BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
035. RENCANA YANG DILARANG


__ADS_3

Savero turun dari mobil setelah pulang dari rumah sakit untuk mengurus berkas-berkas kepindahannya. Ia berencana untuk mulai membuka praktek di rumah sakit Cannosa milik keluarga ibu dari Ruella—Renata.


Saat turun, tatapannya teralihkan pada bagian teras yang berada di taman depan rumahnya di mana Ruella sedang duduk seorang diri, tengah menikmati segelas orange juice.


Sejak mengetahui masa lalu Ruella membuat Savero sedikit merasa berempati pada wanita itu. Tidak akan ada yang bisa menghilangkan masa lalu yang buruk dalam benak mereka, hal itu membuat pria itu menjadi sedikit mengerti kenapa Ruella menjadi wanita seperti sekarang ini.


"Sedang apa kau di sini? Matahari sudah hampir tenggelam, kau bisa terkena angin nanti." Ujar Savero saat mendekati Ruella.


"Hari ini terasa sangat panas. Aku hanya ingin mencari udara luar karena merasa suntuk selalu berada di dalam kamar." Jawab Ruella meletakkan gelas berisi orange juice yang sudah diminumnya setengah. "Kau tenang saja, aku tidak akan sakit."


Savero berjalan lebih dekat mendekati kursi taman yang di duduki Ruella dan menyodorkan tas bungkusan bertuliskan Pasticceria Martesana.


"Kau habis dari toko roti ini?" Ruella menerima pemberian Savero dengan sangat senang. "Seharusnya kau mengajak Flavia ke sini. Aku ingin mengobrol dengannya."


"Ya, besok aku akan memintanya datang." Jawab Savero dengan nada datar.


"Roti dari toko itu memang sangat enak. Aku akan senang kalau Flavia cepat menikah denganmu, Sav. Aku akan memintanya untuk membuatkan aku roti setiap hari." Seru Ruella sambil mengunyah sepotong roti isi daging. "Oh iya, kapan kau akan menikahinya?"


Savero tidak langsung menjawab. Pria yang masih berdiri itu tidak ingin membahas masalah tersebut karena merasa itu bukanlah hal yang bisa ia bicarakan dengan Ruella.


"Kenapa? Kasihan sekali, sepertinya dia masih tidak ingin menikah denganmu, kan?" Nada suara Ruella terdengar seperti mengejek untuk Savero. "Ya sebaiknya wanita sepertinya tidak menikahi pria lemah sepertimu."


Tatapan Savero berubah menjadi sedikit kesal karena Ruella mengolok-olok dirinya. Ingin rasanya dirinya membuat wanita itu menarik perkataannya namun mengingat bagaimana kondisinya yang sedang hamil dan mengenai masa lalu Ruella, membuat Savero menahan diri. Ia hanya menghela napas tanpa mengatakan apapun lalu setelahnya berbalik.


Ketika Savero berbalik, ia melihat Donzello berjalan ke arah mereka. Baru saja ayahnya itu pulang dari bekerja, dan langsung mencari sosok istrinya yang ternyata sedang berada di teras taman bersama putranya.


"Kau sudah pulang?" Ujar Savero pada Donzello. "Aku akan beristirahat dulu."


Setalah mengatakan hal itu, Savero berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Bagaimana harimu, Don? Apa terjadi masalah di kantor?" Ruella langsung bangkit berdiri dan memberikan kecupannya untuk menyambut kepulangan suaminya. "Apa kau lelah?"


"Rasa lelahku seketika hilang saat melihat istriku yang sangat cantik." Jawab Donzello merengkuh tubuh Ruella. "Apa yang kau makan?"


"Sav memberiku roti dari toko roti Flavia. Tidak aku sangka kalau dia sangat baik padaku sampai-sampai sering memberiku roti ini. Kau mau rotinya?" Tanya Ruella mengambil bungkusan roti yang berisi beberapa buah roti di dalamnya.


"Ya, dia memang pria yang baik." Ucap Donzello dengan senyum simpul.


Matahari tenggelam dengan cepat. Ruella bersama Donzello dan Savero menikmati waktu makan malam mereka. Hidangan-hidangan khas Italia disajikan dengan berbagai macam jenis masakan sebagai menu makan malam.


"Don, apa aku boleh membuka sebuah butik? Aku ingin melakukan sesuatu." Tanya Ruella menoleh pada Donzello.


"Butik? Itu sesuatu yang bagus. Kau bisa membukanya. Itu bisa membuatmu tidak merasa bosan hanya berada di rumah." Jawab Donzello dengan sebuah senyuman.


Tampak rasa senang dari raut wajah Ruella setelah mendengar jawaban dari suaminya. Memang dirinya yang hanya berdiam diri di rumah sudah membuatnya merasa bosan dan ingin melakukan sesuatu. Apalagi membuka sebuah butik adalah mimpinya.


Donzello menoleh pada putranya setelah mendengar perkataannya.


"Kau bisa melakukannya ketika kehamilanmu sudah aman. Tetaplah di rumah dan beristirahat." Lanjut Savero dengan serius.


Ruella merasa tidak senang dengan jawaban yang diberikan Savero, apalagi dirinya tidak meminta izin pada pria itu melainkan pada suaminya—Donzello.


"Kenapa aku harus mendengarkanmu? Aku tidak meminta izin padamu." Protes Ruella.


"Benar perkataan Sav, Rue. Lebih baik kau beristirahat dulu untuk saat ini hingga kehamilanmu aman atau bahkan tunggulah sampai melahirkan nanti." Seru Donzello yang menjadi menyetujui perkataan Savero mengenai keinginan Ruella.


Ruella berdecak kesal dan menatap Savero dengan menekuk wajahnya. Tentu saja dirinya menjadi sangat marah karena larangan dari Savero di dengarkan oleh suaminya.


Di dalam kamar sehabis makan malam, Ruella berada di atas tempat tidurnya sedang mengirim pesan dengan Emiliano. Ia mencurahkan rasa kesalnya pada sahabatnya itu mengenai kegagalannya membuka sebuah butik.

__ADS_1


"Rue, besok aku akan pergi ke Genoa untuk menghadiri sebuah rapat penting. Aku tidak akan lama." Ujar Donzello yang baru saja masuk setelah menerima telepon.


"Apa maksudnya tidak akan lama?" Tanya Ruella yang mulai menunjukkan wajah masamnya karena sudah dapat mengira maksud Donzello.


"Aku akan berada di Genoa beberapa hari." Jawab Donzello. "Kau tenang saja, ini tidak akan lama. Aku akan segera pulang, lusa atau besoknya lagi."


"Apa Sofia akan ikut bersama denganmu?" Ruella beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan Donzello.


"Kau tenang saja, tidak perlu mengkhawatirkan hal apapun, Rue." Ucap Donzello memegang pundak Ruella namun oleh wanita itu langsung ditepisnya.


"Terserah. Lakukan saja semua hal yang ingin kau lakukan." Seru Ruella dengan nada sangat kesal sambil bergegas keluar dari kamarnya.


Perasaan kesal yang menghinggapi Ruella membuat wanita itu enggan berada di kamar dengan suaminya saat ini. Ia memilih berada di atas balkon dengan duduk di sana sambil menikmati susu hangat.


Wanita itu terus saja menggerutu mengenai Donzello yang akan pergi ke Genoa besok pagi sedangkan pria itu melarangnya membuka sebuah butik hanya karena perkataan Savero.


"Ini benar-benar membuat aku kesal." Racau Ruella dengan kesal.


Ponselnya berbunyi, dilihatnya sebuah nama yang baru saja dirinya simpan. Ciro Tonali meneleponnya. Segera Ruella menjawabnya.


"Nyonya, besok orang itu akan makan malam di Ristorante Glauco bersama seorang wanita yang sudah aku sewa untuk memancingnya. Aku akan mencoba untuk melakukan rencana yang sudah aku beritahukan sebelumnya." Ujar Ciro di ujung telepon.


"Ristorante Glauco?" Ruella memastikannya. "Baiklah, besok malam aku akan berada di sekitar itu untuk menyaksikan semuanya." Jawab Ruella dengan wajah yang menegang karena kemarahan bercampur rasa takutnya.


Di dalam balkon tersebut, ternyata Savero mencuri dengar apa yang dikatakan Ruella di telepon tadi. Pria itu berdiri di balik tirai yang sedikit tertutup dengan pikiran yang menjadi penasaran apa yang akan dilakukan Ruella besok.


"Sepertinya aku beruntung Don pergi besok." Ucap Ruella.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2