BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
013. BERCINTA SEPANJANG WAKTU


__ADS_3

Kehadiran Donzello membuat Savero dan Ruella terkejut. Savero yang sedang merengkuh Ruella yang tubuhnya goyah terlihat bukan hal yang biasa saja untuk orang yang melihatnya. Begitu pun yang dirasakan oleh pria yang baru saja membuka pintu.


"Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja, Rue?" Wajah Donzello tampak khawatir saat melesat masuk menghampiri Savero dan Ruella.


"Untung saja aku memeganginya. Hampir saja dia terjatuh, Papa." Jawab Savero langsung melepas Ruella karena Donzello sudah mengambil alih tubuh wanita itu.


"Kau masih belum sehat?" Tanya Donzello menatap wajah Ruella yang masih terkejut pada kedatangannya yang secara tiba-tiba. "Ada apa? Kenapa kau terlihat tegang?"


"Kau sudah pulang? Kenapa tidak memberi kabar padaku?" Ruella mencoba terlihat biasa saja. "Kenapa tiba-tiba kau kembali?"


"Ayo, sebaiknya kau duduk dulu." Seru Donzello memapah tubuh Ruella berjalan ke tempat tidur dan membantunya duduk di atasnya.


Savero masih berdiri di tempatnya sambil memperhatikan kedua pasangan tersebut. Ia berharap kalau ayahnya tidak akan merasa curiga mengenai kondisi Ruella yang sedang hamil.


"Aku sudah baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, Don. Kau sudah pulang. Kita akan berbulan madu kan?" Ujar Ruella yang tampak bahagia melihat suaminya yang sudah sangat ia rindukan.


"Benarkah? Tapi baru saja kau akan jatuh apa itu namanya baik-baik saja?" Donzello tampak heran pada Ruella. "Kita akan pergi bulan madu saat kau benar-benar sudah pulih sepenuhnya, Rue."


"Tidak, Don. Aku sudah baik-baik saja. Tanya pada Savero. Bukan begitu Sav?" Tanya Ruella melirik pada Savero yang berdiri di jarak tiga meter darinya yang duduk di atas tempat tidur.


"Apa benar Rue sudah baik-baik saja, Sav?" Donzello menoleh pada Savero yang hanya terpaku melihat pada kedua orang tersebut.


Savero tidak langsung menjawab. Ia melihat pada tatapan Donzello yang menunggu jawabannya dan langsung menggeser menatap Ruella yang terlihat sedang menggerakan bibirnya padanya. Wanita itu berusaha agar Savero mengatakan seperti yang ia katakan. Menjawab kalau dirinya baik-baik saja sehingga mereka bisa pergi berbulan madu.


"Ya, dia sudah baik-baik saja, Papa." Jawab Savero saat Donzello menoleh kembali pada Ruella sehingga wanita itu langsung mengatupkan bibirnya dan diam. "Aku rasa tidak masalah kalian berdua pergi berbulan madu." Lanjut Savero setelah itu berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Di luar Savero menghela napas. Ia merasa lega karena sepertinya Donzello tidak tampak curiga pada apa yang terjadi. Ayahnya itu hanya merasakan kekhawatiran yang besar pada Ruella. Namun karena hal tersebut, membuat Savero merasa menjadi bersalah pada apa yang terjadi.


Sekali lagi pria dengan rambut berwarna karamel tersebut menghela napas dan kali ini lebih dalam dari sebelumnya.


Ceklek!


Savero yang masih berdiri di depan pintu kamar ayahnya terkejut hingga berbalik ketika pintu kamar itu terbuka. Pria yang merupakan ayahnya muncul dan menatapnya.

__ADS_1


"Kenapa kau membuang napas seperti itu? Ada apa? Kenapa kau tampak terkejut? Apa yang kau pikirkan saat ini, Sav?" Tanya Donzello merasa curiga pada anak laki-lakinya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya dan tidak langsung pergi dari sana.


Secepatnya Savero berlagak biasa saja dengan mengalihkan tatapannya dari Donzello dan tersenyum. Tentu saja dirinya tidak ingin ayahnya semakin curiga lebih jauh jika ia menampakkan raut wajah yang mencurigakan.


"Aku hanya sedang memikirkan tawaran dari temanku." Jawab Savero langsung berusaha mengalihkan pembicaraan. "Dia seniorku di tempat kuliah. Dia menawarkan aku bekerja di rumah sakit milik keluarga ibunya Ruella—Nyonya Renata. Di rumah sakit Cannosa yang ada di kota ini."


"Itu bagus. Pindahlah! Kemarin pun aku sudah memintamu untuk kembali tinggal di sini. Kau tidak perlu kembali ke Inggris." Ujar Donzello.


"Akan aku coba pikirkan lagi." Ucap Savero hendak pergi.


"Sav..." Panggil Donzello menahan langkah Savero dan kembali menatapnya. "Ikutlah ke Paris bersama kami."


Sejenak Savero tidak mengerti dengan perkataan ayahnya. Dahinya mengerut menandakan kebingungannya dengan ucapan Donzello yang mengajaknya pergi ke Paris.


"Aku akan membawa Ruella ke Paris untuk berbulan madu. Apa itu tidak masalah?" Tanya Donzello. "Apa keadaannya sudah baik?"


"Ya, kalian bisa pergi." Jawab Savero.


Sebelum menjawab, Savero berkutat dalam pikirannya. Ia berpikir apakah sebaiknya dirinya menolaknya atau menyetujuinya. Meski sebenarnya dirinya pun enggan untuk ikut, namun pria itu tidak ingin menolak permintaan ayahnya karena rasa bersalahnya.


Lain dari itu, Savero juga sedikit merasakan kekhawatiran pada kondisi Ruella yang sedang hamil muda. Walau sepertinya kandungan wanita itu baik-baik saja, tetapi sesuatu yang buruk bisa saja terjadi, apalagi Ruella dan Donzello akan berbulan madu. Itu tidak terlalu baik jika mereka terlalu sering bercinta di saat wanita itu sedang hamil muda.


"Kapan kalian akan pergi?" Tanya Savero memastikan terlebih dahulu.


"Lusa. Bagaimana? Ikutlah bersama kami."


"Ya, baiklah." Jawab Savero setelah itu langsung berjalan pergi meninggalkan ayahnya dengan menuruni tangga.


Ruella melihat pada Donzello yang baru saja berjalan masuk kembali ke dalam kamar. Tatapannya menjadi cemberut karena Donzello secara tiba-tiba pergi keluar tanpa mengatakan apapun padanya sebelumnya.


"Kenapa tiba-tiba keluar? Kenapa meninggalkan aku sendirian, Don?" Kesal Ruella menekuk wajahnya saat suaminya itu mendekatinya yang masih duduk di atas tempat tidur.


Donzello hanya tertawa kecil melihat tingkah kekanak-kanakan istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Segera ia duduk di sisi tempat tidur di dekat Ruella yang langsung menyambar tubuhnya dengan memeluknya erat.

__ADS_1


"Aku pikir kau marah padaku. Tapi kenapa tiba-tiba memelukku seperti ini?" Ledek Donzello menggoda Ruella yang sudah menggelung ke dekapannya.


"Jangan pergi tanpa memberitahuku lagi." Gumam Ruella dengan nada manja dan menengadah melihat pada Donzello. "Tidak! Kau tidak boleh kemana pun tanpa aku lagi! Kau mengerti?"


"Ya, tentu saja." Jawab Donzello dengan memulas sebuah senyuman.


Pria dengan bola mata berwarna abu-abu tua tersebut memegang dagu Ruella dan langsung mencium bibirnya.


"Aku sangat merindukanmu, Don." Ucap Ruella kembali mendekap tubuh kekar Donzello namun setelahnya kembali mengangkat wajahnya untuk menatap suaminya itu. "Apa sekarang kita akan bercinta?"


Mendengarnya Donzello tertawa kecil lagi. Baginya Ruella yang usianya setengah dari usianya memiliki sifat yang benar-benar membuatnya selalu tampak menggemaskan.


Donzello menggeleng dengan senyum yang tertahan.


"Kenapa? Apa kau tidak ingin bercinta denganku?" Wajah Ruella tampak kecewa dengan bibir yang terkatup jadi satu.


"Sepertinya kau sudah tidak sabar." Ujar Donzello kedua tangannya memegang wajah wanita yang sedikit demi sedikit sudah membuatnya jatuh cinta itu.


"Tentu saja, setiap hari aku selalu ingin bercinta denganmu." Jawab Ruella. "Sudah sangat lama aku ingin bercin—"


Sebelum sempat Ruella melengkapi perkataannya Donzello langsung menyambar bibirnya dan melu*matnya dengan penuh gairah, hingga Ruella terjatuh berbaring.


Namun sebelum lebih jauh dari itu, Donzello berhenti saat tubuhnya sudah mengungkung Ruella. Pria itu menatap Ruella dengan penuh cinta.


"Besok lusa, kita akan ke Paris untuk berbulan madu." Ujar Donzello.


"Benarkah? Kau serius?" Wajah Ruella yang sangat dekat di tatapan Donzello terlihat sangat senang. "Aku sudah tidak sabar sampai besok lusa. Kita berdua harus menikmati waktu saat berada di sana. Kita bisa bercinta sepanjang waktu."


"Ya, kita akan melakukannya seperti yang kau inginkan." Jawab Donzello. "Tapi sekarang kita juga bisa melakukannya."


Setelah berkata demikian Donzello langsung menghujani Ruella dengan cumbuannya.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2