BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
060. MELACAK KEBERADAAN


__ADS_3

Beberapa polisi datang ke tempat kejadian perkara setelah mendapatkan laporan dari Donzello. Pria itu meminta bantuan untuk melacak keberadaan Ruella saat ini.


"Bagaimana apa sudah siap?" Tanya Donzello pada seorang polisi yang sedang sibuk dengan alat pelacak yang di sambungkan ke telepon yang di gunakan.


Hari sudah mulai berlalu. Matahari sudah hampir tenggelam saat ini. Donzello bersama dengan Savero dengan bantuan kepolisian mencari keberadaan Ruella.


"Silakan anda coba hubungi ponselnya, tuan." Seru polisi yang sedang sibuk mengutak-atik alat pelacak dan duduk di belakang sebuah mobil yang terbuka. "Semoga saja teleponnya di angkat agar lebih cepat mendapatkan lokasinya berada."


Donzello mencoba menelepon Ruella dengan menggunakan telepon yang sudah dipasang alat pelacak. Namun begitu tak ada jawaban dari Ruella. Beberapa kali ia mencoba meneleponnya namun tetap saja istri yang sedang dicarinya tidak menjawab.


"Tidak menjawab." Ujar Donzello dengan wajah sedikit kesal.


"Apa tidak bisa kalau melacaknya hanya dengan menggunakan keberadaan nomer ponselnya? Jika semakin lama, maka akan semakin buruk. Bagaimana kalau mereka sudah membawa istriku keluar dari Italia?"


"Bisa, tapi sudah kami bilang akan lebih memakan waktu." Jawab si polisi.


"Sudah aku bilang, jika terlalu lama mereka akan membawa istriku pergi!!" Seru Donzello tersulut emosi hingga mencengkram si polisi karena kecemasannya pada nasib Ruella.


"Papa, tenanglah... Kau jangan emosi! Kita pasti akan menemukannya. Tuan Arthur juga sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari di seluruh Milan." Ujar Savero memegangi Donzello dan mencoba membuat ayahnya itu melepaskan polisi yang dicengkramnya.


"Ini akan semakin buruk kalau kita sampai telat. Pria itu pasti akan membawa Rue ke Meksiko, tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya saat mereka sudah di sana." Ucap Donzello melepaskan si polisi dengan wajah yang terlihat kebingungan.


"Sebaiknya anda mencoba meneleponnya terus. Mungkin saja saat ada kesempatan, istri anda akan menjawabnya. Kita hanya membutuhkan waktu tiga detik saat telepon itu dijawab." Seru si polisi yang memaklumi kecemasan Donzello saat ini. "Kita jangan menyerah, tuan." Si polisi memberikan teleponnya pada Donzello.


Saat yang bersamaan ponsel Donzello berbunyi. Pria itu melihat kalau ayah mertuanya alias ayah Ruella—Arthur La Nostra meneleponnya.


"Sav, cobalah meneleponnya terus. Aku harus berbicara pada tuan Arthur." Ujar Donzello setelah itu berjalan menjauh dari sana.


Savero menerima telepon yang diberikan si polisi dan mencoba untuk menghubungi ponsel Ruella. Ia terus menerus mencoba meneleponnya, rasa khawatirnya sama besarnya dari ayahnya, meski begitu pria itu mencoba bersikap tenang agar tidak membuat semuanya semakin memburuk.

__ADS_1


Donzello menjawab panggilan telepon Arthur dengan perasaan yang sedikit takut. Ia menjadi sangat merasa bersalah karena tidak menjaga Ruella dengan baik.


"Maafkan aku tuan, kami masih belum mendapatkan lokasi pastinya. Kami terus mencoba meneleponnya tapi Ruella tidak menjawabnya. Lokasinya terlacak jika telepon dijawab minimal tiga detik." Ujar Donzello.


"Sialan! Berengsek!! Kenapa lambat sekali kerja kepolisian?!" Suara Arthur terdengar sangat kesal di ujung telepon. "Pergilah ke pinggiran selatan kota, Vivian mengatakan kalau Foggianna memiliki mansion tersembunyi di sana. Ada kemungkinan Hugo membawa Ruella ke tempat itu. Beberapa orangku juga sudah aku perintahkan ke sana. Aku akan mengirimkan lokasinya padamu."


Mendengar seruan Arthur, Donzello sedikit merasa lega. Ia menjadi memiliki sedikit harapan dalam kemajuan mencari keberadaan Ruella saat ini.


"Baik tuan, aku akan segera mencari ke sana." Jawab Donzello dengan penuh harapan.


...***...


"Kau tidak akan bisa melakukan apapun tanpa anak buahmu, Hugo!! Bahkan kau tidak bisa berjalan tanpa bantuan tongkat itu." Seru Ruella ketika Hugo memerintahkan agar mereka melucuti semua pakaian dirinya.


Hugo berjalan mendekati Ruella dengan bantuan tongkatnya. Pria itu memperlihatkan wajah bengisnya pada wanita itu. ia mencengkram kembali wajah Ruella dengan satu tangannya.


Dengan sangat geram Hugo kembali menampar wajah Ruella dan membuat pipi wanita itu semakin memerah. Kemarahannya terlihat semakin menjadi, ia menatap wanita di hadapannya sambil mengusap bekas saliva wanita itu.


"Lepaskan tangan dia. Aku akan membuktikannya sekalipun tangannya dilepas, wanita sialan ini tidak akan bisa melakukan apapun lagi." Seru Hugo.


Apa yang direncanakan Ruella berhasil. Ia memang sengaja memprovokasi pria itu agar kedua anak buah yang memegangi kedua lengannya melepaskannya.


Sejak tadi, dirinya tahu kalau ponsel yang ada di sakunya terus saja bergetar. Saat kedua orang yang melepaskan tangannya, Ruella langsung mengambil ponselnya dan menekan tombol terima telepon lalu melemparnya ke bawah lantai, menjauh dari arah mereka.


"Apa yang kau lakukan?" Seru Hugo menarik kembali Ruella dan menatapnya lekat.


Ruella menyingkirkan senyumnya. Sebelum ini, ia tahu mengenai cara kerja alat pelacak yang digunakan kepolisian. Karena itu dengan cepat dirinya menggeser ponselnya yang sudah ia terima panggilan teleponnya, menjauh dari mereka.


"Sebaiknya kau lepaskan aku, kalau tidak mereka akan menangkapmu dan pastinya ayahku akan langsung membunuhmu." Ucap Ruella dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Apa katamu, wanita sialan!!" Geram Hugo. "Aku akan melakukannya sekarang. Aku akan membuatmu mengerti kalau tidak akan ada yang bisa membantumu." Hugo mencoba melepas Pakaian Ruella meski wanita itu berontak.


"Lepaskan aku berengsek!! Jangan sentuh aku!!" Ruella terus berontak agar Hugo menghentikan usahanya yang ingin membuka pakaiannya.


"Tuan, sebaiknya kita cepat pergi." Seru si rambut merah dengan membawa ponsel Ruella mendekat pada Hugo.


Hugo menghentikan usahanya yang ingin melepas pakaian Ruella, dan menoleh pada anak buahnya.


"Ada apa?" Hugo tampak heran pada anak buahnya.


"Sepertinya mereka melacak keberadaan kita. Kita harus segera pergi dari tempat ini. Kalau tidak mereka akan lebih dulu sampai di tempat ini." Jawab si Rambut merah sambil memberikan ponsel Ruella yang teleponnya sudah ia matikan.


Hugo mengambil ponsel Ruella dan melihat pada wanita itu dengan kemarahan.


"Sialan! Apa yang kau lakukan!!" Geram Hugo membanting ponsel Ruella dan setelahnya menampar lagi wajah wanita itu.


Hugo terlihat sangat marah hingga beberapa kali memukul wajah Ruella dan membuat sisi bibir wanita itu robek dan berdarah. Meski begitu Ruella memberikan senyumnya yang terlihat tidak takut.


Ruella sangat yakin kalau saat ini Donzello maupun ayahnya sudah berada dalam perjalanan menuju di mana dirinya berada.


"Cepat panggil pilot itu dan masukkan semua barang-barangku ke pesawat. Jangan lupa infokan untuk menjaga pintu depan." Seru Hugo dengan penuh emosi.


"Baik, tuan." Jawab si rambut merah langsung berjalan meninggalkan ruangan yang ukurannya sangat besar tersebut bersama beberapa anak buah lainnya.


Tatapan Hugo kembali mengarah pada Ruella. Pria itu kembali berjalan mendekatinya dan langsung mencengkram kerah baju Ruella.


"Sekarang aku akan membawamu pergi dari negara ini. Aku akan menyiksamu dan membuatmu mengerti kalau tidak akan ada yang bisa melawanku!!" Seru Hugo berjalan menyeret Ruella.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2