
Sehabis makan malam, Ruella bersama Donzello kembali ke rumah dengan penuh rasa bahagia. Meski rasa lelah yang dirasakan oleh Ruella saat ini namun wanita itu seperti tidak ingin memedulikannya.
Dengan sekuat tenaga ia tidak merasakan rasa lelahnya, walau begitu, Ruella terus bersandar pada Donzello. Saat di mobil dan bahkan ketika berjalan masuk ke dalam rumah mereka.
"Selamat datang, tuan dan nyonya." Ujar Paola ketika membuka pintu rumah untuk pasangan yang adalah tuan rumah tersebut.
"Sav sudah makan malam?" Tanya Donzello sambil berjalan dengan merangkul Ruella.
"Ya, tuan muda Savero sudah makan." Jawab Paola.
Donzello menghentikan langkahnya saat berada di lantai dua. Lalu mengendurkan dekapannya dari Ruella, menatap wanita itu.
"Rue, pergilah ke kamar dulu. Aku akan melihat kondisi Sav." Ucap Donzello. "Masuklah ke kamar terlebih dahulu dan istirahat."
"Oke, baiklah." Jawab Ruella dengan tersenyum.
Ketika Ruella mencoba berbalik tiba-tiba tubuh wanita itu goyah. Pandangannya tiba-tiba saja berubah menjadi gelap dengan tubuh yang lemas tidak bertenaga. Beruntung Donzello yang masih berada di dekatnya langsung meraih tubuh Ruella yang tumbang.
"Rue, kau baik-baik saja?" Tanya Donzello namun Ruella tidak menjawab.
Wanita yang sedang hamil muda itu kehilangan kesadarannya karena terlalu lelah. Melihatnya Donzello semakin menjadi khawatir.
"Ada apa, tuan?" Tanya Paola menghampiri arah tuannya yang terlihat tampak kebingungan, bahkan beberapa pelayan terlihat melihat pada apa yang terjadi.
"Paola, cepat buka pintunya." Seru Donzello.
Segera pria itu membawa tubuh Ruella yang tidak bertenaga dengan memasukkannya ke dalam kamar mereka lalu meletakkannya ke atas tempat tidur.
Savero yang mendengar suara ribut-ribut langsung membuka pintu kamarnya meski bekas luka tembak yang ia derita masihlah terasa amat sakit.
"Ada apa?" Tanya Savero pada dua orang pelayan yang terlihat saling berbisik.
"Tuan, nyonya baru saja pingsan."
__ADS_1
Tanpa memikirkan apapun lagi, Savero langsung bergegas berjalan masuk ke dalam kamar ayahnya sambil memegangi rasa nyeri akibat luka tembak yang masih tersisa.
"Ayah, ada apa dengannya?" Tanya Savero dengan kekhawatiran.
"Sav, untunglah kau datang. Tiba-tiba Rue pingsan. Apa yang terjadi padanya?" Ujar Donzello, wajahnya memancarkan raut wajah cemas yang besar.
Secepatnya Savero mendekati Ruella yang masih menutup mata. Ia mencoba memeriksa bola mata wanita itu untuk mengetahui kondisinya.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Donzello.
Belum sempat Savero menjawab, Ruella lebih dahulu membuka matanya dan melihat pada Savero. Matanya terlihat sangat kebingungan saat ini.
"Sakit sekali." Keluh Ruella merasakan kakinya yang terasa sakit, bahkan rasa sakit itu menjalar dulu ke atas, ke bagian perut.
"Sebaiknya kau istirahat dulu, dan jangan terlalu banyak bergerak." Ujar Savero yang duduk di tepi tempat tidur pada Ruella.
Ruella melihat ke belakang Savero untuk melihat pada Donzello yang langsung lebih mendekat padahya.
"Apa yang terjadi padamu, Rue? Sav, apa sebaiknya kita membawa Rue ke rumah sakit?" Donzello menoleh pada Savero yang sudah berdiri karena posisinya sudah di gantikan oleh Donzello yang duduk di tepi tempat tidur.
"Ya, sebaiknya seperti itu." Jawab Savero memperhatikan kondisi tubuh Ruella dari tempatnya berdiri. "Aku akan meminta temanku datang memeriksamu besok pagi."
Sesudah mengatakan demikan, Savero berjalan mengarah keluar pintu sambil terus memegang bagian perut yang masih terdapat luka yang belum sembuh. Bahkan bisa ia rasakan kalau luka tersebut terasa semakin sakit saat.
Sesampainya di kamar Savero menghela napas sambil mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur. Ia menyingkap kaos putih polos yang dikenakannya untuk melihat kondisi luka tembaknya.
"Ini benar-benar membuat aku gila. Syukurlah dia baik-baik saja." Ucap Savero.
Ponselnya yang berada di atas meja samping tempat tidur masuk sebuah panggilan telepon. Savero mengambilnya dan melihat nama Flavia yang muncul untuk menelepon dirinya.
"Aku sedang membuat strawberry cheesecake saat ini. Aku juga menambahkan taburan kacang almond dengan ekstra vanilla di dalamnya. Apa kau ingin mencobanya nanti?" Suara Flavia terdengar di ujung telepon.
Savero tertawa mendengar perkataan wanita itu karena dirinya menjadi tahu kalau Flavia hendak menemuinya lagi besok. Tentunya dengan membawa strawberry cheesecake yang sedang dipersiapkannya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu? Kau belum tidur?" Tanya Flavia lagi. "Apa masih terasa sakit sampai kau tidak bisa tidur? Sekarang jam berapa? Jam sepuluh malam? Tidurlah ini sudah melewati jam tidur bayi sepertimu."
"Ya, aku tidak bisa tidur karena beberapa hari kemarin seseorang menemaniku tetapi sekarang aku sendirian." Sahut Savero dengan sebuah senyum terlukis di wajah tampannya membuatnya terlihat sangat senang.
"Bagaimana bekas operasinya? Apa masih sakit? Kau sudah minum penghilang rasa sakitnya?" Tanya Flavia.
"Aku tidak meminumnya lagi karena kepalaku terasa sangat sakit setelah mengkonsumsinya." Jawab Savero. "Besok kau akan datang?"
"Hhmm... Aku akan datang kalau kau ingin mencicipi strawberry cheesecake yang aku buat." Ujar Flavia.
Jawaban Flavia membuat Savero senang. Karena sebelumnya ia mengira kalau wanita yang dicintainya itu akan berhenti menemuinya setelah dirinya kembali dari rumah sakit. Tapi yang terjadi, entah kenapa sepertinya semua akan berjalan lebih baik setelah ini. Sehabis bersama dengan Flavia saat di rumah sakit kemarin, hubungannya dengan wanita itu menjadi semakin dekat dari sebelumnya.
"Sav, besok aku akan menemuinya karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Ucap Flavia.
...***...
Donzello merasa ada yang aneh pada istrinya, meski begitu dirinya tidak ingin mengatakan sesuatu saat ini. Ia hanya memperlihatkan bagaimana dirinya sangat mengkhawatirkan Ruella yang masih berbaring di atas tempat tidur.
"Bagaimana keadaanmu, sayang? Apa masih ada yang terasa sakit?" Tanya Donzello setelah membersihkan dirinya dan keluar dari toilet dengan menggunakan bath robe putih.
Ruella beranjak duduk saat Donzello mendekati tempat tidur dan duduk di tepinya. Wanita itu langsung memeluk suaminya untuk mencari kenyamanan yang sedang dibutuhkan oleh dirinya.
"Maaf, Don... Aku merepotkanmu. Sepertinya untuk sementara waktu kita tidak bercinta dulu karena aku merasa sesuatu yang tidak enak." Ucap Ruella yang berada di dalam pelukan Donzello. "Tidak masalah kan?"
Kedua tangan Donzello mendekap Ruella membuat mereka berdua semakin lekat.
"Ya, tentu saja. Itu tidak masalah." Jawab Donzello terdengar seperti sebuah bisikan di telinga Ruella.
Donzello melepas pelukannya dan memegang wajah Ruella dengan kedua tangannya. Tatapannya sangat lekat pada Ruella karena ada sesuatu yang hendak dirinya tanyakan pada wanita itu.
"Rue, apakah saat ini kau sedang hamil?"
Pertanyaan Donzello membuat Ruella membeku seketika.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...