BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
027. KABAR BAHAGIA YANG MENYEDIHKAN


__ADS_3

Pertanyaan Donzello seketika membuat Ruella mematung karena bingung harus menjawab apa. Pertanyaan yang disebutkan oleh Donzello mengenai kecurigaan pria itu kalau Ruella sedang hamil saat ini.


"Kenapa kau berpikir aku hamil, Don?" Tanya Ruella menanggapi Donzello dengan perasaan terselip sedikit rasa takut.


"Ada apa? Bukankah itu hal yang bagus?" Ujar Donzello dengan senyum mengembang. "Aku akan sangat senang kalau kau hamil, Rue. Apa kau tidak senang? Apa kau ingin menunda memiliki anak?"


Ruella menarik tatapannya dari mata Donzello yang menatapnya lekat. Dirinya menjadi bingung karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tidak tahu apakah harus menunjukkan rasa senangnya karena sepertinya Donzello menginginkan dirinya segera hamil.


Jika saja anak yang ada di kandungannya adalah anak pria yang dicintainya itu, mungkin ia akan sangat senang saat ini. Namun semua berbeda karena anak yang ia kandung bukan anak suaminya melainkan anak dari anak yang ia cintai itu.


"Tuan, dokter Darla Gonzaga sudah datang. Saat ini sedang bersama tuan Savero di ruang tamu." Terdengar suara Paola dari luar pintu sambil mengetuk pintu.


"Suruh saja langsung ke sini. Biarkan dia memeriksa di sini." Jawab Donzello menoleh ke arah pintu.


Donzello menatap kembali pada Ruella. Tatapannya sedikit menunjukkan rasa heran pada Ruella.


"Apa kau tidak ingin hamil, Rue?" Tanya Donzello, tatapannya terlihat sangat serius.


Melihat pancaran mata Donzello yang sangat serius pastinya membuat Ruella harus segera memberikan jawaban yang membuat pria itu tidak curiga pada dirinya nanti.


"Tidak mungkin. Itu adalah hal yang bagus. Aku akan senang kalau ternyata aku hamil, Don." Jawab Ruella tersenyum.


"Ya, siapapun pasti akan senang." Ucap Donzello, senyumnya semakin lebar mendengar jawaban istrinya.


Di ruang tamu, Savero yang menemui Darla mengatakan apa rencananya pada dokter tersebut. Ia menyampaikan agar hari ini juga kehamilan Ruella diungkap. Keinginannya itu muncul sebab kondisi Ruella yang semakin terlihat seperti seseorang yang tengah hamil.


"Baiklah, kau tidak perlu khawatir Sav." Jawab Darla menyetujui apa yang di sampaikan Savero.


"Aku sangat berterimakasih padamu Darla. Aku juga berterimakasih karena kau tidak memberitahu rahasia sebesar ini pada kakakmu ataupun nyonya Renata." Ujar Savero.

__ADS_1


Saat ini mereka berdua duduk di masing-masing sofa dengan posisi saling menyerong. Meski perut Savero yang tertembak masih terasa sakit namun pria itu sudah bisa berjalan dengan normal.


"Tuan, tuan besar bilang dokter bisa ke kamarnya segera dan memeriksa nyonya di sana." Ujar Paola yang hadir di sana.


Saat yang bersamaan ketika Savero dan Darla bangkit berdiri hendak berjalan mengarah ke tangga, seorang pelayan membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalam rumah bersama dengan Flavia yang baru saja datang.


Savero menoleh pada kehadiran wanita tersebut dengan sebuah rasa senang.


"Paola, tolong antar Darla ke kamar papa." Ujar Savero.


Savero berjalan mengarah ke pintu untuk menghampiri Flavia yang sudah menunggunya dengan sebuah senyuman. Sedangkan Darla bersama dengan Paola menaiki tangga untuk ke kamar Donzello, guna memeriksa kondisi Ruella.


"Kau sudah bisa berjalan?" Tanya Flavia tampak heran saat melihat Savero pulih dengan sangat cepat.


"Sudah aku bilang, aku akan segera sembuh dengan sangat cepat. Aku ini seorang dokter kan?" Ucap Savero dengan tawa kecil.


"Kalau tahu begitu, aku tidak perlu menjengukmu lagi." Gumam Flavia melihat Savero dengan sudut matanya yang menyipit. "Ah, ini strawberry cheesecake yang aku buat semalam." Flavia mengangkat kotak yang berisi kue buatannya untuk menunjukkannya pada Savero.


"Ini strawberry cheesecake paling manis yang pernah aku makan." Ujar Savero setelahnya melahap kembali kue di piring yang ada di genggamannya.


Flavia hanya mendengus dengan tawa menanggapi ocehan Savero tersebut. Ia sudah sangat tahu kalau pria itu pasti akan mengatakan kalimat seperti itu karena ini bukan kali pertamanya kalimat tersebut keluar dari mulut Savero.


Di dalam kamar, Darla yang sudah memeriksa kondisi Ruella meminta wanita itu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan dengan menggunakan sebuah alat uji kehamilan atau testpack.


"Selamat tuan, istri anda memang sedang hamil." Ujar Darla melihat pada Donzello dengan sebuah testpack di tangannya.


Sontak Donzello langsung merasa sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Pria yang tidak tahu apapun yang sebenarnya terjadi itu langsung menatap Ruella yang berbaring di atas tempat tidur dan menghampirinya.


"Sayang, ini sangat bagus kan. Hanya dalam satu minggu kau sudah hamil." Seru Donzello duduk di sisi tempat tidur dengan sebuah rasa kegembiraan yang terpancar dari dalam dirinya. "Aku sangat senang."

__ADS_1


Donzello mengecup bibir Ruella yang hanya duduk terdiam dengan perasaan yang tidak enak pada apa yang dilihatnya.


Ruella menjadi terdiam karena sebuah rasa bersalah yang menyelimuti hatinya. Melihat bagaimana kebahagiaan Donzello yang mengetahui dirinya hamil membuat wanita itu bersedih karena rahasia yang dirinya sembunyikan.


"Pasti kau juga senang kan?" Tanya Donzello dan Ruella hanya mengangguk saja. "Dokter, apa kami harus ke rumah sakit untuk memeriksakannya agar lebih yakin? Bisa saja alat itu salah kan?"


"Ya, datanglah memeriksakannya agar yakin. Tapi aku rasa itu tidak perlu, ini sudah sangat jelas. Nyonya Ruella sedang hamil." Jawab Darla.


"Usia kandungannya masih sangat muda bukan?" Donzello kembali berdiri dan mendekati Darla. "Baiklah, besok atau lusa aku akan membawa Rue periksa."


"Oke. Sekarang aku pergi dulu. Nyonya Ruella harus banyak istirahat dan jangan sampai terlalu lelah. Jagalah istri anda dengan baik, tuan." Ucap Darla.


"Baiklah, silakan biar aku antar keluar." Ujar Donzello mempersilakan Darla dengan gerakan tangannya.


Savero yang masih berada di ruang tamu bersama dengan Flavia melihat Donzello turun tangga bersama dengan Darla. Bisa ia lihat wajah bahagia yang terpancar dari ekspresi wajah ayahnya saat ini. Wajah yang berseri-seri karena ia yakin kalau Donzello sudah diberitahu mengenai kehamilan Ruella.


Sebuah rasa bersalah langsung menghinggapi dirinya karena kebahagiaan palsu yang sedang terjadi saat ini. Meski begitu ia harus tetap menyembunyikan semuanya pada ayahnya itu sampai selamanya.


"Apa sudah selesai pemeriksaannya?" Tanya Savero yang langsung beranjak berdiri saat Donzello dan Darla sampai di lantai satu. "Ada apa dengannya? Apa Rue baik-baik saja?"


"Sav, setelah sekian lama akhirnya aku akan menjadi seorang ayah lagi." Jawab Donzello, siapapun bisa melihat bagaimana rasa bahagianya saat ini. "Kau akan memiliki seorang adik di usiamu setua ini."


Flavia yang juga berdiri di sana melihat pada Savero yang wajahnya terlihat kaku saat ini.


"Ada apa Sav? Apa kau tidak senang? Kenapa wajahmu seperti itu?" Tegur Flavia. "Selamat tuan, itu adalah kabar yang sangat membahagiakan. Kalian baru menikah dua minggu tetapi sudah langsung akan memiliki anak. Itu sangat cepat sekali. Bukan begitu Sav? Tapi sepertinya Savero tidak menyukai kabar tersebut tuan. Lihat saja bagaimana ekspresi wajahnya saat ini."


Perkataan Flavia membuat Donzello menatap Savero dengan serius untuk mengetahui apa yang diucapkan Flavia benar atau tidak.


Sedangkan Savero menjadi terdiam dengan tatapan Donzello yang terlihat ingin tahu apa yang dipikirkannya saat ini.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2