BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
050. RAHASIA BERDUA


__ADS_3

Savero sempat bingung ketika Hugo mencurigai dirinya. Namun Pria itu bersikap biasa saja dengan mengeluarkan tanda pengenalnya sebagai dokter di rumah sakit itu.


"Aku dokter yang berjaga." Ujar Savero sambil menunjukkan tanda pengenalnya dan dengan cepat memasukkannya lagi ke saku celana.


Savero berjalan menghampiri ranjang untuk lebih mendekat dengan Hugo.


"Bagaimana keadaan anda? Apa ada keluhan lainnya?" Tanya Savero.


"Tidak ada, aku hanya ingin segera keluar dari sini." Jawab Hugo. "Padahal lenganku ini masih belum sembuh benar dan sekarang kaki kiriku patah. Ini benar-benar buruk. Hidup di penjara masih jauh lebih baik dari ini."


"Penjara? Aku dengar tuan baru saja keluar dari penjara. Itu benar?" Tanya Savero.


Hugo menatap pada Savero dengan tatapan heran karena dokter itu bertanya sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan pengobatan sakitnya.


"Maaf, aku hanya ingin bersikap biasa pada pasien. Anda tidak perlu menjawabnya." Ujar Savero.


"Ya, aku baru keluar dari penjara. Sepertinya aku memiliki musuh yang banyak di dunia ini karena itu aku harus mengalami hal seperti ini. belum sampai satu bulan tetapi aku sudah mengalami dua kali percobaan pembunuh." Seru Hugo dengan tawa karena merasa dirinya beruntung bisa dia kali lolos dari maut.


"Itu hal yang buruk tuan, tidak seharusnya anda tertawa." Ucap Savero.


"Tidak itu suatu hal yang lucu. Tidak ada yang bisa membunuhku. Mereka selalu berusaha membunuhku tapi tidak pernah ada yang berhasil. Dokter, segera sembuhkan kakiku, aku sudah tidak sabar untuk membalas semuanya."


"Apa maksud anda?"


"Wanita itu pasti yang melakukannya lagi. Aku akan membalasnya dan kali ini tidak akan gagal. Aku akan membuatnya merasa menyesal karena menjebloskan aku ke penjara hanya karena aku menyentuhnya." Hugo terlihat marah sampai-sampai dirinya tidak menyadari mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan.


"Membalasnya? Pembalasan apa yang anda maksud?" Tanya Savero lagi. "Jadi orang yang membuat anda seperti ini seorang wanita?"


Hugo hanya tertawa mendengar pertanyaan Savero, setelah menyadari kalau dirinya terlalu banyak bicara.


Savero mengetahui siapa wanita yang dimaksud oleh Hugo. Tentu saja wanita itu adalah Ruella.


Setelah meninggalkan rumah sakit, Savero melajukan mobilnya ke Pasticceria Martesana ketika waktu menunjukkan pukul tiga sore.

__ADS_1


Mendengar perkataan Hugo yang ingin membalaskan lagi perbuatan Ruella membuatnya memikirkan kalau dulu pria itu pernah mencoba membalas perbuatan Ruella.


Ia jadi menghubungkan hal itu dengan Matteo yang dikatakan Ruella adalah seorang pembunuh bayaran yang mencoba membunuh wanita itu. Dan orang yang memerintahkannya adalah Hugo yang ingin membalaskan perbuatan Ruella yang memasukkannya ke dalam penjara.


"Ini benar-benar sangat membuat penasaran. Matteo... Apa dia benar seorang pembunuh bayaran?" Pikir Savero ketika menghentikan mobilnya di depan Pasticceria Martesana. "Semuanya menjadi sangat rumit sekarang.


Sambil menghela napas panjang, Savero bergegas keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk toko roti yang sedang tutup itu.


Ketika masuk tidak ada siapapun di sana, namun dirinya heran karena pintunya tidak terkunci sedangkan tidak ada siapapun yang berjaga.


Segera Savero menuju dapur pembuatan roti di toko itu dan melihat Flavia sedang sibuk menghias cake yang masih polos tersebut.


"Kenapa kau membiarkan pintunya tidak terkunci? Bagaimana kalau seseorang masuk?" Tanya Savero berdiri di ambang pintu menatap Flavia yang memunggunginya.


Flavia menoleh dengan sebuah senyuman pada Savero.


"Seseorang memang sudah masuk dan itu yang aku harapkan." Jawab Flavia kembali memfokuskan dirinya hendak melumuri cake dengan krim putih.


"Setiap kali melihatmu membuat kue, aku selalu menyukainya. Kau benar-benar terlihat menggoda." Bisik Savero ke telinga kanan Flavia.


"Ternyata benar seharusnya aku tidak memintamu datang untuk membantuku. Kau pasti akan mengacaukannya." Ujar Flavia.


"Ya, baiklah... Aku akan mengacaukannya segera." Seru Savero langsung membalikkan tubuh Flavia. Melepaskan apron yang dikenakan wanita itu dan menyambar bibirnya.


Savero me*lum*at bibir Flavia dengan sangat panasnya. Wanita itu juga membalas ciuman Savero dengan melakukan hal yang sama juga. Ciuman itu semakin memanas sampai Savero mengangkat tubuh Flavia ke meja dapur.


"Sekarang aku akan menghiasmu." Ujar Savero dengan sebuah senyum.


Tangan pria itu mengambil krim putih yang digunakan untuk menghias kue, lalu melumuri leher Flavia dengannya. Terlihat bagaimana wanita itu tidak masalah dan malah menunggu apa yang akan Savero lakukan padanya.


"Aku akan memakanmu sekarang." Ujar Savero setelahnya kembali mencium Flavia.


Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit lebih dengan bercinta dan membersihkan diri, mereka berdua kembali melakukan tujuan awal mereka yaitu membuat cake.

__ADS_1


Sehabis apa yang mereka lakukan berdua, terlihat bagaimana rasa senang terpancar dari wajah mereka berdua.


"Ini sangat menyenangkan. Aku tidak mengira kalau membuat kue akan sangat menyenangkan seperti ini." Ujar Savero dengan sebuah senyuman. "Aku ingin melakukannya setiap hari kalau menyenangkan seperti ini."


Flavia hanya menyunggingkan tawa kecil karena sedang sibuk mengolesi kue dengan krim yang berlumuran di atasnya. Ia tahu maksud dari perkataan pria yang berdiri di sampingnya. Dengan mengatakan hal itu, itu mengartikan kalau keinginan Savero untuk menikah dengannya.


Tak ada yang ingin dikatakan Flavia untuk menjawab keinginan Savero tersebut. Meskipun dirinya sudah mengatakan akan memberikan kesempatan pada Savero dan bahkan baru saja mereka bercinta, namun dirinya yang masih belum bisa melupakan Matteo enggak menerima ajakan Savero tersebut


"Ya, aku akan menunggu sampai kau juga menginginkannya. Aku akan tunggu hingga kau ingin membuat kue setiap hari denganku." Savero mencondongkan tubuhnya untuk menatap Flavia di depan wajahnya.


Flavia yang merasa terganggu dengan yang dilakukan Savero hanya tertawa saja.


"Tumben sekali papamu ingin makan malam dan mengundangku?" Tanya Flavia pada Savero yang wajahnya tepat di depan mukanya.


Mendengar pertanyaan Flavia, Savero kembali menegakkan tubuhnya. Sebelumnya, Savero mengatakan pada Flavia kalau ayahnya mengundang makan malam bersama mereka, dan bukan mengatakan yang sebenarnya kalau Ruella lah yang ingin mengadakan acara makan malam tersebut.


"Kenapa?" Tanya Flavia menoleh pada Savero yang berdiri di sampingnya.


"Sebenarnya bukan papa yang merencanakan makan malam tersebut." Jawab Savero tanpa melihat pada Flavia. "Rubella yang ingin makan malam bersama denganmu. Dia memintaku untuk mengajakmu makan malam bersama."


"Ruella?" Tanya Flavia heran. "Apa tujuannya?"


"Sepertinya hanya makan malam biasa. Bagaimanapun dia sering mengatakan kalau dirinya ingin lebih dekat denganmu. Tampaknya dia tidak memiliki niat buruk." Jawab Savero. "Mungkin dia ingin agar kita cepat menikah."


"Itu sangat aneh. Apa urusannya dengannya? Kenapa dia ingin kita menikah? Tidak ada urusannya dengannya masalah yang terjadi pada hubungan kita. Dia bukan wanita sebaik itu. Tidak akan pernah dia melakukan sesuatu tanpa keuntungan untuknya sendiri. Aku yakin dia wanita seperti itu." Seru Flavia dengan tatapan sarkastis saat mengatakan sesuatu mengenai Ruella


Savero memikirkan apa yang di katakan Flavia. Itu membuatnya semakin mengerti apa yang diinginkan Ruella. Wanita itu hanya ingin agar Savero dan Flavia menikah supaya merasa tenang Savero tidak mengganggu dirinya dengan anak yang dikandungnya.


"Kenapa diam saja? Apa ada sesuatu yang kau rahasiakan dariku?" Tanya Flavia merasa heran melihat Savero yang melamun. "Apa kau mempunyai rahasia dengan wanita itu, Sav?"


Savero menjadi semakin terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Flavia. Entah kenapa wanita itu seperti mengetahuinya.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2