanya Ruella dengan tatapan dingin.
Wanita itu tetap diam dan bungkam. Terlihat sekali kalau ia menyembunyikan keberadaan suaminya.
Ruella berdecak karena semakin tidak sabar menunggu jawabannya.
"Beritahu aku di mana dia. Meski kau tidak memberitahuku, aku tidak akan berhenti mencarinya. Jadi itu sama saja kalau kau akan tetap sendirian mengurus kedua anak kalian dalam kemiskinan. Suamimu akan terus bersembunyi dan tidak akan kembali padamu. Aku akan memastikannya dia tidak akan kembali padamu. Aku akan tetap mencarinya selama apapun. " Ujar Ruella dengan tatapan semakin tajam. "Itu sama saja seperti dia sudah mati, bukan?"
"Jangan bunuh dia!" Seru wanita itu dengan pelupuk mata yang sudah tergenang air mata. "Aku mohon biarkan dia hidup dan maafkan kesalahannya. Kami memiliki dua anak yang membutuhkan ayahnya. Aku mohon nyonya, ampuni dia dan biarkan dia hidup."
Ruella tersenyum pada wanita itu. Ia sangat yakin kalau wanita itu pasti akan membuka mulutnya setelah ini dan memberitahu keberadaan suaminya.
__ADS_1
"Kau tenang saja, aku tidak akan membunuhnya. Kau tidak perlu takut. Bahkan seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku akan menjamin hidupmu." Ujar Ruella.
Ruella langsung membuka tas yang dibawanya dan mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet mahal miliknya, dan meletakan di atas bayi yang sedang tertidur dalam gendongan wanita yang menjadi tampak kebingungan itu.
"Belilah sesuatu yang kau butuhkan dengan uang itu. Sebagai gantinya beritahu aku di mana Ciro Tonali berada."
Wanita itu melihat pada lembar uang yang di matanya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya dalam beberapa bulan ke depan. Terlihat ia berpikir dan wajahnya menjadi bimbang karena sepertinya Ruella berhasil membuatnya menjadi tergiur dengan uang tersebut.
"Aku akan memberimu uang tiap bulan kalau kau memberitahu di mana dia." Ujar Ruella lagi.
"Genoa. Dia ada di Genoa, nyonya. Tapi aku mohon jangan membunuhnya. Kami sangat membutuhkannya." Ucap wanita bernama Norah Dimarco.
Setelah mendapatkan di mana orang yang dicarinya berada, Ruella keluar dari bangunan apartemen tersebut. Kakinya terasa sakit setelah menaiki dan menuruni tangga dengan mengenakan sepatu berhak tinggi yang runcing.
"Ini sangat merepotkan." Gumam Ruella melepas sepatunya ketika mobil mulai melaju.
"Nyonya baik-baik saja?" Tanya Fazio menoleh pada Ruella.
"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Ruella dengan nada kesal karena rasa sakit di kakinya.
"Lalu bagaimana setelah ini, nyonya? Pria itu ada di Genoa." Ujar Paul melirik Ruella dari spion.
"Aku akan meminta bantuan seseorang yang sangat bisa aku andalkan." Jawab Ruella dengan sedikit tawa sambil mengambil ponselnya.
Suara di ujung telepon langsung terdengar ketika Ruella menghubungi seseorang yang sangat ia bisa andalkan dalam banyak hal.
"Ada apa, tuan putri?" Tanya seorang pria di ujung telepon. "Maafkan aku, karena terlalu sibuk aku sampai tidak bisa datang ke pernikahan tuan putri tercintaku."
Ruella tertawa kecil mendengar ocehan dari kakak sepupunya Vincenzo Verian Sanzio yang merupakan kembaran dari Veronica Verian Sanzio. Pria itu adalah anak dari bibi Ruella Vivian Zeta La Nostra yang merupakan mafia dengan kekuasaan di Genoa dan Venesia.
"Vinc, aku membutuhkan bantuanmu mencari seseorang di Genoa. Aku tahu hanya kau yang bisa aku andalkan tanpa ayahku tahu apa yang aku lakukan." Ucap Ruella.
__ADS_1
"Tenang saja. Kau memang bisa mengandalkan aku dalam segala hal." Jawab Vincenzo.
...–NATZSIMO–...