
Siapa yang tidak merasakan kebahagiaan ketika mendengar wanita yang dicintai selama ini akhirnya memberinya sebuah harapan? Begitu dengan perasaan Savero yang sangat senang mendengar perkataan Flavia yang ingin membuka hati pada dirinya.
Akan tetapi entah kenapa ada sesuatu yang pria itu rasakan. Sesuatu yang mengganjal saat ini. Tidak tahu kenapa rasanya sangat aneh karena tiba-tiba saja Flavia mengatakan hal tersebut padanya.
Terlintas satu pikiran mengenai hal yang ingin dirinya tanyakan pada Flavia. Mengenai Flavia yang pada awalnya terlihat mengenal Ruella namun tidak pernah mengatakan sesuatu apapun mengenai hal tersebut.
"Fla, apa kau serius mengatakannya?" Selidik Savero.
"Ada apa? Apa kau tidak senang?" Tanya Flavia. "Apa sekarang kau tidak menyukaiku makanya kau tidak terlihat senang saat aku mengatakannya?"
"Tidak, aku masih menyukaimu dan aku juga merasa sangat senang saat mendengar kau mengatakan hal tersebut. Tapi aku merasa ada yang aneh."
"Aneh? Apa yang aneh?" Tanya Flavia lagi. "Ya ampun, sepertinya kau memang sudah tidak menyukaiku, Sav."
"Apa ada hubungannya dengan Ruella? Maksudku, aku rasa kau tahu siapa dia kan?" Tatap Savero penuh selidik.
Flavia menyunggingkan bibirnya dengan sedikit menghela napas.
"Ya, memang ini sangat terasa aneh untukmu. Sebelum ini aku memang sangat membenci wanita yang sudah menabrak Matteo tapi saat melihat wanita itu. Maksudku saat melihat Ruella yang ternyata menikah dengan papamu, aku merasa kalau tidak sebaiknya aku hanya terfokus pada masa lalu dan terjebak di dalamnya. Semua orang bisa berubah dan semua orang juga memiliki kesempatan. Dia terlihat sudah berubah, dan sepertinya aku juga harus melupakan yang sudah terjadi."
Jawaban Flavia terdengar tidak terlalu jelas di telinga Savero namun dirinya merasa untuk tidak mempermasalahkannya lagi. Baginya, Flavia yang ingin melupakan apa yang terjadi di masa lalu pada Matteo adalah sesuatu hal yang bagus.
"Jadi sekarang, apakah kita—"
"Aku akan mencoba menerimamu, Sav." Potong Flavia. "Kita akan menjalin hubungan sebelum nanti kita menikah. Aku belum ingin menikah denganmu karena itu tidak akan adil bagimu. Aku akan berusaha menyukaimu dan menumbuhkan rasa cinta yang sama besarnya seperti cintamu padaku."
Savero tersenyum menjawabnya. Akhirnya apa yang sangat dirinya inginkan, ia dapatkan. Sekarang ia merasakan kelegaan karena wanita yang dicintainya mau menerimanya.
"Pindahlah ke sini dan kau tidak perlu kembali ke Inggris. Saat nanti ketika aku sudah siap, kita bisa menikah, Sav. Tapi untuk sekarang ini, kita bisa menjalaninya dengan perlahan-lahan. Bagaimana? Apa kau setuju? Kenapa kau diam saja?"
Savero tersenyum menjawabnya dan langsung menggapai tangan Flavia, menggenggamnya dengan kedua tangan.
"Aku akan membuatmu merasa ingin menikah denganku secepatnya, Fla." Jawab Savero setelah itu tersenyum dan mengecup tangan Flavia.
__ADS_1
...***...
Dua hari berselang, keadaan Ruella menjadi lebih baik saat ini, begitu juga dengan kondisi Savero yang bekas operasinya sudah sedikit demi sedikit rasa sakitnya menghilang.
"Hari ini aku dan Rue akan memeriksakan kandungannya ke dokter Darla. Bukannya kemarin kau juga bilang akan ke rumah sakit, Sav?" Tatap Donzello saat Savero baru saja datang.
Saat ini mereka bertiga berada di meja makan untuk menikmati makan siang mereka. Baru saja Savero hadir dan duduk di kursinya dengan pakaian yang juga tampak rapi.
"Ya, aku akan ke sana bersama Flavia." Jawab Savero setelahnya meminum orange juice yang sudah tersedia untuknya.
"Kau tidak ingin pergi bersama kami?" Tanya Donzello.
"Lebih baik tidak, aku akan menjemput Fla terlebih dahulu baru akan ke rumah sakit nanti." Jawab Savero lagi di sela dirinya menikmati makan siang.
"Akhirnya hubunganmu dengan Flavia mengalami kemajuan?" Sekali lagi Donzello bertanya.
Kali ini Savero menatap ayahnya dan berhenti dengan kegiatan makan siangnya sejenak.
"Ya, dia bilang dia saat sudah siap nanti kami bisa menikah." Jawab Savero.
Savero menanggapinya dengan tawa kecil. Lalu menoleh pada Ruella yang duduk dihadapannya tanpa mengatakan sesuatu.
"Kau sudah meminum obatnya, Rue?" Tatap Savero pada Ruella.
"Ya, aku sudah meminumnya. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Ruella.
Tiba-tiba pintu ruang makan terbuka dan seorang pelayan bersama dengan Renata masuk ke dalam.
"Mama?" Ucap Ruella yang menyadari kedatangan ibunya.
Wanita itu langsung beranjak dari tempatnya dan memeluk ibunya yang datang menemui dirinya setelah mendengar kamar kehamilan Ruella.
"Sayang, kabar yang aku dengar sangat membuat aku dan papamu senang." Ujar Renata sambil mengusap punggung putrinya yang berada di dalam pelukannya.
__ADS_1
"Lalu di mana papa? Apa dia tidak datang? Seharusnya dia datang." Keluh Ruella yang terlihat kecewa karena ayahnya tidak turut hadir bersama dengan ibunya.
"Papa berada di Madrid sejak kabar yang membahagiakan itu kami dengar. Mama pun baru dari sana untuk menemani papa, tapi karena tidak tahan untuk menemuimu, mama memutuskan pulang lebih dulu. Besok lusa saat papa kembali, dia pasti akan langsung menemuimu, sayang." Jawab Renata sambil membelai rambut putrinya. "Bagaimana, apa semua baik-baik saja?"
"Tentu semua baik-baik saja nyonya." Sahut Donzello yang berdiri di karena kehadiran Renata.
Renata langsung berjalan mendekati Donzello dan memberikan pelukan sebagai ucapan selamat pada menantunya tersebut.
"Selamat Don, kau akan menjadi ayah lagi." Renata mengatakan hal tersebut sambil memeluk Donzello.
"Terimakasih nyonya. Aku juga mengucapkan selamat karena kau akan menjadi seorang nenek." Jawab Donzello tersenyum. "Ayo nyonya, makan sianglah bersama kami." Donzello mempersilakan Renata duduk di kursi yang ada di samping Ruella dengan gerakan tangan.
"Aku mengucapkan selamat pada nyonya." Kali ini Savero yang mengucapkan pada Renata saat mereka semua kembali ke meja makan untuk melanjutkan makan siang.
"Aku berterimakasih padamu karena tidak membiarkan Rue yang tertembak." Ujar Renata menatap pada Savero.
"Nyonya tidak perlu berterimakasih padaku." Jawab Savero.
"Ah iya, bukannya kau ditawarkan untuk bekerja di rumah sakit Cannosa yang ada di kota ini? Jika kau tidak keberatan, sebaiknya kau ambil penawaran tersebut." Seru Renata sambil menikmati menu makan siang.
"Ya, setelah aku pikir-pikir memang sebaiknya aku tidak kembali bekerja di Inggris. Aku akan mengambil penawaran itu, nyonya." Jawab Savero.
"Itu bagus, Sav." Sahut Donzello merasa senang akhirnya putranya akan kembali tinggal bersama dengan dirinya lagi. "Aku lupa mengatakannya pada nyonya tentang satu rencanaku."
"Rencana apa, Don?" Tanya Ruella sedikit aneh karena Donzello tidak mengatakan apapun pada dirinya mengenai sesuatu yang disebutkannya barusan.
"Aku berpikir untuk mengadakan suatu perayaan untuk kabar bahagia ini. Aku akan membuat pesta karena aku dan Rue akan segera memiliki anak." Ujar Donzello.
"Pesta?" Tanya Ruella sedikit terkejut.
Savero hanya menyimak karena tidak ingin ikut campur dalam pembahasan tersebut.
"Itu hal yang bagus. Aku dan Art merasa bahagia karena akan memiliki seorang cucu. Aku rasa kita memang harus merayakannya." Senyum Renata tampak bahagia. "Kau harus membuat pesta yang sangat meriah."
__ADS_1
"Tentu saja nyonya." Donzello membalas senyum Renata menyetujuinya.
...–NATZSIMO–...