
Suara seorang wanita sedang berbicara dan terasa memekakan telinga memenuhi indera pendengaran Savero. Pria itu membuka mata dengan sangat terasa silau karena cahaya lampu yang terang seperti menusuk penglihatannya.
Ia menoleh ke arah samping kanannya dan langsung melihat pada Ruella yang sedang berbicara dengan Donzello. Raut wajah wanita itu tampak terlihat marah saat ini.
"Dia sudah baik-baik saja, Don. Kita bisa pergi sekarang." Ujar Ruella dengan ekspresi terlihat tidak menyenangkan. "Kau tahu kan, aku sudah sangat senang saat kita akan pergi berbulan madu. Semuanya jadi kacau sekarang!" Ruella mendengus dan menoleh pada Savero yang terbangun melihat padanya.
Wanita itu bersikeras agar Donzello mau segera pergi ke Paris bersama dirinya. Ia merasa kondisi Savero sudah baik-baik saja sehingga dirinya berpikir tidak masalah jika mereka berdua pergi. Ruella tidak ingin rencananya pergi untuk berbulan madu hari ini gagal.
"Semua ini karenamu." Celetuk Ruella pada Savero yang baru saja tersadar dari obat bius yang diterimanya.
Tiga jam yang lalu Savero baru saja selesai operasi untuk mengeluarkan peluru dari perutnya. Sejak pria itu di operasi, Ruella terus saja membujuk Donzello agar tetap pergi berbulan madu sekarang ini. Wanita itu sama sekali tidak memedulikan kondisi Savero yang berjuang hidup setelah menyelamatkan dirinya.
Donzello menoleh pada Savero saat mendengar ucapan Ruella. Wajah kekhawatirannya terlihat. Sejak Savero tertembak Donzello memang terlihat sangat khawatir. Jelas saja, itu karena hanya Savero anak satu-satunya dan selama ini mereka hanya hidup berdua.
"Bagaimana kondisimu, Sav?" Tanya Donzello. "Apa tidak ada masalah?"
"Ya, aku sudah baik-baik saja." Jawab Savero.
"Nah, kau lihat dan dengar sendiri kan, Don?" Tatap Ruella yang masih ingin membujuk Donzello. "Kita pergi hari ini juga. Kita berdua saja. Savero sudah baik-baik saja."
Savero memperhatikan Ruella dengan segala perkataannya. Dirinya tidak habis pikir dengan wanita itu. Kondisinya seperti sekarang padahal karena apa yang dilakukannya. Dengan sengaja Savero menghadang tembakan yang mengarah pada Ruella tetapi sepertinya wanita itu sedikit pun tampak tidak mengkhawatirkan keadaan dirinya.
Melihatnya membuat Savero menjadi merasa bodoh. Entah kenapa dirinya menjadi sangat menyesali perbuatannya seharusnya ia tidak menyelamatkan Ruella dan membiarkannya saja yang menjadi korban. Namun entah karena apa secara reflek Savero langsung menghalangi tembakan tersebut hingga akhirnya pria itu yang harus menderita sekarang.
"Sav, kami akan pergi ke Paris tanpamu hari ini juga. Itu tidak masalah kan?" Tanya Ruella dengan tatapan memaksanya agar Savero menjawab seperti yang ia kehendaki.
__ADS_1
Dalam hatinya, Savero merasa sangat kesal pada sikap acuh tak acuh Ruella tersebut. Setelah semua yang terjadi tampaknya wanita itu sama sekali tidak memedulikan apapun. Bahkan Ruella sama sekali tidak mengetahui kalau salah satu pria penghadang adalah orang yang sakit hati karena tingkahnya. Dan itu jugalah yang menjadi alasan hal buruk hari ini terjadi.
Namun entah kenapa Savero merasa lega karena semua baik-baik saja. Meski sekarang dirinya merasa kesal karena sikap Ruella namun melihat kandungan wanita itu baik-baik saja, itu membuat Savero bernapas lega.
"Kenapa kau diam saja?" Seru Ruella dengan wajah yang semakin kesal karena Savero hanya diam saja dengan pandangan menerawang. "Astaga, hari ini benar-benar membuat aku kesal!!" Ruella berjalan ke arah sofa yang ada di dalam ruangan tersebut dan duduk sambil memegangi kepalanya.
"Aku baik-baik saja. Kalian bisa pergi berbulan madu." Jawab Savero menatap pada Donzello yang masih berdiri di samping ranjang.
"Tidak. Kami bisa pergi lain kali saat keadaanmu sudah jauh lebih baik." Ujar Donzello.
Tatapan Ruella tajam dengan penuh kekesalan saat mendengar perkataan Donzello. Ia semakin kesal pada Savero yang sudah menggagalkan acara berbulan madunya. Sama sekali wanita itu tidak berpikir kalau semua yang terjadi sebenarnya karena dirinya sendiri.
"Aku haus dan ingin minuman segar. Apa bisa belikan aku orange juice, Papa?" Pinta Savero pada Donzello.
"Ya, tentu saja. Tunggulah di sini." Jawab Donzello. "Rue, tetaplah di sini dan temani Sav. Aku akan keluar sebentar."
Segera Donzello melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Ruella langsung bangkit berdiri dan mendekati ranjang di mana Savero tidur. Ia ingin meluapkan rasa kekesalannya pada pria yang dirinya anggap si perusak harinya tersebut.
"Kenapa kau harus tertembak, Sav? Kenapa kau membuat hatiku kacau hari ini?!" Seru Ruella yang berdiri di mana Donzello tadi berdiri. "Seharusnya Don tidak masalah meninggalkanmu. Kau pun sudah baik-baik saja."
Sejujurnya untuk Savero saat ini mendengar ocehan Ruella hanya membuat telinganya terasa sakit. Ia sangat ingin mendorong wanita itu keluar dari ruangan tersebut agar dirinya bisa beristirahat. Namun yang terjadi dirinya harus menjadi pelampiasan rasa kesalnya.
"Siapa mereka? Kenapa mereka mengejarmu? Astaga, kenapa kau punya musuh seperti itu. Ck!" Lanjut Ruella melipat kedua tangannya ke depan dada dan melirik Savero dengan tatapan kesal bercampur malas. "Kenapa hidupku menjadi kacau setelah bertemu denganmu."
"Dasar wanita bodoh!" Akhirnya Savero tidak tahan untuk menanggapi perkataan wanita itu meski rasa sakit di perutnya sudah mulai terasa karena efek obat bius sudah menghilang.
__ADS_1
"Apa katamu?!" Ruella semakin tampak kesal mendengar satu kalimat makian yang dilontarkan Savero.
"Kau menyalahkan semuanya padaku. Padahal apa yang terjadi adalah karena ulahmu! Kaulah yang membuat harimu kacau tapi malah menyalahkan aku. Dasar wanita bodoh! Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Hidupku menjadi sangat kacau karena bertemu denganmu!!"
"Apa maksudnya semua karena ulahku?" Tatap Ruella dengan mengernyitkan keningnya. "Kenapa kau melempar apa yang terjadi padaku?"
Savero membuang napas dengan kasar, rasa sakit di kepalanya mulai terasa karena emosinya semakin naik mendengar perkataan dan melihat tingkah Ruella padanya.
"Bahkan kau sangat bodoh dalam menembak. Seharusnya kau bisa menembak mereka semua, tapi lihat... Kau sendiri yang tertembak."
"Diamlah! Aku tertembak juga karena menyelamatkanmu!!" Seru Savero semakin kesal pada Ruella. "Kalau aku tidak menghalau tembakan itu, kaulah yang berbaring di ranjang ini!! Setidaknya katakan terimakasih karena aku sudah menyelamatkanmu!!"
"Tapi aku tidak memintanya!! Sudahlah, itu semua tidaklah penting lagi." Jawab Ruella.
"Kau yang akan tertembak jika aku tidak melakukannya. Kau akan kehilangan bayimu dan suamimu akan tahu mengenai kehamilanmu. Kenapa kau tidak mengerti juga, hah? Bahkan kau pun tidak tahu kalau salah satu dari mereka adalah pelayan yang sakit hati padamu karena ulahmu saat di klub malam waktu itu!! Kenapa kau malah menyalahkan aku atas segala hal yang terjadi? Dasar berengsek!!"
"Pelayan klub malam?" Tanya Ruella terkejut mendengarnya. "Apa itu benar? Apa mereka mengincarku?"
Sebelum sempat Savero menjawabnya lagi, pintu ruangan tersebut terbuka dan muncul seorang wanita dari luar.
Savero dan Ruella menoleh bersamaan namun melihat sosok yang baru saja hadir membuat Savero sangat terkejut.
"Sav, kau baik-baik saja?" Tanya Flavia.
Rasa khawatir Savero saat melihat Flavia datang muncul. Semua itu karena ia takut jika wanita yang dicintainya itu akan mengenali siapa Ruella. Wanita yang sudah menabrak Matteo hingga meninggal.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...