BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA

BELENGGU DOSA PUTRI MAFIA
033. SEBUAH SERINGAI


__ADS_3

Acara pesta untuk merayakan kehamilan Ruella di adakan di sebuah ballroom hotel mewah. Banyak sekali tamu yang sudah hadir ke acara tersebut. Para pengusaha atas yang merupakan kolega dari Donzello.


Ruella berada di suatu ruangan sedang bersiap-siap. Ia sudah memakai gaun pesta berwarna putih yang di bagian perutnya tampak melebar. Meski begitu perutnya masih terlihat rata.


Wanita itu membuka sebuah tas bungkusan berisi sebuah sepatu. Sepatu itu hendak ia kenakan dalam acara tersebut. Paola sang kepala pelayan menemaninya.


"Kenapa sepatu ini yang dibawa?" Tanya Ruella merasa heran saat melihat isi di dalam tas tersebut. "Paola, kenapa sepatu ini yang kau bawa?" Ruella menoleh pada Paola yang sedang sibuk merapikan bungkusan pakaian yang dikenakan Ruella.


Paola menoleh pada Ruella dan berjalan mendekat. Ia berdecak saat melihat isi dari tas bungkusan tersebut.


"Pelayan itu pasti salah menaruhnya." Jawab Paola dengan wajah yang tampak kesal. "Aku akan menelepon seseorang untuk membawakannya ke sini."


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan muncul Savero dengan sebuah tas bungkusan di tangannya.


"Apa kalian mencari ini?" Tanya Savero mengangkat benda yang dibawanya. "Seorang pelayan memberikannya padaku dan memintaku untuk memberikannya padamu." Savero mendekati Ruella dan memberikan benda yang di butuhkan oleh wanita itu.


"Syukurlah. Aku akan mencari tuan Don dulu sekarang, agar acaranya bisa segera dimulai." Ujar Paola dengan segera pergi dari ruangan tersebut.


Ruella mengambil sepatu yang tidak memiliki hak tersebut dan meletakannya di bawah, di hadapannya. Ia berusaha untuk memasukkan kakinya ke dalam sepatu, akan tetapi sepatu berwarna putih tersebut menggunakan kaitan untuk menjaganya tidak terlepas ketika dipakai.


Wanita itu berusaha untuk mengaitkannya dengan mencondongkan tubuhnya. Melihat apa yang hendak di lakukan Ruella, membuat Savero sedikit khawatir kalau wanita itu akan terjatuh karena gaun yang di kenakan olehnya lumayan membuat Ruella merasa diribetkan.


"Kau mau apa?" Tanya Savero melihat Ruella yang mencoba menunduk dengan mengangkat kakinya. "Jangan seperti itu! Kau bisa terjatuh, sebaiknya duduk saja saat mengaitkannya!!"


Mendengar saran Savero membuat Ruella menegakkan tubuhnya dan menoleh ke belakang di mana terdapat sebuah kursi yang berada di dekat meja rias. Segera wanita itu mendekatinya dan duduk.


Namun panjang gaun yang di kenakan Ruella yang menutupi kakinya membuat wanita itu menjadi terasa sulit melakukannya.


"Sudah, biar aku bantu." Seru Savero langsung berlutut di hadapan Ruella dan segera mengaitkan sepatu yang dikenakan oleh Ruella tanpa kata.


"Terimakasih ya." Ujar Ruella memandang Savero yang berlutut di hadapannya. "Untung kau datang membawa sepatu ini."


Savero tidak menjawab, pria itu tidak ingin menggubris wanita tersebut sedangkan dirinya sedang fokus mencoba bersikap baik pada Ruella.

__ADS_1


Meski dirinya tidak suka dengan sikap Ruella, namun entah kenapa Savero tidak bisa mengacuhkan wanita itu, apalagi ia tahu kalau anak yang dikandung Ruella merupakan anaknya sendiri.


"Sav, ingatlah... Aku sudah bilang ke mama kalau anak ini adalah anak Don. Jangan sampai mama membicarakannya dengan Don." Ujar Ruella.


Savero selesai mengaitkan sepatunya dan langsung bangkit berdiri. Ia menatap Ruella dengan heran. Pasalnya, tidak ada yang bisa Ia lakukan untuk memastikan agar ibunya Ruella—Renata tidak membicarakannya atau pun menanyakannya pada Donzello.


"Kau dengar, kan? Aku takut kalau mama bertanya pada Don. Aku bilang pada mama kalau sebelum menikah, aku dan Don pernah bercinta karena itu aku hamil. Aku juga bilang padanya kalau kau sudah menjelaskan mengenai usia kandunganku yang sebenarnya pada Don." Terang Ruella sedikit menengadah melihat pada Savero yang berdiri satu meter di hadapannya.


"Apa yang bisa aku lakukan?" Tanya Savero dengan tatapan kesal. "Aku tidak bisa melarang mamamu untuk tidak membicarakannya dengan ayahku. Itu malah akan terdengar aneh dan bisa-bisa dia curiga."


Walau sebenarnya Ruella pun sudah mengetahui mengenai hal itu, namun tetap saja ia ingin mengatakannya pada Savero. Bukan karena ia berharap pria itu akan melakukan sesuatu, melainkan hanya agar dirinya tenang dan tidak selalu khawatir dengan apa yang terjadi nanti.


"Ya, kau benar juga." Jawab Ruella menarik tatapannya dari Savero. "Aku hanya bisa berharap kalau apa yang aku takutkan tidak terjadi. Saat bayi ini lahir semuanya akan berjalan dengan baik."


Savero tidak menjawab, namun entah kenapa dirinya menjadi merasakan sesuatu yang terasa mengganjal ketika Ruella mengatakan mengenai kelahiran bayi yang merupakan anaknya tersebut.


"Semoga saja sampai bayi ini lahir siapapun tidak akan ada yang tahu mengenai kebenarannya." Lanjut Ruella.


Setelah berkata demikian, Ruella hendak berdiri dari duduknya, namun entah bagaimana tiba-tiba tubuhnya goyah saat hendak melangkahkan kakinya. Beruntung Savero dengan siaga memeganginya.


Cklek!


Mereka berdua teralihkan saat mendengar pintu ruangan itu terbuka di saat posisi mereka seperti saat ini. Savero yang seperti sedang memeluk Ruella, sedangkan wanita itu juga berpegangan pada lengan pria itu.


Sosok yang membuka pintu adalah Donzello. Ia datang bersama dengan Paola yang berada di belakangnya. Donzello melihat bagaimana posisi istri dan anak kandungnya terlihat sangat dekat seperti sekarang ini di depan matanya.


"Don..." Panggil Ruella langsung melepas pegangannya dari lengan Savero dan bergegas ke dalam dekapan Donzello.


Donzello yang berjalan masuk menyambut pelukan hangat istrinya itu.


"Tadi Rue hampir jatuh, untung saja aku menangkapnya. Sebaiknya kau lebih berhati-hati lagi. Perhatikan setiap langkahmu dan jangan menyepelekan segala hal yang sudah di katakan dokter padamu." Ujar Savero hendak berjalan menuju pintu.


"Sav, Flavia mencarimu." Seru Donzello menoleh pada Savero. "Jangan meninggalkannya sendirian."

__ADS_1


"Ya, aku datang juga hanya karena ingin mengantar sepatu itu. Aku akan menemui Fla sekarang." Jawab Savero setelahnya keluar.


Sepeninggalan Savero, Donzello menatap pada Ruella yang sudah ada di dekapannya. Wanita itu pun sedang memeluknya dengan erat.


"Kau sudah siap?" Tanya Donzello pada Ruella. "Semua tamu sudah datang, acaranya akan segera dimulai."


"Apa papa dan mama sudah datang?"


Donzello mengangguk dengan sebuah senyuman


"Paman dan bibimu juga sudah datang." Jawab Donzello setelahnya mencium Ruella.


"Kita keluar sekarang?" Tatap Donzello.


Ruella tersenyum menjawabnya.


Segera Donzello bersama Ruella berjalan keluar ruangan tersebut dengan masih terus mendekap. Kedua penjaga Ruella yang terus berjaga di luar pintu langsung mengikuti, begitu juga dengan Paola yang berada di sana.


Antara ruangan dengan Ballroom—tempat acara, harus melewati ruang utama yang merupakan penghubung.


Banyak tamu sudah hadir, bahkan di luar Ballroom tersebut tampak beberapa tamu yang masih bergegas menuju tempat pesta.


"Semuanya sudah menunggu kita." Ucap Donzello dan mendapatkan senyuman dari Ruella.


"Akhirnya setelah lima tahun, Aku bisa melihatmu lagi... Ruella..."


Terdengar suara yang langsung membuat jantung Ruella serasa terhenti. Suara yang berasal dari arah belakangnya.


"Aku sangat merindukanmu."


Ruella bersama dengan Donzello membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang menghentikan langkah mereka itu.


Melihat sosok pria yang berdiri di arah belakang di jarak enam meter darinya, langsung membuat wajah Ruella pucat. Bahkan wanita itu hingga bergerak mundur selangkah.

__ADS_1


"Aku senang melihatmu bahagia, Ruella." Ujar pria bernama Hugo De Sica dengan memulas senyum yang terlihat seperti sebuah seringai di mata Ruella.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2