BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
034. SATU KEJADIAN BURUK


__ADS_3

Tubuh Ruella langsung gemetar ketika melihat seorang pria di masa lalunya berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya langsung pucat dan matanya menahan rasa takut hingga memerah.


Kedua penjaga Ruella langsung bereaksi dengan mengeluarkan pistol mereka dan menodongkannya ke arah pria yang sedang menatap lekat pada Ruella dengan sebuah seringaian.


Saat yang bersamaan Savero keluar dari ruangan pesta dan melihat apa yang terjadi. Namun pria itu hanya diam saja sambil berpikir apa yang sedang terjadi saat ini.


Donzello yang melihat perubahan sikap istrinya langsung menatap pada pria yang bernama Hugo De Sica tersebut. Ia menjadi ingat mengenai sebuah kabar yang dahulu menimpa pada Ruella. Segera ia berdiri membelakangi wanita yang merupakan istrinya tersebut untuk membuatnya lebih aman.


"Hugo De Sica." Seru Donzello menatap pada Hugo dengan wajah kemarahan.


Pria bernama Hugo melihat pada Donzello dengan wajah meremehkan. Pria yang memiliki kulit kecokelatan karena keturunan orang Latin tersebut melihat pada Donzello dengan wajah serius. Di belakangnya anak buahnya yang berjumlah sekitar lima orang sudah menodongkan pistolnya ke arah rombongan Ruella.


"Sebaiknya pergilah dari sini sebelum semuanya bertambah buruk!" Seru Donzello dengan sebuah kemarahan yang ia tahan.


Mendengar apa yang dikatakan Donzello, seketika Hugo tertawa dengan keras. Terlihat pria bertubuh tidak terlalu tinggi itu tidak takut dengan gertakan Donzello.


"Kemarin aku keluar dari penjara. Kenapa kau tidak datang menemuiku, Rue? Padahal aku berharap kau datang." Ujar Hugo. Pria berusia 32 tahun itu sedikit mencondongkan tatapannya ke samping untuk melihat Ruella yang berdiri di belakang Donzello.


Savero melihat bagaimana tubuh Ruella gemetar hebat saat ini. Itu membuat pria itu berpikir untuk mendekatinya.


"Ada apa? Apa kau lupa apa yang sudah terjadi lima tahun lalu?" Tanya Hugo dengan senyuman mengancam melihat pada Ruella.


Seketika gambaran masa lalu Ruella mengenai satu kejadian buruk yang menimpa dirinya menyeruak keluar memenuhi benaknya. Hal itu semakin membuat Ruella menjadi ketakutan. Tanpa wanita itu bisa tahan, pandangannya langsung gelap dan tubuhnya goyah.


Beruntung Savero yang berjalan mendekatinya langsung menopang tubuh Ruella yang jatuh pingsan.


"Rue, kau baik-baik saja?" Donzello menoleh pada Ruella yang berada di dalam pelukan Savero yang menopangnya.


Donzello langsung merampas pistol dari tangan Fazio dan mengarahkannya ke Hugo yang sedang tertawa melihat apa yang terjadi.


"Sudah aku bilang!! Pergi dari sini sebelum semuanya menjadi tidak terkendali!!" Gertak Donzello meletuskan satu tembakan ke arah sebuah guci hingga guci itu pecah.


Pintu Ballroom terbuka dan keluar orang-orang yang berada di dalamnya karena suara gaduh dari tembakan dan guci yang pecah.


Ayah Ruella—sang pimpinan La Nostra langsung mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya pada Hugo ketika melihat pria itu di sana. Begitupun dengan yang lainnya.


Renata dan Vivian menghampiri Ruella yang berada dalam topangan Savero untuk mengetahui keadaannya.


"Sialan kau!!" Seru Arthur terlihat sangat marah.

__ADS_1


Melihat kehadiran Arthur dan beberapa pimpinan mafia lainnya membuat Hugo merasa takut, hingga pria itu memilih untuk segera pergi dari sana.


Savero langsung membawanya masuk ke dalam ruangan yang tadi merupakan tempat Ruella bersiap-siap dan membaringkannya ke sofa panjang yang ada di sana.


Donzello beserta kedua orang tua Ruella, Vivian dan Vernon ikut masuk ke dalam ruangan itu. Veronica—sepupu Ruella pun berada di sana juga. Bahkan Flavia juga ada di sana.


Tanpa di minta, Paola memberikan air hangat beserta handuk pada Savero untuk membasuh keringat dingin yang keluar dari sekujur tubuh Ruella.


Ruella membuka matanya dengan pandangan yang silau karena lampu ruangan tersebut. Wanita itu langsung melihat wajah Savero yang sedang membasuh peluh yang ada di keningnya. Wajahnya terlihat sangat cemas saat ini.


"Apa pria itu sudah Pergi?" Tanya Ruella pada Savero dengan mata yang masih menunjukkan rasa takutnya.


Savero melihat Ruella yang sudah sadar. Memandang bagaimana wanita itu ketakutan membuatnya menjadi penasaran apa yang terjadi dulu pada Ruella hingga wanita itu menjadi ketakutan seperti sekarang ini.


"Ya, dia sudah pergi." Jawab Savero setelahnya bangkit berdiri.


"Rue, kau baik-baik saja?" Tanya Renata yang langsung menghampiri Ruella dan memeluk putrinya.


Dalam pelukan mamanya, Ruella memandang pada suaminya yang menunjukkan bagaimana wajahnya memperlihatkan rasa kekhawatiran yang besar padanya.


"Don..." Panggil Ruella agar Donzello menghampirinya.


Segera Donzello berjalan mendekati Ruella dan langsung memeluk wanita itu dengan dekapan yang erat.


"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Ruella melingkarkan kedua lengannya memeluk Donzello.


Selang beberapa menit akhirnya kondisi Ruella kembali menjadi seperti sedia kala. Tubuhnya yang gemetar diakibatkan oleh rasa takut yang amat sangat dirasakannya menghilang sudah.


Saat ini wanita itu berada di dalam ruangan hanya dengan Donzello—suaminya untuk menenangkan diri sebelum ke Ballroom.


"Baiklah, aku sudah tidak apa-apa." Ujar Ruella mengangkat kepalanya dari dada Donzello yang terus memeluknya. "Ayo kita mulai pestanya. Ini semakin malam."


Donzello menunduk untuk melihat wajah Ruella yang menatapnya. Pria itu mengecup bibir Ruella dan tersenyum.


"Baiklah, sekarang kita ke tempat acara dan memulainya. Tapi kita tidak akan terlalu lama di sana. Kita akan berada di dalam pesta sekitar tiga puluh menit lalu setelahnya pulang. Kau harus banyak istirahat, Rue."


"Ya, baiklah." Jawab Ruella memulas senyuman.


Di dalam Ballroom, semua tamu sudah berada di sana dan menikmati hidangan yang disediakan. Semua orang menunggu kehadiran dari pemiliki pesta yang belum memulainya.

__ADS_1


Savero yang berdiri bersama Flavia sedang meminum minumannya berupa orange juice. Savero tidak fokus pada apa yang dikatakan Flavia saat ini karena pria itu menjadi memikirkan apa yang membuat Ruella sampai ketakutan saat melihat pria tadi. Itu membuatnya sangat penasaran.


"Makanannya sangat lezat. Roti-roti ini tidak kalah dengan roti-roti yang ada di Pasticceria Martesana. Bukan begitu, Sav?" Tanya Flavia.


"Apa?" Savero yang tidak menyimak terlihat bingung.


Saat yang bersamaan Ruella bersama dengan Donzello masuk ke dalam ruang acara dengan saling merangkul.


"Kau tidak mendengarku, Sav?" Tanya Flavia dengan nada kesal.


"Maaf, sepertinya aku sudah mengantuk." Jawab Savero berbohong.


Acara pun di mulai dengan Donzello mengucapkan terimakasih atas kehadiran para tamu undangan, dan mempersilakan mereka semua menikmati hidangan yang sudah tersedia.


Savero berencana mendekati Donzello ketika melihat Ruella sedang mengobrol dengan Emiliano dengan wajah yang sudah terlihat ceria seperti biasanya. Ada yang ingin pria itu ketahui saat ini.


"Fla, aku akan berbicara dengan papa sebentar." Ujar Savero meminta izin.


Setelah Flavia mengangguk, Savero segera bergegas mendekati Donzello yang sedang mengobrol dengan beberapa tamu.


"Papa..." Ujar Savero.


Melihat putranya mendekatinya, Donzello meminta izin untuk pergi dari percakapan yang sedang dirinya lakukan bersama dengan pengusaha lainnya.


"Ada apa, Sav?" Tanya Donzello.


"Sepertinya Rue sudah baik-baik saja." Ujar Savero mengawali pembicaraannya.


"Ya, untung saja dia mudah menghilangkan rasa ketakutannya dan kembali seperti biasanya." Jawab Donzello tersenyum.


"Siapa pria tadi? Kenapa Rue sangat takut saat melihatnya?" Tanya Savero dengan penasaran.


"Dia adalah Hugo De Sica, pria yang baru saja keluar dari penjara." Jawab Donzello. Wajahnya seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.


"Penjara? Kenapa dia di penjara? Dan kenapa dia menemui Rue setelah keluar dari penjara?" Tanya Savero semakin penasaran.


"Karena Rue yang memasukannya ke penjara." Jawab Donzello dengan wajah tampak marah.


"Rue? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" Savero merasa heran dan membuatnya semakin penasaran.

__ADS_1


"Sekitar lima tahun yang lalu, pria bernama Hugo De Sica mem*perko*sa Rue. Tapi karena dugaan pemer*kosaan tidak terbukti, pengadilan hanya menjatuhkan hukuman selama lima tahun dengan dakwaan penganiayaan saja." Ujar Donzello.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2