
Ruella membuka mata dengan sebuah kebahagiaan. Dirinya yang masih berada di dekapan Donzello—suami tercintanya, langsung tersenyum senang melihat pria itu yang masih menutup mata.
Berkali-kali wanita itu mengecup bibir sang suami dengan penuh rasa bahagia yang terus terpancar di wajah cantiknya. Mengingat apa yang mereka lakukan semalam membuat dirinya begitu semakin mencintai Donzello.
Karena tidurnya terganggu dengan bertubi-tubi mendapatkan serangan kecupan dari sang istri, Donzello terbangun dengan sebuah senyuman, meski pria itu belum juga membuka mata.
"Kenapa mengganggu tidurku?" Tanya Donzello dengan suara beratnya, tanpa membuka mata.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Ucap Ruella, sebuah senyum kebahagiaan terlukis di wajahnya yang tampak berseri-seri. "Ayo kita melakukannya lagi." Bisik Ruella menatap sangat dekat wajah Donzello yang mendekapnya.
Donzello tidak bergeming, bahkan ia tetap menutup matanya. Melihatnya Ruella berdecak kesal karena permintaannya tidak diindahkan oleh pria itu.
"Baiklah, lepaskan aku." Gumam Ruella dengan merajuk.
Donzello langsung melepaskan rengkuhannya yang melingkar di pinggang Ruella masih tampak enggan membuka matanya.
Hal itu membuat Ruella semakin merasa kesal. segera Ruella menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka berdua yang tidak berpakaian apapaun lalu beranjak bangun dan hendak turun dari tempat tidur. Akan tetapi Donzello langsung menggapai tubuhnya dan menariknya hingga Ruella kembali berbaring dalam dekapannya.
"Kau ini!!" Kesal Ruella namun setelahnya tersenyum pada Donzello yang menatapnya lekat.
"Hari ini jangan kemana-mana, kita bisa bercinta sepanjang hari ini." Ucap Donzello menggoda Ruella.
Tentu saja perkataan Donzello membuat Ruella menjadi senang. Namun sepertinya kondisi tubuhnya tidak bisa diajak kerjasama. Rasa mual mulai ia rasakan kembali, keinginannya untuk muntah menbuat Ruella jadi beranjak duduk.
"Ada apa?" Tanya Donzello dengan bingung pada Ruella yang sudah duduk di sisi tempat tidur.
Sesaat Ruella menahan keinginannya untuk muntah karena pastinya ia tidak ingin Donzello menganggap kalau dirinya belum baik-baik saja.
"Hari ini temani aku ke toko roti Pasticceria Martesana. Roti di sana sangat lezat. Kau mau kan?" Ruella sedikit menoleh sebelum dirinya bangkit berdiri dan berjalan menuju toilet. "Aku akan mandi dulu dan setelah itu kita sarapan. Aku sudah sangat lapar."
Donzello hanya memperhatikan Ruella yang tidak memakai sehelai benang pun berjalan masuk ke toilet. Tidak ada pikiran negatif pada istrinya itu, bahkan tawa kecil tersungging dibibirnya.
...***...
Savero yang baru saja duduk di salah satu kursi meja makan melihat kehadiran Donzello yang berjalan dengan dirangkul oleh Ruella menuju tempatnya berada.
__ADS_1
"Selamat pagi, Sav." Sapa Ruella yang wajahnya terus memancarkan rasa bahagia.
"Pagi." Dengan malas Savero menjawab Ruella.
Pria itu langsung mengarahkan tatapannya pada piring yang baru saja diisi oleh Paola. Savero tidak ingin melihat pada tingkah wanita yang menurutnya sangatlah memuakkan itu. Segera ia memakan sarapannya.
Donzello duduk di kursi tunggal yang ada di tengah meja makan sedangkan Ruella duduk di sisi kanannya yang berhadapan dengan Savero. Masih saja wajah Ruella merona karena tersenyum pada suaminya.
"Sav, hari jam berapa Pasticceria Martesana buka? Don akan menemaniku ke toko roti itu." Ujar Ruella.
Savero mengangkat tatapannya menjadi menatap wanita yang duduk didepannya. Ia tidak langsung menjawab karena merasa enggan. Apalagi perkataan Ruella yang akan pergi ke toko roti itu akan sangat buruk jika Flavia melihatnya. Wanita yang dicintainya itu pasti akan mengenali kalau Ruella adalah orang yang menabrak Matteo tiga tahun lalu.
"Apa itu toko roti dari kekasih Matteo, Sav?" Tanya Donzello. "Siapa nama wanita itu? Wanita yang kau suka itu."
"Apa? Jadi ada wanita yang kau suka, Sav? Tunggu dulu, siapa Matteo, Don?" Ruella menoleh pada Donzello untuk mendapatkan jawabannya karena Savero hanya diam saja.
Savero mendengus pelan dengan tatapan tidak percaya mengarah pada istri ayahnya itu. Pria itu menjadi kesal karena Ruella bahkan tidak mengingat nama pria yang sudah ia tabrak hingga kehilangan nyawanya.
"Dia sahabat Savero yang meninggal sekitar tiga tahun lalu." Jawab Donzello. "Siapa nama kekasih Matteo itu, Sav?"
"Tunggu! Jadi kau juga menyukai wanita yang adalah kekasih sahabatmu yang sudah meninggal, Sav?" Ujar Ruella menatap Savero yang juga melihat padanya. "Astaga, itu keterlaluan sekali. Jangan bilang kau ingin bersama wanita itu setelah sahabatmu meninggal?!"
Perkataan Ruella semakin membuat Savero kesal. Namun pria itu menahan amarahnya tentunya karena keberadaan ayahnya di sana.
"Kalau wanita itu benar-benar mencintai sahabatmu, aku rasa tidak mungkin ia mau bersama denganmu." Tambah Ruella semakin memanaskan hati Savero.
"Rue, jangan berkata seperti itu." Seru Donzello agar Ruella menghentikan ocehannya. "Kita tidak bisa memaksa perasaan seseorang untuk menghentikan rasa cintanya. Dan aku rasa semua perasaan manusia bisa berubah dan itu tidak masalah. Flavia mungkin akan mencintai Savero juga suatu hari nanti."
"Ya, semoga saja itu terjadi." Dengan wajah yang terlihat tidak serius Ruella menanggapi perkataan Donzello.
Savero membuang napasnya dari mulut sambil bangkit berdiri. Ia merasa tidak bisa lebih lama lagi berada di sana, melihat tingkah Ruella yang sangat tidak ia sukai itu.
"Aku akan pergi." Ujar Savero pada Donzello yang menoleh padanya.
"Kau ingin ke mana?" Tanya Ruella ingin tahu. "Apa kau ingin menemui wanita itu? Siapa namanya? Flavia?"
__ADS_1
"Papa, kemungkinan aku akan pulang besok." Ucap Savero setelah itu berjalan pergi meninggalkan meja makan.
Melihat sikap Savero yang tidak menggubris pertanyaannya membuat Ruella menoleh pada Donzello dengan heran.
"Apa dia marah padaku, Don? Kenapa sikapnya dingin?" Tanya Ruella bingung.
"Sebelum Flavia berpacaran dengan sahabatnya, Savero sudah lama menyukai wanita itu. Sebaiknya jangan mengomentari apapun mengenainya, Rue." Seru Donzello.
"Ya ampun, jadi wanita itu lebih memilih sahabatnya dari pada dirinya? Pantas saja dia terlihat seperti itu. Kasihan sekali dia." Ruella malah berkomentar lebih lanjut tanpa menyimak apa yang ingin Donzello sampaikan.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya mencoba memahami sifat Ruella yang sebelumnya memang sudah ia kenal itu.
...***...
Savero masuk ke dalam toko roti Pasticceria Martesana. Matanya langsung mencari-cari sosok wanita yang ingin ditemuinya, namun dirinya tidak melihat wanita itu ada di sana.
"Savero, kau datang lagi?" Seru Marco Cagliero—ayah Flavia saat Savero memutar bola matanya mencari Flavia.
"Tuan Cagliero, di mana Flavia?" Tanya Savero berjalan mendekati etalase roti di mana Marco berdiri di belakangnya. "Aku menghubungi ponselnya juga tidak diangkat."
"Hari ini dia pergi dengan temannya." Jawab Marco. "Ponselnya tidak dibawa dan tertinggal di sini." Marco mengambil sebuah ponsel dari dalam laci di bawah etalase.
Savero terdiam sesaat, tatapannya mengarah pada ruangan yang ada di balik etalase di mana ruangan tersebut merupakan tempat pembuatan roti.
"Baiklah. Aku pergi dulu." Pamit Savero pada ayah wanita yang dicintainya.
Langkah Savero santai saat membuka pintu toko roti itu untuk keluar, lalu berjalan menjauh. Saat dirinya berada di dekat mobil yang terparkir agak ke belakang dari toko roti, ia terdiam.
"Dia menghindari aku." Gumam Savero dengan berdecak.
Namun dengan cepat, pria itu berjalan kembali ke arah toko roti Pasticceria Martesana, dan langsung membuka pintu.
Ternyata dugaan Savero benar kalau wanita yang ingin ditemui pria itu sebenarnya ada, dan sekarang ia menjadi mematung melihat kehadiran Savero yang tiba-tiba kembali.
Flavia yang baru saja keluar dari ruangan pembuatan roti melihat pada Savero yang terlihat kesal karena dirinya membohongi pria itu.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...